Suamiku Mencintai Adikku

Suamiku Mencintai Adikku
Bab 76


__ADS_3

Cinta itu melibatkan perasaan, pun tidak bisa dipaksakan pada siapa ia akan berlabuh. Namun, kegagalan di masa lalu membuatku mengerti. Cintailah pasanganmu, jika kamu belum mampu dengan rasamu. Jangan sakiti dia dengan kecuranganmu.


Perselingkuhan itu bukan semata-mata soal dua raga yang bersatu, tetapi juga tentang rasa yang tidak setia.


Tentu saja, belajar mencintai itu butuh waktu seumur hidup dalam hal pernikahan. Sebab, rasa itu bakalan pasang surut. Aku tidak pernah tahu bagaimana kehidupan pernikahanku ke depan. Tidak juga pernah tahu bagaimana rasa kami selanjutnya.


Namun, aku tahu. Aku harus menjaga pernikahan ini. Menjaga rasa ini, agar selalu berada pada tempatnya. Mencintai seseorang yang hidup bersamaku dalam ikatan pernikahan. Mencintai suamiku dengan cinta yang utuh.


Setidaknya, aku akan selalu berusaha untuk terus mencintainya sampai waktuku habis.


Mas Adrian itu anugerah. Cinta yang dia berikan kepadaku terlalu besar. Kadang aku merasa tidak sanggup menerimanya. Namun, dia juga yang selaku meyakinkan aku bahwa diriku ini pantas menerimanya.


Melihat wajahnya yang terlelap begini. Membuatku terharu. Mendengar dengkuran halusnya, merasakan hangat napasnya. Tidak terasa, air mataku mengalir membasahi pipi.


Aku tidak bisa membayangkan, jika saat bangun kala itu dia tidak dapat kulihat lagi. Ya Tuhan! Rasanya sesak sekali dadaku. Seperti ada batu Godam yang menghimpitnya.


Bagaimana mungkin, dia sanggup memberikan jantungnya untukku?


Rasanya, aku belum sanggup kehilanganmu, Mas. Aku belum sanggup ....


Aku sesunggukan. Cepat aku membalikkan badan, memunggunginya. Menghabiskan tangis yang semakin menyesakkan.


Aku menutup mulut, agar tangisanku tersamarkan.


"Anna ...." Suara lembut Mas Adrian kontan membuat tubuhku menegang. Cepat, aku menghapus air mataku ini.


Kurasakan elusan lembut di kepala. Lantas, kasur bergerak pelan.


Mas Adrian mendekatiku, memeluk tubuhku dari belakang.


Berulangkali mencium pucuk kepalaku.


"Ada apa, Sayang? Kenapa kamu menangis? Ada yang sakit?" tanya Mas Adrian.


Aku menggeleng.


Mas Adrian membalikkan tubuhku agar menghadap padanya.


"Hmmm?"


Aku tak lagi kuasa menahan tangisan ini. Lantas, menangis di dadanya sekencangnya.


Mas Adrian tidak berkomentar. Dia terus mengelus kepala dan punggungku secara bergantian. Lalu mencium pucuk kepalaku.


Aku mengurai pelukanku. Kemudian menghapus jejak basa di wajah. Tidak lupa, Mas Adrian membantuku. Dia juga meninggalkan kecupan ringan di seluruh wajahku.


Aish. Lelaki ini. Tentu saja senyum di bibirku terbit dengan seenaknya. Lalu wajah memerah malu-maluin.


"Wajahmu merah," bisiknya.


Tuh, kan. Nyebelin memang.


"Udah tenang?" tanyanya.


Aku mengangguk lemah.


"Sini." Mas Adrian menarik tubuhku lagi dalam dekapannya. "Istriku tersayang."


"Mas ...."


"Hmmm?"


"Makasih."


"Untuk?"


"Untuk semua cinta yang kamu berikan."


"Sama-sama, Sayang."


***


Pagi ini, aku sibuk bersiap-siap. Menyiapkan pakaian ganti Mas Adrian yang masih mandi.

__ADS_1


Menyiapkan bekal untuk perjalanan kami.


Tidak lupa menyiapkan rindu untuk Putri. Karena tidak mungkin mengajaknya pergi.


"Sudah siap?" tanya Mas Adrian saat keluar dari kamar mandi.


Aku menghampirinya. Kemudian membantunya berganti pakaian.


"Sudah," jawabku singkat.


"Kamu beneran udah siap?"


"Sudah."


"Maksudku, siap lahir dan batin, Anna."


Aku mengernyit bingung. "Kenapa?"


"Karena kamu harus mengingat luka yang pernah dirasakan, Anna. Bukan hanya untukmu, tapi untuk keluarga kita."


Mata Mas Adrian memerah. Ya, tampaknya suamiku itu belum bisa memaafkan orang-orang yang telah melukai keluarganya.


"Maafkan aku, Mas," lirihku yang langsung memeluk tubuhnya erat.


"Bukan salahmu."


***


Langkahku semakin menyurut, seiring langkah yang mendekati ruangan itu.


Sebenarnya, banyak orang yang berkeliaran di sekitar halaman. Hanya saja, karena masih sering mengamuk. Alina belum diperbolehkan keluar.


Alhasil, Kamilah yang harus langsung menuju ruang perawatannya.


"Silakan! Pak, Bu."


Kami mendekati pintu. Menunggu perawat membukanya.


"Kak, maaf. Kakak .... huaaaa!!! Kakak ...!!!"


