Suamiku Mencintai Adikku

Suamiku Mencintai Adikku
Bab. 50


__ADS_3

Sejak hari itu tak ada lagi pembicaraan tentang Marisa.


Penasaran? Tentu saja.


Terkadang, hidup ini benar-benar menyebalkan. Setiap hari harus melakukan hal yang itu-itu saja dengan masalah yang itu-itu juga. Huft.


Apakah aku harus dikelilingi oleh orang-orang di masa lalu?


Ini hari kedua suamiku pulang malam. Waktu telah menunjukkan jam sebelas, tapi dia belum juga pulang.


Aku gelisah, mengkhawatirkan keadaannya. Dihubungi ponselnya tak ada jawaban.


Ingin rasanya menghubungi rekan kerjanya, menanyakan apakah mereka lembur bersama. Namun, aku enggan melakukannya. Alhasil, ponsel hanya kugenggam erat di tangan lalu kuletakkan di dada.


Aku berjalan mondar-mandir demi mengurangi kegelisahan.


Duh otakku, jangan berpikir macam-macam dong. Aku takut jika itu menjadi sebuah doa, yang kemudian terkabulkan.


Lagipula, bukankah setiap prasangka itu adalah dusta?


Aku tidak ingin melakukan kedustaan dalam kepalaku ini.


Apa yang aku pikirkan bisa jadi benar-benar terjadi, karena otakku yang telah mengaminkannya.


Masa, aku berpikir dia kembali dengan mantan, sih.


Iihh, sebel benget dengan pikiranku sendiri.


Tolong, waraslah. Waraslah! Kumohon!


Aku berjalan ke kamar, dapur lalu ke ruang tamu. Sesekali mengintip jendela.


Menghela napas panjang, guna melonggarkan dada yang kian sesak.


Entah berapa banyak deretan pesan yang telah aku kirimkan, dan ... tidak ada satu pesan dariku yang dibacanya.


Ya Tuhan!


Aku terlonjak kaget, saat mendengar suara deru mobil memasuki halaman. Segera aku membuka pintu, menyambut lelakiku itu datang.


Senyum semringah aku tampilkan sebaik mungkin.


Berharap mampu meredakan lelahnya.


"Mas ...." Aku mengulurkan tangan, meminta salim. Mencium tangan Mas Adrian lama.


Syukurku hari ini, dia pulang dengan selamat tanpa kurang suatu apa pun.


Aku mengambil tas kerjanya. Setelah mengunci pintu kembali, segera menyusul langkahnya yang memasuki kamar.


Seperti makan kemarin, Mas Adrian sikapnya dingin.


Aku menghela napas panjang, mengurai emosi yang mulai menumpuk di kepala. Ingin segera dimuntahkan, tapi aku tahan sebisa mungkin.


Mas Adrian langsung merebahkan tubuhnya di kasur, masih dengan pakaian lengkap yang dikenakan. Sepertinya dia sangat kelelahan.


Apa ada masalah di kantor?


Seberat itukah?


Matanya terpejam erat, wajahnya tampak kelelahan. Dengan napas ngos-ngosan.


Apa yang terjadi, Mas?


Aku segera meletakkan tas di meja rias, lalu mendekati Mas Adrian. Membukakan kaus kakinya. Lelaki itu tetap bergeming, seperti tak merasakan apa pun.


Sudah tidurkah dia?


Aku meletakkan kaus kaki ke keranjang kotor, lalu menuju kamar mandi mencuci tangan.


Kemudian, aku kembali mendekatinya. Duduk di pinggir ranjang. Menyentuh bahunya.


"Mas, sangat kelelahan." Lantas tanganku berpindah ke kepalanya. Menyugar rambut hitam tebalnya.


"Sudah tidur, ya?" tanyaku lirih.


Mas Adrian membuka mata, menatap mataku dalam.


Seperti biasa, ada gelenyar-gelenyar aneh saat ditatapnya seperti ini. Namun, kali ini aku menepis rasa itu. Bukan waktunya aku menikmati moment ini.


