
Pandangan kami saling mengunci di udara. Entah apa lagi yang ada di pikiran lelaki itu? Aku tidak tahu.
Ah, andai saja isi kepalanya bisa kucari di google. Sudah tentulah akan aku lakukan. Mencari jawaban atas setiap tanya yang menari di kepala.
Kenyataan bahwa menjadi seorang istri tidaklah mudah. Aku harus sadar, bahwa ada saatnya aku mengalah pada dia, suamiku.
Ini bukan tentang salah atau benar. Ini tentang usaha saling memahami.
Dengan kondisi saat ini, aku sadar ... betapa aku seringkali egois. Menyimpulkan sesuatu tanpa terlebih dulu bertanya padanya. Padahal, jika saja aku mau membuka suara. Mungkin, akan segera mendapatkan jawabannya.
Hanya saja, entah karena gengsi atau malah malu sendiri. Jika setiap hari aku bertanya bagaimana perasaannya terhadapku.
Atau, perasaannya pada si masa lalu yang terus menghantuiku.
"Apakah semua mantan itu sama? Menyesal setelah tidak lagi di genggaman?"
"Apa?"
"Apa?" tanyaku bingung.
"Tadi kamu bilang apa tentang mantan? Kamu lagi inget si mantan?" tanya Mas Adrian terdengar ketus.
"Ha?" Jadi tadi itu bukan kata batinku, melainkan suaraku secara nyata. Aduh!
"Ha, apa?" Mas Adrian menuntut jawab. Tatapannya telah berubah, yang tadinya hangat kini menjadi tajam yang siap menghunusku.
"Tolong, jangan Mas!"
"Kamu kenapa, sih Anna? Apa yang kamu pikirkan? Ada apa dengan mantan? Tidak seharusnya mantan itu menjadi pembicaraan kita. Apalagi saat kita sedang menikmati keberduaan." Suara Mas Adrian terdengar melunak.
Aku meringis, merasa bersalah juga kenapa malah mengingat mantan-mantan yang seharusnya dilupakan.
"Jangan membicarakan mantan saat kita berdua. Oke."
"Tapi kalau ada sesuatu yang penting bagaimana, Mas?" tanyaku polos.
Mas Adrian tertawa terbahak, lalu mengacak rambutku. "Kamu ini gemesin, makin cinta, deh."
Eh. Kok?
Apaan, sih? Dari tadi ngobrol enggak jelas begini. huft.
Aku terhenyak kaget, saat dengan sekali sentakan aku telah berada di antara dua lengannya. Suamiku itu membopongku menuju ranjang.
Serta-merta, aku pun melingkarkan kedua tangan di lehernya.
Meletakkan kepala di dada bidang itu, menghidu wangi yang selalu menjadi candu.
Aku yakin, ini karena pengaruh hormon kehamilan. Semua yang ada pada Mas Adrian aku sukai. Termasuk mencium wangi tubuhnya yang tiada pernah ada bosannya.
Memakai baju bekas pakainya, yang terasa hangat di tubuhku. Rasanya nyaman sekali.
"Alina udah dapat kosan belum?" tanya Mas Adrian.
Saat ini kami sedang berbaring, dengan posisi miring saling berhadapan. Mas Adrian menjadikan tangan kirinya sebagai bantal, dengan satu tangannya yang bebas memainkan rambutku.
Sedangkan aku, tentu saja tanganku menari-nari di dada bidangnya. Mengikuti lekukan sempurna di sana.
"Belum kayaknya. Sekarang lagi pergi nyari. Ada apa, Mas?"
"Kalau belum, nanti kita bantu nyari, deh. Kasian di sini kalau enggak nyaman."
Aku mengangguk setuju.
"Kamu udah tanya ke dia belum? Mau tetap tinggal di Jakarta atau pulang ke Malang?"
Aku berpikir sejenak. Mengingat obrolanku beberapa hari yang lalu.
"Alina menginginkan untuk tetap tinggal di Jakarta, dia masih berusaha untuk mendekati mamanya Bang David."
"Ooh, ya udah kalau gitu. Jodoh enggak akan ke mana," balas Mas Adrian pelan.
Tangannya telah beralih ke pinggangku, lalu dia berbisik tepat di telinga.
"Anak kita udah kangen pingin ditengokin Papanya."
"Apaan?" Aku mendongak. Namun, tidak mampu lagi memprotes. Karena Mas Adrian telah melakukan aksinya, mengajakku pada dimensi yang berbeda.
Ah, lelaki ini. Selalu bisa membuatku meleleh tak berdaya.
