Suamiku Mencintai Adikku

Suamiku Mencintai Adikku
Bab. 44


__ADS_3

Hari-hari aku lalui dengan manis. Setiap hari, kami seperti pengantin baru.


Rasanya, ini semua balasan kebaikan setelah rasa sakit yang aku dapatkan.


Beginilah yang seharusnya aku lakukan, mencintai apapun yang aku dapatkan. Tidak harus mengharapkan sesuatu yang tak jelas. Karena cinta, adalah perkara abstrak. Dia tidak bisa ditampakkan, hanya bisa diwujudkan dengan tindakan.


Mas Adrian membuktikan setiap perkataannya. Katanya dia mencintaiku, dia pula yang memperlakukanku seperti ratu setiap hari. Maka, aku pun akan siap melayaninya semampuku.


Lambat lain, hati ini pun sembuh. Bayangan menakutkan yang pernah singgah, kini telah lenyap. Dan aku harap dia benar-benar lenyap dari ingatanku secara abadi. Walaupun, mau tak mau. Namanya pernah mendekam di hati.


Hari ini, Alina akan datang ke Jakarta. Menyampaikan kabar gembira atas pernikahan yang akan dia langsungkan.


Aku menunggunya dengan antusias, menyiapkan makanan kesukaan. Menyiapkan kamar untuknya menginap.


Awalnya, Alina meminta Mas Adrian untuk menjemputnya di bandara. Tapi, mas Adrian menolak dengan alasan ada meeting hari ini.


Jika dipikir-pikir, ke mana calon suami Alina. Kenapa, dia tidak menjemput.


Saat aku tanyakan pada adikku itu, dia memberi alasan katanya calon suaminya sedang sibuk.


Yaa, mungkin sedang mempersiapkan segalanya.


Kadang, hidupku ini terlihat lucu. Menikah dengan calon suami adikku, lalu cerai. Dan mantan suamiku, akhirnya mau menikah dengan calonnya dulu. Haha.


Biarlah, seperti benang kusut yang belum terurai.


Terdengar ketukan di pintu, segera aku keluar rumah menyambut kedatangan adikku.


Seperti biasa, Alina tampak cantik mempesona. Ah, siapa saja yang melihatnya pasti langsung jatuh cinta.


"Hai, Kak." Alina melambaikan tangan, senyumnya merekah sempurna.


Aura calon pengantin, tampak berseri indah di wajahnya.


"Hai." Aku mengambil koper yang dia bawa. Membawanya masuk ke rumah, lalu mempersilakannya duduk. Sementara aku langsung menuju dapur, menyiapkan minum.


"Minum dulu, setelah itu baru mandi." Aku ikut duduk di sofa ruang tamu. "Bagaimana kabar ibu?"


Alina menyeruput teh hangat yang aku sajikan di meja. "Baik, Kak. Mau ikut, tapi enggak jadi."


Aku mengangguk-angguk. "Udah kasih kabar kalau kamu sampai sini?"


"Udah."


"Ya udah, kamu mandi aja dulu. Kakak siapkan makannya, ya ...." Aku berdiri meraih kopernya, lalu membawanya ke kamar tamu.


Setelah itu, aku keluar. Alina telah masuk ke kamar.


Aku segara ke dapur, menyiapkan makan untuknya. Aktivitasku terjeda saat terdengar nada dering ponsel.


"Ya ...?"


"Kamu udah makan?" tanya Mas Adrian.


"Belum, ini lagi disiapkan."

__ADS_1


"Aku enggak pulang, ya. Makan di restoran aja, mau ketemu klien. Agak repot bolak balik."


"Iya ... kalau udah selesai kerjaannya langsunh pulang, ya!"


"Siap, laksanakan."


Aku tertawa mendengar jawabannya. Dia selalu begitu, melakukan hal-hal manis untuk menghiburku. Lelaki romantis.


"Kak, Mas Adrian enggak pulang, ya?"


Aku tersentak, menyadari jika Alina telah berdiri dekat meja makan.


"Oh, enggak."


Alina mengenakan kaus ketat, dengan celana di atas lutut.


"Alina, kalau di rumah ini pakai pakaian yang sopan, ya. Kakak enggak mau kamu pakai baju itu, apalagi kalau ada Mas Adrian. enggak sopan." Aku berkata tegas memberi peringatan. Aku risih melihatnya berpakaian minim seperti itu.


"Ini kan baju biasa, Kak. Apanya yang enggak sopan, sih?" Alina tidak terima, dia menarik kaus bagian dadanya ke depan. Menunjukkan bajunya tersebut.


"Ini di rumah suami Kakak, bukan di rumah kita." Aku mencoba menjelaskan.


Tampaknya, Alina tidak terima dengan penjelasan yang aku berikan.


"Kakak, ih. Aku, kan bukan Kak Anna yang suka pakai baju kayak ibu-ibu sayur."


Dia masih ngotot dengan pakaiannya.


"Ya ampun, Alina. Menjaga penampilan saat bersama orang lain itu harus, terutama laki-laki?" Suara ku mulai meninggi.


