
"Anna, dengar! Adas sesuatu yang harus aku bicarakan kepadamu," ucap Mas Adrian serius.
Setelah memastikan putri kami tidur, Mas Adrian mengajakku duduk di bibir ranjang.
Matanya lekat menatap kedua bola mataku. Tangannya erat menggenggam kedua tanganku.
Aku, gugup. Memikirkan apa yang akan dia katakan.
"Karena kamu telah melahirkan dengan selamat dan sehat, aku memutuskan akan membicarakan ini. Aku berharap kamu mengerti dengan keputusan yang aku buat. Ini semua demi kebaikanmu," ucapnya panjang lebar.
Apa yang ingin kamu katakan, Mas. Cepat katakan! Aku sudah tidak sabar.
"Apa ini ... tentang Alina?" tanyaku gugup.
Mas Adrian mengangguk lalu memegang bahuku erat.
"Saat Alina menghilang, sebenarnya dia masuk penjara ...."
"Apa? Bagaimana bisa?"
"Dengarkan dulu penjelasanku," putusnya cepat. "Alina melakukan penggelapan dana. Lalu aku mengumpulkan bukti-bukti dan berhasil memasukkannya ke penjara. Sebagai pelajaran agar dia sadar apa yang dilakukan. Sayangnya, seorang lelaki menjaminnya."
Mas Adrian menghela napas panjang. "Beberapa waktu ini, Alina mulai menerorku lagi. Aku harus bertindak cepat, agar tidak menyesal di kemudian hari. Aku butuh persetujuanmu, mengingat dia adalah adikmu ...."
Air mataku berderai, memikirkan nasib Alina. "Lalu mengapa Mas tidak mengatakannya lebih awal?"
"Sudah kukatakan, aku memikirkan kondisimu dan anak kita."
"Lalu sekarang bagaimana? Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan kalian berdua." Tangisku pecah.
"Aku sedang mencari informasi tentang hubungan Alina dengan lelaki itu. Aku tidak mau dia mencelakai keluargaku."
"Bagaimana mungkin Alina tega melakukan itu kepada kita, Mas?"
"Buktinya itu terjadi, Ann. Harta telah merubah semuanya, lebih tepatnya harta mampu menunjukkan wajah asli seseorang. Itulah Alina sekarang ini. Kalian memang saudara, tapi kalian tetap memiliki sifat yang bertolak belakang."
"Bagaimana dengan Bang David?"
"Mereka telah putus, dan David bersyukur karena tahu belang Alina sebelum mereka menikah."
***
Waktu pun berlalu, pembicaraan itu masih terngiang di telingaku.
Aku masih tidak habis pikir dengan apa yang telah kudengar. Namu, Mas Adrian juga tidak akan mungkin membohongiku.
Lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang?
Ketukan di luar diiringi teriakan berhasil menciptakan ketakutan dalam diriku.
Aku segera menggendong putri kecilku, lalu beranjak keluar melihat siapa yang datang.
"Siapa, Bik?" Aku menyerahkan Putri kepada ART, lalu membuka pintu.
"Alina?"
"Halo, Kak," sapa Alina dengan senyum ramah yang terkesan dibuat-buat.
__ADS_1
"Mau apa kamu ke sini?" tanyaku tanpa basa-basi.
"Masa gitu sih Kak, aku datang untuk melihat keadaanmu," sinisnya.
"Aku baik," ucapku datar.
Tanpa aba-aba, Alina masuk lalu berjalan berkeliling ruang tamu.
"Tidak ada yang berubah dari rumah ini. Kenapa Kakak betah tinggal di rumah seperti ini, padahal suami Kakak itu kaya lho."
"Apa maksudmu?"
"Hahahaha. Jangan sok polos, Kak. Kakak bahkan telah berhasil merebut hati Bang David dariku. Entah apa uang dia lihat darimu?"
"Alina," desisku.
"Bahkan ibu sangat mencintaimu, Kak. Dia mengatasnamakan rumah itu dengan nama Kakak. Hahahaha."
Aku jadi ngeri menghadapi Alina.
"Aku seperti anak pungut yang diambil dari tempat sampah ...."
"Jangan sembarang kalau bicara. Ibu sangat menyayangimu, Alina."
"Cuih. Omong kosong. Suami Kakak juga telah ikut campur kehidupan pribadiku. Atau jangan-jangan itu ulah Kakak? Memenjarakanku. Tega sekali." Alina kini menangis.
Aku berusaha menghubungi nomor Mas Adrian, tetapi tidak diangkat. Entah sedang apa lelakiku itu.
Aku sangat ketakutan, rasanya banyak kejanggalan pada diri Alina saat ini. Dia sangat mengerikan.
"Apa Kakak juga tahu, kalau aku habis dilabrak oleh istri pacarku? Kakak tahu rasanya? Heh. Sangat menyakitkan, Kak. Memalukan."