__ADS_1
***
"Maaf ya, Dek. Kakak, malah enggak masak-masak, nih, beberapa hari ini. Kita beli terus untuk makannya," ujarku pelan sembari membuka bungkusan yang dipesan Mas Adrian lewat pesan antar.
Aku dan Alina tengah duduk di kursi meja makan, sarapan kali ini pun dengan menu seadanya.
Sebenarnya, aku kangen dengan dapur. Mengolah bahan mentah menjadi menu makanan kesukaan Mas Adrian maupun Alina. Nyatanya, untuk saat ini hal itu menjadi angan belaka. Karena aku belum bisa masuk dapur.
Jika tercium bau minyak atau gas saja, mual di perut tak bisa kutahan.
"Gpp, Kak," kekeh Alina.
"Bentar ya, Kakak mau lihat Mas Adrian dulu. Kok belum keluar-keluar." Aku meninggalkan meja makan lalu segera menuju kamar.
Saat membuka pintu kamar, tampak suamiku itu tengah menghadap cermin, menyisir rambut.
Duh tampannya. Akhir-akhir ini, ketampanan suamiku itu sepertinya bertambah berkali-kali lipat.
Aku tersenyum, lalu melingkarkan kedua tangan di pinggangnya.
"Belum siap ya, Mas?" tanyaku di balik punggungnya.
"Ini udah selesai. Ayo, keluar!"
Bukannya melepas rangkulan, aku malah semakin mempereratnya. Mencium wangi tubuhnya sebanyak yang aku bisa.
"Hei!" Mas Adrian melepas rangkulan tanganku di pinggangnya , lalu memutar tubuh sampai kami berhadapan.
Lelaki itu menangkup kedua pipiku. Mengulum bibirku lembut.
"Sarapan, yuk!" ajak Mas Adrian.
Aku mengangguk berkali-kali. Lalu kami berjalan dengan posisi saling berangkulan.
"Pagi, Dek," sapa Mas Adrian pada Alina yang tengah menikmati sarapan.
"Pagi, Mas," balasnya. Kepalanya mendongak, mengulas senyum sejenak lalu kembali menikmati sarapannya.
"Gimana kemarin, udah dapat kossannya belum?" tanya Mas Adrian.
Lelaki itu memundurkan kursi untukku. Lalu bergeser untuk duduk di sebelahku.
"Ooh, baguslah. Jadi kamu enggak kesulitan berangkat kerjanya. Nanti kalau ada apa-apa, langsung hubungi Kakakmu, ya." Mas Adrian menoleh padaku, tangannya terulur mengelus kepalaku.
"Makasih, Mas. Makasih, Kak," ucap Alina pelan. Menatap kami bergantian.
"Ya udah, Sayang. Aku berangkat dulu, ya? Kamu kalau bosan nanti bisa menyusul ke kantor. Nanti, kalau ada apa-apa cepat hubungi aku." Mas Adrian berpamitan. Lalu beranjak berdiri.
Aku ikut berdiri, akan mengantar suami ke depan.
"Mas, boleh bareng, gak?" tanya Alina menyusul langkah kami.
Seketika kami pun berhenti, lalu menatap pada adik perempuanku itu.
Mas Adrian tersenyum. "Naik taksi aja, ya, Dek. Ongkosnya biar Mas Adrian yang bayar."
"Eh, enggak usah, Mas. Uangku memang habis untuk bayar kos kemarin," balas Alina kikuk.
" 'Kan udah Mas bilang, kalau butuh apa-apa bilang ke Kakakmu." Mas Adrian mengeluarkan dompetnya dari saku celana, lalu mengeluarkan lembaran uang berwarna merah. Entah berapa jumlahnya. "Segini, cukup?" tanyanya pelan.
Mata Alina berbinar, lalu mengangguk dengan senyum semringah.
Aku menghela napas panjang.
Mas Adrian merangkul pundakku, mengajak melanjutkan langkah menuju teras.
Aku mencium tangannya takzim. Mas Adrian mencium keningku lama, lalu menunduk beralih mencium perut.
"Jagain Mama, ya ... Sayang. Papa kerja dulu. Gak boleh rewel," ucapnya pelan. Tangannya mengelus perutku lembut.
Ah, rasanya tak sabar menunggu perutku membuncit. Lalu lahiran. Pasti lelaki ini bahagia.
Aku memandangnya dengan binar penuh cinta.
Ya, aku mencintainya. Sangat.
Jangan tanyakan sejak kapan rasa ini ada, sebab aku tidak tahu sejak kapan hadirnya.
***
__ADS_1
Terdengar nada notifikasi pesan masuk dari ponsel yang tergeletak di ranjang. Aku segera memeriksanya.
Nomor tidak dikenal mengirimkan pesan.