"Mas sudah makan?"


"Hmmm."


"Mau mandi, enggak?"


"Hmmm."


"Air hangatnya sudah aku siapkan."


"Anna, apa kamu bahagia dengan pernikahan kita?"


"Kenapa bertanya begitu?"


Mas Adrian tersenyum tipis. Lalu menggeleng pelan. "Ingin tahu saja."


"Tentu saja aku bahagia."


Tanganku berpindah ke pipinya, mengelusnya pelan. Mengalirkan rasa cinta yang aku punya untuk lelaki ini. Dia, lelaki yang pantas untuk dicintai oleh siapa pun. Tidak hanya aku.

__ADS_1


Siapa sangka, Mas Adrian menggenggam tanganku. Lalu meletakkan di dadanya.


"Rasakan degupnya."


Untuk sejenak, aku memejamkan mata. Merasakan degupnya yang tidak beraturan.


"Aku selalu berdebar saat bersamamu."


Aku mengulum senyum, entah seperti apa wajahku. Kurasa telah memerah secara sempurna.


Aku membuka mata, lalu memberanikan diri mengecup keningnya.


"Sekarang mandi, ya ..., biar badannya segar," bisikku.


Mas Adrian mengangguk. Lalu berdiri.


Aku memeluknya dari belakang, menghirup aroma tubuhnya semakin dalam. Aroma yang sangat aku sukai, bagai candu yang kurindukan setiap waktu.


"Jika ada sesuatu, tolong katakan padaku. Jika aku tak mampu memberikan solusi, maka telingaku siap mendengarkan segalanya tentangmu setiap waktu," bisikku di balik punggungnya.


"Hmmm."


Setelah mengatakan itu, aku mengurai pelukanku. Lalu menghadap Mas Adrian. Membantunya melepaskan dasi dan pakaiannya.


Mas Adrian berlalu masuk ke kamar mandi. Aku mengambilkan pakaian ganti. Memegangnya di pangkuan, duduk di bibir ranjang menunggu pangeran ku datang.


Mas Adrian keluar kamar mandi dengan wajah tampak segar, rambutnya basah.


Ah, tampan sekali dia.


Tidak menunggu waktu lama, aku pun segera berdiri. Membantunya berpakaian.


"Kayak anak kecil aja, dipakein baju segala," ucapnya dengan tawa.


Aku cuek saja, tetap memakai kaus yang dikenakan.


"Makan apa tadi, Mas?" tanyaku basa-basi.


Mas Adrian tidak langsung menjawab, dia tampak berpikir. Masak lupa sih makan apa.


Aku meraih handuk di tangannya, menjemur di jemuran handuk.


"Istirahatlah, kalau capek."


"Sini."


Mas Adrian menepuk-nepuk pahanya.


"Ngapain?" Mataku membulat menangkap maksudnya


Mas Adrian menarik tanganku, dengan sekali sentakan aku sudah duduk di pangkuannya.


Lama-lama aku pun jengah, mendapat perlakuan darinya.


Rasa penasaran ini kembali mencuat ke permukaan. Tak mampu lagi kutahan.


"Mas, kenapa dua malam ini pulang malam terus? Apa ada masalah serius?" tanyaku hati-hati.


Lelaki itu tetap bergeming. Terdengar dia menghela napas panjang. Aku merasakan jantungnya berdebar kencang.


Debaran itu, karena aku duduk di pangkuannya? Atau karena hal lain?


"Mas ...." Aku tak sabar menunggu jawabannya darinya.


"Ann, apa pun yang terjadi ke depan. Kamu harus tetap percaya padaku," ucapnya yakin.


Matanya seperti menyiratkan permohonan.


Apakah aku setidak percaya itu padanya?


Tak ingin berdebat, aku mengangguk yakin. Mengusap dada bidangnya yang tertutup kaus.


"Pantang bagiku mengkhianati ikatan pernikahan. Seberat apa pun masalah yang datang, aku akan tetap berkomitmen pada ikatan itu."


