Suamiku Mencintai Adikku

Suamiku Mencintai Adikku
Bab. 42


__ADS_3

Sesuai janjinya, Mas Adrian makan siang di rumah. Selesai makan, dia bersiap untuk ke kantor lagi.


Aku tidak banyak bicara kali ini, berusaha keras untuk tidak bertanya seputar masa lalunya. Namun, gejolak penasaran di dadaku ini membuat kepalaku sakit.


Lantas, dengan mengabaikan wajah tak sukanya, aku tetap menanyakan tentang mantan istrinya.


"Itu cuma masa lalu, Ann. Tidak seharusnya kita membahas nya," elak Mas Adrian. Wajahnya berubah masam.


Aku menghela napas panjang. "Apa salahnya Mas Adrian langsung menjawab, tidak usah berkelit kalau memang dia hanya masa lalu. Apa ... Mas Adrian masih mencintai dia?" Mataku tak lagi memanas, dia telah mengeluarkan air mata yang tak bisa terbendung.


"Ya ampun, Ann. Kamu berpikir terlalu jauh, Sayang. Marisa itu cuma mantan istri aku. Enggak lebih." Mas Adrian menghampiriku, merengkuh tubuhku. Dapat kurasakan, lelaki itu mengelus punggungku.


"Aku harus bekerja, kalau kamu begini bagaimana aku bisa tenang di kantor, hmmm?" tanyanya kemudian.


"Baiklah. Lupakan. Lupakan pertanyaanku yang tidak penting. Seperti dulu saat aku menanyakan masa lalumu. Nyatanya, sampai sekarang cerita itu hanya menggantung sampai sekarang. Sampai ibu itu mengira kalau aku Marisa, mantan istrimu." Aku masih meracau. Lalu meninggalkannya, masuk ke kamar. Lantas merebahkan diri di kasur.


Entahlah, rasanya semua orang terus mempermainkanku.


"Maaf ...." Aku kira Mas Adrian telah pergi, ternyata lelaki itu menyusulku.


"Aku tidak ada niat untuk menyakitimu. Aku mencintaimu. Apa yang harus aku ceritakan? Menceritakan padaku, jika aku lelaki yang bahkan tidak memiliki harga diri di hadapan istriku yang dulu. Dia selingkuh, karena merasa jenuh denganku." Mas Adrian menghela napas dalam. Dia terdengar frustrasi.


"Aku lelaki yang tidak berguna, kan?" lanjutnya lagi dengan suara bergetar.


Aku membalikkan tubuh, menghadap padanya yang tengah duduk di sampingku. Tangannya mengelus kepalaku, dengan satu tangan yang lain mengusap wajahnya kasar.


Aku menggeleng.


"Aku hanya tidak mau mengenang itu lagi. Enggak ada yang lain. Tidak ada siapapun disini." Mas Adrian menunjuk dada kirinya. "Cuma ada kamu." Matanya terpejam erat.


Aku tidak kuat melihatnya terluka. Mungkin, memang tidak seharusnya aku mengorek masa lalunya. Seperti aku yang tidak ingin menceritakan kembali tentang kisah pernikahanku dengan mantan suamiku.


Aku dan Mas Adrian adalah dua orang yang sama-sama pernah terluka. Sudah seharusnya, kami saling menguatkan, saling menyembuhkan.


"Maaf ...." Aku memeluk tubuhnya.


"Aku hanya ingin kamu percaya padaku. Itu saja."


Aku mengangguk. "Aku percaya padamu."


Aku mengurai pelukan kami, menangkup kedua pipi lelakiku itu. Menatap matanya dalam. Yaa, hanya aku di sana.


"Lalu, kenapa Bang David tahu cerita itu, Mas?" tanyaku lagi. Aku sangat penasaran tentang itu.


"Ya, iya ... Marisa itu sahabat kami dulu, David juga menyukainya. Siapa sangka, wanita itu memilihku. Kami menikah, dan ... pernikahan yang hanya sebentar saja, kandas oleh perselingkuhan. Ternyata dia wanita yang ambisius. Selalu merasa kurang atas apa yang telah dimiliki. Ah, sudahlah ...."


Aku mengelus kepalanya dengan perasaan sayang.


"Jangan menggodaku. Nanti aku enggak jadi ke kantor. Si David bakalan ngamuk."


"Ish, siapa juga yang godain. Biarin aja dia ngamuk, emang sukanya ngamuk itu orang."


"Kenapa kamu mencintainya?"


"Siapa?"


"Ya, David lah ... siapa lagi?"


"Karena salah orang kali, coba kalau ketemu Mas Adrian duluan. Pasti cintanya sama suamiku ini."


"Tuh, kan ... emang pinter godain kamu, ya ...." Mas Adrian menggelitik perutku, gemas.


Aku terpingkal-pingjal menahan serbuannya. "Mas ... ah, ampun ... Mas. Ah ... udah dong. Aku gak tahan gelinya."

__ADS_1


"Biar tau rasa."


"Mas .... Aaahh, geliii." Aku menarik leher Mas Adrian sampai ke wajah, lalu dia menenggelamkan wajahnya di ceruk leherku.


Hingga, semua terjadi dengan apa adanya. Kelembutannya kali ini melemakan hatiku.


