
Pagi ini, aku bangun lebih awal. Menyiapkan semua perlengkapan kerja suamiku, aku bersemangat melakukannya.
Setelah sarapan terhidang di meja, aku pun segera membangunkannya.
Tampak lelakiku itu masih tertidur pulas. Melihat wajahnya seperti itu, membuatku gemas.
Aku duduk di tepi ranjang, mencium keningnya lalu kedua pipi. Wah, dia enggak bangun juga.
"Mas, bangun ...." Aku menggoyang bahunya. Mas Adrian menggerakkan badan menjadi telentang.
Aku menunggunya beberapa saat, ternyata dia belum membuka matanya. Lantas, aku pun mendekatkan wajah. "Mas ...." Memainkan hidungnya dengan hidungku.
Siapa sangka, kedua tangannya malah mendekap tubuhku erat. Aku tersentak kaget, saat Mas Adrian mengecup bibirku sekilas, dengan mata yang masih terpejam. Lalu dia berbisik di telinga.
"Iya, bangun ...." Ya ampun, lelaki ini ... pakai acara meniup telingaku. Geli ... merinding.
Spontan aku memukul bahunya kencang. Ngeselin banget.
"Udah, ayok ... bangun." Aku melotot, sedangkan dia hanya meringis.
"Pagi-pagi udah dapat pukulan," gerutunya sembari mengelus bahu yang aku pukul tadi.
"Apa, sakit?" tanganku khawatir.
Posisi kami masih sama, dengan tubuhku yang masih menindih tubuh Mas Adrian. Satu tangannya memeluk pinggangku erat.
"Hmmm." Mas Adrian hanya bergumam, sepertinya dia enggan menanggapi pertanyaanku.
"Beneran sakit?" tanyaku lagi. Aku memancing Mas Andre agar bersuara.
"Hmmm." Mata lelaki itu terpejam.
Lantas, aku pun mencium bahunya yang ku pukul tadi. "Masih, sakit?"
"Hmmm."
Aku mencium bahunya lagi, lalu beralih ke hidung lalu ke kedua mata. Bibirnya terangkat, membentuk sebuah senyuman terkulum.
"Masih sakit?"
"Hmmm." Mas Adrian menggeleng, lalu menenggelamkan kepalanya di ceruk leherku. Aku menahan napas menerima perlakuannya ini.
Jika diingat-ingat, selama berada di dekat Mas Adrian, aku sering menahan napas ataupun merasakan sakit jantung. Bisa-bisa aku mati mendadak kalau seperti ini.
"Ayoo, bangun. Udah siang." Aku melerai rengkuhan tangannya. Lalu berdiri di samping ranjang, dengan berkacak pinggang.
"Iya ... iya ... saya bangun Tuan Putri." Mas Adrian menurunkan kakinya ke lantai, lalu menganggukkan kepala berulang kali, dengan kedua tangan menangkup di dada.
Aku geli melihat tingkah konyolnya. Lalu aku pun mendekatinya, menarik ke dua tangan Mas Adrian dan menuntunnya ke kamar mandi.
"Aku mandi dulu, ya ...."
"Iya, biar disiapkan baju kerjanya."
__ADS_1
Aku menunggunya selesai mandi. Setelah keluar dari kamar mandi, aku pun segera memberikan pakaian yang akan dia kenakan.
Aku melayaninya semampu yang aku bisa. Tentu saja aku sangat senang melakukannya, ini adalah impianku setelah menikah. Menyiapkan pakaian kerja suamiku, membantu memakaikan dan berjalan bersama menuju ruang makan.
Senangnya, melihat Mas Adrian makan dengan lahap. Aku sempat deg-degan, walaupun ini bukan pertama kalinya dia makan masakanku. Tapi, tetap saja ... apapun yang kami lakukan menjadi hal pertama buatku.
"Lho, kok enggak makan?" tanya Mas Adrian di sela kunyahannya.
"Iya ...."
"Jangan gugup gitu dong, masakanmu selalu juara. Bisa gendut aku kalau begini. hahaha."
"Ish, aku enggak suka ya ... kalau perutnya buncit."
"Iya ... tenang aja, nanti aku rajin olah raga. Sama ... kamu."
Olah raga sama aku, apaan coba. Ah sudahlah, malas aku meladeninya. Lebih baik cepat menghabiskan makanku.
"Mas, nanti ... aku boleh ke kantor? Antar makan siang," tanyaku hati-hati.
"Hmmm. Boleh. Hari ini aku enggak ada jadwal meeting di luar kayaknya. Atau, nanti aku yang pulang aja?"
"Beneran, bisa pulang?"
"Bisa sih, kalau pas enggak banyak kerjaan. Kerjaan ku sama David kan, enggak jauh beda. Kami harus bekerjasama di kantor. Dia juga masih sering tanya keputusanku untuk sesuatu yang penting."