Aku masih mendengarkan ucapannya dengan seksama. Ke mana arah pembicaraannya ini.


"Dan, aku tahu bagaimana rasanya dikhianati. Kamu juga tahu bagaimana rasanya."


Aku mengangguk. Ya ... aku tahu, sangat tahu. Bagaimana perihnya rasa itu.


"Untuk itu ...." Mas Adrian mengelus pucuk kepalaku, lalu mengecupnya lama. "Kita harus tetap bersama, bergandengan tangan. Jangan pernah melepaskan."


"Aku janji tidak akan melepaskan genggaman tangan ini." Aku meraih tangannya, lalu menggenggamnya erat. "Kecuali jika suamiku yang terlebih dahulu melepaskannya. Tentu saja, aku tak akan mampu bertahan lagi. Maka, dengan ikhlas aku akan melepaskannya, demi kebahagiaan mu."


Mas Adrian menggeleng pelan, lalu mengecup punggung tanganku.


"Ada apa, Mas?" Aku memicingkan mata, menelisik dan mempelajari raut wajahnya. Sekiranya, ada perubahan di raut itu tanpa aku sadari.


"Marisa menemuiku."


Glek. Rasnya, ludah ini menjadi sangat sulit sekali untuk ditelan.


Mendengar nama wanita itu saja, aku gelisah. Pikiranku mendadak kacau. Apalagi, jika mendengar Marisa mencari Mas Adrian.


Berarti benar, kata Bang David. Jika Marisa mencari mantan suaminya. Wanita itu mencari Mas Adrian.


Ya Tuhan! Bagaimana ini?


Tubuhku bergerak, aku ingin turun dari pangkuannya.

__ADS_1


"Di sini saja. Aku senang berbicara dengan posisi ini," lirihnya. Kedua tangannya memeluk pinggangku erat. Kepalanya telah terbenam di ceruk leherku.


"La -- lalu?" Aku bertanya ragu. Bahkan suaraku seakan tercekat di tenggorokan.


"Lalu?" Ah, Mas Adrian malah balik bertanya.


"Lalu, apa yang ... terjadi selanjutnya. Apakah kalian akan--," cukup sudah ... air mataku mengalir tak terbendung. "Akan kembali bersama," lanjutku di sela tangis.


"Kenapa kamu berpikir demikian?" Mas Adrian mengerutkan dahi. Satu tangannya menghapus air mataku.


"Bukankah sudah aku katakan, kita akan selalu bersama," lanjutnya dengan suara bergetar.


"Aku hanya merasa rendah diri. Tidak ada yang membuat seseorang harus memperjuangkan diriku. Aku sungguh tak layak." Aku terisak.


Mas Adrian menarik kepala ku, merengkuhnya dalam dada.


Debaran itu sama gilanya seperti denganku.


"Aku mencintaimu."


Aku menggeleng. Untuk pertama kalinya, kau tak percaya pengakuan cintanya.


"Bagaimana aku akan bercerita padamu, jika responmu seperti ini? Bukankah tadi kamu bilang akan siap mendengarkan?" Mas Adrian mengelus rambutku. "Hmmm?" gumamnya pelan.


"Rasanya, aku tak sanggup Mas. Jika Mas Adrian balikan sama dia."


"Siapa yang mau balikan sama dia, sih? Enggak ada alasan aku kembali pada wanita itu. Hanya kamu sekarang yang ada di hatiku."


"Lalu kenapa saat Bang David bilang Marisa mencarimu, Mas Adrian diam saja?" Aku mendongak, menatap matanya dengan cucuran air mata.


"Ya ini, responmu ini yang aku enggak kuat." Mas Adrian menghapus air mataku. Lalu mencium kedua mataku secara bergantian.


"Terus, kalian bertemu?"


Mas Adrian mengangguk pelan.


Aku mengusal wajahku. Menghapus semua jejak basah di pipiku. Tak ingin lagi menangis.