"Jangan-jangan Mas Adrian mata keranjang lagi, makanya mudah tergoda sama cewek pakai baju kayak begini." Mata Alina memicing, mencari pembenaran atas perkataannya.


"Abisnya, Kakak aneh. Masak baju begini aja katanya enggak sopan. Kalau aku enggak pakai baju baru enggak sopan, Kak." Alina mulai merajuk manja.


Aku menghela napas panjang. Semakin diladeni, semakin anak ini menjadi-jadi.


"Pokoknya, nanti saat Mas Adrian pulang, kamu harus ganti baju. Titik." Aku memutus pembicaraan. Menatapnya tajam sebagai tanda tidak mau dibantah.


"Iya ...." Alina berkata lirih. Bibirnya mengerucut, cemberut.


Lantas , kami pun makan dalam diam. Tidak ada pembicaraan mengenai baju, atau apapun.


"Jadi, apa yang kamu butuhkan?" Aku memulai obrolan saat kami tengah duduk santai di ruang TV.


Setelah makan siang yang hening, kami memilih duduk santai dengan menikmati camilan sambil menonton TV.


"Apa, ya? Semuanya udah beres, sih. Tinggal acara hari H aja. Uang yang Kakak kirim juga masih sisa, kok." Alina menyengir kuda.


Aku menepuk pucuk kepalanya dua kali. Dia tampak menggemaskan jika nyengir begitu.


"Setelah menikah, aku tinggal di Jakarta, Kak. Gimana ibu?"


"Nanti Kakak bicarakan sama ibu, kalau mau tinggal di sini. Tapi enggak bisa maksa juga, karena banyak kenangan keluarga kita di rumah itu."


Alina menganggu setuju.

__ADS_1


Mengobrol banyak hal bersama Alina, membuat waktu terlewat tidak terasa. Biasanya, aku akan gelisah menunggu suami pulang, sekarang tidak terlalu lagi.


Sepertinya, aku memang butuh teman.


Suara ketukan di pintu mengalihkan perhatian kami, obrolan kami terputus. Lantas, aku segera berdiri untuk membuka pintu.


"Mas, udah pulang." Tumben lelaki itu mengetuk dulu, biasanya langsung masuk aja. Atau, karena ada Alina di rumah kami.


Dia tersenyum hangat. Menarikku ke dalam pelukannya, wangi tubuhnya menjadi candu di hidung. Padahal, dia dari luar, dan berkeringat.


Campuran parfum dan keringat justru menjanjakan indera penciumanku.


Aku mengendus-endus kemejanya, seperti anak kucing mencium bau makanan.


Setelah merasa puas, aku pun menarik diri dari pelukan eratnya.


"Gak malu lagi ya sekarang." Mas Adrian tersenyum menggoda.


Aku melihat sekeliling. Upps, ternyata kami masih di luar.


"Masuk, Mas." Entah seperti apa wajahku saat ini. Merah padam karena panas.


Mas Adrian malah menarik pinggangku, lalu mengecup bibir singkat.


Aku memukul bahunya, yang dibalas gelak tawa.


Kami pun masuk dengan bergandengan tangan. Satu tanganku membawa tas kerjanya.


"Udah dari tadi, Lin?" Mas Adrian menyapa Alina yang duduk di depan TV.


"Eh, Mas Adrian. Belum kok, Mas." Alina berdiri.


"Lanjutkan nontonnya, saya masuk dulu, ya ...." Mas Adrian menoleh padaku, lalu menarik tanganku pelan untuk mengikutinya ke kamar.


Aku melirik Alina, menatap tajam padanya lalu memberi kode agar mengganti pakaian yang dikenakan.


Aku yang malu melihatnya seperti itu. Padahal, tampaknya Alina biasa saja.


Apa sekarang aku harus berpakaian seksi, sih?


"Kenapa?" Mas Adrian menutup pintu kamar. Lalu berdiri di hadapanku.


Mata lelaki itu memandangku lekat, penuh tanya. Sepertinya dia tahu kegusaranku.


"Mas, emmm. Apa perlu, aku memaki baju seksi di rumah?" tanyaku bingung, melihat ekspresinya yang datar segera aku menunduk, kecewa.


"Kenapa?" tanya Mas Adrian. Kedua tangannya telah menangkup kedua pipiku.


Aku menggeleng, ingin menunduk lagi. Namun, kepalaku ditahan oleh kedua tangan hangat itu.


"Aku lebih suka lihat kamu enggak pakai apapun. Cukup jadi dirimu sendiri. Lagian aku enggak suka, lihat kamu berpakaian minim saat ada orang lain." Mas Adrian berbicara dengan penuh kelembutan.


"Rasanya, aku memang enggak pantas untuk siapa pun. Penampilanku, kampungan."


"Jadi, kamu lebih suka enggak berpakaian saat ada orang, begitu?" Mas Adrian menarik turunkan alisnya

__ADS_1


"Ih, apaan sih?" Aku menggetok kepalanya yang berpikiran mesum.


Lantas, dia malah tertawa lepas. Lalu meraihku dalam pelukan yang erat.


__ADS_2