Suamiku Mencintai Adikku

Suamiku Mencintai Adikku
Bab 62


__ADS_3

"Kamu kenapa nangis?" tanya Mas Adrian bingung. Pasalnya sedari keluar tadi, air mataku terus mengalir.


Melihat Mama yang terluka, aku seakan ikut merasakan kesedihannya.


Apa yang harus aku lakukan?


Aku menggeleng, lalu memalingkan wajah pada jendela kaca samping. Menghapus air mata dengan tisu.


"Jadi, ada sesuatu yang menggangguku?" Mobil telah berhenti di pinggir jalan. Mas Adrian bertanya dengan menyipitkan mata.


Aku menoleh padanya. Lalu menggeleng pelan.


"Aku hanya merasa bersalah pada Mama," ucapku lirih.


"Kenapa? Merasa bersalah karena menikah denganku. Atau ...."


"Sssttt." Aku menutup mulut Mas Adrian dengan jari telunjuk. "Bukan merasa bersalah karena menikah dengan Mas Adrian. Mas tahu, suamiku ini adalah anugerah terindah dalam hidupku," lirihku.


Lalu menangkup kedua pipi Mas Adrian, mencium hidung lelaki itu. Entah apa yang telah aku lakukan, sehingga Mas Adrian bisa berpikir demikian.


Kami bertatapan dalam diam, dengan hidung saling bersentuhan.


Aku menjauhkan wajah darinya. Dengan satu tangan mengelus pipi lelaki itu. Sedangkan satu tangan yang lain, menggenggam tangan Mas Adrian erat.


"Aku merasa bersalah karena harus menceritakan bahwa pernikahan kami dulu tidaklah baik-baik saja. Aku merasa bersalah, karena selalu berpura-pura di depan Mama. Kupikir, dengan begitu Mama tidak akan terluka. Nyatanya, lihatlah sekarang. Orang yang paling terluka di antara kita semua adalah Mama," ungkapku panjang lebar.


Aku menghela napas panjang, begitu pun dengan Mas Adrian.


Lelaki itu menghela napas lega, lalu mengulas senyum.


***


Hari ini, aku membantu Alina pindahan. Sebenarnya, aku sedikit keberatan jika dia harus tinggal di Jakarta. Karena ibu di rumah sendirian. Sayang sekali, ibu tidak mau aku ajak ke sini.


Namun, ya sudahlah. Toh, Alina juga sudah dewasa. Sudah mengerti dengan apa yang diinginkan. Aku harap adikku itu bisa bertanggungjawab pada keputusan apa pun yang dia ambil.


"Lho, kamu bukan indekos ya? Memilih perumahan sebagai tempat tinggal?" tanyaku bingung.


Aku pikir, dia akan tinggal di sebuah kamar petak. Yang terdiri dari deretan kamar dalam satu gedung, khusus wanita.


Rupanya, pilihan Alina berbeda. Rumah ini bahkan sangat mewah untuk ditinggali sendirian.


"Kamu beneran tinggal di sini sendirian?" tanyaku memastikan pada Alina.


"Tentu saja, Kak. Aku sudah membayarnya untuk satu tahun ke depan. Jadi, Kak Anna tidak perlu khawatir," ucapnya santai.


Tangannya sibuk menyusun pakaian ke lemari. Mas Adrian membantu menurunkan barang-barang milik Alina di mobil lalu membawanya masuk. Aku ingin membantu, tapi Mas Adrian mencegahku.


"Sayang, jangan capek-capek. Cukup istirahat saja," ujarnya saat aku ingin membawa bungkusan plastik.


Akhirnya, aku hanya duduk-duduk saja melihat mereka berdua bekerja.

__ADS_1


"Sudah habis semua, Dek, yang di mobil. Semuanya udah Mas letakkan di ruang tengah ya ...." Mas Adrian masuk ke kamar. Berdiri di hadapanku. Kemudian, tatapannya beralih padaku. "Kamu mau makan apa, Sayang. Biar Mas pesankan." Tangannya mengambil ponsel dari saku celananya.


"Es campur, Mas," ucapku semringah.


"Maaf, es campur bukan makanan, Sayang. Es campur adalah minuman yang tidak mengenyangkan," balasnya santai. Tangannya masih sibuk pada layar ponsel. Tatapannya sesekali melirik padaku.


Aku memberengut. "Apaan itu, tadi aja ditanya. Udah dijawab malah salah."


"Bukan gitu, jangan ngambek dong. Cantiknya berkurang nanti," godanya. Jari telunjuknya menowel hidungku.


"Tapi mau es campur," rengekku.


"Oke. Es campur sama apa lagi?" Lalu Mas Adrian menoleh pada Alina yang ternyata sedang menatap suamiku.