'Anna, bisa kita bertemu hari ini. Mama, kangen kamu. Kita ketemu di cafe Honey, ya. Mama tunggu.'
Kenapa Mama ingin bertemu denganku?
Kepalaku dipenuhi tanya, tapi tidak akan menemukan jawaban jika aku tidak menemuinya 'kan?
Aku segera menelepon suamiku, mengabarkan pesan masuk yang kuterima dari Mama lalu meminta izin untuk bertemu.
Syukurlah, Mas Adrian mengizinkan. Walaupun aku harus menunggu, karena dia sendiri yang ingin mengantarku ke sana.
Jam sepuluh aku berangkat dari rumah. Tidak ada pembicaraan di antara kami selama di mobil. Mas Adrian tampaknya tidak berniat untuk bertanya, mungkin juga dia menunggu ceritaku nanti setelah bertemu Mam.
Entahlah.
"Nanti pulangnya aku jemput, ya?" tanyanya sembari melepaskan sabuk pengamanku.
"Mas, enggak sibuk di kantor?" tanyaku dengan dahi berkerut. Tentu saja aku tidak mau menganggu pekerjaannya, bagaimanapun suamiku ini sedang bekerja untukku dan anak kami.
"Kamu lebih penting. Langsung telepon nanti kalau udah selesai. Aku jemput," tegas Mas Adrian.
"Baiklah ...." Aku pasrah pada keputusannya.
Ini juga termasuk tanggungjawabnya 'kan?
Menjagaku, melindungiku, memberikan tempat nyaman untukku.
Mas Adrian mencium pucuk kepalaku singkat. Dia tidak ikut turun.
Aku merasa gugup melangkah masuk cafe. Mengedarkan pandangan ke sekeliling mencari sosok yang telah menungguku.
Mama melambaikan tangan. Aku segera menuju kursinya.
"Mama, apa kabar?" Aku mengulurkan tangan meminta salim.
Mama membalas dengan senyum terkembang. "Mama, baik, Sayang."
Aku duduk di hadapan wanita itu dengan gugup. Jantungku seakan ingin loncat keluar.
"Anna, Mama senang mendengar berita kehamilanmu," ucap Mama.
"Terimakasih, Ma."
"Apa kamu telah memeriksanya, Sayang?"
"Sudah, Ma. Dia sehat dan berumur enam Minggu. Bulan depan periksa lagi."
"Ah, syukurlah. Setelah mendengar berita itu, Mama langsung meminta bertemud denganmu. Rasanya sudah tidak sabar untuk melihat cucu Mama. Kamu harus segera rujuk dengan David, Anna?"
Aku terbelalak kaget. "Ma-maksud, Mama?"
"Kamu hamil anak David, 'kan?"
Lelucon apa lagi ini?
"Ini anak Anna sama Mas Adrian, Ma. Suami Anna. Tidak ada hubungannya dengan David, anak Mama."
"Mama enggak percaya. Kamu dan David menikah sudah lama, Anna. Coba pikirkan, sedangkan dengan Adrian baru seumur jagung. Enggak mungkin kamu langsung hamil?" Mama masih ngotot dengan pendapatnya sendiri.
"Maaf, Ma. Sepertinya Mama telah salah sangka. Ini bukan anak David, Anna bisa jamin itu."
Apa mungkin, ini alasan Mama mengukur waktu pernikahan Alina dan David yang entah sampai kapan?
Ya Tuhan!
"Bagaimana bisa? Kamu dengan David pasti telah sering melakukannya 'kan? Dan kamu belum juga hamil. Jangan bilang kalau David itu mandul."
"Maaf, Ma. Mungkin ini saatnya Mama tahu tentang pernikahan kami dulu. Bang David selama menjadi suamiku tidak pernah sekalipun menyentuhku. Alasannya apa, Mama bisa tanyakan langsung padanya. Sepertinya pembicaraan kita ini sudah tidak perlu lagi. Maafkan Anna, Ma."
Aku berdiri. "Anna, permisi." Tanpa menunggu jawaban Mama, aku segera meninggalkan Mama yang masih terpaku di kursinya.
Wanita paruh baya itu tampak menyusut air matanya. Bang David, begitu banyak luka yang kau torehkan pada orang-orang di sekitarmu.
Aku menghubungi Mas Adrian, dia kaget karena suamiku itu belum sampai kantor. Malah aku sudah menghubunginya.
"Tau gitu, tadi Mas tunggu, Sayang. Ya udah, tunggu sebentar ya. Aku putar balik."
__ADS_1
Aku akan menunggumu, Mas. Menunggu dengan segala kekuatanku untuk meriah bahagia bersamamu.