Suamiku Mencintai Adikku

Suamiku Mencintai Adikku
Bab 74 (Adrian)


__ADS_3

Kamu tahu hal yang paling membahagiakan di dunia ini?


Iyap!


Menikah dengan wanita hebat seperti Hanna Mahira adalah anugerah terindah dalam hidupku.


Bersamanya, hariku menjadi penuh warna.


Aku jatuh cinta, setiap hari, setiap detik pada satu wanita yaitu dia istriku tercinta.


Aku tidak menyangka, jika kebersamaan kami tadi pagi akan menjadi kenangan yang akan sangat dirindukan.


Saat itu juga menjadi penyesalan terbesar dalam hidupku. Aku tidak mengangkat telepon Anna yang berulang-ulang. Sayangnya, saat aku menghubungi nomornya, gantian tidak diangkat.


Rasa cemas, was-was sekaligus khawatir bergumul dalam dada. Tanpa berpikir panjang, aku segera menghubungi David, meminta tolong padanya untuk memeriksa keadaan Anna. Sebab, firasat burukku sangat mengganggu jalan otakku untuk berpikir.


Bukan aku sengaja tidak mengangkat telepon dari Anna. Pertemuan dengan klien yang sangat penting menghambatku pagi itu. Terlebih, nada ponsel yang aku silent. Membuat terlambatnya mengetahui panggilan beruntun yang dilakukan istriku di rumah.


Setelah itu, aku langsung tancap gas menuju pulang. Sayangnya, di tengah jalan ada kendaraan oleng yang tiba-tiba menabrakku. Akibatnya, aku mengalami tabrakan beruntun.


Saat aku sadar, hal pertama kali yang aku cari ada Anna. Istriku.


Mendapat kabar dari David membuatku semakin terpuruk. Bagaimana caraku hidup tanpa wanita itu?


Lalu, bagaimana putri kecil kami tanpa dia?


Pikiranku kalut, aku tak tahu lagi bagaimana cara bernapas yang baik. Rasanya, sesak menghimpit dada.


"Tolong kami, David," ucapku tulus penuh kesungguhan.


Kalimat itu pula yang terucap dari mulutku berulang kali. "Tolong kami, David."


David tampak kalut dan kacau. Lelaki itu mengacak-acak rambutnya frustrasi.


"Bagaimana caraku menolong kalian?" tanya David putus asa.


"Do-donorkan jantungku," ucapku yakin.


Ya, aku sangat yakin dengan apa yang aku katakan.


"Bagaimana mungkin?" tanya David frustrasi.


"Berikan jantungku padanya," ucapku meyakinkan.


"Apa sebegitu besar cintamu padanya?"


Aku mengangguk yakin. "Ya."


David berdecak kesal, lalu berujar pelan, "baiklah."


Ada rasa takut yang menghantuiku. Namun, takut kehilangan dirinya lebih besar ketimbang ketakutanku sendiri.


Kemudian, David keluar meninggalkanku dalam kekosongan.


Jika aku tak bisa membersamai Anna di dunia ini, biarlah aku menjadi detak yang selalu bada dalam dirinya.


Mungkin, memang hanya sampai di sini kebersamaan kami.


Saling memadu kasih, canda dan tawa bersamanya menjadi warna dalam kehidupanku.


Di dunia ini, aku tak memiliki siapa pun lagi selain dua wanita cantik yang membayang di pelupuk mata.


Rasa lelah kembali menderaku. Herannya, tak kurasakan sakit di tubuhku pasca kecelakaan yang kualami.

__ADS_1


Aku menajamkan mata, bayangan Anna dan Putri menjadi pengantar lelapku.


***


Aku mengira tak akan bangun lagi dari tidur, sebab jantungku telah berpindah tempat dari tubuhku.


Apalah aku tanpa detak dalam dada ini?


Aku meraba dada, masih kurasakan dengan jelas detaknya di sana. Apa yang terjadi?


Tidak berapa lama, dokter dan dua orang perawat datang memeriksa keadaanku.


"Syukurlah, Pak Adrian tidak mengalami hal yang mengerikan. Tidak ada yang fatal. Semua sehat. Ini keajaiban," terang dokter.


"Terimakasih, Dokter," ucapku dengan senyum terkembang.


Setelah mereka keluar, aku segera duduk di ranjang. Melihat sekeliling kamar, hanya kesunyian yang menemani.


Seketika pikiranku tertuju pada David lalu ke Anna.


Di mana David?


Lalu bagaimana keadaan Anna?


Aku segera beranjak dari ranjang, berniat mencari keberadaan David maupun Anna.


Saat tubuh hampir di ambang pintu, tiba-tiba pintu terbuka menampilkan sosok yang kutunggu kabarnya.


"Gimana Anna, Vid? Kenapa aku masih hidup? Bukankah seharusnya ...,"


"Tenang, Bro. Ayo kuantar ke ruangan Anna."


Kami berjalan beriringan menuju ruang ICU. Tampak dari jendela kaca, Anna masih dalam keadaan tak sadarkan diri.


"Bagaimana jantungnya?" tanyaku tak sabar pada David.