Ya Tuhan, Alina!


"Suster, suster. Tolong antar saya melihat Kakak. Dia ... dia ... dia ... terluka, Sus. Tolong, Suster," ucap Alina terbata saat melihat perawat masuk ke ruangannya.


Mas Adrian mengeratkan rangkulannya di bahuku. Mengusapnya pelan, memberikan kekuatan.


"Kamu yakin akan melihatnya? Mas enggak mau kamu kenapa-kenapa," tanyanya penuh kekhawatiran.


"Tolong izinkan aku, Mas. Percaya padaku."


"Aku akan menemanimu ke dalam."


"Terimakasih, Mas."


Kami masuk ke ruangan itu. Perawat seketika mundur memberiku jalan mendekati kasur.


Ada dua perawat menemaniku di dalam. Lelaki dan perempuan. Sedangkan dua perawat lain, laki-laki, berjaga di luar.


Mas Adrian semakin mengetatkan rangkulannya, sampai tubuhku merapat.


"Mas, percayalah aku tidak apa-apa." Mas Adrian bergeming. Tidak melonggarkan sedikit pun rengkuhannya.


"Mas yang apa-apa," ketusnya.


"Suamiku sayang ... Mas 'kan nemenin. Pasti jagain aku. Aku percaya padamu, Mas," ucapku yakin.


Kadang suami memang butuh pengakuan 'kan. Sebuah pengakuan bahwa dia bisa melindungi keluarganya. Menjaga istri dan mampu membahagiakan.


"Serius?" tanyanya dengan mata menyipit.


"Serius," balasku dengan anggukan yakin.


"Kakak ... Kakak ...."

__ADS_1


Aku dan Mas Adrian kontan menoleh, saat mendengar suara panggilan Alina.


Tampak Alina bergerak turun dari ranjang. Namun, ditahan oleh dua perawat.


"Biarkan saja," cegahku.


Lantas, Aku dan Alina saling maju mendekat. Langkahku sedikit tertahan karena Mas Adrian menahan pinggangku.


"Kakak ... Kakak." Alina tiba-tiba bersimpuh di lantai. Menangis. "Maafkan aku, Kak. Aku bersalah."


Aku mundur selangkah. Satu tangan membekap mulut. Air mataku mengalir deras.


"Kakak, maafkan aku Kakak."


Aku menggeleng.


Mendadak Alina berdiri, lalu menjerit. "Darah ..m darah. Itu darah. Kakak, awas! Ada darah, Kak. Awas!!!"


Sedari kecil, Alina memang takut darah. Aku tidak membayangkan bagaimana perasaannya saat dia melihat begitu banyak darah yang keluar dari tubuhku saat itu.


Mungkin itu juga yang membuatnya seperti sekarang.


Dua perawat sigap memegang tubuhnya yang mulai mengamuk.


Aku tidak kuat melihatnya seperti itu. Sesakit apa pun Alina pernah melukaiku. Balas terbaiknya adalah melihatnya seperti ini.


Aku benar-benar tak sanggup melihatnya seperti ini.


"Lepaaasss!!!" Aku menjerit.


Kemudian menepis kedua tangan Mas Adrian. "Biarkan aku mendekatinya , Mas. Sebentar saja."


"Ba-baiklah. Tapi biarkan aku menemanimu."


Mungkin rasa cintaku yang terlalu besar. Sehingga aku menepiskan segala luka yang pernah dia torehkan.


Mungkin rasa cintaku yang terlalu besar. Sehingga menghapus luka yang pernah kurasakan karena tancapan belatinya di dadaku.


Aku hanya ingin dia sadar, dan tidak mengulanginya.


Aku ingin dia kembali ke jalan yang benar. Menjadi adikku yang lucu juga menggemaskan. Bukan terkurung dalam ruang perawatan rumah sakit jiwa seperti sekarang.


Aku merasa telah gagal menyayanginya.


Rasa cinta seperti apa yang telah aku berikan. Yang kemudian malah menjerumuskannya dalam kubangan nestapa ini?


"Alina," panggilku pelan. Aku mengelus pucuk kepalanya.


Saat ini, Alina tengah duduk memeluk lutut. Sesunggukan menangis.


Bisa jadi, tenaganya telah terkuras habis sebab mengamuk tadi.


"Alina, ini Kakak, Sayang." Aku berusaha merengkuh tubuhnya. Berulang kali dia menepis tanganku, berulang kali pula aku berusaha meraihnya.


Hingga, Alina mendongak. Menatapku.


"Ka ... Kakak." Alina memelukku erat. Menumpahkan tangis dalam dekapanku, seperti saat dulu. "Maafkan aku, Kak."


"Kakak telah memaafkanmu."


Ah, untung saja. Yang kamu lukai itu tubuh Kakak, Alina.


Kalau saja yang terluka itu Mas Adrian atau malah Putri kami. Tentu saja, maaf itu tak mungkin mudah kuberikan


Bisa saja, inilah yang Mas Adrian rasakan.


Aku tidak akan berani meminta lebih pada suamiku. Meminta dia memaafkan Alina sungguh perbuatan yang tidak terpuji bagiku sebagai istri.


Sebab Alina telah melukaiku. Melukai ibu dari anaknya Mas Adrian.


Mas Adrian mau menemaniku sampai di sini sudah cukup bagiku.


Cinta itu menguatkan. Bukan meminta kekuatan. Karena, kadang cinta sungguh melemahkan perasaan

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️


__ADS_2