Suamiku Mencintai Adikku

Suamiku Mencintai Adikku
Bab. 52


__ADS_3

Sejujurnya, rasa bibir Bang David masih membekas di bibirku. Sialnya, tubuhku bergetar mengingat kejadian yang beberapa menit lalu terlewati begitu saja.


Kalimat lelaki itu juga masih terngiang di kepala. Mambuat kepalaku sakit.


Sebelum masuk ke ruangan Mas Adrian, aku berbelok menuju toilet karyawan. Mencuci wajah adalah tujuanku.


Jika bisa kugosok sekuat tenaga bibir ini, tentu saja aku lakukan. Aku tak ingin sekadar bekas wanginya saja yang melekat di bibirku. Aku tak sudi.


Lantas, aku membersihkan wajah dengan sabun. Menggososk-gosok sekuat tenaga, sampai terasa panas dan pedih di wajahku. Setelah dirasa puas, barulah aku membilasnya dengan air bersih. Hal itu aku lakukan sebanyak tiga kali.


"Eh, mantan istri Pak Adrian masih cantik banget ... ya?"


"Iya, sayang sekali mereka bercerai."


"Tapi, melihat beberapa kali Bu Marisa datang ke kantor. Apa mungkin mereka akan kembali bersama?"


"Ah, aku berharap begitu."


"Mereka adalah pasangan yang sangat serasi."


"Satu ganteng, satu cantik."


"Tapi ... jika mengingat istri pak Adrian yang sekarang, gak cocok banget. Apalagi dia kan mantan karyawan sini, mantannya boss David juga."


"Malang sekali nasib Pak Adrian."


Aku masih berdiri terpaku di depan cermin, menunduk dalam. Sepertinya mereka tidak ada yang menyadari jika ada seseorang yang berdiri di sini.


"Heh, bisa diem gak mulut lu pada. Berisik tahu enggak. Kalian terlalu sibuk ngurusi kehidupan pribadi atasan. Sadar diri woy!"


Aku menoleh, menatap pada wanita yang berdiri dengan dada yang membusung ke depan, dagunya terangkat, sedangkan kedua tangannya berkacak pinggang.


Dia Anya, teman kantor yang dulu selalu bertengkar denganku. Nyatanya, malah dialah yang membantuku terbebas dari situasi ini.


Aku sangat tak menyangka.


"Suka-suka kita dong," ketus salah seorang di antara mereka.


"Berani lu ya. Gua gampar deh mulut lu." Anya telah mengangkat satu tangannya, siap dia layangkan untuk memukul mereka.


Untung saja tidak terjadi, karena mereka telah Bubat satu persatu dan pergi meninggalkan toilet ini.


Aku mengelus dada.


Kenyataannya, aku memang sebodoh ini. Tidak menyadari jika sebenarnya aku tidak akan pantas bersanding dengan siapapun termasuk Mas Adrian.


Aku terlalu sombong mengakui jika lelaki itu telah sepenuhnya menjadi milikku.


"Hei! Sudahlah, jangan dengarkan omongan yang keluar dari mulut para penggosip. Setelah keluar dari sini, pasti mereka akan membicarakan hal lain lagi. Para penggosip mah emang gitu. Selalu dapat mangsa untuk dijadikan bahan olokan." Anya menghampiriku, mengelus punggungku.

__ADS_1


Aku hanya tersenyum tipis menanggapi ucapannya.


Lalu mengucapkan terima kasih karena dia menolongku.


"Ya elah, biasa aja kali. Lu biasanya suka berantem, kenapa jadi melow begini, sih?"


"Entahlah." Aku tertawa dengan suara bergetar. Air mataku segera kuhapus dengan punggung tangan. Lantas, kami tertawa bersama.


"Ya udah, sana mau ke ruangan Pak Adrian, kan? Kalau ada wanita yang mendekati suami lu, lu harus segera sikat. Ciiaahhh. Hajar!" Anya berseru dengan tangan memperagakan bela diri.


Aku tertawa lepas melihat polah tingkahnya.


Dalam hati aku banyak bersyukur masih diberi seorang teman yang peduli padaku.


"Duluan, ya." Aku melambaikan tangan padanya.


"Eh, Ann. Lu harus ingat, Pak Adrian suami lu sekarang."


Aku mengangguk mantab. Ya, Mas Adrian adalah suamiku. Cukup sekali aku mengalami kegagalan dalam berumah tangga. Tak ingin terulang lagi.


Dulu, mungkin aku akan mengalah saat tahu jika suamiku mencintai adikku. Namun, sekarang aku akan menghadang siapa pun yang coba-coba mendekati lelaki itu. Mas Adrian suamiku. Hanya milikku.


