Suamiku Mencintai Adikku

Suamiku Mencintai Adikku
Bab 53


__ADS_3

Aku heran dengan tubuhku ini. Rasanya teramat lelah dan ... kepala juga pusing.


Selera makanku hilang seketika, padahal perutku lapar sekali.


Entah sudah berapa hari aku begini.


Hari telah semakin siang, tapi aku sangat malas untuk bangun.


Kali ini, aku memilih membenamkan kepala di dada Mas Adrian. Menghidu aroma tubuhnya, mengurangi rasa mual di perutku.


"Kenapa, Sayang?" Sepertinya Mas Adrian terganggu karena ulahku.


Aku menggeleng, lalu tanganku melingkar erat di pinggangnya.


Ya ampun, aku bahkan tidak bisa mengontrol gerak tubuhku untuk tidak selalu menempel padanya.


Ah, untungnya Mas Adrian membalas pelukanku. "Mas ...."


"Hmmm?"


"Jangan pergi, ya ...."


"Tidak akan."


"Janji?"


"Hmmm." Mas Adrian mengangguk, lalu mencium kepalaku.


Kemudian, aku pun kembali terlelap.


Entah sampai jam berapa aku tertidur lagi. Mataku mengerjap saat mendengar ketukan di pintu.


"Kak ... Kakak ...!" Ingin menemui Alina, tapi tubuhku tak begitu lemas.


Terdengar suara air di kamar mandi, mungkin suamiku itu sedang mandi.


"Kak, udah siang nih."


Ketukan di pintu berhenti, bisa jadi karena tak jua mendapat jawaban dariku.


Tiba-tiba, perutku kembali bergejolak.


Aku segera turun dari ranjang, tak menghiraukan kepala yang terasa pusing.


Aku berjalan tertatih menuju kamar mandi, menggedornya dengan lemah, berharap Mas Adrian bisa mendengar suaraku.


Pintu kamar mandi terbuka, menampakkan sosok lelaki yang hanya memakai handuk sepinggang.


"Lho, kenapa Ann?"


Aku tak acuh dengan pertanyaannya. Segera masuk ke dalam dan memuntahkan seluruh isi perutku.


Sampai mulutku ini terasa sangat pahit. Dan aku pun kehabisan tenaga.


Tubuhku lunglai lalu bersandar pada tubuh tegap Mas Adrian yang berada di belakangku.


"Kita harus ke dokter, Sayang," ucapnya lembut dengan tangan mengusap-usap punggungku.


Jika sebelumnya aku menolak ajakan Mas Adrian, tapi kali ini rasanya tak bisa ditolak lagi. Sebab tidak ada nada rayuan di sana. Ucapannya kali ini seperti perintah yang tidak bisa dibantah.


Secepat kilat, tubuh lemasku telah berada di antara dua lengan lelaki itu. Dengan langkah lebar, dia membawaku kembali berbaring di ranjang.


Mas Adrian meraih ponsel di nakas. Tidak menunggu waktu lama, sambungan itu mendapat jawaban dari seberang sana.


"Halo, David. Gantikan pekerjaan gua hari ini. Gua enggak ke kantor."


"Lho, kenapa, Bro? Gua mau antar Alina ketemu nyokap."


Ponsel Mas Adrian di load speaker, membuatku bisa leluasa mendengar percakapan mereka.


Mas Adrian berbicara sembari berganti pakaian. Ah, bahkan hari ini aku tidak menyiapkan pakaiannya seperti biasa. Lelaki itu mengambilnya sendiri di lemari.


Jangan tanyakan bagaimana rupa tumpukan baju di dalam lemari itu, setelah suamiku mengambil satu di antara mereka. Pakaian itu tetap rapi seperti tadi.


Mas Adrian mengambil lipatan baju yang paling atas, agar susunan tidak bergeser sesenti pun.


Aku tersenyum geli melihat apa yang dia lakukan. Tidak ingin melewatkan moment lelaki itu berganti pakaian, aku memanggilnya agar mendekat. Manisnya, Mas Adrian menurut tanpa banyak protes. Dia menurut pada kemauanku.


Mas Adrian duduk di bibir ranjang, menghadap ke arahku yang sedang duduk dengan posisi menyandarkan punggung pada kepala ranjang.


Perlahan, aku pun mengancing kemejanya tanpa suara. Sebab tak ingin mengganggu obrolannya di telepon.


"Itu kan, bisa ditunda entar malam. Sekalian ajakin nginap di sana. Gua ada urusan penting banget."


