Suamiku Mencintai Adikku

Suamiku Mencintai Adikku
Bab. 45


__ADS_3

Mas Adrian selalu bersikap manis. Apalagi, setelah kami selesai bercinta. Dia akan bersikap manis dan memanjakanku lebih dua kali lipat dari biasanya.


Katanya, memilikiku adalah suatu keburuntungan.


"Aku beruntung menjadi yang pertama dalam hidupmu, walaupun bukan yang pertama dalam hatimu."


Kalimat itu sering dia ucapkan setelah kami kelelahan. Entahlah, rasanya stok kalimat manis itu tiada pernah ada habisnya.


Hmmm, apa memang begitu rasanya jatuh cinta?


Aku akan takluk dalam buaian dan ucapan manisnya.


"Sayang, hari ini temani aku ke kantor, yuk ...." Mas Adrian berbisik di telingaku. Tangannya begitu lembut mengelus punggung, sentuhan kulitnya membuat tubuhku meremang.


Ah, padahal sudah sering dilakukan. Tetap saja, membuatku merinding.


"Kenapa, Mas?" tanyaku berbisik. Aku masih menenggelamkan kepala di dada bidangnya. Harum tubuhnya sangat nikmat di indera penciumanku.


Aku memainkan hidung di dada polosnya itu.


"He, geli ...." Mas Adrian mengecup kepalaku, lalu mengeratkan pelukannya.


Kami tertawa bersama, menyalurkan bahagia.


"Aku ingin kamu menemaniku hari ini."


"Alina, gimana ya? Sendirian di rumah."


"Bawa aja, biar dia nemeni calonnya di kantor."


"Baiklah."


Tangan Mas Adrian merayap kemana-mana tanpa bisa aku cegah.


"Mas, mau ngapain?" tanyaku seraya mencoba menghentikan pergerakan tangannya.


"Menurutmu?" tatapannya berubah sendu. Mengisyaratkan sesuatu yang tersimpan dalam dirinya.


Ah, jika begini. Siapa yang bisa menolak?


***


Aku telah selesai menghidangkan sarapan di meja makan. Memasak nasi goreng dengan telur dadar. Tidak lupa, teh hangat untuk suami tercinta.


Kadang, aku heran dengan kelakiku itu. Dia mau makan, menu sederhana yang aku masak.


Makan dengan lahap setiap harinya, tanpa keluhan sudah membuat hatiku berbunga-bunga.


Kemudian, aku pun berjalan kembali ke kamar. Melihat Mas Adrian yang tengah bersiap.


Saat aku membuka pintu, betapa terkejutnya melihat Alina yang berada di kamar kami. Adik perempuanku itu hanya mengenakan jubah mandi.


"Alina, apa yang kau lakukan di sini?" kapan dia masuk ke kamar?


Ck. Aku dari tadi fokus pada masakan di depan kompor. Tidak tahu jika dia masuk ke kamar kami.


Aku mengedarkan pandangan, mencari Mas Adrian. Tidak ada di kamar.

__ADS_1


"Eh, Kakak. Dari mana? Aku mencarimu." Alina tampak salah tingkah.


"Kenapa kamu ke kamar ini?" tanyaku dengan suara tertahan. Menahan emosi.


"Aku ingin ikut ke kantor, udah bilang sama Bang David. Boleh ya ...," Alina berkata pelan.


"Iya. Sudah sana keluar." tegasku padanya.


"Pinjam baju, Kak. Aku tidak membawa baju yang bagus untuk pergi-pergi."


Aku mengernyit, menyaksikan tatapan Alina yang tidak fokus berbicara padaku.


Apa yang sebenarnya dia cari.


Pintu kamar mandi terbuka, kami serentak menoleh ke sana.


Tampak Mas Adrian melonjak kaget. Keluar sebentar, hanya mengenakan handuk.


"Keluarlah Alina. Nanti Kakak ambilkan baju untukmu."


Setelah memastikan Alina keluar kamar, dan menutup pintunya. Aku segara menuju kamar mandi, mengetuk pintu.


"Mas, udah selesai?"


Tidak menunggu waktu lama, pintu kamar mandi terbuka lebar. Memunculkan sosok Mas Adrian di sana. Lelaki itu pun segera keluar, tangannya mengibas-ngibas rambutnya yang masih basah.


Tampannya suamiku. Aku mengulum senyum.


"Jangan lihatin aku begitu, entar telat lagi pergi ke kantornya," ucap lelakiku itu sembari berlalu menuju ranjang.


Aku segera menyusulnya di belakang. "Emang kenapa, Mas?" tanyaku bingung.


Sontak aku langsung memundurkan langkah, menyilangkan tangan ke dada.


"Bekas semalam aja masih kerasa sakit," gumamku pelan.


Menyadari ucapanku yang sembarangan, segera aku membekap mulut dengan kedua tangan.


