
Aku tetap bergeming, enggan turun dari mobil. Rasa kecewa sedang menggelayut di hati tanpa bisa diusir begitu saja.
Tubuhku semakin enggan untuk sekadar melihat ke arah lelaki itu yang tengah menungguku turun.
Dia masih setia di sana, dengan tangan memegang pintu mobil.
"Ayo, Sayang ...." Satu tangan terulur untuk membantuku turun.
"Aku mau pulang," desisku tajam.
Terdengar helaan napas panjang dari Mas Adrian.
"Tapi kamu harus periksa dulu," ucap lelaki itu lembut.
Entah kenapa kali ini keinginanku tak ingin ditawar. Tidak bisa.
"Aku mau pulang," ucapku dengan suara serak. Bulir bening siap meluncur deras dari kedua mataku.
Kali ini terdengar helaan napas pasrah dari lelaki itu. Tapi, tidak ada lagi jawaban darinya.
Pintu mobil ditutup dengan halus, lalu Mas Adrian berlari mengitari mobil dan membuka pintu samping kemudi. Kemudian, dia pun masuk lalu duduk di belakang kemudi.
"Wajahmu sangat pucat, Anna. Tolong, pikirkan kondisimu," ucapnya lembut.
Aku membuang wajah ke samping. Menatap jendela. Sudah aku katakan bukan? Jika aku sedang tidak ingin melihat wajahnya.
Aku tersentak kaget, saat sebuah genggaman terasa erat di telapak tanganku, sesekali kurasakan usapan lembut di punggung tangan.
Ah, Mas Adrian memang begitu. Selalu bisa berlaku manis. Pada siapa pun. Siapa pun.
Entah mengapa, kali ini aku tidak bisa menahan air mataku agar tidak meluncur deras. Nyatanya, aku secengeng itu.
Mas Adrian menangkup kedua pipiku, agar menoleh padanya.
Kini, jarak wajah kami hanya beberapa senti saja. Aku bisa merasakan hangat napasnya menerpa wajahku.
Tatapan matanya yang hangat berubah sendu, ada kesedihan di sana. Lalu, berubah merah dengan kaca-kaca. Apakah Mas Adrian pun ingin menangis?
"Kamu prioritasku saat ini. Entah bagaimana aku menjelaskannya kembali padamu? Udah, jangan menangis ya ...." Mas Adrian menghapus jejak basah dikedua pipiku dengan kedua ibu jarinya. "Baiklah, kita pulang. Jangan menangis ...." Kemudian, lelaki itu mengecup dahiku lembut dan lama.
Sebenarnya, hatiku menghangat akan perlakuannya. Kalau saja aku sedang tidak merasa merajuk, tentulah mebenamkan diri di dada bidangnya sungguh menjadi hal yang amat aku inginkan.
__ADS_1
Namun, sekuat tenaga aku menahan keinginan itu. Biarlah, kali ini aku marah. Marah sekali padanya.
Maka, aku memilih diam. Menunggu apa yang akan dilakukan Mas Adrian selanjutnya. Itu lebih baik.
Mas Adrian melepas tangkupan di kedua pipiku. Lalu duduk dengan posisi tegak menghadap lurus ke depan.
Tidak berselang lama, suara mesin mobil terdengar. Kemudian mobil pun perlahan bergerak meninggalkan area parkir rumah sakit. Kami pulang ....
Selama perjalanan pulang, tidak kata yang terucap. Suasana di mobil ini pun hening.
Aku menyandarkan kepala di jendela, tidak berapa lama kemudian mataku telah terpejam. Aku kelelahan.
Entah kapan mobil ini sampai di rumah. Tahu-tahu, aku telah berada di kamar dengan selimut menutup badan.
Entah ke mana perginya suamiku, aku belum sempat menemukannya saat perutku seakan teraduk-aduk. Aku segera berlari ke kamar mandi. Memuntahkan semua isi perut di lantai kamar mandi.
Bau tak sedap memenuhi indera penciumanku. Membuat tubuhku lemas tak bertenaga.
"Mas ...." Aku memanggil Mas Adrian semampu yang aku bisa. Entah sampai atau tidak panggilanku di telinga lelaki itu.
Suara langkah terdengar mendekati kamar, tidak lama pintu kamar pun terbuka lebar. Menampilkan sosok Mas Adrian yang menggunakan baju santai. Celana pendek dengan kaus di badan.
Ah, bodi amat. Masih sempat-sempatnya aku memikirkan keadaan lelaki itu.
"Muntah lagi?" tanya Mas Adrian bingung.
Aku mengangguk pasrah.
Aku benar-benar tidak tahan dengan bau tak sedap yang merusak penciumanku.