"Urusan apa, Lo?"


"Istri gua enggak enak badan, mau periksa ke dokter."


"Anna, sakit apa? Sejak kapan?" Suara Bang David terdengar panik.


Aku dan Mas Adrian berpandangan. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Jengah dengan pertanyaan Bang David, aku segera memutus pandangan kami dan kembali fokus pada kancing-kancing kemeja.


Lantas, pikiranku mengembara pada kejadian dia hari lalu. Saat Bang David dengan lancangnya mencium bibirku di dalam lift.


Tidak bisa dicegah, darahku kembali mendidih. Ingin rasanya aku mencaci maki lelaki di seberang telepon itu. Memuntahkan lahar panas yang membuat rasa bersalahku kepada Mas Adrian semakin menjadi-jadi.


"Makanya gua mau periksa, biar tahu sakitnya apa," jawab Mas Adrian santai.


"Oh, oke. Ya udah kalau gitu, entar biar gua yang handel pekerjaan lu di kantor. Tidak usah khawatir."


"Thanks, Bro."


Mas Adrian mematikan sambungan.


"Kok, lama?"


"A--apanya?"


"Kancingin kemejanya."


"Oh ... ini ... itu. Hmmm, enggak tahu. Susah."


"Lagi sakit juga, maksain diri. Kebiasaan." Mas Adrian mengacak rambutku, lalu mengecup kening.


"Mau ganti baju, enggak? Ganti baju aja, ya ... aku enggak mau tubuh cantikmu diliat orang karena pakai baju itu ke rumah sakit." Mas Adrian menyeringai, matanya melotot pada ....


Astaga, aku segera menutup dadaku dengan kedua lengan. Mataku melotot ke arah lelaki itu yang malah ditanggapi kekehan.


Melihat gelagatku yang bersiap memukulnya dengan bantal, Mas Adrian segera berlari menuju lemari pakaian.


"Lagi sakit juga, masih aja galak."


"Mas," desisku tajam.


"Pakai baju mana?"


"Enggak tahu, gak ada baju yang cocok kayaknya."


"Baju banyak begini, enggak ada baju yang cocok?"


Mas Adrian masih berdiri di depan lemari, memilih pakaian yang berada di gantungan.


"Banyak apanya?"


"Iya ... iya, nanti setelah periksa kita beli baju selusin."

__ADS_1


Aku terkekeh geli mendengarnya. "Enggak, ah. Mending uangnya ditabung aja."


"Uangku enggak akan habis hanya untuk membeli baju satu mal, Sayang."


Mas Adrian menuju ranjang dengan dress di tangan.


"Iya ... iya, percaya." Bibirku mencebik mendengar omong kosongnya.


"Jangan menggodaku, sayang ...."


"Ish, dasar." Aku tersenyum malu melihat ekspresi wajahnya. Kemudian menerima uluran baju dari tangannya.


"Sini, Mas pakaikan."


"Tapi ... nanti ...."


"Enggak akan, percaya deh. Masak lagi sakit begini mau dimakan juga."


Ish, lelaki ini membuatku malu saja. Tapi, aku tidak lagi membalas ucapannya. Aku diam saja saat lelakiku itu mengganti pakaianku.


Kayak sakit parah saja, pakai acara digantikan pakaian, sih. Ck.


Terdengar suara ketukan di pintu kamar.


"Kak!"


"Ya, ada apa Alina?" Itu suara Mas Adrian yang menjawab panggilan Alina.


"Kak Anna udah bangun belum? Aku lapar."


"Kamu buat sarapan sendiri ya ... atau beli saja di luar. Sebentar ...!" Mas Adrian membuka dompetnya lalu mengeluarkan uang lembaran berwarna merah.


"Mau beli apa sebanyak itu?" tanyaku heran.


"Eh, kebanyakan yaa ...?" Mas Adrian malah balik bertanya.


"Iya, satu lembar aja cukup. Cuma beli sarapan doang, bukan mau makan di restoran sekeluarga," sungutku.


Mas Adrian malah terkekeh mendengar ocehanku. Apanya yang lucu sih? Heran.


Mas Adrian meletakkan lembaran uang di nakas, lalu melangkah menuju pintu. Dia tidak membuka pintu kamar secara lebar.


"Beli sarapan di luar saja ya ... untukmu sendiri. Cukupkan itu?"


