
Waktu dalam balutan kebahagiaan itu begitu cepat berlalu. Hari-hari kami lalui dengan senyuman dan canda tawa.
Mas Adrian adalah lelaki yang baik. Suami dan ayah yang terbaik.
Tentu saja, aku tidak akan bisa dan tidak akan sanggup menukar kebahagiaan ini dengan apa pun. Apa pun.
Saat ini, kami tengah menikmati keindahan kota Jakarta dari ketinggian gedung apartemen.
Untuk pertama kalinya, Mas Adrian mengajakku liburan. Melupakan segala penat dan kesedihan yang pernah terjadi dalam kehidupan kami.
Walaupun sejujurnya, aku sendiri telah merelakan semuanya. Namun, lelakiku itu tetap saja meminta diriku mengikuti rencananya.
"Sekalian program adik buat Putri." Begitu alasannya.
Aish. Dia memang selalu begitu.
Awalnya,. Mas Adrian mengajak liburan ke Bali. Tentu saja aku menolaknya mentah-mentah. Bagaimana bisa dia merencanakan untuk kami liburan sedangkan Putri akan dititipkan ke rumah mama. Ada-ada saja.
Hubunganku dengan mantan mertua memang tetap terjalin baik. Tidak jarang, Mama datang ke rumah jika merasa kangen dengan Putri.
Tentu saja aku menolak. Walaupun kami dekat, dan Putri dekat dengan Oma - begitu putri kami memanggilnya. Tetap saja aku enggan menitipkannya selama berhari-hari.
Akhirnya, Mas Adrian mengalah. Kami cukup liburan di apartemen miliknya yang tidak pernah ditempati selama kami menikah. Itulah sebabnya, ini pertama kalinya aku ke sini.
Dan kami akan menghabiskan waktu selama dua hari di sini. Cukup lama bukan?
"Hai!" Mas Adrian membuyarkan pandanganku yang tengah memerhatikan lampu-lampu yang bertebaran di sana.
Jika bisa digambarkan. Pemandangan itu seperti kemilau gemintang yang bertebaran di langit malam. Bedanya, bintang itu kini telah berpindah tempat bak permadani yang menghiasai pandangan mata.
Mas Adrian menelusupkan kedua tangannya. Melingkarkan erat di pinggangku. Tubuhnya merapat sampai kami hanya berjarak pelapis kain yang menutupi tubuh.
Wangi tubuh suamiku itu bisa tercium nikmat dari Indra penciumanku.
Dari dulu, wangi tubuhnya bagai candu yang selalu kurindukan.
Aku memejamkan mata, menikmati desiran halus yang mengalir ke sekujur tubuh.
Mas Adrian meletakkan dagunya di pundakku. Hangat napasnya membuat tubuhku meremang.
Ah, dia ini.
"Mas, kapan kita jalan ke luar?" tanyaku mengalihkan kegugupan yang semakin menggila. Jantungku bahkan tengah bergedoran meminta keluar dari sarangnya. Tolong, aku tak ingin debaran itu loncat keluar.
"Kemarin aku ajak ke Bali enggak mau," bisiknya tepat di telingaku.
"Ye ... bukan ke luar sana maksudnya, Mas," elakku. Kepalaku bergerak ke kanan dan ke kiri, merasakan jejak basah di leher. Pikiranku seketika buntu, entah apalagi yang harus aku ucapkan.
"Dua hari ini kita gak akan ke manapun," ucapnya di sela aksinya.
"Mas, lihat pemandangan itu. Cantik 'kan?"
Mas Adrian menghentikan aksinya.
Yes. Berhasil.
"Cantikan kamu, kok. Kamu yang paling cantik di hatiku."
"Gombal ...."
Aish. Hanya sejenak lelaki itu menghentikan keasyikannya. Setelah itu, dia malah lebih intens melakukan aksinya sampai aku menghentikan napas.
"Mas ...," desisku.
"Aku mau kamu," ucapnya menuntut.
Sedetik kemudian, kami telah saling berhadapan. Dan tanpa aba-aba, Mas Adrian telah berhasil membopongku. Meletakkan tubuhku ke sofa dengan sangat hati-hati, tanpa memberiku kesempatan berpikir bahkan bernapas.
Lelaki itu dengan sigap memberiku napas buatan tentu saja. Kami bahkan tengah berbagi napas.
ckckckck.
__ADS_1
"Kenapa di sini?" tanyaku.
"Bosan di ranjang."
Ya Tuhan!
"Apa denganku juga bisa bosan nantinya?"
"Kamu pengecualian."
***
"Selamat pagi!" Mas Adrian berdiri di samping ranjang dengan kedua tangan membawa baki.
"Pagi!" balasku dengan suara serak.
