Suamiku Mencintai Adikku

Suamiku Mencintai Adikku
Bab 69


__ADS_3

"Bicara apa tadi sama David?" Mas Adrian langsung memberondong pertanyaan, saat aku baru saja mengempaskan bokong di kursi penumpang samping kemudi.


"Tentang Alina. Dia bilang aku harus hati-hati," jawabku sembari memakai sabuk pengaman.


"Bagus kalau David sekarang udah sadar gimana Alina itu. Walaupun dia adikmu, kamu tetap waspada," ucap Mas Adrian. Aku menatap lelaki itu dengan pandangan tidak mengerti. Lantas, Mas Adrian melirikku dengan ujung matanya. "Maaf, aku hanya tidak ingin terjadi apa-apa padamu."


Mobil keluar dari area cafe menuju keramaian kendaraan yang lalu lalang.


Aku menarik napas dalam, lalu mengeluarkan perlahan lewat mulut.


"Mas, apa yang kalian tahu tentang Alina?" tanyaku kemudian.


Mas Adrian tampak tak acuh, dia masih menetap lurus pada jalanan. Kemudian keningnya terlihat berlipat-lipat. Entah apa yang dia pikirkan.


Aku semakin tak mengalihkan pandanganku dari melihat wajahnya.


Lantas, Mas Adrian mengedikkan bahu sebagai jawaban akan tanyaku.


Aku memiringkan wajah, mendekat pada lelakiku itu. Memerhatikan wajahnya, dari sini tampak jelas garis ketampanannya yang semakin terlihat dewasa. Aku mengulum senyum menikmati pemandangan di hadapan. Sedangkan Mas Adrian tetap saja tak acuh. Menyebalkan.


Ah, seketika aku ingat pertanyaanku tadi belum terjawab.


"Mas!" seruku.


"Hmmm," gumam Mas Adrian.


Apa dia tidak berniat memberitahuku? Atau dia tak berniat membicarakan Alina?


"Apa yang Mas tahu tentang Alina"? tanyaku menuntut.


"Tidak ada," jawabnya singkat.


"Tapi aki merasa kalau Mas Adrian dan Bang David mengetahui sesuatu yang aku enggak tahu," balasku lagi.


"Aku enggak yakin kebenaranya, Anna. Lagipula, aku memang tidak mencari tahu sendiri," ujar Mas Adrian pada akhirnya.


"Apa itu?" Aku memicingkan mata. Menunggu jawaban dari Mas Adrian.


Suasana dalam mobil ini kembali hening. Mas Adrian tampak berpikir, mungkin tengah menimbang-nimbang kalimat apa yang pantas diucapkan agar enak didengar telingaku. Bagaimanapun keadaanya sekarang, Alina tetaplah adikku. Satu-satunya saudara yang kupunya.

__ADS_1


"David pernah memergoki Alina jalan sama lelaki lain. Aku enggak tahu pastinya gimana, enggak tahu juga gimana kelanjutannya. Cuma sebatas itu saja informasinya," terang Mas Adrian.


Aneh, cuma mau bilang begitu saja pake acara mikir lama. Padahal 'kan bisa tinggal bilang saja.


Aku berdecak kesal, merasa tidak puas dengan jawaban yang Mas Adrian berikan. Seolah ada yang ditutupinya.


"Masak gitu aja Bang David nyuruh aku hati-hati sih, Mas?" tanyaku lagi masih dengan penasaran, yang bahkan sekarang berkali lipat rasanya.


"Duh, Anna. Masmu ini lagi nyetir, harus fokus 'kan. Nanti aja ya bahas Alinanya, kalau kita sudah sampai rumah," ucap Mas Adrian dengan nada protes.


Aku memajukan bibir hingga beberapa senti, membentuk sebuah kerucutan yang bisa bertahan sampai rumah. Dengan wajah menahan kesal karena merasa dua lelaki ini banyak menyimpan rahasia kepadaku.


Beberapa bulan ini, aku dan Alina memang tidak pernah berkomunikasi.


Sejak kejadian di rumah ibu kala itu, aku jadi malas sekadar bertanya kabar tentang Alina. Terlebih lagi, jika mengingat dia telah mengganti nomor handphone. Bahkan tidak bisa kuhubungi saat akan memberikan kabar tentang kematian ibu.


Mengingat kejadian itu membuat kepalaku seakan menggelegak di kepala.


Akhirnya, aku pun memilih bungkam dengan pertanyaan yang menari-nari di kepala ingin kulontarkan keluar. Namun, harus menahan diri mengingat Mas Adrian yang sedang fokus mengemudikan mobil.


