
Mobil seolah berjalan sangat lambat. Bukan itu saja, bahkan waktu seakan berhenti bergerak.
Telingaku berdenging, pertanyaan Bang David mampu merusak pendengaranku.
Jantungku seolah berhenti berdetak, aku juga lupa bagaimana caranya bernapas.
Menunggu jawaban lelaki di sampingku ini. Lelaki yang berstatus suami.
Ah, ternyata baru ku sadari jika sosok Marisa mampu meluluhlantakkan perasaanku.
Seperti ada yang meremas hatiku, laku menghancurkannya tanpa sisa. Berkeping-keping, terserak
Apa ... apa yang sebenarnya terjadi di sini?
Kenapa Bang David membawa-bawa nama Marisa, mantan Mas Adrian?
Apa dia memang sengaja, agar aku sadar bahwa aku hanya menjadi yang kedua dalam kehidupan Mas Adrian.
Aku hanya ... hanya ....
Ya Tuhan! Aku tak akan sanggup mengatakannya. Perlakuan manis lelaki ini. Perhatiannya dan kelembutannya yang selalu mampu menghipnotis ku.
Cinta?
Benarkah?
Dan ... sekarang aku tengah sekarat.
Tak lagi berani menatap ke arahnya, membuang muka ke luar jendela. Membuang air mata yang nyatanya telah turun dengan derasnya.
Aku pernah tersakiti. Kau juga pernah berharap pada sosok yang jelas-jelas telah menolakku di malam pertama kami.
Aku juga pernah berharap, jika pernikahan ku dulu akan baik-baik saja. Aku hanya perlu menunggu, dan biarkan waktu yang akan mengubah semuanya. Waktu yang akan menceritakan padanya tentang tulusku, pengabdianku, rasa cintaku, dan segalanya. Namun, waktu menjawab jika pernikahan kami harus berakhir. Rasku harus kandas oleh kesalahpahaman.
Pernikahan ku adalah kesalahanku.
Dan sekarang, saat aku tengah merajut asa. Saat aku mulai memikirkan masa depan. Apakah impian-impian itu hanya milikku saja, bukan milik Mas Adrian juga.
Jika ternyata, khayalanku salah. Maka, tamat sudah riwayatku. Maka, berakhir sudah kisah hidupku.
Karena, aku yakin tak akan sanggup lagi terkhianati.
Aku bukanlah sosok wanita tegar yang mampu terus bertahan dalam kepalsuan rasa. Aku juga bukan wanita tegar yang memiliki raga untuk terus bertahan saat rasaku tak terbalaskan.
Jika itu terjadi lagi, maka aku memilih mundur. Aku memilih pergi sejauh yang aku bisa.
Isakku mulai terdengar, sekuat tenaga mencoba meredam gejolak emosi. Namun, gagal.
Kemarahan ini seperti membakarku perlahan.
Cukup. Aku tidak peduli lagi jika penumpang di mobil ini menatapku bingung.
__ADS_1
Atau, mungkin saja Bang David akan puas menertawakan kebodohanku.
Sedangkan Mas Adrian, dia mungkin ... sedang sibuk dengan bayangan wanita masa lalunya.
Ah ... hidupku kenapa semenyedihkan ini. Tolong!
Aku mengetuk jendela, ingin rasanya segera keluar dari sini.
Mobil menepi, berhenti di pinggir jalan.
Mas Adrian meraih pundakku. Memaksa agar aku menghadap ke arahnya.
"Hei ...." Mas Adrian berkata lembut, sangat lembut malah.
Aku memejamkan mata, merasai hati yang semakin terluka.
Andai hati ini mampu mengeluarkan darah, sudah tentulah tubuhku telah kehabisan darah.
"Kakak, kenapa, Mas?" Alina bertanya ingin tahu.
"Anna." Kali ini suara Bang David terdengar lirih, tidak semenyebalkan tadi.
"Sssttt." Mas Adrian berdesisi, sepertinya menyuruh penumpang itu diam.
"Sayang ...." Kini, Mas Adrian sedikit bersikeras agar aku mau menghadapnya.
Tentu saja, aku tak mampu menolak. Kekuatannya jauh di atasku. Percuma saja, kan, aku melawan?
Telapak tangannya menangkup ke dua pipiku, rasa sangat pas sang hangat. Aku merasa nyaman. Namun, saat menyadari kenapa aku menangis. Aku tergugu lagi, kali ini lebih hebat. Karena dia, lelaki itu yang menyebabkan aku menangis dan sakit menatapku dalam.
Adakah aku di hatimu, Mas?
Sudahkah aku menggantikan nama Marissa dalam hatimu?
Suasana mobil menjadi hening. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing.
Apa yang kamu pikirkan, Mas?