Tampak Mas Adrian masih membuka mulut, entah apa yang akan dikatakan laki-laki itu. Bisa jadi, dia akan memarahiku karena masih bandel tidak mau ke rumah sakit. Bahkan, kami telah berada di parkiran kemudian memilih pulang. Lalu berujung di sini.
Hanya helaan napas panjang yang terdengar akhirnya. Sepertinya Mas Adrian masih menahan diri untuk tidak berucap yang mungkin bisa memperparah keadaanku.
Tanpa kata, Mas Adrian membopong tubuhku menuju ranjang. Tanpa aba-aba, aku melingkarkan kedua tangan di lehernya. Menyandarkan kepala di dada bidang itu.
Aku merasa sikapku ini sangatlah aneh. Jengkel, tapi juga ingin terus bersamanya.
Apa aku sangat tak punya malu sekarang?
"Tunggu ya ... Mas mau nyiram kamar mandi dulu," ujarnya. Setelah meletakkan beberapa bantal di belakang punggungku.
__ADS_1
Tanpa menunggu respon dariku, Mas Adrian segera berlalu menuju kamar mandi. Menutup pintu itu, lalu terdengar suara air dari dalam sana lengkap dengan suara sikatnya.
Setelah selesai membersihkan kamar mandi, Mas Adrian ke luar. Lalu mendekat padaku. Duduk di pinggir ranjang, menggenggam kedua tanganku. Sejenak kami hanya saling bertatapan.
"Makan lagi, ya?" tanyanya lembut. Aku menggeleng pelan. "Aku tadi masak bubur kacang hijau," lanjutnya kemudian.
Dahiku berkerut. Dari mana lelaki ini bisa masak bubur kacang hijau? Apakah dia sering membuatnya untuk Marisa? Atau wanita itu yang mengajarkannya.
Mengingat nama itu saja sukses membuat hatiku berdenyut nyeri.
"Lho, kenapa? Kamu enggak suku bubur kacang hijau?" tanya Mas Adrian bingung.
Aku masih menggeleng.
"Dulu, saat aku sakit. Aku selalu dibuatkan bubur kacang hijau, lalu aku pun akan makan dengan lahap," jelas Mas Adrian. Sebuah senyuman terbit di kedua pipinya, menampilkan ceruk di kedua pipi. Aku masih be byrgeming, menunggu kelanjutan dari ucapannya. "Lalu, aku pun belajar membuatnya."
Tidak tahan lagi perasaanku menahan pertanyaan dalam hatiku. "Siapa?" tanyaku seiring dengan turunnya air mataku. "Siapa yang membuatkan bubur kacang hijau itu padamu? Apakah itu Mar--"
"Sssttt." Mas Adrian meletakkan jari telunjuknya di bibirku. "Ibuku yang selalu membuatkannya." Matanya sayu, seolah menyiratkan kesedihan.
"Maaf," lirihku sembari menyeka air mata.
"Lalu, apa maksud Marisa kalian menghabiskan malam bersama?" tanyaku menuntut. Ah, padahal ingin rasanya aku berteriak lantang menanyakan hal itu. Namun, tenagaku nyaris tak bersisa karena telah habis untuk mengeluarkan isi perut.
"Aku tidak tahu apa maksud Marisa mengatakan itu. Sudah pernah aku ceritakan, kan ... kalau dia pernah datang ke kantor untuk mencariku. Entah apa yang mendasari perempuan itu berubah sedemikian rupa. Aku tidak lagi mengenal siapa dia. Dan sekarang aku tidak peduli apa pun lagi soal dia."
Mas Adrian menjeda kalimatnya.
"Dengar! Aku tidak ingin berurusan dengan wanita itu. Dia hanya bagian dari masa laluku." Mas Adrian semakin erat menggenggam tangan ini.
"Yaaa, dia datang lalu bilang menyesal karena telah menghianatiku. Lantas aku sampai mengusirnya dari ruanganku."
"Lalu di malam berikutnya?"
"Aku masih di kantor, menyelesaikan pekerjaan. Hanya saja ... aku bingung ingin mengatakannya kepadamu bagaimana awalnya. Setelah ini aku janji, akan mengatakan apa pun padamu, apa pun. Kamu, tidak ada yang disembunyikan dariku, kan?"
"Aku? Aku ... tidak." Ah, bagaimana aku mengatakannya, jika Bang David pernah mencium bibirku dengan paksa.
Bukankah seharusnya aku tidak terlalu menanyakan perihal pribadi Mas Adrian, yang ternyata malah berbalik kepadaku sebagai sebuah peluru.
Apakah harus aku ceritakan, atau tetap diam?
__ADS_1