Aku segera berjalan menuju ruang Mas Adrian.


Meja sekretarisnya kosong. Mungkin sedang beristirahat.


Aku meletakkan bekal makan siang yang kubawa ke atas meja.


Kemudian duduk di samping Mas Adrian. Memandang lekat wajah lelahnya.


Tak tahan melihatnya dengan posisi itu, aku pun menarik kepalanya pelan. Membawanya ke pangkuanku, agar lelaki itu bisa tidur lebih nyenyak.


Sensasi geli merayap dalam tubuhku, saat -dia lelakiku menelusup kan wajahnya pada perutku.


Untuk beberapa saat kubiarkan dia tidur nyenyak, aku terus memandangnya lekat. Dengan tangan yang mengelus kepalanya.


Entah pada menit ke berapa, Mas Adrian mengerjapkan mata.


Kemudian lelaki itu telah merubah posisi, menekuk lutut. Tangannya membelai pipiku.


"Pantas saja, tidurku nyenyak. Ada kamu di sini." Dia tersenyum tipis, menarik tanganku lalu diletakkannya di dada.


Sejenak, kami hanya saling bertatapan. Menyusup masuk pada pikiran masing-masing.


Hatiku berdesir, seperti ada kupu-kupu yang menggelitik perutku kala melihat tatapan dalamnya.


Suasana syahdu ini, harus terjeda kala suara riuh cacing di perutku berbunyi. Ah, aku lapar.


Mas Adrian sontak bangkit. Lalu mengecup keningku lama.

__ADS_1


"Istriku kelaparan rupanya." Dia langsung menarik rantang yang aku bawa tadi.


Menggesernya tepat di hadapannya. Tanpa menungguku, Mas Adrian membuka nya.


Menyiapkan menu makan siang kami.


"Wangi. Selalu menggugah selera masakanmu ini, Sayang." Mas Adrian beranjak berdiri. "Sebentar, aku siapkan cucian tangan untuk kamu, ya."


Kami makan dalam diam, sesekali lelaki itu menyuapiku. Lalu gantian aku yang akan menyuapinya.


Entah mengapa, tiba-tiba perutku bergejolak. Ah, tak bisa lagi kutahan. Aku segera berlari ke kamar mandi yang ada di ruangan besar ini, tak ketinggalan Mas Adrian menyusul di belakang.


Aku memuntahkan semua makanan yang telah masuk ke dalam perutku. Semuanya, tanpa sisa sedikit pun. Kejamnya.


"Yahh, habis, deh," keluh Mas Adrian sembari tangannya masih memijit tengkukku.


Tubuhku lemas seketika, mungkin karena telat makan siang ini. Aku jadi masuk angin begini.


Mas Adrian memapahku menuju sofa. Bau tak sedap menguar merusak penciumanku. Seketika, aku langsung menutup hidung.


"Mas, baunya enggak enak."


"Lho, kok? Kan, kamu yang bawa ini Sayang. Masak sendiri juga, kan di rumah." Mas Adrian bertanya bingung. Namun, tak urung dia menyusun kembali rantang-rantang itu.


Ah, kasihan sekali suamiku. Makannya saja belum habis.


"Mas makan sendiri aja, ya. Aku enggak nafsu." Aku berbaring di sofa.


"Sebentar." Mas Adrian berdiri, kemudian kembali membawa sesuatu yang dioleskan ya di punggungku.


"Badanmu dingin begini." Mas Adrian meletakkan kepalaku di pangkuannya. "Tunggu bentar, ya ...."


Mas Adrian meraih ponselnya di meja, lalu menghubungi seseorang.


"Batalkan semua janji saya hari ini. Tanpa terkecuali. Jika ada yang penting langsung hubungi Boss David saja. Saya sedang tidak bisa diganggu."


Kemudian sambungan pun terputus.


"Mas ...." Suaraku sangat lirih. Rasanya tak memiliki tenaga untuk sekadar berbicara.


"Ssstt. Istirahatlah, kamu lebih penting dari segalanya. Atau mau makan sesuatu?"


Aku terharu mendengarnya. Tidak menyangka jika Mas Adrian sangat memprioritaskan diriku dibanding urusan pekerjaannya.


Aku menggeleng lemah, lalu menenggelamkan kepala dalam pelukannya. Menghirup bau yang membuatku candu.


Perutku terasa nyaman hanya dengan menghirup wangi tubuhnya.


Aku terlelap.

__ADS_1


__ADS_2