Suamiku Mencintai Adikku

Suamiku Mencintai Adikku
Bab 73


__ADS_3

(si David)


Telepon berdering berulang kali, merusak konsentrasiku saat memeriksa berkas-berkas. Entah untuk panggilan yang ke berapa, akhirnya kuangkat ponsel yang tergelatak di meja. Menjawab panggilan.


Nama Adrian tertera di layar. Dahiku mengernyit.


"Ha --" Belum selesai aku berbicara, Adrian telah menyerobot berbicara lebih dulu.


"David, tolong seger ke rumahku ya ... Aku sedang dalam perjalanan. Dari sini ke rumah masih butuh waktu satu jaman lagi. Kalau dari kantor sana mungkin sampai kan lima belas menit, ngebut yaa," ucapnya tanpa putus.


Aku segera berdiri. "Ada apa?' tanyaku heran.


"Anna dari tadi telepon, tapi kuhubungi balik enggak diangkat. Sekarang ya?" perintah lelaki dari seberang sana.


Tanpa banyak membantah lagi, aku segera meninggalkan ruangan menuju parkiran. Tidak menghiraukan tanya sekretarisku yang kebingungan.


Aku memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi, membunyikan klakson berulang kali.


Sial!


Perjalanan ini terasa lama sekali.


Ponsel kembali berdering, segera kupakai earphone untuk menjawabnya.


"Udah berangkat?" Suara tanya dari Adrian.


"Ya." Tentu saja aku tidak bisa menjawab panjang lebar karena fokus mengemudi.


Dekat di kawasan rumah Adrian aku melihat penampakan seorang wanita yang cukup aku kenal.


Mobil berhenti sebentar, memastikan tentang wanita itu.


Benar saja, Alina berjalan dengan pakaian awut-awutan. Sesekali dia tertawa, lalu menangis.


"Dia terluka. Hahahaha. Aku berhasil." Lalu meraung-raung menangis.


Aku turun dari mobil, lalu membawa Alina dalam mobil. Dia tampak seperti orang yang tak waras.


Sesampainya di depan gerbang komplek perumahan Adrian, aku menurunkan Alina lalu meminta bantuan satpam untuk menahan wanita itu.


"Di dalam ada yang terluka, Pak. Orangnya keburu kabur!" seru sang satpam saat aku menghidupkan mesin.


Kemudian pikiranku kembali pada tujuan awal. Segera kulakukan mobil, mengklakson berulang kali. Tidak lagi kugubris sumpah serapah warga sekitar yang tidak terima perilakuku.


Di depan rumah Adrian, tampak beberapa orang berkerumun.


Aku segera berlari. Kadang beginilah, banyak orang hanya ingin tahu tanpa berniat menolong.


"Anna!" seruku melihat Anna terkapar di ruang tamu.


'Apa fungsinya orang-orang di sini. Benar-benar enggak peka,' gerutuku dalam hati.


"Kamu di sini, jaga si Putri," tunjukku pada wanita yang duduk di dekat Anna yang berusaha menangkan Putri. Kedua wanita beda usia itu menangis bersamaan.


Aku segera mengangkat tubuh Anna menuju mobil. Terdengar jelas di telinga, Anna merintih memanggil Adrian.


Anna, di saat keadaanmu begini pun Adrian yang selalu kamu panggil.

__ADS_1


Ada yang sesak di dadaku, bernama hati.


Andai saja aku bukan lelaki brengsek yang mencintai Alina, bahkan saat Anna telah menjadi istriku. Kami pasti sudah bahagia. Dan hanya namaku yang terus terucap dari mulutnya.


Penyesalan memang selalu di akhir, jika di awal tentulah namanya perenungan.


Sialnya, aku tidak pernah merenungkan tentang wanita dalam gendonganku ini sebelumnya.


Aku berhasil meletakkan tubuh lemah Anna di kursi belakang. Membaringkannya tentu lebih baik.


Aku nyeri melihat tancapan benda tajam yang masih bergelayut di dadanya. Andai saja aku bisa, sudah pastilah kucabut benda itu agar tak menyakitinya.


"Pak, tahan wanita di pos satpam itu ya. Saya sedang mencari bantuan," ucapku pada salah seorang lelaki.


Apakah satpam di sini tidak ada?


Aku gelang-gelang kepala melihat apa yang telah terjadi.


Kemudian berlari mengitari mobil bagian depan, duduk di kursi kemudi.


"Bertahanlah Anna. Kamu kuat, Sayang ...."


Lalu, mobil melaju kencang menuju rumah sakit terdekat. Sesekali mataku melirik spion untuk melihat kondisi Anna di belakang.


Betapa jantungku berdebar kencang, saat tak lagi kudengar rintihan suaranya.


