
Sepeninggal bang David, aku masih berdiri mematung menghadap pintu. Padahal punggung lelaki itu telah menghilang, tetap saja masih terbayang olehku kedatangannya kemari.
Aku menghela napas panjang, mencoba mengendalikan emosi yang sempat terluap barusan. Berurusan dengan mantan suami tentu saja belum siap sama sekali. Bahkan kehadiran dia di pernikahan ini masih membuatku terkejut, aku sungguh tidak menyangka bang David akan datang hari ini. Terlebih jika lelaki itu malah menemuiku secara langsung.
Perkataannya masih terngiang jelas di telinga, dengan ekspresi yang dia berikan. Tubuhku tiba-tiba saja merinding mengingat kejadian barusan.
Rasa penasaran sekaligus khawatir bercampur menjadi satu dalam hatiku. Bagaimana jika bag David mempermainkan Alina? Atau, apa mungkin Bang David akan melakukan sesuatua pada Alina?
Aku menggeleng berkali-kali mencoba untuk mengenyahkan pikiran-pikiran buruk yang menguasai kepala. Bukankah sebagian prasangka adalah kebohongan? Bisa jadi, semakin banyak prasangka dalam otakku ini, malah menjadi doa yang bakalan terwujud. Ah, aku benar-benar pusing dibuatnya. Apa yang harus aku lakukan?
“Anna.” Entah sejak kapan ibu berdiri di sana. Mataku membola melihat ekspresi bingung ibu.
“Eh, iya ... Bu.” Aku mendekat menghampiri ibu yang masih berdiri di pintu.
“Boleh ibu masuk?” tanya ibu pelan.
Aku mengangguk, lalu mengulurkan tangan menggandeng tangan ibu, mengajaknya masuk. “Boleh, dong.” Kami berdua duduk di tepi ranjang. Tidak lupa aku menutup pintu kamar.
Ibu menggenggam tanganku, meletakkkan ke pangkuannya. “Anna, sebenarnya ada masalah apa?”
Aku mengernyit bingung. Ada masalah apa? Mengingat-ingat apa yang terjadi, rasanya enggak ada masalah appaun. Kalaupun mantan suamiku itu tadi ke sini, rasanya ... aku tidak ingin membuat ibu khawatir.
“Enggak ada, Bu. Memangnya ada apa?” tanyaku hati-hati. Sebisa mungkin aku mengontrol ekspersi wajah agar terlihat biasa saja. Ya ... walaupun itu sulit, karena aku yakin sebaik apapun aku menyimpan rahasia dari semua orang tidak akan mungkin dapat tersimpan baik dari wanita di hadapanku ini. Dia tahu melebihi apa yang telah aku ketahui.
“Adakah rahasia yang bisa tersimpa dari seorang ibu?”
Aku menggeleng lemah mendengar pertanyaan ibu yang lebih patut disebut sindirian/ Sepertinya ibu kecewa karena beberapa hal tidak aku ceritakan padanya.
Ibu menghela napas panjang. Kemudian melanjutkan kalimatnya. “Selama ini ibu diam bukan karena ibu tidak mengerti. Tapi, karena ibu merasa kamu bisa melewatinya. Sayangnya, semakin hari ... wajahmu tampak sering murung. Kamu sering melamun, memikirkan banyak hal. Termasuk masalah Alina dan mantan suamimu. Bukan ibu ikut campur, apalagi kalian telah dewasa. Tapi ... kalau melihat David bertingkah kelewatan padamu, tentu ibu tidak akan rela.”
Sejenak keadaan menjadi hening. Hanya helaan napas panjang yang terdengar. Aku masih menunggu kelanjutan dari kalimat ibu.
“Ibu sudah tua. Cuma ingin melihat kalian bahagia. Apa yang dikatakan David tadi?”
__ADS_1
Aku mendongak, melihat wajah ibu cepat-cepat aku menunduk kembali. Tidak sanggup rasanya melihat wajah keriput itu menatapku dalam.
“Enggak ada Bu ....” jawabku lemah.
“Lihat ibu kalau memang enggak ada apa-apa.”
Aku mendongak, menaap wajah ibu. “Iya, enggak ada apa-apa. Bang David mau menikahi Alina, itu saja yang dia katakan tadi.”
“Kamu enggak apa-apa?” tanya ibu dengan tatapan menelisik.
Aku tersenyum. “Tentu saja tidak apa-apa. Kalau mereka bahagia, akulah orang pertama yang akan merasakan kebahagiaan mereka.”