"Kak Anna kenapa, Mas?" Kepala Alina bergerak ke sana kemari seakan mencari celah untuk melihatku.


"Lagi kurang sehat, saja. Makanya pagi ini enggak ke dapur. Kalau kamu enggak bisa membereskan dapur, biarkan saja. Nanti saya nyari orang untuk bersihin rumah."


"Mau lihat Kak Anna, boleh?"


"Dia lagi siap-siap, kami mau periksa."


"Ooh, iya deh. Nanti aja kalau gitu. Eh, aku mau izin nanti pergi sama Bang David, Mas."


"Iya, dia tadi udah bilang. Hati-hati di jalan, jangan sembrono, anak cewek."


"Mas, ih. Mana ada sembrono. Apa maksudnya itu?"


"Ya, jaga diri. Enggak selamanya Kakakmu bisa jagain kamu terus. Lagian udah mau nikah. Ya sudah sana. Nanti kamu kelaparan."


"Iya, deh. Makasih, Mas. Cepat sehat, Kak!"


Mas Adrian menutup pintu kamar setelah Alina pergi.


"Mas, kok enggak bolehin Alina masuk kamar untuk lihat aku?" Aku masih duduk di tepi ranjang. Berusaha berdiri agar segera berangkat. Perutku sangat lapar.


"Selama Mas di rumah, jangan ada siapa pun yang boleh masuk kamar, ya ...."


Aku mengangguk, lalu meraih lengannya untuk digandeng.


"Masukin tas kamu aja ya ...."


"Dengan senang hati."


"Kalau lihat uang begitu aja, langsung sehat. Masak suaminya kalah sama uang, sih?"


"Hahahaha. Mana ada, aku ya ... pilih suamiku, lah ... ada-ada aja, sih."


"Itu, langsung semangat begitu dapat uang banyak."


"Ya ampun. Suami siapa sih ini. Di mana-mana cemburu itu sama orang bukan sama duit. Aneh. Nanti nyari sarapan dulu, ya ... baru periksa. Lapar banget."


"Siap, Sayang."


Kami pun berjalan bergandengan keluar kamar. Tidak tampak Alina di mana pun, mungkin dia sudah keluar mencari sarapan.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Mataku berkeliling mencari menu makanan yang mengundang selera.


Ah, aku teringat sesuatu. Rasanya pun sudah sampai di lidah.


"Mas, sarapan bubur ayam ya ... yang dekat kantor itu."


"Lho, kok jauh banget Ann."


"Pokoknya mau itu, enggak mau yang lain." Ya ampun! Ngapa jadi cengeng begini, sih. Padahal Mas Adrian juga enggak bilang menolak ke sana. Mataku udah berkaca-kaca.


"Lho, kok malah menangis. Iya, kita ke sana." Satu tangan Mas Adrian mengelus kepalaku, sedangkan satu tangan yang lain masih fokus dengan kemudi.


"Mas cuma khawatir, nanti kamu enggak tahan sampai sana. Katanya udah lapar banget."


"Pokoknya mau yang itu, enggak mau yang lain." Tumpah sudah air mataku.


"Iya ... iya ... kita ke sana sekarang ya, anak manis."


Bukannya tersenyum mendengar rayuannya, bibirku malah cemberut. Kali ini gombalan lelaki itu kagak mempan.


***


Rasanya, tidak makanan yang paling enak selain makanan ini. Rasanya sangat memanjakan lidah dan membuatku nambah sampai dua kali.


"Pelan-pelan. Enggak ada yang mau minta jatahmu." Mas Adrian membenahi rambutku yang memang terurai.


Bukannya menghabiskan sarapannya, lelaki itu malah memegangi rambutku yang terasa mengganggu kenikmatan makanku.


"Ini udah mangkuk yang kedua, lho. Enak banget apa kelaparan?" Mas Adrian terkekeh.


"Emas enggak makan?" Aku bertanya dengan mulut yang terisi penuh.


"Habiskan dulu yang di mulut, baru ngomong."


Tidak menunggu kesekian detik, aku langsung tersedak mendengar ucapannya.


"Tuh, kan. Dibilangin juga ...." Mas Adrian menepuk-nepuk punggungku, setelah membantuku meminum air putih di gelas.


Kadang, Mas Adrian bisa berubah sangat cerewet sekali. Dan perhatiannya seperti ini mengingatkan aku akan ibu yang sendirian di rumah. Ah, aku rindu ibu.


"Lho, kok mewek lagi, sih?"