"Tidak apa-apa, Anna. Sebutlah nama suamimu, setidaknya aku masih mendengar suaramu. Bertahanlah, Sayang ... kumohon!"


Tidak sabar rasanya ingin segera sampai ke rumah sakit.


Aku sejenak mengembuskan napas lega setelah mobil berhenti secara sempurna di depan instalasi gawat darurat.


Perawat datang, lalu segera membantuku mengangkat tubuh Anna yang terkulai lemah ke ranjang dorong.


Aku ikut berlari mengikuti ke mana arah Anna dibawa pergi.


"Anna, bertahanlah."


Sampai di depan ruangan operasi. Tubuhku dicegah masuk.


Aku menurut menunggu Anna dengan gelisah.


Lantas, pikiranku mengingat Adrian. Mengeluarkan ponsel dari saku. Menghubungi nomor Adrian. Tidak aktif.


Kemudian mataku tertuju pada brankar yang membawa seorang pasien. Tidak jauh dari Anna, darah bercucuran deras dari dari tubuhnya.


"Korban kecelakaan!" seru perawat.


Lalu dengan langkah sedikit berlari mendorong pasien ke ruangan tindakan.


Aku penasaran dengan pasien tersebut. Tanpa pikir panjang segera melangkah seribu menyusulnya.


Aku menjinjitkan kaki, sebelum pintu benar-benar tertutup. Memanjangkan leher , melongokkan kepala agar bisa melihat siapa yang menjadi korban.


Entah mengapa, firasatku sangat tidak enak.


Lagi-lagi, jantungku serasa mau loncat keluar dari sarangnya. Melihat pasien di dalam yang tampak seperti. "Adrian."

__ADS_1


"Adrian! Benarkah kamu Adrian?"


Aku mengacak rambut kasar, lalu meraup wajah mengumpulkan kesadaran. Jika saja aku sedang berada dalam kondisi yang kurang normal.


"Apa-apaan ini? Bagaimana bisa terjadi?"


Aku mondar-mandir di ruang tunggu. Rasanya waktu mendadak berhenti, tak mampu bergerak sedikit pun. Tubuhku seolah kaku terpaku ke bumi.


Otakku seketika buntu, tetapi harus berpikir cepat.


Lantas, aku segera ke bagian informasi. Melacak siapa yang baru saja datang. Memastikan identitas pasien.


Sembari berjalan, aku menghubungi orang kepercayaan agar membereskan Alina yang berada di pos satpam tadi.


"Mbak, permisi. Adakah identitas pemilik pasien korban kecelakaan yang barusan datang?" tanyaku tanpa basa-basi.


"Atas nama siapa, Pak? Banyak korban yang baru datang sebagai korban kecelakaan," ucap Mbak itu dengan senyum ramah.


Aku berdecak kesal, lagi-lagi mengacak rambut kasar. Bahkan sampai menjambaknya.


Jujur saja, aku frustrasi dengan keadaan ini.


"Adrian. Namanya Adrian," ucapku pelan dengan anda tegas.


"Oh, sebentar." Mbak itu memeriksa barang-barang, lalu fokus pada layar komputer. "Anda siapanya?"


"Saya keluarganya," jawabku cepat.


"Oh, iya benar Pak Adrian salah satu korban kecelakaan. Ini barang-barang miliknya." Aku segera mengambil barang-barang tersebut. Lalu segera berlalu meninggalkan meja informasi setelah mengucapkan terimakasih.


Entah berapa lama berkutat di ruang tunggu ini. Adrian lebih dulu masuk ruang perawatan.


Syukurlah kalau keadaannya tidak terlalu parah.


Aku menunggu Adrian sadar.


"David," ucap Adrian lemah


Aku bangkit dari duduk menghampirinya. "Gimana keadaan Anna?"


"Sebentar, aku lihat dulu keadaannya." Aku keluar melihat keadaan Anna.


Siap sangka, jika keadaan wanita itu sangat buruk.


"Adrian, keadaan Anna sangat buruk. Dia butuh cdonor jantung secepatnya. Jika tidak nyawanya tidak terselamatkan," ucapku memulai penjelasan.


Wajah Adrian pucat pasi. "Bantu kami, Vid."


"Apa maksudmu?"


"Aku akan menjaganya, walaupun ragaku tak ada lagi di bumi."


Kalimat itu, kalimat yang pernah diucapkan Adrian. Apakah dia akan mendonorkan jantungnya demi menyelamatkan Anna?


Cinta seperti apa yang kamu miliki untuk Anna, Adrian?


Tiba-tiba, aku merasa kerdil di hadapan Adrian. Rasa yang kumiliki tak seujung kuku pun dibandingkan dirinya.

__ADS_1


"David, tolong jaga kami," ucap Adrian lemah.


__ADS_2