"Oohh, gitu." Aku mengangguk. "Hmm, bukannya di kantor itu hanya ada satu pemimpin ya?"
"Iya, dia pemimpinnya. Aku penasihatnya. hahahaha."
"Tapi, kenapa Mas Adrian enggak pernah ke cabang Malang?"
"Iya, kalau aku ke sana. Pasti kita udah jadi suami istri sejak lama."
Mulutku mencebik mendengar penuturannya. Rumus dari mana itu?
"Ya udahlah, semua udah ada jalannya. Tapi rasanya aku kesel sama David, karena dia orang yang telah nyakitin kamu. Apa aku harus keluar dari kantor itu ya, dan ngurus cabang yang lain aja?"
Aku hanya bergeming mendengarkan kata demi kata yang Mas Adrian keluarkan. Entah, aku bingung harus menanggapi apa.
"Dari dulu, urusan kami selalu aja masalah perempuan. Heran."
Dahiku berkerut bingung. "Maksudnya?"
Mas Adrian melirik arlojinya, lalu berdiri. "Aku berangkat, ya ..."
Aku berdiri, mengikuti langkahnya. Lalu, menyambar tas kerja Mas Adrian.
Sesampainya di pintu, aku memberikan ya tersebut padanya. Mengulurkan tangan, meminta Salim.
Mas Adrian mengecup kepalaku, lama. Aku memejamkan mata menerima perlakuannya. Ada yang menghangat di dadaku.
"Hati-hati di rumah. Kalau ada apa-apa, langsung hubungi aku. Terus ... hmmm, nanti aku usahakan pulang makan siang di rumah."
__ADS_1
Aku mengangguk.
Mas Adrian mengelus kepalaku, dengan senyuman yang menghangatkan.
Aku berjalan sampai ke pagar. Setelah mobilnya berlalu, aku segera menutup pintu pagar tersebut.
Beberapa wanita lewat di depan rumahku. Aku menyapa sekadar basa-basi.
Namun, saat aku berbalik menuju rumah. Suara seorang wanita mengangetkanku.
"Marisa, ya?"
Aku membalikkan tubuh, mengurungkan niat untuk melangkah masuk ke rumah.
Tampak seorang ibu paruh baya memakai kerudung berwarna biru berdiri di balik pagar, kedua tangannya bertumpu di pagar itu.
Kami sama-sama terkejut. Aku terkejut karena pertanyaannya. Mungkin dia terkejut karena ternyata aku bukan Marisa sesuai dugaannya.
"Ya?" Aku berjalan mendekat padanya. Tampak wajah ibu itu bingung, tangannya seketika turun dari pagar.
"Eh, bu-kan ya ...?" tanyanya gugup.
"Maaf." Aku mengulurkan tangan. Memperkenalkan diri. "Saya Anna, Bu." Kami pun bersalaman.
Ibu itu bernama Siti, rumahnya berjarak tiga rumah dari rumah yang aku tempati.
Aku membuka pagar, mempersilakan Bu Siti masuk. Sayangnya dia menolak. Apa dia malu ya, karena salah menebak?
"Bu, kalau boleh tahu. Marisa itu siapa, ya?" Aku seperti pernah mendengar nama itu, tapi lupa kapan dan di mananya.
"Oh itu, bukan siapa-siapa ... kok. Kalau begitu, saya permisi ya ...." Bu Siti pergi tanpa menghiraukan aku yang ingin bertanya lebih lanjut.
Setelah tubuh Bu Siti tak tampak lagi, aku memilih masuk ke rumah. Membereskan rumah.
Selama menyelesaikan pekerjaanku, pikiranku berkelana pada Bu Siti tadi. Tentang Marisa, aku terus mengingat-ingat.
Duh, aku memang sangat pelupa. Kadang aku ingin mencuci isi kepalaku ini agar bisa mengingat dengan jelas.
"Marisa ... Marisa ..., siapa Marisa?"
Sebuah denting bunyi dari ponsel mengalihkan pikiranku. Sejenak aku pun menghentikan aktivitas mencuciku.
Duduk di bangku, mengambil ponsel yang tergeletak di meja makan. Sebuah pesan dari Alina.
'Kak, Bang David melamarku. Aku bahagia.'
Pesan singkat yang diikuti emotikon love.
Aku tersenyum, ikut merasakan kebahagian Alina. Lalu segera mengetik balasan.
'Syukurlah. Semoga dilancarkan sampai acara. Katakan jika butuh bantuan Kakak, ya. Kakak ikut bahagia.'
Membaca ulang pesan yang dikirim Alina, mengingatkanku pada sesuatu.
__ADS_1
Perkataan mantan suamiku tentang mantan istri Mas Adrian. "Ma-ri-sa." Aku mengeja nama itu.
Yaa, aku ingat. Marisa adalah mantan istri Mas Adrian.