
(si David)
Hal yang paling aku sesali di dunia ini adalah menikahi Anna dan meninggalkan Alina kekasihku.
Namun, hal yang paling sangat aku sesali di dunia ini adalah menceraikan Anna.
Bingung dengan perasaanku? Ya, aku juga.
Menikah dengan Anna adalah sebuah kesalahpahaman. Bercerai dengannya adalah sebuah kebodohan.
Ternyata, wanita yang biasa lemah lembut, selalu menampilkan senyum itu, jika memiliki sisi keras kepala yang sangat amat menyebalkan.
Dia bersikukuh ingin bercerai dariku, padahal telah kuulur seperti benang agar ikatan kami tidak putus. Anna keras kepala.
Herannya, perasaan menyesal yang amat sangat aku rasakan saat Anna tiada lagi di sisi.
Berulang kali kucoba memperbaiki rasaku pada Alina yang mulai retak, tetap saja rasa itu tak mampu kembali utuh.
Wajah sedih Anna selalu terbayang di saat aku bersama Alina.
Alina dan Anna, dua orang kakak beradik yang memiliki sifat berbeda.
Entah sampai kapan penyesalan ini akan terus bertahan dalam ragaku?
Lihatlah! Anna telah bahagia menjalani hidup bersama Adrian. Sedangkan aku di sini masih menanti kehadiran wanita itu dalam hidupku kembali. Pantaskah itu kulakukan?
Sangking ingin menghindariku, Adrian sampai berniat melepaskan sahamnya di usaha yang dirintis orangtua kami.
Adrian adalah lelaki yang baik. Hanya saja, perasaan baik yang dia miliki sering kali menghancurkan dirinya sendiri. Sampai-sampai, Alina terus berusaha mendapatkan tunjangan hidup dari Adrian yang berstatus kakak iparnya.
Aku tahu Alina sangat marah besar saat Anna menghentikan semua fasilitas yang diberikan Adrian padanya. Itulah sebabnya, wanita itu mencari target lain.
Aku memberi kesimpulan, kehidupan yang selalu mengenakkan lah yang membuat Alina seperti ini. Hanya harta dan harta yang ada dipikirannya.
"Bang, tolong jangan putuskan hubungan kita. Aku enggak tahu bagaimana caranya hidup tanpamu?" ucap Alina kala itu.
Sebenarnya, aku pikir Alinalah wanita terbaik pilihanku. Sampai mama dan Adrian menyadarkan kebutaanku.
Mama yang tidak setuju aku menikah dengan Alina dengan alasan ada sisi lain dari wanita itu yang tidak mama sukai. Namun, mama tidak mengatakannya secara detail. "Naluri seorang ibu," kata mama.
__ADS_1
Sampai Adrian menceritakan bagaimana Alina berusaha memorotinya. Yah, wanita itu tahu bagaimana sifat Adrian sebenarnya. Suka menolong, tidak enakan.
Si Adrian, laki-laki berhati pinky. Hahahaha. Begitu aku mengoloknya.
Sampai-sampai dia bingung sendiri, bagaimana cara mengusir Alina dari rumahnya. Menurutku caranya salah, karena Adrian malah memberikan fasilitas mewah pada wanita itu.
Dasar Adrian.
Hah! Aku baru sadar telah terlalu jauh ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka. Membuatku semakin gagal move on dari Anna.
Dan ini, kedua kalinya aku kalah olehnya soal perempuan. Adrian itu selalu unggul, mungkin karena wanita tahu siapa yang berhati tulus. Huh.
Ck. Jika diingat-ingat, aku selalu kalah dari Adrian masalah perempuan.
Dulu Marisa, sekarang Anna. Dan yang paling membuatku menyesal adalah Anna seroang perempuan yang ternyata telah membawa seluruh hatiku pergi. Tak bersisa lagi untuk wanita yang lain.
Dasar Adrian, bisa-bisanya dia menjelaskan kepada Anna kalau aku pernah melihat Alina dengan seorang pria.
Aku yakin, Adrian tidak tahu kalau Anna meneleponku menanyakan soal itu.
Padahal, kami telah sepakat menyembunyikan rahasia ini bersama. Tidak ingin adalagi Alina di antara kami. Terserahlah dia mau apa.
Dan, permintaan maafku karena tidak bisa menahan diri untuk mencium bibir istrinya. Ya, aku telah lancang.
