Suamiku Mencintai Adikku

Suamiku Mencintai Adikku
Bab 63


__ADS_3

Aku dan Mas Adrian sampai di rumah ibu. Ternyata di sana telah ramai para tetangga yang datang.


Hatiku mendadak mencelos. Pikiran sibuk mengeja apa yang sedang terjadi. Jantung berpacu kencang, rasanya dadaku ingin meledak menahan gemuruhnya.


Aku masuk ke kamar ibu. Di sana tampak ibu tengah terpejam.


"Anna," lirihnya.


Tumpah sudah air mataku melihat kondisi ibu. "Kenapa ibu di sini, bukannya di rumah sakit?" tanyaku dengan suara serak.


Ibu tersenyum lalu menggeleng pelan. Tubuhnya benar-benar tampak lemah.


"Ayo ke rumah sakit, Bu!" Aku menggenggam tangan ibu. Lalu pandanganku beralih pada sosok Mas Adrian yang berdiri di pintu. Lelaki itu melangkah masuk mendekatiku.


"Mas, ayo! Bawa ibu ke rumah sakit, Mas." Aku melepaskan genggaman tangan ibu. Lalu memukul-mukul dada Mas Adrian.


Rasa jengkel sekaligus sedih bercampur menjadi satu. Seharusnya ibu dirawat, bukan malah di sini.


"Iya ... iya ...," lirih Mas Adrian. Dia membiarkan tanganku terus memukul dadanya tanpa berniat menahan gerakan tanganku.


Lalu, tangan Mas Adrian terangkat kemudian mengelus pucuk kepalaku. Membelai rambutku dengan sayang.


"Mas ajak ibu dulu ke rumah sakit yaaa. Kami tenang."


Mas Adrian merangkul pundakku, mengajakku mendekat pada ibu.


Mas Adrian mencondongkan wajah ke telinga ibu, berbisik di sana. "Kita ke rumah sakit ya ... Bu."


Ibu menggeleng.


"Ayo gotong, Mas!" seruku bersimbah air mata.


Seorang tetangga masuk. "Tadi sudah dibawa ke sana, tetapi ibumu minta pulang. Semua alat tidak masuk di tubuhnya, karena dia menolak," terangnya.


Aku duduk di bibir ranjang, mengelus tangan keriput itu.


"Ibu mau apa?" tanyaku.


"Maafkan ibu ... maafkan adikmu." Suara ibu terbata mengucap kata maaf padaku.


Ah, betapa aku ingin meraung-raung, melihatnya tak berdaya begini.


"Ibu sudah tidak kuat lagi." Suaranya semakin mengecil. Lalu tiba-tiba semuanya menjadi sunyi.


Gelap.


***


Aku membuka mata, masih dapat kurasakan belaian tangan ibu di kepalaku.


"Ibu," desisku.


Mataku melihat sekeliling, tiada siapapun di sini. Kamar ini kosong.


"Mas," panggilku pada Mas Adrian.


Tidak ada sahutan. "Mas," panggilku lagi.


Tetap tidak ada sahutan.


"Mas! Ibu!" Aku menjerit memanggil dua orang yang berarti dalam hidupku.


Mas Adrian datang tergopoh-gopoh. Keringat bercucuran di pelipisnya. Dadanya kembang kempis.


"Iya, Anna. Ada apa?" tanya Mas Adrian. Tangannya sibuk mengelus pipiku.


"Ibu, mana?" tanyaku.

__ADS_1


"Mau ke tempat ibu?"


Aku segera turun dari ranjang.


"Iya ... iya ... nanti Mas antar," ucap Mas Adrian. Tangannya sibuk menahan lenganku.


"Aku mau ketemu ibu," sinisku.


Mas Adrian menuntunku keluar kamar. Di ruang tengah telah ramai orang. Tubuhku kaki sejenak kala menyadari ada sesuatu di sana.


Aku berlari, memeluk tubuh ibu yang telah kaku. Mendadak semuanya kembali gelap.


Tepukan-tepukan lembut di pipi memaksaku mengumpulkan kesadaran yang terserak.


"Anna ... Anna ...."


Seraut wajah khawatir dengan mata yang memerah menjadi pemandangan yang pertama kali kulihat. Lelaki itu tampak menangis.


"Mas, menangis?" tanyaku heran. "Ibu, mana?"


"Kamu di sini saja, ya ... gak usah ikut." Suaranya parau. Tangan kanan Mas Adrian mengusap air mata yang tampak menetes dari kedua matanya.


"Apa maksudnya?" Aku berusaha bangun. Namun gerakanku ditahan oleh tangan Mas Adrian. "Aku mau lihat ibu, Mas. Minggir!"


"Tidak aku izinkan. Kamu lemah dan sudah dua kali pingsan. Aku enggak mau terjadi sesuatu padamu."


"Ibu mana?"


"Ibu ... ibu ... ibu akan dimakamkan. Kita di sini saja."


"Aku mau lihat ibu, Mas. Janji enggak akan pingsan lagi."


Mas Adrian bergeming. Menatap dalam kedua mataku.


"Aku janji, Mas. Enggak akan pingsan," mohonku padanya.


"Baiklah. Tapi jika merasa lemas atau tidak kuat segera bilang pada suamimu," ucapnya lembut.