"Jika kamu sudah selesai, lebih baik sekarang keluar dari sini!" Aku menunjuk pintu keluar.
Aku ingin Alina cepat pergi dari sini.
Ya Tuhan! Mas Adrian, kamu di mana?
Pikiranku kalut. Tatapan mata Alina berubah tajam, matanya memerah. Di sana tampak luka, dendam juga kebencian menjadi satu.
Tubuhku gemetar seketika. Tidak bisa terbayangkan apa yang akan terjadi sebelumnya.
"Aku hancur, Kak. Hancur oleh kalian. Kalian memang siaalaaan!!!"
Alina menjerit histeris menumpahkan kemarahannya padaku.
Ini bukan Alina yang aku kenal.
"Tolooonggg!" Aku menjerit meminta tolong, berharap ada warga yang datang masuk ke rumah.
Terdengar suara tangisan bayiku dari dalam. "Bik, jangan keluar!"
"Itu bayimu, Kak. Kakakku tersayang ternyata sudah punya bayi, tapi tidak memberitahuku." Alina bergerak mencoba melangkah masuk.
Aku menahan tangannya sekuat tenaga. Dia menepis cekalan tanganku. Kekuatannya jauh lebih kuat dari sebelumnya. Dia seperti bukan orang normal.
"Stop!!! Jangan coba-coba menyentuh bayiku!" Aku berteriak.
__ADS_1
Siapa sangka, Alina malah tertawa terbahak. "Kenapa pelit sekali? Padahal Kakaklah yang selalu memberikan apa pun yang aku minta. Kecuali harta suamimu itu. Hahahaha."
"Pergilah Alina. Kalau tidak aku akan memanggil satpam sekarang."
"Kakak benar-benar mengusirku. Baiklah." Alina mendekat, lalu ... "Sebelum aku pergi, Kakak harus pergi."
"A-apa yang kamu lakukan?" Aku tak berdaya saat rasa sakit tiba-tiba menghujam dadaku. Pandanganku mulai mengabur, ketika kulihat wajah Alina berubah pucat pasi.
Dering ponsel berbunyi nyaring, perhatianku teralihkan antara menahan Alina atau mengangkat panggilan.
Kemudian, kudengar bibik menjerit histeris. Seketika itu pula, genggaman tanganku di kaki Alina terlepas.
"Mas Adrian ... Mas Adrian," ucapku terbata.
Kemudian gelap.
Dalam kegelapan sayup-sayup kudengar suara tangisan bayi yang melengking seolah memintaku bangun. Ingin kurengkuh Putri kecilku dalam dekapan. Namun, tenagaku telah habis melemah tak mampu bergerak. Bahkan bernapas pun sangat sulit kulakukan.
Keriuhan ramai terdengar membisingkan pendengaran. Aku tak tahu siapa mereka.
Tubuhku seolah terangkat ke atas.
"Mas Adrian," lirih lisanku terus memanggil namanya. Aku ingin merasakan pelukan dan menghidu wangi tubuhnya.
Namun, ragaku lagi-lagi tak mampu menggapai tubuh lelakiku.
"Mas Adrian." Dialah lelaki yang mampu menguatkan pertahananku. Dialah lelaki yang selalu berusaha memberikanku bahagia.
"Mas Adrian." Senyum tampan lelaki itu tercetak jelas dalam bayangku. Aku ingin selalu memandangmu setiap waktu.
Rasanya, waktu yang kulalui bersamamu secepat kilat berakhir. Perlahan senyum tampan itu memudar.
"Mas Adrian." Tanganku ingin menggapai tubuhnya yang perlahan menghilang. Namun, ragaku lagi-lagi melemah tak berdaya.
Lelehan air mataku entah sudah berapa banyak membanjiri wajahku. Aku tak lagi peduli, jika Mas Adrian tidak menyukai tangisanku. Aku tak lagi peduli jika lelaki itu marah karena aku menangis.
Aku hanya ingin merengkuhnya. Merengkuh tubuhnya seerat mungkin.
Tolong! Tolong siapa saja, bantu aku menggapai tubuh itu.
Dia ... dia benar-benar menghilang. Suara riuh pun tidak lagi tertangkap oleh telingaku.
Suara bayi mungilku tak lagi terdengar tangisannya.
Hingga ... hingga semua benar-benar gelap. Dunia gelap, senyap.
Tiada siapa pun lagi. Bahkan Mas Adrian pun dengan tega meninggalkanku sendiri dalam gelap nan sunyi.
****
Hai teman-teman. Terimakasih banyak sudah membaca kisah mereka sampai di part ini. Aku yakin, emosi telah bercampur aduk dalam dada yang siap ditumpahkan.
Maafkan karena tidak bisa membalas semua komentar kalian.
Salam hangat dariku 😍😍😍
Menuju ending yaa.
__ADS_1
2-3 part lagi. Semoga aku enggak khilaf. #eh