"Bangun Sayang ... kamu harus sarapan, nanti lapar lho. Aku enggak mau kamu sakit."
"Siapa suruh ngajakin lembur semalaman, Mas." Aku yakin wajahku sekarang telah berubah warna seperti tomat busuk.
"Kita harus kerja ekstra 'kan ...," ucap Mas Adrian sembari menarik turunkan kedua alisnya.
"Mas ...." Aku memukul tubuhnya yang tentu saja tidak sampai.
Karena aku masih berbaring, sedangkan dia masih setia berdiri di pinggir ranjang.
Lantas, Mas Adrian pun meletakkan baki yang dia bawa ke nakas. Lalu mengenyahkan bokongnya di pinggir ranjang.
Kedua tangannya mengacak rambutku gemas.
"Istri siapa sih ini?"
"Istri Mas Adrian dong."
Kami pun tertawa bersama.
Kemudian, Mas Adrian membantuku duduk bersandar kepala ranjang.
"Mas, malu." Aku menutupi dada yang terbuka.
Sayangnya, Mas Adrian justru mengalihkan kedua tanganku.
"Birkan begini. Kamu cantik." Suaranya terdengar berat dengan tatapan berubah sendu.
"Mas ...,"
Cukup sudah. Aku bahkan tak mampu lagi mengucapkan kata.
Rasanya, badanku remuk tulang belulangnya. Sekadar mengangkat tangan saja, aku tidak mampu.
Aku terkapar di ranjang.
Anehnya, lelaki itu masih tampak segar bugar. Malah terlihat lebih tampan wajahnya.
Seketika sekelebat bayangan yang telah kami lakukan sedari malam sampai pagi ini berkelebatan di mata.
Ya ampun. Apakah kami segila ini sekarang?"
"Kamu makan ya ...."
"Iya, kan Mas enggak mau aku sakit," selaku memotong kalimat Mas Adrian yang malah ditanggapinya dengan gelak tawa.
Terus seperti ini ya Mas, tertawa lepas tanpa beban yang bergelayutan di wajahmu.
Aku ingin menjadi wanita pelipur laramu.
"Makasih, ya ... kali ini kamu benar-benar akan sarapan."
Aku berdecak. "Tadi juga bilangnya gitu."
Lagi-lagi, Mas Adrian menanggapi protesku dengan gelak tawa.
__ADS_1
"Ayo aku bantu ke kamar mandi." Mas Adrian mengulurkan kedua tangan bersiap membantuku bangun.
"Aku bisa sendiri."
"Benarkah? Ayo ... Sayang."
"Kalau memaksa ya ayo."
"Ih, istri siapa sih ini gemesin banget." Mas Adrian mengacak rambutku sebelum membopong tubuhku ke kamar mandi dan meletakkannya di bathtub.
Kami menikmati sarapan yang kesiangan dengan serius. Terutama aku yang kepalaran seperti orang seminggu tidak makan.
"Pelan-pelan, Sayang."
Aku tersedak. Mas Adrian dengan sigap mengambilkan aku minum dan membantuku menandaskan air dalam gelas.
"Udah dibilang hati-hati juga," protesnya.
"Mas 'kan yang menghabiskan seluruh tenagaku."
"Tapi suka enggak?"
"Suka."
Bagaimana bisa kau bilang tidak menyukainya? Sedangkan aku sendiri menikmatinya.
"Setelah ini kita hubungi Putri ya, kangen," ucapku dengan suara merayu.
"Tentu. Aku juga kangen anak kita."
***
"Mama ... nanti bawain oleh-oleh yang banyak yaaa," seru Putri dengan suara cedalnya begitu sambungan video call terhubung.
"Tentu, Sayang," balasku.
"Oma belikan Putri es krim banyak, sama Om Avid juga."
"Oh yaa ... yang pinter ya di sana."
Putri mengangguk antusias. "Om Avid punya cewek cantik."
"Ha? Siapa yang bilang ke Putri?"
"Oma."
"Lho kok Oma sih. Kan tadi Putri tanya tante itu siapa?" protes Mama.
"Terus Mama jawab apa?" tanyaku.
"Cewek si David," jawab Mama.
Lantas kami pun tertawa bersama.
"Wah, bakalan ada pesta besar nih," celetuk Mas Adrian.
"Doakan lancar ya Ann, Dri ...."
"Aamiin."
"Udah ya Ma. Putri mau main sama Om Avid. Daah Mama."
Kemudian sambungan pun terputus.
Mas Adrian memeluk tubuhku dari belakang.
"Kita, udah dapat kabar baik belum?"
"Apaan?"
"Dalam perut sini, udah ada bayi lagi belum?"
__ADS_1
Ah, suamiku ini. Semakin hari semakin menggemaskan.