Anna telah melahirkan. Bagaimana perasaanku? Tentu saja aku berduka cita di atas kebahagiaan pasangan itu.
***
"David, bisa minta tolong," ucap Adrian saat memasuki ruanganku. Tanpa sapaan layaknya tamu, dia langsung main nyelonong saja. Tanpa janji ketemu lebih dulu
Aku kira, setelah dia memutuskan hengkang dari sini, kami akan jarang bertemu. Ternyata tebakanku salah.
Tampaknya, kami memang tidak bisa berpisah jauh. Sebab kami masih terikat untuk saling menguntungkan.
Aku berdiri menyambut kedatangannya. Wajah Adrian tampak kusut.
"Kalian beneran tidak ada hubungan lagi?" Aku berpikir sejenak mencerna arah tujuan Adrian.
"Alina," lanjutnya setelah beberapa menit tak mendapat respons dariku.
__ADS_1
Aku mengedikkan bahu, tanda tak ada niat membahas wanita itu. Dia wanita yang tak pantas diperjuangkan.
Adrian menghela napas panjang, seperti beban yang berada di dadanya sangat menyesakkan.
"Gua udah kehabisan akal menghadapi wanita itu. Kukira dia sudah dapat pasangan baru dan berhenti menghantui gua," ucapnya lelah.
Aku menyunggingkan senyum sinis. Membayangkan betapa sulitnya si Adrian lepas dari wanita itu.
"Lu tuh, jangan terlalu baik, Bro. Pikirkan kehidupan kalian sendiri. Atau, lu mau gua menggantikan posisi lu di samping Anna," ucapku menatapnya serius.
"Jangan ngimpi. Gua akan pertahankan Anna sampai titik darah penghabisan. Kalaupun raga gua gak ada lagi di bumi, gua akan tetap menjaganya dengan cara yang lain," ucapnya serius. Matanya menyorot tajam seperti pedang yang siap mengajak perang.
"Dih, dasar," desisku. "Alina lu urus sendiri lah, kalau Anna tahu kali aja bisa minta cerai dari lu," candaku.
"Sialan." Adrian melayangkan tinju ke udara.
"Lagian Anna 'kan udah lahiran. Bicarakan masalah kalian sampai selesai, enggak akan ngaruh lagi ke kesehatannya," usulku.
"Iya, gua udah mikir gitu. Istri gua harus tahu gimana kelakuan adiknya. Bagaimanapun, dia saudara satu-satunya. Tapi, pasti sedih mengingat bagaimana Anna memperjuangkan hidup Alina." Adrian melihat ke atas, seperti berpikir keras tentang tindakan apa yang akan dia lakukan.
"Thanks, Bro. Gua cabut dulu." Adrian berdiri lalu melangkah ke luar meninggalkan ruangan ini.
Aku kembali berkutat pada pekerjaan. Di tengah kesibukanku, wajah Anna kembali terbayang. Sangat-sangat mengganggu.
Sialnya, tanganku tak bisa dikendalikan membuka layar lalu bergulir ke menu galeri. Melihat berbagai pose Anna yang sempat tertangkap kamera. Lebih tepatnya, saat diam-diam aku sengaja membidiknya.
Ingatanku bergulir di awal-awal pertemuan kami. Dia sangat cerewet.
Tanpa sadar, senyumku tersungging di bibir. Betapa manisnya kenangan itu. Namun, hatiku malah terpaut pada sosok Alina.
Siapa yang tak akan meliriknya. Alina wanita yang manja, wajahnya cantik dan ... seksi. Tentu saja tiada yang tahu jika apa pun yang dia miliki ada sosok yang banting tulang demi memenuhi kebutuhannya.
Kenyataannya, Alina bukanlah karyawan yang berkompeten. Beberapa pekan kerja di kantor ini, dia sudah berani berulah. Memakai status hubungan kami yang saat itu sedang gila-gilanya. Alina berani memakai uang perusahaan.
Untung saja, Adrian sigap menangani. Tanpa ampun lelaki itu berhasil mengumpulkan bukti penggelapan dana dan berhasil memasukkan Alina dalam penjara.
Tidak lama, karena seorang lelaki asing berhasil menjamin Alina keluar dari sana. Entah bayaran apa yang Alina pakai untuk menyuap lelaki itu.
Kami harus bersiap untuk menerima pembalasan Alina selanjutnya. Entah apa yang akan dilakukan wanita picik itu.
__ADS_1
"Anna, aku akan melindungimu," gumamku.