"Aku ingin menjenguknya," ucapku lagi.


Kemudian aku pun memakai pakaian khusus, lalu masuk ke dalam.


"Sayang, apa kabar?" sapaku. Sekuat tenaga kutahan air mata yang berdesakan ingin keluar.


Aku tahu, dia pasti mendengarku berbicara padanya. Walaupun dalam keadaan terpejam.


"Aku merindukanmu, cepat bangun yaa. Nanti kita akan jalan-jalan bertiga. Kemana pun yang kamu mau. Hanya kita bertiga. Kamu dengar, kita bertiga."


Aku berbicara selama kurang lebih lima belas menit, karena Anna masih harus banyak beristirahat. Terlebih dia harus beradaptasi dengan jantung barunya.


Di luar, aku tak sanggup menahan aliran deras air mataku.


Dasar aku cengeng!


Aku pun kembali ke kamar, karena memang belum boleh keluar dari rumah sakit. Menunggu satu kali lagi pemeriksaan. Mungkin besok aku bisa pulang. Semoga saja.


Tentu saja aku rindu dengan Putri kecil kami.


Aku menghubungi rumah, syukurlah si Putri tidak rewel di sana. Aku menitipkan pada Bik Jum asisten rumah tangga kami.


Kemudian menghubungi David agar datang ke ruangan inapku. Ada yang harus kami bicarakan.


Aku berbaring bersandar kepala ranjang, sedangkan David duduk di sofa.


"Gimana Alina?" tanyaku.

__ADS_1


David menyandarkan punggung di sandaran sofa, lalu mengembuskan napas panjang dan kasar.


Tangannya menyugar rambut.


Aku menunggu jawaban darinya yang terkesan sangat lama.


"Dia dalam keadaan tidak stabil, Dri," ucapnya kemudian.


"Apa maksudnya tidak stabil?" tanyaku penasaran.


"Setelah menusuk Anna, dia tiba-tiba menjadi tidak waras. Begitulah akhir hidup orang yang serakah, balasan untuk dia."


Aku mengernyit bingung. "Jadi dia kehilangan kewarasan setelah melakukan hal mengerikan kepada kakak kandungnya sendiri?"


David mengangguk berulang kali.


"Bisa jadi karena rasa bersalah yang terlalu berlebihan. Bagaimanapun, Anna sangat berjasa bagi kehidupannya. Mungkin saja, jika Alina meminta nyawa kepada Anna pasti akan diberikan. Begitulah kasi sayangnya."


"Iya, tapi berlebihan menurutku. Masak sampai segitunya. Ngeriii."


"Apa lu lupa, pertikaian ini terjadi karena lu gak tegas. Cinta sama adiknya, nikah sama kakaknya. Pacaran sama adiknya, cintanya sama kakaknya."


"Hati gak bisa diatur, Bro."


"Bulshiit. Lu harusnya bisa menahan diri, Bro."


"Ya ... ya ... ya ... kali ini gua udah sadar, sesadar - sadarnya. Kalau enggak, pasti jantung lu yang didonorkan. Gua gak sibuk cari donor yang lain ...."


"Sialan, lu." Aku melayangkan tinju di udara. Kadang David memang sesialan itu, walaupun kadang juga baik.


"Gua sadar, kalian saling mencintai. Tulus."


Aku mengangguk. "Thank, Bro."


"Hei, apa yang gua lakuin enggak gratis ya. Enak aja," selorohnya


"Jadi, lu mau bayaran apa?"


"Carikan gua cewek yang tulusnya kayak Anna."


"Semoga lu beruntung, Bro. Dan enggak ada lagi kisah nikah sama kakaknya, cinta sama adiknya," ucapku sungguh-sungguh.


"Harus itu."


****


Setiap hari aku mondar-mandir antara rumah, melihat keadaan putri kami. Lalu ke kantor untuk bekerja, kemudian ke rumah sakit menemani Anna. Mengajaknya bicara.


Dua bulan berlalu. Dua bulan terlama yang pernah terjadi dalam hidupku, setelah kepergian ibuku. Selama itu pula aku bermalam di rumah sakit.


Syukurlah, Putri tidak rewel. Sepertinya dia mengerti dengan keadaan mamanya. Kami sangat beruntung memiliknya.


Aku menunggu Anna dengan sabar. Di hari libur begini, aku menghabiskan waktu mengajaknya bicara.


Mataku terbelalak tidak percaya, merasakan pergerakan lemah jari Anna dalam genggaman tanganku.


Tubuhku panas dingin, tampak bibir itu bergerak-gerak. Aku segera mendekatkan telinga di wajah Anna. Mendengarkan apa yang dia katakan.


"Mas Adrian."


"Mas Adrian."


Ya Tuhan! Anna.

__ADS_1


"I-ya, Sayang ... ini masmu. Mas Adrian di sini," ucapku terbata.


Tidak mampu kutahan air mata yang mengalir deras di pipi ini. Biarlah, biarkan semua tahu. Betapa aku terharu sekaligus bahagia menyaksikan Anna sadar.


__ADS_2