
Beberapa saat kemudian, dokter beserta perawat datang memeriksa kondisiku.
Mas Adrian tidak bergeser sedikit pun dari dari sisi ranjang. Tangannya begitu erat menggenggam satu tanganku.
Ya, aku tahu. Lelakiku itu tengah menyalurkan kekuatan padaku. Perasaan hangat menjalar dalam dada mengurai rasa gugup yang kian mendera.
"Bagaiman kondisi istri saya, Dok?" tanya Mas Adrian khawatir.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Seperti yang telah disampaikan sebelumnya. Ibu Hana jangan banyak pikiran, karena nanti berpengaruh pada perkembangan janinnya. Apalagi sampai kram lagi perutnya. Di kehamilan awal seperti ini memang harus ekstra penjagaan, karena kita belum tahu seberapa kuat janin bertahan."
"Baik, Dokter. Baik. Terimakasih, Dok." Mas Adrian menganggukkan kepala berulang kali.
"Kalau begitu saya permisi." Setelah mengatakan itu, sang dokter pun keluar kamar.
"Maafkan aku, Ann. Maaf ... karena sempat membuatmu begini. Janji, tidak akan lagi," ucap Mas Adrian sungguh-sungguh. Lelaki itu berulang kali mencium pucuk kepalaku.
Di ujung ranjang, tampak Bang David dan Alina berdiri tegang.
Wajah Bang David pucat, dengan ujung bibir yang terkoyak.
"Kakak, hamil?" tanya Alina dengan memicingkan mata. Lalu melepas genggaman tangannya di lengan Bang David, Alina mendekatiku.
"Iya, Anna hamil enam Minggu. Kandungannya masih rawan." Mas Adrian menjelaskan dengan nada yang terdengar sedikit aneh di telingaku.
Aku menoleh pada Mas Adrian, yang ternyata lelaki itu tengah menatap tajam pada Bang David yang masih mematung di tempatnya.
Mas Adrian menghela napas panjang. Sepertinya dia tengah meredam emosi agak tidak tersulut seperti tadi.
"Kalian udah makan belum?" tanyanya pelan. Matanya menatap Bang David dan Alina secara bergantian. "Lu pasti lapar, Bro. Habis adu tinju ama gua, 'kan mengeluarkan tenaga banyak tadi," ucapnya seraya terkekeh.
Bang David membalas dengan senyum. "Aw!" serunya kemudian.
"Kenapa, Bro? Sakit?" tanya Mas Adrian dengan mata memicing. "Itu belum seberapa tadi. Gua belum mengeluarkan seluruh kekuatan yang gua miliki," ucapnya tegas.
"Iya-iya gua tahu. Lu pasti menang soal adu otot," seloroh Bang David.
"Sayang, makan dulu ya ... bubur ayamnya udah dingin, lho." Mas Adrian berucap pelan sembari mengelus pucuk kepalaku.
Aku mengangguk pelan, lalu meraih tangannya yang masih bertengger di atas kepala. Menariknya sampai di depan wajah, lalu menciumnya takzim. Tangan ini, adalah tangan seorang suami yang selalu bersikap lembut kepada istrinya.
__ADS_1
Tangan ini, adalah tangan seorang suami yang selalu berusaha melindungi istrinya.
Tangan ini, adalah tangan suamiku yang selalu berusaha memberikan terbaik padaku dan pada calon anak kami.
"Terimakasih, Mas," ucapku lirih. Mas Adrian tersenyum tulus.
Kemudian lelaki itu mengambil bungkusan di nakas, membukanya satu per satu. Lalu memberikan kepada Bang David dan Alina yang langsung disambut oleh mereka.
"Aku makan sendiri, ya," elakku saat Mas Adrian akan menyuapi.
"Beneran, anak papa gak mau disuapin?" tanya Mas Adrian menggoda.
Aku sontak memukul lengannya. "Dasar," ucapku sembari tersenyum.
Mas Adrian mengelus pelan perutku yang masih rata. "Papa mau makan dulu ya, Sayang. Nanti kalau mau apa-apa bilang sama Mama, ya ...."
"Iya," jawabku pelan.
Lalu, Mas Adrian mengambil satu bungkusan lagi. Membawanya duduk di pinggir ranjang. Sejenak kami makan dengan tenang.
"Kak, maaf untuk yang tadi ... ya ... bicaraku terlalu kasar." Alina lebih dulu menyelesaikan makannya.
Dia tidak benar-benar menghabiskan buburnya, hanya makan beberapa sendok saja. Kemudian mendekat padaku. Mengucapkan kata maaf itu dengan lirih. Tampak gurat kesungguhan sekaligus penyesalan di wajahnya.
Bukankah seorang wanita harus belajar mengontrol kalimat yang keluar dari mulutnya. Agar saat dia memiliki anak, perkataannya bisa terjaga dengan baik. Sebab, setiap ucapan yang keluar dari lisannya menjadi sebuah doa yang akan terkabulkan.