"Masih sakit, ya?" Mas Adrian menghentikan tangannya yang akan mengambil baju di atas ranjang. Lantas maju mendekatiku.


"Atau hari ini aku di rumah aja?" lanjutnya lagi. Kedua tangannya telah memegang kedua bahuku dengan lembut. Mas Adrian menatapku dalam.


"Enggak perlu, hari ini biar aku yang ke kantor. Sesuai rencana kita," ucapku lirih.


Tatapan kami saling mengunci. Seperti ada rasa khawatir di mata lelaki itu.


"Serius?" tanyanya pelan. Satu tangannya telah berpindah ke kepalaku, mengelusnya pelan.


Aku mengangguk. Kemudian memegang kedua tangannya. "Udah, pakai bajunya. Aku bantu."


Aku menuju ranjang, mengambilkan kemeja untuk dia kenakan.


"Rasanya, aku ingin selalu seperti ini. Tak ingin melakukan hal lain."


Mas Adrian memelukku dari belakang. Berbisik di telinga.


Lelaki ini, dia tidak tahu jika perlakuannya membuatku merinding.

__ADS_1


Pintu terkeblak terbuka lebar. Sontak, aku dan Mas Adrian menoleh bersamaan.


Di pintu, Alina berdiri dengan tatapan bingung.


Aku melirik Mas Adrian, lelaki itu menatap Alina tajam. Tidak suka. Lantas, dia melepaskan tangannya di pinggangku. Lalu mengambil baju yang aku pegang, segera berbalik menghadap dinding untuk mengenakan kemeja yang telah aku siapkan.


"Ada apa Alina?" tanyaku pada Alina yang masih berdiri mematung di sana.


Sialnya, bukannya melihat padaku yang sedang berbicara. Tatapan Alina masih fokus memperhatikan Mas Adrian yang sedang mengancing baju.


Mas Adrian tampak acuh, dia masih mengarah ke dinding.


"Alina, ada apa?" Aku sangat tidak nyaman dengan suasana ini.


"Eh, itu ... hmmm, aku mau pinjam baju Kak Anna," jawab Alina gugup.


Aku masih menatapnya menelisik. Pakaiannya masih sama seperti kemarin, dia sepertinya tidak mengindahkan peringatan dariku untuk memakai baju yang sopan saat di rumah.


Apalagi saat ini. Ya Tuhan! Ada Mas Adrian di rumah ini. Bahkan, Alina berani masuk ke kamar.


Aku mengeram kesal. Apa yang harus aku lakukan pada Alina?


Apa aku harus terus menjadi lemah seperti ini, saat berhadapan dengannya?


Tidak. Kali ini, tidak akan aku biarkan dia menghancurkan keluarga ku.


"Mas, aku siapin baju untuk Alina dulu sebentar, ya." Aku mengelus punggung Mas Adrian.


Mas Adrian mengangguk. Saat aku melewatinya, lelaki itu menarik tanganku. Lalu mengecup bibirku singkat.


Sesaat aku terpaku di tempat, menerima perlakuan darinya.


Mas Adrian tersenyum, lalu tangannya mengelus pipiku lembut.


Aku segera berjalan menuju lemari. Mengambil pakaian untuk dikenakan Alina saat ke kantor.


Celana panjang berwarna hitam dengan kemeja sebuah kemeja panjang, aku berikan padanya.


"Masak ini, si, Kak. Yang lain dong." Dengan tidak tau malunya, Alina menolak pakaian yang aku pinjamkan. "Aku mau gaun, Kak. Malu dong, saat bertemu calon suamiku masak pakai pakaian kerja begini. Aku bukan Kak Anna yang penampilannya sedikit, kuno."


Aku menghela napas panjang. Menahan emosi.


"Kalau kamu enggak suka pakai baju itu, pakai yang lain saja."


Aku tidak menyangka, jika Mas Adrian mau menjawab cicitan Alina mengenai baju yang aku berikan.


"Kakakmu harus mengurusku. Sekarang keluar dari sini." Mas Adrian berkata pelan, dengan nada yang membuatku takut.


Aku menoleh pada Alina, dia tampak salah tingkah dan sedikit gentar mendengar kalimat Mas Adrian.


"Iya, Mas," ucap Alina lirih. Tanpa menoleh ke, Alina keluar kamar.


"Sayang, pasangkan dasiku." Nada suara Mas Adrian berubah manja. Berbeda dengan tadi yang membuat suasana mencekam.


Tanpa kata, aku segera mendekat padanya. Meraih dasi yang telah tersampir di bahu. Kemudian memasangkan dasi itu.


Setelah selesai, aku ingin segara menuju meja maka. Saat akan berbalik arah, siapa sangka Mas Adrian malah menarik tanganku.

__ADS_1


Aku tersentak kaget, saat lelaki itu mengambil seluruh napasku.


__ADS_2