Aku berdehem pelan, mengalihkan perhatian Mas Adrian agar tetap fokus padaku.


"Alina mau apa?" tanyaku pada Alina.


Mas Adrian tampak cuek, dia kembali sibuk menekuri ponsel di tangan.


"Biar sekian pesan," lanjutku lagi


"Gado-gado, Mas," ujar Alina antusias.


"Hmmm, Kakak yang tanya malah jawab ke Mas Adrian," sungutku.


Duh, ada apa denganku. Masalah sepele begini saja membuat emosiku mencuat.


Aku menunduk mengelus perutku yang masih rata. Cepat besar ya, Nak.


Lantas aku pun tersenyum mengingat saat memprotes Mas Adrian karena berpikir begitu tentang bayi kami.


"Mau makan apa, Sayang?" Pertanyaan Mas Adrian membuyarkan anganku.


Aku mendongak, menatap manik hitam itu. "Mas Adrian mau makan apa?" Bukannya menjawab, aku malah balik bertanya.


"Mas mau makan ikan bakar aja. Mau?"


Aku mengangguk setuju.


"Oke. Di pesan, Nyonya."


***


Sepulang dari kontrakan Alina, tubuhku terasa pegal-pegal. Mas Adrian dengan telaten memijit kaki dan badanku, tidak ketinggalan tangan juga.


Lumayan jadi terasa lebih rileks.


"Gimana rasanya?"


"Enak, Mas."

__ADS_1


"Dikira makanan, enak." Mas Adrian terlekh geli.


Ponsel di nakas berdering. "Telepon, Ann."


"Siapa, Mas?"


"Ibu."


Aku segera meraih ponsel di tangan Mas Adrian. "Halo, Ibu."


"Halo, Anna. Ini bukan ibumu. Ini tetangga sebelah rumah. Ibumu tadi pingsan, sekarang sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. Kamu segera ke sini, ya ...."


"Ibu,"


Tubuhku serasa lemas tanpa tulang, mendengar berita tentang ibu. Ponsel di tangan pun terjatuh.


Mas Adrian sigap menangkap ponsel lalu melanjutkan panggilan yang sempat terhenti. Entah apa lagi yang mereka bicarakan. Aku sudah tidak mampu lagi mendengarnya dengan baik.


Bayangan-bayangan tentang kondisi ibu yang pingsan membuat pandanganku mengabur. Aku menyandarkan kepala di kepala ranjang.


Air mataku mengalir deras membasahi pipi.


"Ibu ... ibu ...," lirihku memanggil sosok wanita yang telah melahirkanku itu.


"Sayang, tenang ya ... nanti kita ke sana. Tapi kamu harus tenang dulu. Kita enggak bisa melihat kondisi ibu kalau kamu sendiri dalam kondisi lemah begini." Mas Adrian mencoba menenangkanku.


Pikiranku benar-benar kalut. Bagaimana ini?


"Mas ...."


"Iya, Anna sayang. Suamimu ada di sini. Kamu tenang, ya ...." Mas Adrian memeluk tubuhku. Membenamkan kepala ke dadanya.


Aku menangis terisak di sana, di dada bidang itu menumpahkan segala kekalutan yang ada dalam dada. Rasanya sangat sesak sampai aku kesulitan bernapas.


"Mas, hubungi Alina ya ...." Mas Adrian mengangguk.


"Yang penting kamu dulu, tenang dulu ya ... Mas enggak bisa berpikir apa-apa kalau kamu begini." Tangannya mengelus kepalaku.


"Aku udah enggak apa-apa, kok. Mas telepon Alina," desakku pada Mas Adrian.


Mas Adrian segera mencari kontak Alina. Menghubungi adikku itu ternyata tidak mudah. Berulang kali panggilan tidak juga mendapat jawaban.


"Kamu di mana, Alina?" gerutuku.


Aku menunggu dengan cemas panggilan untuknya yang tidak diangkat-angkat.


"Mas, telepon tetangga tadi aja. Minta untuk menjaga ibu dulu, sebelum kita ke sana. Terus, pesan tiket sekarang Mas." Aku mengingat-ingat, kira -kira apalagi yang dibutuhkan ibu saat ini. "Minta perawatan terbaik, kelas terbaik, Mas."


"Semuanya sudah aku kasih tahu tadi dengan yang ada di Malang, sana. Yang belum cuma beli tiket. Mas pesan sekarang. Tapi kamu harus janji. Tenang. Mas enggak bisa berpikir kalau kamu menangis."


"Iya ... iya ...."

__ADS_1


Mas Adrian segera memesan tiket. Semoga ibu baik-baiks saja.


__ADS_2