Suamiku Mencintai Adikku

Suamiku Mencintai Adikku
Bab. 48


__ADS_3

Kami berjalan bersama menuju lobi, di sana ternyata Bang David telah menunggu.


"Abang ...." Alina berlari kecil menghampiri Bang David, lantas langsung menghambur memeluk lelaki itu.


Tangan Alina merangkul leher Bang David, sedangkan tangan lelaki itu melingkar di pinggang. Sungguh pemandangan yang romantis.


Aku mengulas senyum melihat keromantisan mereka, lalu meraba dada kiri. Masihkah ada debar yang berbeda saat melihat Bang David.


Oh, sepertinya tidak. Debaran jantung masih normal. Tidak ada yang berbeda. Syukurlah.


Aku mengeratkan lingkaran tanganku di lengan Mas Adrian, seperti membalas responku. Mas Adrian mempererat rengkuhannya, lalu mengulum senyum.


"Ayo! Makan di mana kita?" bisikku pada Mas Adrian.


"Di luar aja, yang deket kantor," balas Mas Adrian, tangannya mengelus punggungku.


Lalu, kami pun berjalan mendekati sepasang manusia yang tampak sedang mabuk kepayang itu. Mas Adrian berdehem, menghentikan keasyikan mereka.


Heran, di tempat umum begini pun sempat-sempatnya mereka berbagi napas.


"Kamu mau juga?" bisik Mas Adrian tepat di telinga ku. Hembusan napasnya yang hangat membuat bulu kudukku seketika meremang.


"A-apaan?" Ah, napasku seketika berat dan ngos-ngosan. Seperti selesai maraton saja.


"Kayak mereka." Mata Mas Adrian melirik pada Bang David dan Alina yang berjalan bergandengan di belakang.


Aku ikut melirik ke belakang, keduanya tampak bersenda gurau dengan sesekali saling mengecup bibir.


"Jangan dilihat, entar pingin." Mas Adrian menghalau kepalaku dengan tangannya.


"Ish, apaan sih Mas?" desisku. Aku merasa tidak enak melihat kelakuan Alina dan Bang David.


"Hmmm, enakan di kamar ya. Puas."


Astaga! Mas Adrian, keterlaluan deh. Sempat-sempatnya bahas masalah kamar saat sedang berjalan begini. Bikin malu saja.


Aku tidak menanggapi, memilih menunduk. Tentu saja aku malu.


Walaupun kami telah menikah, tapi jika membahas masalah begituan di tempat umum begini nyaris membuatku hilang akal.


Terkadang, aku juga heran. Bagaimana mereka menyimpan rasa malunya? Di tempat umum, bermesraan sesuka hati.


Ah, sudahlah. Itu urusan mereka. Kenapa juga aku ikut campur?


"Dri, pakai mobil lu aja ya. Lagi malas nyopir, nih."

__ADS_1


Ucapan Bang David menghentikan langkah kami. Mas Adrian menoleh ke belakang, lalu menjawab pelan.


"Oke." Setelah menyuruhku menunggu di sini, suamiku itu melangkah ke parkiran.


Kenapa enggak minta ambilkan saja, sih, mobilnya?


"Apa kabar calon kakak ipar?" Suara Bang David memeceh keheningan kami.


Alina masih bergelayut manja di lengan kekasihnya itu.


"Baik." Aku menjawab singkat, lalu membuang pandangan lurus ke depan. Malas rasanya berhadapan lama dengan Bang Adrian.


"Aku titip calon istriku ya, Kak," ujar Bang David lagi.


Nadanya terdengar sedikit ... menyebalkan di telingaku.


"Hmmm." Aku hanya menjawab dengan gumaman. Kau bahkan malas untuk sekadar bertegur sapa dengannya.


"Kapan kita bisa pergi melihat gaun pengantin untuk Anna?"


Ya Tuhan! Lelaki ini.


"Kalian saja, aku tidak ikut."


"Lho, kenapa Kak?" Kali ini suara manja Alina uang menanyakan alasanku.


Ah, sial. Apa yang baru saja aku katakan.


Aku mengigit bibir, mengurai gugup yang mulia menguasai hati. Bisa-bisa, aku tersulut emosi jika terus begini.


"Aku suka dengan pilihan gaunmu, Ann. Eh ... maksudku calon kakak ipar."


Apa-apaan Bang David itu, sampai dia meralat panggilan untukku. Lalu, sejak kapan dia menyukai pilihanku. Bukankah selama ini dia selalu tidak menyukai penampilan ku?


"Kok Kakak gitu, sih ... ngomongnya. Atau jangan-jangan, Kak Anna masih menyimpan rasa cemburu untuk Bang David. Iya, Kak?" Suara Alina bergetar, seperti hendak menangis.