Bayangan buruk itu mengabur, berganti wajah tampan yang sedang memujaku dengan segenap rasa cinta yang dia punya.


Untuk pertama kalinya, aku merasa menjadi wanita yang sangat diinginkan oleh seorang lelaki.


Seluruh jiwaku penuh oleh seorang lelaki bernama Adrian. Aku mencintainya.


***


"Mas, bunyi terus itu ponselnya." Aku menyenggol bahu Mas Adrian yang tengah memelukku erat. Kami masih dalam selimut.


"Hmmm. Biarkan saja, pasti si David." Mas Adrian menjawab malas, matanya masih tertutup rapat. tangannya malah semakin mempererat pelukannya.


"Nanti penting, lho."


"Enggak ada yang lebih penting selain kamu, Ann." Mas Adrian mengecup bibirku sekilas.


Ah, lelaki itu selalu bisa membuat anganku melayang. Aku harap, tak pernah terhempas dari angan ini.


"Mas, bunyi lagi."


"Mana HP nya?"


Aku meraih ponsel yang tergeletak di nakas, lalu memberikan padanya.


Tanpa membuka mata, Mas Adrian meraih ponselnya lalu menekan power off. Panggilan itu berhenti, seiring layar ponsel yang berubah warna menjadi hitam. Mati.


"Kok dimatiin, sih?"


Ya Tuhan!!! Haruskah kami mengulangnya kembali, bahkan napasku masih ngos-ngosan.


Jantungku bahkan belum kembali normal.


Dan dia, telah mengulang kelembutan yang tadi dia lakukan.


Biarkan waktu terus berjalan sesuai kehendaknya. Dan kami, akan menikmati hari agar terus bahagia bersama.


Masalah demi masalah tentu tidak dapat dihindari, tapi, cukuplah kami berpegangan tangan saling menguatkan. Maka semua masalah akan dihadapi bersama.


Bukankah peluh kami kini telah saling menyatu. Mengeluarkan rasa bahagia dalam melodi indah bernama cinta.


Apapun yang akan terjadi esok, maka biarkan terjadilah?


Di sini, aku akan menikmati waktu indahku bersamanya.


***


"Tenang, Boss. Besok juga aku ngantor. Malas mau balik lagi tadi. Kirim ke asisten gua aja. Oke?"


Entah apa yang dibahas Mas Adrian di telepon. Yang jelas, tangannya masih memeluk erat pinggangku. Aku tidak dibiarkannya pergi sebentar pun.


"Iya ... iya, kayak lu enggak tau pengantin baru aja. Lha, siapa suruh nyia-nyaiin pengantin?"


Apaan coba?


Mas Adrian mengedipkan mata ke arahku. Aiishh.


"Iya, kirim aja. Entar langsung gua periksa. Oke?"

__ADS_1


Apa Mas Adrian memang sesantai itu orangnya. Tidak pernah marah, begitu?


Tentu sangat berbeda dengan Bang David yang selalu marah setiap waktu.


"Itu urusan lo, yang penting cepet kirim. Gua periksa. Dah ya ... ganggu aja deh, heran."


Tut.


"Kenapa, Mas?" tanyaku khawatir. Tadi wajahnya ceria, tapi tiba-tiba berubah murung.


"Enggak kenapa-kenapa, Sayang." Mas Adrian mengeratkan pelukannya.


"Beneran?" tanyaku lagi. Aku mendongak untuk melihat ekspresi wajahnya.


"Iya ... beneran. Biasa si David, nyariian suamimu ini kalau lagi ada urusan. Tapi udah di handel kok. Beres."


"Mas, laper ...."


"Ha? Laper?"


"Iyalah, udah sore ini. Udah habis tenagaku."


"Yaelah, baru berapa kali juga."


"Mas Adrian, iihh." Aku mencubit perutnya kesal.


"Aww, sakit Ann."


"Syukron." Aku menjulurkan lidah.


"Kita makan di luar, ya?"


"Asyiikk."


"Iya aku tahu, enggak mungkin kamu masak dalam keadaan begini."


"Makasih, ya Mas."


"Sama-sama. Ayoo kita mandi."


"Mas duluan aja."


"Kok masih malu, sih ... Ann. Aku udah lihat semuanya."


Ya ampun, nih orang. Aku heran, kenapa Marisa dulu berkhianat darinya.


Ah, pikiran buruk itu lagi. Biarkan saja.


Setelah mandi dan berganti pakaian. Kami makan malam di luar. Walaupun hanya makan di emperan pinggir jalan, tapi aku sangat senang.


Mas Adrian memang orang yang sederhana. Aku suka.


***


oke. lanjut besok lagi ya gaeess.


maaf kalau ceritanya bertele-tele, aku masih jauh banget dari kata bisa menulis. Tapi akan terus belajar memperbaiki tulisan. Sabar ya ... dan makasih udah baca cerita ini sampai part ini.


Pasti butuh perjuangan banget buat kalian ngikuti ceritanya. Makasih. Muach.


baca juga ceritaku yang lain yaa "Istri Taruhan."


Jangan lupa like, komentar dan vote. 😍😍

__ADS_1


__ADS_2