"Kangen ibu ...." Aku menyeka air mata yang mulai mengalir di kedua pipi.


Siapa sangka, jika di tempat umum seperti ini pun Mas Adrian masih bisa bersikap manis. Lelaki itu menyeka air mataku dengan kedua ibu jarinya.


Telapak tangan lebarnya menangkup kedua pipiku yang terasa sangat pas.


"Iya, nanti kita ke sana ya. Berkunjung ... lagian sebentar lagi ibu juga bakalan ke Jakarta, kan. Pas nikahan Alina."

__ADS_1


Aku mengangguk. "Kenapa juga .. Alina enggak nikahan di sana aja, sih. Pake acara nikah di Jakarta segala," omelku


"Sudah, enggak usah marah. Nanti kamu lapar lagi, terus kapan periksanya."


"Kayaknya aku udah sehat deh, Mas. Enggak usah jadi periksa aja ya ...."


"Tetap periksa, enggak ada bantahan. Lagian, Mas cuma mau memastikan sesuatu."


"Apa?" tanyaku bingung. Memastikan apa coba, penyakit apa yang aku derita. Rasanya tubuhku ini sudah sehat bugar.


"Nanti juga tahu."


"Adrian ...." Suara panggilan seseorang memutus tatapan kami yang saling berpandangan.


Aku dan Mas Adrian serentak menoleh ke arah suara. Tampak di belakang suamiku itu berdiri seorang wanita yang amat sangat cantik.


Jangan tanyakan bagaimana perasaanku. Tentu saja, aku merasa kerdil. Saat aku berdandan saja, kecantikanku tidak sebanding dengan wanita itu. Dia sedang tersenyum tipis ke arah Mas Adrian, dengan tatapan yang dalam penuh kerinduan. Siapa dia?


"Marisa," gumam Mas Adrian.


Mendengar siapa nama wanita itu, seketika mataku terbelalak kaget. Tubuhku seakan terpaku di tempat, lalu tiba-tiba berubah menjadi kecil dan masuk ke lubang yang dalam.


Aku sedang tidak siap bertemu wanita itu. Apalagi ternyata dia sangat cantik.


Ya Tuhan! Tolong bawa aku pergi dari sini.


Genggaman erat di tangan diiringi usapan lembut di punggung tanganku, berhasil membawa tubuhku kembali ke alam nyata.


Aku dan Mas Adrian masih dengan posisi duduk. Aku melihat ke arah genggaman tangan itu, rasanya begitu hangat.


Mas Adrian menoleh padaku, lalu mengajakku berdiri di sampingnya.


"Hai, Marisa." Aku tahu, Mas Adrian sedang gugup. Situasai ini pasti juga sulit buatnya. Mungkin, dia juga belum siap dengan keadaan tak terduga ini.


"Kamu makan di sini juga. Aku kangen banget dengan bubur ayam di sini. Aku enggak nyangka bisa ketemu denganmu di sini Adrian. Kamu pasti kangen juga, kan sama bubur di sini. Ini kan tempat favorit kita."


Apa? Jadi ... ini tempat favorit mereka. Seketika tubuhku seakan terbang tak lagi berpijak ke bumi. Tatapanku nanar mengetahui kenyataan ini. Apa yang aku lakukan?


"Kamu sama siapa?" Mas Adrian tidak menanggapi perkataan panjang lebar dari mantan istrinya. Lelaki itu justru memilih pertanyaan lain.


Apa maksudnya, apa dia tidak mau aku tahu lebih?


Apa dia enggak mau kalau aku ternyata malah memilih makan bubur di sini?


Ah pantas saja, tadi dia sempat menolak. Dia terpaksa mengikuti keinginanku karena aku menangis tadi.


Kebodohan apa yang kau lakukan, Anna?


"Oh, aku sendirian. Aku selalu sendirian ke tempat ini." Mata Marisa terus fokus pada Mas Adrian. Apa wanita itu tidak menganggapmu ada?


Apa Mas Adrian bahkan tidak berniat untuk mengenalkan ku sebagai istrinya?


Aku berusaha melepaskan genggaman tangannya. Tidak bisa dicegah, aku harus segera pergi dari sini.


Bukannya terlepas, Mas Adrian ternyata malah merangkul bahuku dengan erat seolah sebagai isyarat kepemilikan. Jika aku adalah miliknya seorang.


