
Tak bisa kupungkiri, dada bidang ini adalah tempat ternyaman buatku bersandar saat ini.
Deru napas itu mulai terdengar teratur, tetapi berbeda dengan degup jantungnya. Terdengar jelas di telingaku, betapa dia tengah berdegup kencang.
Seulas senyum terbit di bibirku. Apa yang sedang lelaki itu rasakan? Mengapa dia berdebar begini.
Aku mendongak, menatap kedua mata uang terpejam erat.
"Mas," panggilku lirih.
"Hmmm." Mas Adrian menggumam dengan mata yang tetap terpejam.
"Boleh tanya sesuatu?"
"Apa?"
Aku bergerak, berusaha melonggarkan pelukannya. Namun, tampaknya lelaki itu enggan mengurai dempetan tubuh kami. Tangannya semakin erat merengkuh tubuhku.
"Apa yang Mas pikirkan saat menyewakan rumah mewah itu kepada Alina, tanpa diskusi denganku terlebih dahulu?" tanyaku hati-hati.
Mas Adrian menghela napas panjang. Lalu mengecup pucuk kepalaku lama. Lantas, menenggelamkan badanku dalam rengkuhan eratnya. Aku sesak, tetapi merasa damai. aiisshh.
"Pertama, kamu sedang hamil anakku ...."
"Anak kita," potongku cepat.
"Iya, anak kita. Aku papanya dan kamu mamanya," lanjutnya serius.
Aku terkekeh geli mendengarnya.
"Aku enggak mau kamu berpikir terlalu keras. Apalagi, kata dokter kamu harus banyak istirahat. Ini kehamilan anak pertamaku, tentu saja ini adalah pengalaman pertama. Maka, sebagai papa aku berusaha memberikan yang terbaik untuk kalian."
Aku mendengarkannya dengan seksama. Diam. Tanpa menyela. Pikiranku sibuk mencerna setiap kalimat yang Mas Adrian ucapkan. Lalu mengingat-ingat kebaikan-kebaikan yang telah dia lakukan untuk kami.
"Yang kedua, aku udah janji, kan, akan memfasilitasi kebutuhan Alina selama dia di sini bersama kita. Katakanlah, rumah itu adalah fasilitas terakhir dariku. Lalu, ini yang terpenting. Dia merengek enggak mau pindah kalau tinggal di kamar kecil. Jadi, dari semua alasan itu. Bagiku yang terpenting ialah Alina bisa tinggal sendiri, tidak lagi bersama kita."
"Apa ... Mas Adrian takut tergoda oleh Alina?" tanyaku memancingnya.
Lelaki itu terkekeh pelan, lalu mengacak-ngacak rambutku.
"Coba tanyakan ke seluruh lelaki yang kamu kenal, apa reaksi mereka saat melihat wanita penggoda. Kira-kira bakalan tergoda enggak kalau disodori terus setiap hari?" kekehnya lagi.
"Ish, kan ...."
__ADS_1
"Aku lelaki normal, Sayang. Yang aku takutkan bukan karena bakalan termakan bujuk rayunya, lalu tergoda ingin menjamah. Bukan ...."
"Lalu?" tanyaku menuntut.
"Yang aku takutkan, saat istriku ini tidak ada di rumah. Lalu wanita lain menggoda, lha ... ternyata pandangan aku sedang kabur. Lalu merasa, wanita itu adalah kamu. Bagaimana?"
"Itu, sih, alasan kami aja, Mas." Aku memukul dadanya kesal.
"Coba deh, bayangkan. Kalau pas bangun tidur, kamu enggak ada di kamar. Tiba-tiba Alina masuk, yang aku kira itu adalah kamu karena kesadaranku belum genap," ucapnya pelan. Lantas, kedua tangannya menangkup kedua pipiku. Tangan lebar Mas Adrian terasa pas di wajahku.
Lelaki itu menatapku dalam. "Saat ini, hanya kamu yang ada di sini, Anna." Mas Adrian melepaskan tangkupan tangannya di kedua pipiku. Lalu menarik satu tanganku, diletakkannya di dada.
"Rasakan detak jantungnya ...," bisiknya. Ya, doa berdebar-debar.
"Tidakkah kamu mengerti, jika ini pertanda bahwa aku mencintaimu?"
Aku mengangguk. Lalu memberanikan diri mengecup bibir lelaki itu.
Ah, sudahlah. Tak akan aku ceritakan bagaimana selanjutnya. Saat ini, cukup mengerti saja. Bahwa lelaki itu mencintaiku.
***
"Mas ...." Aku memainkan jemari di dada polos Mas Adrian.
Dada bidang yang masih basah oleh keringat. Napasnya pun masih tak beraturan.