Aku harus menahannya sampai rumah. Ya, harus menahannya sampai rumah. Walaupun rasanya kepalaku ini ingin meledak.


Sejak kapan lelaki ini mukanya kusut begitu? Tadi saat menjemputku wajahnya masih segar dan sangat tampan.


"Mas ...."


"Ambilkan minum, haus," potong Mas Adrian.


Aku segera berdiri lalu melangkah menuju dapur, mengambilkan air minum dingin dalam botol. Tidak lupa membawakan gelas beserta camilan untuknya.


Setelah meminum setengah boto, Mas Adrian duduk menyandarkan punggung. Tangannya menarik kepalaku agar bersandar di dadanya.


"Apa yang ingin istriku ini ketahui tentang adik kesayangannya. Ayo tanyakan pada suamimu ini," ucapnya serius.


Aku justru terkikik geli mendengar nada suaranya yang terkesan dibuat-buat.


"Jadi nanya enggak?" tanya Mas Adrian, matanya mengerling jenaka. "Kalau enggak jadi Mas mau kerja, nih," ancamnya kemudian.


"Kok kerja, sih, Mas?" proteksi tak setuju.

__ADS_1


"Ngerjai kami, Sayang," ucapnya sembari tangannya menowel hidungku.


"Mas, kok rasanya Mas Adrian sama Bang David itu menyembunyikan rahasia ke aku, ya?" tanyaku penasaran. Aku menatapnya tak berkedip, menunggunya merespons pertanyaanku. Rasanya berabad-abad sangking lamanya.


"Emang ada rahasia apa lagi, sih? Enggak ada rahasia apa-apa," keluhnya tak setuju dengan ucapanku.


"Ya itu tadi, Mas. Kayak ada yang ditutup-tutupi mengenai informasi tentang Alina. Ada apa sih, Mas?"


"Enggak ada, Sayang. Masmu ini jujur sejujur-jujurnya tentang Alina. Kalau mau tahu gimananya, tanya ke David. Soalnya, dia yang punya urusan langsung dengan Alina. Mas kan enggak ada. Sejak kamu memutuskan menyetop semua dana ke tabungan Alina, Mas enggak pernah komunikasi lagi," jelas Mas Adrian panjang lebar.


"Jadi selama ini, Mas dan Alina saling komunikasi intens?" tanyaku menguji kejujurannya.


Sejujurnya, hatiku was-was mendengar setiap jawaban yang Mas Adrian berikan.


Berpikir jika saja jawaban itu tidaklah jujur. Alangkah sialnya nasibku. Tidak-tidak, bisikan buruk ini terlalu menggangguku.


"Komunikasi masalah uang aja. Alina kan sering minta uang sama Mas Adrian. Tapi sekarang enggak lagi, karena kamu enggak mau kan Alina merepotkana aku terus."


Soal itu aku setuju. Tidak ingin Alina mengganggu Mas Adrian, menghubunginya secara intens dengan alasan uang dan kebutuhan dirinya pribadi.


Aku mengangguk mengerti.


"Lalu, lelaki yang pernah jalan sama Alina itu kalian kenal enggak?" tanyaku lagi dengan kepala mendongak.


"Enggak kenal."


Aku mengangguk lagi, tidak bisa dipungkiri ada perasaan lega di hati mendengar jawaban Mas Adrian secara langsung seperti ini.


"Jadi, pas Alina jalan dengan lelaki itu saat dia masih menjalin hubungan dengan Bang David?"


"Sepertinya begitu," jawab Mas Adrian santai.


"Apa ada hubungannya dengan mama?"


"Kalau itu aku enggak mau ikut campur. Biar mereka yang meneyelesaikan sendiri masalahnya di mana. Kita hanya bisa memberikan gambaran mengenai dampak dan manfaatnya. Tetapi tidak bisa memaksakan usul kita kepada mereka. Apa pun keputusan David maupun Alina, biarkan saja. Mereka sudah dewasa, tidak seharusnya ikut campur dalam urusan mereka," jelas Mas Adrian panjang lebar


Ah, nyatanya kecantikan dan penampilan fisik tidak menjamin seseorang bisa diterima orang lain. Namun, saat tak mampu berkomentar yang baik. Maka aku pun memilih diam. Karena bagiku diam itu lebih baik daripada aku harus berkata jelek dan menyakiti perasaan orang lain. Walaupun itu adalah adikku sendiri.


Aku yakin ada yang salah dengan Alina, sampai dia seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2