Aku belajar dari ibu. Wanita hebatku itu tidak pernah berkata kasar. Dia selalu lemah lembut. Saat marah, ibu akan diam saja. Entah apa yang didoakannya untuk kami kedua anaknya. Yang pasti, aku yakin doanya adalah doa-doa kebaikan.
"Iya, Kak. Tadi ... aku sangat kaget dan merasa tercurangi," ucap Alina lagi dengan menunduk.
"Memang rasanya sakit sekali, saat seseorang yang kita cintai ternyata mencintai orang lain. Namun, siapakah yang dapat memaksakan kehendak rasa. Sebab, rasa itu sendiri tahu pada siapa dia akan bermuara," ucapku panjang lebar.
Aku menoleh pada Mas Adrian. Lelaki itu masih fokus menatap makanannya, begitupula dengan Bang David.
Entah mereka sebenarnya turut mendengarkan apa yang kami obrolkan atau tidak. Aku sendiri tidak bisa memastikannya.
Kalaupun kedua lelaki itu mendengar obrolan kami, biarlah. Mungkin itu lebih baik, agar mereka mengerti apa yang aku rasakan selama ini.
"Tapi, pernikahan adalah sebuah komitmen. Ada pertanggungjawaban di sana. Untuk itu, Kakak selalu berusaha menjaga komitmen itu. Sebab suami istri telah disumpah oleh sebuah perjanjian yang agung. Sekarang, Kakak telah bersama Mas Adrian, ada janin dalam perut Kakak di antara kami."
__ADS_1
Aku menghela napas panjang. Kemudian melanjutkan kalimat yang ingin aku ucapkan.
"Lalu, untuk apa Kakak mencari kebahagiaan di luar sana. Jika suami Kakak bisa memberikan segalanya. Lalu, bagaimana dengan pertemuanmu sama calon mertua? Lancar 'kan?"
"Emmm, Mama Bang David ingin kami menunda pernikahan, Kak. Entah alasannya apa, aku juga tidak mengerti. Rasanya, Mama masih mengharapkan Kak Anna sebagai menantunya," ucap Alina lesu.
"Lalu?" tanyaku penasaran. Maksudku, bagaimana tanggapan Bang David dengan rencana ini.
"Aku setuju jika kami harus menunda pernikahan ini. Kamu tahu sendiri 'kan, bagaimana Mama?" timpal Bang David menengahi percakapan kami.
"Apa maksudnya setuju menunda pernikahan kalian ,yang tinggal menghitung hari?" Aku mengajukan protes.
Setelah apa yang semua aku alami. Alina jalani, dan Bang David lakukan. Dengan entengnya lelaki itu bilang setuju menunda pernikahan mereka.
"Yaa, aku mau membujuk Mama dulu, Ann," ucap Bang David kemudian.
"Alasan apa itu? "Enggak masuk akal." Aku melengos. Menghindari tatapan tajam dari Bang David.
Di sampingku, Mas Adrian tidak menimpali percakapan kami. Lebih tepatnya, dia tampak tidak peduli dengan apa yang terjadi di sini.
"Sudah, Sayang ... biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri," ucapnya mencoba merayuku.
"Alasan Bang David enggak masuk akal, Mas. Alina udah sampai sini, mereka udah fitting baju, tinggal menunggu berapa hari aja 'kan untuk acaranya. Jangan-jangan, emang Bang David enggak ada rencana melanjutkan," omelku.
"Tenang, ingat kata Dokter ... kamu enggak boleh banyak pikiran. Di dalam perut kamu ada anak kita." Mas Adrian mencoba menenangkanku.
"Lalu apa rencanamu, Alina?" tanyaku pada Alina.
"Menurut Kakak gimana, aku pulang atau di sini. Kerja di sini aja, lagian aku udah resign kok dari kerjaan yang lama."
"Gimana baiknya menurut kamu aja. Gimana, Bang? Bang David enggak bisa lepas tangan gitu aja, dong," ketusku
Lelaki itu tampak memijit pelipis. "Oke. Kalau mau di sini nanti aku carikan tempat tinggal dan bisa kerja di kantorku," ucapnya kemudian.
"Ya udah, aku di sini aja. Sekalian pedekate lagi sama Mama."
"Jangan lupa sampaikan kepada ibu. Kakak enggak mau ibu jadi khawatir sama kamu."
"Kita juga nanti telepon ibu ya ... kasih tahu tentang kabar gembira ini. Kalau ibu mau tinggal sama kita, boleh, kok," ucap Mas Adrian pelan.
__ADS_1
Aku mengangguk setuju. Perasaan bahagia itu kembali menggelitik perutku.
Tuhan, tolong jaga pernikahan kami.