Tidak ada jawaban dari lelaki itu. Sekilas matanya tampak menyipit, keningnya berkerut, lalu kembali memejamkan mata.
Aku menggoyang-goyangkan badannya. "Mas ...," panggilku menuntut.
"Aku lelah," lirihnya.
"Ish, seharusnya aku yang kecapekan. Malah Mas Adrian, gimana, sih?" gerutuku kesal.
Lelaki itu terkekeh pelan. "Kamu sekarang agresif," ucapnya dengan seulas senyum.
"Tuh, kan, mesum banget deh." Bibirku mencebik. "Jawab," rengekku.
"Tapi nanti tambah lagi ya, satu kali," ucapnya serius.
"Curang, katanya capek. Malah minta lagi."
"Hahahaha. Capek, tapi mau lagi."
__ADS_1
"Jawab, Mas ...."
"Apa kamu ingat bagaimana penampilan Marisa?"
Sepintas, bayangan Marisa hadir di pelupuk mata. Tubuhnya yang indah dibalut pakaian seksi membuat siapapun yang melihat pasti akan tergoda.
"Iya, ingat."
"Nah, dia bahkan lebih segala hal dalam hal penampilan. Aku muak dengan semua yang ada padanya. Makanya, aku enggak suka kamu berpakaian yang macam-macam saat keluar rumah."
"Tapi, saat dalam rumah juga Mas tidak membolehkan aku berpakaian yang kurang bahan, kan?"
"Siapa bilang?"
"Tuh, pasti lupa," kesalku.
"Itu karena ada adikmu di antara kita, Sayang. Lagipula, aku lebih suka melihatmu yang tidak memakai apa pun. Lebih cantik dan ... mau lagi."
***
Seringkali masalah datang saat diri belum siap menyambutnya. Padahal, segala masalah tentulah ada solusi. Tinggal buka kuncinya saja.
Sering merasa kebingungan lalu putus asa mengatasi masalah yang dihadapi?
Tentu saja, sebab si kunci lupa naroknya di mana. Begitulah tandanya aku adalah manusia biasa tempatnya salah dan lupa.
Dari masalah antara aku, Alina dan suamiku. Aku jadi mengerti. Bahwa belajar mengenal karakter seseorang butuh waktu seumur hidup. Sebab, seiring waktu kepribadian seseorang bisa saja berubah. Ah, mungkin lebih tepatnya menunjukkan watak aslinya. Seiring dengan bertambahnya usia, pengalaman dan kebutuhan hidup.
Masalah Alina mungkin saat ini aku nyatakan telah selesai. Namun, untuk kedepannya bagaimana reaksi adikku itu. Aku belum bisa memprediksi. Yang pasti, sudah seharusnya membicarakan apa pun kepada pasangan.
Selama ini, aku sering menerka-nerka. Untungnya, Mas Adrian merupakan tipe lelaki yang mau diajak berdiskusi. Mau menjawab apa pun yang aku tanyakan.
Mas Adrian memang bukan lelaki sempurna, tetapi kebaikan yang dia lakukan mampu menyempurnakan hidupku sekarang. Ditambah hadirnya benih cinta kami dalam perutku yang semakin membuncit.
Ah, aku tak lagi sabar untuk menunggu melihat manusia mungil terlahir dari rahimku. Menyempurnakan keutuhan rumah tangga yang kami bangun.
Ada rasa rindu yang menyeruak untuk adikku, Alina. Hanya saja, saat ini aku belum bisa menghubunginya. Selain karena nomornya yang ganti kala itu, aku juga belum mau bertemu dengannya. Rasanya, aku juga masih memiliki hati yang merasa tersakiti saat ada seseorang yang ingin memiliki semua hal yang aku miliki.
Di masa lalu, aku masih sudi mengalah. Menghancurkan pernikahan yang susah payah kubangun. Memang, bukan seratus persen menjadi kesalahan Alina, ada andil mantan suamiku kala itu. Kalau saja, mereka sama-sama sadar akan takdir yang sudah ditentukan. Tentulah, di antara kami tidak akan terjadi hal saling menyakiti.
Cukup ada yang tersakiti oleh kesalahpahaman. Tak perlu saling menyakiti. Sebab, tersakiti dan menyakiti tentu dua hal yang berbeda.
Namun, dengan adanya kisah di masa itu. Aku bertemu dan menikah dengan Mas Adrian.
__ADS_1
Kami sama-sama pernah gagal oleh pengkhianatan. Maka, kami sama-sama saling berjanji pada diri sendiri tidak akan ada lagi kata khianat di kehidupan yang kami jalani berdua.
Setia adalah kunci utama sebuah kepercayaan. Dan aku percaya akan ucapan yang lelakiku utarakan.