Tolong, selamatkan aku dari situasi ini!


"Bukan begitu, Dek. Kakak hanya belum tahu bisa atau enggak menemani kalian mencari gaun pengantin. Lagian, seharusnya memang kalian sendiri yang menentukan gaunnya. Tidak baik, jika pernikahan dicampuri oleh orang lain, walaupun saudara sendiri." Aku mencoba menjelaskan kepada Alina, rasa tidak enakku.


"Ah, omong kosong. Kakak hanya mencari-cari alasan saja, Kakak cemburu kan sama aku dan Bang David." Suara Alina terdengar lebih menuntut.


"Kenapa harus cemburu dengan kalian. Sedangkan Kakak sudah memiliki Mas Adrian?" Aku masih mencoba tenang, agar tidak tersulut emosi.


Cemburu dengan mereka? Yang benar saja. Aku telah bahagia, tidak ada lagi yang aku inginkan selain kebahagiaan ku saat ini.

__ADS_1


"Tenang, Sayang ...." Bang David mengelus pipi Alina, matanya sekilas melirikku. Di detik berikutnya, lelaki itu telah mencium bibir Alina.


Aku memalingkan wajah, tak ingin melihat adegan yang aku pikir tidaklah pantas. Mereka belum menikah, tapi sudah mengumbar ciuman di mana-mana. Ya Tuhan! Di mana urat malu mereka sebenarnya?


"Kakak Anna, hanya sedang memikirkan jadwal untuk menemani kita. Dia juga harus mendapatkan persetujuan dari suaminya, kan. Enggak mungkin langsung pergi begitu saja tanpa izin. Begitu ... kan, Kak?"


Bang David menatapku dalam, meminta persetujuan atas pernyataan yang dia lontarkan.


Aku melengos, memilih tidak menjawab apa pun lagi.


Syukurlah, mobil Mas Adrian sudah datang. Dia turun dari mobil, lalu membukakan pintu untukku.


"Terima kasih," ucapku pelan, saat Mas Adrian menutup pintu mobil. Dia mengangguk pelan, sembari tersenyum. Lalu mengitari mobil untuk duduk di bangku kemudi di sampingku.


Bang David dan Alina tentu saja duduk di belakang. Mas Adrian persis seperti sopir untuk mereka.


Melihat tingkah mereka yang tidak tahu tempat, kali ini tentu saja membakar emosiku.


"Kalian benar-benar enggak punya malu, ya? Suamiku bukan sopir kalian, mengerti?" ucapku dengan geram.


"Uuppss, sort. Gua kira kalian udah terbiasa begini. Ternyata Anna masih saja naif, ya. Atau jangan-jangan lu belum nyentuh dia, Dri?"


Sangat terdengar jelas perkataan Bang David itu mengejekku. Apa yang sebenarnya dia inginkan?


"Apa yang ingin lu tahu, Bro?" tanya Mas Adrian santai. Aku melotot ke arahnya. Tampaknya, lelaki itu tidak menanggapi kekesalanku. Dia tetap fokus pada kemudi.


"Enggak ada, sih. Cuma gua heran aja, kalian udah nikah, tapi istri lu masih aja sok tabu dengan kelakuan kami," seringai Bang David membuat ku muak.


"Ka--"


"Karena istri gua, emang pemalu, Bro. Dia enggak suka mengumbar kemesraan yang nyatanya hancur di dalam." Mas Adrian meraih tanganku, lalu menggenggamnya.


Aku terpaku di tempat mendapati perlakuan nya. Rasa hangat dan juga nyaman menetralisir hawa panas yang tadi sempat ingin membakar tubuhku.


"Jadi, kalian sudah melakukan hubungan suami istri?" tanya Bang David menuntut.


"Sudah atau belum, bukan urusan lu juga, kan." Mas Adrian tetap santai menanggapinya.


"Asyikkan mana, Anna atau Marisa?"


Aku yakin, itu adalah pertanyaan iseng tidak berfaedah yang Bang David lontarkan.


"Keduanya memiliki rasa uang berbeda, tentu tidak bisa dibandingkan. Lagipula tida sepatutnya gua mengingat Marisa, sedangkan Anna di sini telah menjadi istri gua." Mas Adrian melirik sekilas, lalu mengedipkan mata.


Aisshh, lelaki itu.

__ADS_1


"Begitu, ya ...." Bang David mengangguk-angguk. Sejenak hening, kemudian lelaki itu berkata lagi. "Kalau gua bilang, Marisa nyariin lu, gimana?"


__ADS_2