"Lalu?"


"Malam kemarin saat aku pulang terlambat, Marisa datang ke ruanganku. Dia mencariku, dan mengatakan jika ada masalah dengan suaminya saat ini."


Mas Adrian menjeda kalimatnya. Sepertinya melihat reaksi ku.


"Lalu?"


"Sabar dong, Sayang ...." Tampak lelaki itu mengulum senyum.


"Apa lagi?" tanyaku tak sabar.


"Dia memintaku untuk kembali padanya."


"Tuh ... kan ...." Aku memukul dada lelaki itu sekuat yang aku bisa. Ini sungguh situasi yang sangat menyebalkan.


"Aku senang kalau kamu cemburu. Itu tandanya cinta." Dia tersenyum penuh kepuasan.


"Enggak lucu," ketusku. "Terus ... apa tanggapan Mas Adrian?"


"Ya aku enggak mau dong. Aku kan udah punya istri yang cantik, menarik, baik hati, tulus, jujur, pinter masak, berhati lembut. Pokoknya paket komplit." Mas Adrian menyeringai.


"Gombal." Aku memasang wajah cemberut yang aslinya aku senang mendengarnya. "Pasti bukan itu jawabannya."


"Hahahaha." Mas Adrian malah tertawa terbahak. Dia ini, benar-benar menyebalkan.


"Jadi jawab apa, Mas?" Kali ini aku memasang wajah serius.


Mas Adrian menelan ludah, tampak jakunnya naik turun.


"Aku bilang enggak mungkin lagi. Kalau pun itu masih mungkin, aku enggak mau. Di antara kita sudah tidak ada apa pun lagi. Cerita kita telah berakhir. Sekarang aku telah bahagia bersama istriku, sangat mencintainya melebihi apa pun," jawab Mas Adrian panjang lebar.


Kalimatnya menghangatkan hatiku. Kedamaian ini kembali menelusup dalam hati. Aku meraba pipinya.


"Lalu?"


"Awalnya, dia tidak terima. Dan mengaku sangat menyesal karena memilih berpisah denganku." Mas Adrian mengelus tanganku yang masih berada di pipinya. "Tentu saja aku tak peduli lagi. Karena saat ini, yang terpenting adalah kebahagiaan wanita ini." Mas Adrian menarik hidungku dengan gemas.


Aku mengelus hidung yang panas karena tarikannya.


Mas Adrian tersenyum menggoda. Tentu saja aku tahu maksudnya.


"Nanti dulu, ih." Aku menahan kepalanya yang semakin mendekat. "Malam ini kenapa pulang malam lagi?"


"Oohh. Aku bingung mau ngobrolnya gimana sama istriku yang sensitif ini. Jadi, ya ... di kantor aja kok. Habis makan malam tadi, aku ketiduran. Bangun-bangun udah banyak panggilan tidak terjawab," ucapnya polos.


"Sama siapa di kantor?"


"Sendirian, Sayang ...."


Kali ini aku tak mampu lagi menghindar dari serangannya di bibirku.


Malam ini, permasalahan ini selesai.


Aku hanya butuh bertanya, dan memberanikan diri berbicara padanya. Daripada harus menerka-nerka dengan pikiran yang tidak tentu arah. Maka, satu hal yang penting dalam sebuah hubungan adalah belajar berbicara. Bicara mengungkapkan rasa yang aku punya, sedih ... senang ... suka ... tidak suka.


Sebab, suamiku lah yang berhak tahu lebih dulu perasaan apa yang tersimpan dalam hatiku.


Menyimpulkan lebih dulu tanpa bertanya, nyatanya malah membuat yang sebenarnya bukan masalah menjadi masalah.


Menjadi masalah yang kecil menjadi masalah yang membesar. Sebab, terlalu menuhanka prasangka.

__ADS_1


Aku terus berharap, hingga waktu berakhir hanya lelaki inilah yang menjadi suamiku. Aku tak ingin yang lain lagi.


__ADS_2