“Apa kamu bahagia bersama Adrian?”
Aku mengangguk yakin. “Tentu. Walaupun tidak tahu bagaimana kedepannya. Tapi Anna yakin akan selalu berusaha untuk bahagia, dan yakin jika pak Adrian akan membuatu bahagia.”
“Kok masih manggil Pak, sih?” ibu bertanya dengan senyum menggoda.
Kali ini ibu terkekeh geli, mungkin karena mendengar pertanyaan konyolku. Aku hanya masih ragu harus memanggilnya apa dan mencari dukungan dari ibu.
“Lho, kok malah tanya ke ibu, sih? Emang dia maunya dipanggil apa?”
“Sa-yang ....” Aku tertunduk malu. Pastilah mukaku telah berubah menjadi kepiting rebus. Pak Adrian benar-benar mengerjaiku. Awas aja nanti.
Ibu tertawa terbahak, sampai mulutnya terbuka lebar, bahkan air matanya mengalir ke pipi. Aku mencebik. Aku benar-benar dikerjain.
“Kamu ini, kayak anak remaja saja.” Aku meletakkan kepala ke pangkuan ibu. Sontak wanita yang telah melahirkanku itu mengelus kepalaku. Ya, memang begitulah adanya. Sebesar apapun seorang anak, tetaplah menjadi anak-anak di mata ibunya.
“Jadi, gimana, Bu?” tanyaku manja.
“Yaudah panggil sayang atau mas aja. Atau yayang mbeb.” Ibu berkata dengan terkekeh.
“Ihh, ibu malah godain ....”
__ADS_1
“Lho, serius. Panggil suamimu dengan panggilan yang paling dia sukai, dengan panggilan sayang penuh cinta dan kepatuhan. Dengan begitu, sebagai istri kamu telah melakukan salah satu usaha menjinakkan hatinya.”
“Emang kuda butuh dijinakin.”
“Yaudah sana, temanin Adrian nemui para tamu undangan yang masih ada. Ibu mau keluar juga.”
Aku menegakkan tubuh. Kemudian tatapanku beralih ke pintu, tampak pak Adrian tengah berdiri di sana dengan tangan masih memegang gagang pintu.
“Eh, ada ibu. Maaf mengganggu, Bu.” Sapa pak Adrian sopan.
“Enggak kok, Nak Adrian. Ini mau ngajakin Anna keluar juga kalau udah siap, biar bisa temenin Nak Adrian menyapa tamu yang masih ada.” Ibu berdiri kemudian berjalan ke arah pintu kamar.
Sedangkan pak Adrian membungkuk hormat, sesaat tatapannya melihat padaku. Tentu saja, aku tengah melihat ke arahnya. Namun, siapa sangka jika lelaki itu malah mengedipkan sebelah matanya, sontak aku mendelik yamg dibalas senyuaman canggung darinya.
“Suda ya ... ibu mau keluar.” Ibu keluar tanpa melihat ke arahku lagi. Pak Adrian mengelus tengkuknya.
“Dasar ....” desisiku.
“Apaan?” tanya pak Adran dengan mengedikkan kedua bahunya.
Ish, jika diingat-ingat ... aku dan dia sering berbicara hal yang sepele. Jarang sekali kami membicarakan hal-hal yang serius. Lelaki itu lebih sering mengajakku bercanda atau malah menggodaku.
Entah karena alasan apa dia melakukan itu? Bisa jadi, karena ingin membuatku nyamana. Atau malah, begitulah cara dia menjaga perasaanku. Sebab dengan begitu, aku malah sering tersenyum.
Yangpasti, aku bahagia bersamnya. Semoga selamnya.
Pak Adrian mengulurkan tangan, aku dengan senyum merekah menyambutnya. Lantas, dia menggenggam tanganku. Mengecup punggung tanganku lama. Sesuatu terasa berdesir mengalir dalam darahku. Gelenyar-gelenyar aneh itu kini kurasakan.
Aku merasa tersanjung atas perlakuan baiknya. Sebab kebaikannya memperlakukanku pulalah, aku menerima dia mendampingi hidupku.
“Sudah siap menemui orang-orang di luar, Nyonya Adrian?” tanyanya lembut dengan jari yang mengelus punggung tanganku dan tatapan hangat yang mampu menghipnotisku.
Aku tersenyum, lalu mengangguk yakin. “Hmm.” Kami keluar dengan tangan yang saling menggenggam erat.
__ADS_1