Aku menyaksikan pemakaman ibu dengan perasaan hancur.


***


Rumah ini, rumah peninggalan ayah. Semua kenangan tentang keluarga kami menari-nari di kepala.


Air mata ini tiada mau berhenti mengalir.


Suara pintu kamar terbuka. Menampilkan sosok tinggi yang sedang membawa baki.


"Makan, ya ... dari kemarin enggak makan. Cuma minum susu aja. Ingat, ada janin yang butuh makan dalam perut kamu." Mas Adrian meletakkan baki di nakas. Lalu duduk di bibir ranjang dengan mangkok di tangan.


"Aaaa," ucapnya dengan mulut terbuka. Status sendok bubur kacang hijau masih tertahan di udara menungguku membuka mulut. "Ayo!"


Aku membuka mulut , mengunyah perlahan.


Mas Adrian mencondongkan badan mendekat, kepalanya berada tepat di depan perutku.


"Maaf ya, Sayang. Mama lagi enggak nafsu makan. Bilang sama Mama makan yang banyak yaa, kasihan adek dalam perut. Kelaparan." Lalu Mas Adrian mencium perutku.


Setelah itu, kembali lelaki itu menyuapiku lagi


Aku mengelus perut yang masih rata. Ada perasaan bersalah yang menyusup di dada. Dua hari ini, aku tidak memperhatikan janin dalam perut ini.


Bagaimana aku bisa lalai terhadapnya?


"Pinter ...." Mas Adrian menepuk kepalaku, seulas senyum tersungging dikedua bibirnya. "Makanannya habis."


Aku seperti anak kecil yang disuapi lalu mendapatkan pujian karena makananku habis.

__ADS_1


Bibirku mengerucut. Membuat Mas Adrian tergelak tawa.


"Mau jalan-jalan ke mana?" tanya Mas Adrian sembari membereskan alat makan.


"Enggak mau ke mana-mana, Mas. Cuma pingin makan apel hijau," jawabku pelan.


"Mau ke Batu?" tanyanya lembut.


Aku menggeleng, sedang tidak ingin ke mana pun. "Beli di depan aja, Mas."


"Baiklah. Aku beli sekarang, ya ...."


"Mas, apakah nomor Alina sudah bisa dihubungi?"


"Belum."


Aku menghela napas panjang. Berulang kali menghubungi nomor Alina tidak aktif. Sampai aku meminta tolong pada tetangga untuk meneleponnya. Tetap saja tidak aktif. Entah ke mana perginya adikku itu?


"Kita tunggu saja. Sudah kirim pesan 'kan padanya?"


"Iya, sudah,' jawabku mengangguk.


Mas Adrian melangkah keluar. Lalu aku mengikuti langkah lebarnya menuju dapur.


Rumah ini benar-benar sunyi. Namun, setiap ruangan seakan ada bayangan ibu. Di dapur, tampak ibu yang sedang memasak.


Dir ruang tengah, ibu sedang menonton televisi


Di ruang tamu, ibu sedang menyapu.


Di halaman depan, Ibu sedang membersihkan rumput-rumput liar. Mencabutnya sampai tak bersisa.


"Ibu ...." Bibirku bergetar memanggil namanya. Air mataku kembali menetes membasahi pipi.


Kehilangan sosok yang amat dicintai membuatku rapuh lagi. Seakan waktu begitu cepat berlalu, saat semua serasa baru terlewati kemarin. Kini kisah ibu tinggal cerita.


"Ibu ...." Mendadak tubuhku limbung. Lalu buru-buru mencari pegangan. Aku bersandar pada sofa kemudian duduk di sana.


Alina pasti akan menyesal karena tidak melihat wajah ibu untuk terakhir kalinya. Entah bagaimana menggambarkan rasaku padanya.


Ingin kupukul dia sebanyak mungkin, agar tersadar pada sikap yang telah diambil.


Dia sungguh kelewat batas.


Pintu ruang tamu terbuka, memunculkan sosok yang sedari tadi aku pikirkan.


Alina datang bersama Bang David.


Entah kekuatan dari mana yang membuat tubuhku menjadi kuat. Aku berjalan mendekat pada Alina.


Kemudian, satu tamparan keras mendarat pada pipi mulus wanita itu.


"Dasar tidak berguna. Ke mana saja kamu, nomor tidak aktif!" Aku berang.


"Ma-maaf, Kak," ucap Alina terbata. Satu tangannya mengusap pipinya yang memerah. "Aku ganti nomor."


Aku mendelik tidak percaya dengan alasan yang terkesan dibuat-buat.


"Maaf, Anna. Kami terlambat." Suara Bang David, dia melangkah mendekat.


"Stop! Aku tidak peduli kau datang atau tidak. Ku hanya peduli pada wanita ini. Bagaimana bisa dia menjadi anak durhaka. Apa salah ibu padaku, ha?!"


Aku menamparnya sekali lagi.


Rasanya ingin kujambak rambutnya itu. Aku tidak bisa mengontrol emosi.


"Anna ... Anna. Tenang, ingat kondisimu." Mas Adrian memelukku dari belakang. "Kalian masuklah. Anna sedang tidak stabil."

__ADS_1


Terdengar derap langkah menjauhi kami.


Lantas aku berbalik menangis dalam pelukan Mas Adrian.


__ADS_2