"Jangan menangis," ucap Mas Adrian lirih.
Lantas, entah pada detik keberapa, Mas Adrian telah membungkamku dengan kelembutannya.
Perlakuan lembutnya membuatku terharu sekaligus sedih. Tuhan, tolong hentikan waktu sebentar saja. Agar aku terus merasakan kelembutan ini darinya. Tak bisakah, hanya dia untukku saja? Tak ada siapa pun lagi. Aku sungguh takkan sanggup lagi tersakiti.
"Cuma kamu di hatiku, percayalah," bisiknya di sela ciuman kami yang semakin memabukkan.
Suara deheman yang berasal dari kursi penumpang bagian belakang mengagetkan kami. Mas Adrian melepaskan kulumannya. Lalu berdehem pelan, dia tampak canggung.
Sedangkan aku, tentu saja menunduk malu. Bisa-bisanya aku lupa jika kami bukan hanya berdua di dalam mobil ini, tapi kami berempat. Ber-em-pat.
Ada sepasang kekasih di kursi belakang.
__ADS_1
Ya ampun! Aku benar-benar lupa.
Entah seperti apa wajahku saat ini, pasti sudah seperti tomat busuk. aiishh.
"Lanjut di rumah ya nanti." Mas Adrian berkata lirih, lebih tepatnya berbisik sembari menarik hidungku.
"Mas, iihh." Aku memukul tangannya, sedapatnya.
Lalu, suamiku itu tertawa terbahak.
Dia, lelaki itu yang selalu memberiku kelembutan. Juga selalu bisa menenangkan hatiku.
Dia, lelaki ini ... yang selalu bisa meluluhkan hatiku. Meredam amarahku, dan membuatku bahagia dalam sekali waktu.
Bolehkah jika berharap selamanya dia seperti ini? Maka biarkan diriku mengabdi kepadanya, sebagai bentuk kepatuhanku yang berstatus istrinya.
Aku merasa sangat bahagia bisa melayaninya dengan segenap rasa cintaku. Sebab, hanya dia yang berhak memiliki segalanya dalam diriku.
Mobil kembali melaju, hanya suara deru mobil yang terdengar. Entah ke mana celoteh-celoteh tadi. Seolah telah terbungkam oleh perlakuan Mas Adrian.
"Sampai!" Mas Adrian berseru, mengalihkan fokus ku. Kami sampai di sebuah restoran sederhana. "Kita makan di sini, ya," ucapnya lagi.
Tidak ada jawaban dari yang lain, kami langsung turun dari mobil.
Bang David dan Alina telah bergandengan, berjalan menuju pintu masuk. Sedangkan aku, masih bergeming di tempat. Menunggu Mas Adrian.
"Mas, aku ke toilet dulu ya .... Malu, muka sembab begini." Aku meminta izin mencuci wajah.
"Iya ...." Lelaki itu mengulas senyum. Tangannya menepuk kepalaku pelan.
Aku berjalan terburu-buru menuju kamar mandi.
"Tungga, Ann. Cepet banget, sih, jalannya." Lho, ternyata Mas Adrian menyusulku.
"Mas tunggu di dalam aja. Aku enggak apa-apa, kok sendirian."
"Mau nganterin kamu. Udah sana masuk, dandan yang cantik tapi tetap natural aja yaa ... Kamu cantik apa adanya. Aku tunggu di sini." Mas Adrian mendorong bahuku, agar segera masuk ke kamar mandi.
Setelah di dalam, aku segera mencuci wajah. Memakai bedak tipis dan lipstik berwarna bibir.
Selama ini, aku memang sering memakai make-up yang terkesan natural. Itu lebih membuatku nyaman, ketimbang harus memakai bedak tebal, yang mungkin terlihat aneh di wajahku. Apalagi, saat tidak mengenali diri sendiri. Ah, tapi ... tentu saja aku juga butuh menyesuaikan diri. Butuh perlengkapan tempur lengkap di wajah, saat harus menghadiri pesta. Akan lucu sekali jika berdandan begini. Bisa-bisa aku dikira enggak pernah dapat uang untuk belanja keperluan pribadi. Duh.
Setelah dirasa cukup, aku segera keluar. Mas Adrian telah menunggu.
Lantas, aku segera menghampirinya. Lelaki itu tengah berdiri bersandar dinding, dengan tangan bersedekap di dada.
"Sudah?"
"Hmmm." Aku mengangguk, lalu meraih lengannya untuk ke genggam erat. Aku ingin semua orang tahu, lelaki ini milikku. Hanya milikku.
"Senyummu manis, aku suka itu." Mas Adrian memujiku.
__ADS_1
Seolah taman bunga telah berpindah dalam hatiku, kuncup bunga pun sedang bermekaran indah.