"Kenalkan, ini istriku. Namanya Anna." Mas Adrian menoleh padaku yang masih terbengong. Tatapanku masih fokus ke arah Mas Adrian, tidak beralih sedetik pun. "Sayang ... wanita ini Marisa, mantan istriku."


Mantan istri? Man-tan is-tri. Aku masih mengeja kalimat itu. Iya ... Marisa hanya mantan istri, dan akulah istri sah Mas Adrian sekarang.


Lalu aku pun tersenyum, kemudian pandanganku beralih pada wanita yang binarnya mulai meredup tidak secerah tadi.


Aku mengulurkan tangan, Marisa menyambutnya dengan dingin. Kami berkenalan singkat.


"Anna."


"Marisa."


Marisa segera menarik tangannya, lalu mengabaikan ku. Pandangan wanita itu kembali ke arah suamiku. Tidak bisa dibiarkan.


"Mas, jadi ... enggak kita pergi?" Aku sengaja mengatur nada suaraku agar terdengar manja di telinga mereka.


Mas Adrian menoleh, lalu tersenyum. Seketika mendaratkan kecupan ringan di kepalaku. Ah, so sweet.


"Jangan kege-eran. Adrian memang selalu bersikap manis pada istrinya," ketus Marisa.


Mas Adrian tanggal dengan respon yang akan kuberikan pada wanita itu. Dia langsung meletakkan kepalaku di dadanya. Jadilah, dada bidang itu sebagai pelampiasanku saat ini. Kebenaran.


Aku gigit dada bidangnya.


"Aw! Nanti di rumah, Sayang ...," goda Mas Adrian dengan senyum tipis, sorot matanya berubah sendu. Membuatku begidik.


Ah, sial!


Namun, aku tersenyum puas karena wanita di hadapan kami itu wajahnya berubah merah padam.


"Marisa, sorry ya ... kami harus pergi. Sampaikan salamku kepada suamimu."


"Adrian, kamu tahu betapa aku sangat menyesal dengan semua yang terjadi. Jangan melakukan itu, jangan melampiaskan rasa marahmu pada wanitaain. Aku tahu kamu masih sangat mencintai aku." Marisa berbicara dengan menangis.


Aku tidak tahu bagaimana hubungan mereka, tapi melihat keadaan Marisa sekarang. Aku yakin mereka dulu sangat saling mencintai.


Mas, masih adakah rasa cintamu untuk Marisa?


"Marisa, cerita kita sudah berakhir." Mas Adrian menghentikan langkahnya, laku menoleh pada Marisa yang tergugu.


"Enggak, kisah kita belum berakhir. Nyatanya kamu masih peduli padaku." Marisa mendekat, berusaha meraih tangan Mas Adrian.


Mas Adrian mundur selangkah, menghindari wanita itu yang tampak kacau saat ini.


"Jangan mempermalukan dirimu. Ini bukan seperti Marisa yang aku kenal dulu. Berhentilah."


"Bagaiman Marisa yang kamu kenal dulu, Adri. Katakan padaku sekarang."


"Cukup Marisa." Mas Adrian mengangkut tangannya ke depan.


"Aku ... aku ... rasa kita berjodoh. Nyatanya, kita bertemu di sini. Kamu selalu menghindariku, kamu pasti sangat mencintai aku, kan?"


"Tadi istriku yang memintaku ke sini. Dia yang ingin makan bubur di sini. Jadi berhentilah berkhayal."


"Adri ...."


Aku masih bergeming di tempat, tidak tahu harus melakukan apa.


Rasanya hidupku ini tidak ada kata berakhir untuk berurusan dengan seorang mantan.


Bang David lalu Marisa, semuanya masih mengusik hidup kami.


"Adri, bukankah kita pernah menghabiskan malam bersama waktu itu? Kenapa sekarang seolah kamu lupa." Marisa masih meracau di sela tangis ya.


Ya Tuhan! Apa lagi ini?


Kapan mereka menghabiskan waktu bersama?


"Malam itu kah?" tanyaku tajam pada Mas Adrian.


"Jangan dengarkan dia, sebaiknya kita segera pergi." Mas Adrian meraih pinggangku, lalu menarikku untuk segera pergi dari sini. Tubuhku seakan tak bertenaga untuk sekadar memberontak.


Mengabaikan teriakan Marisa yang meraung-raung.


Sesampainya di mobil, Mas Adrian segera melajukan kendaraannya. Aku tak ingin menoleh padanya, memilih membuang pandangan ke luar jendela.


Aku sedang tak ingin berbicara apapun.


Kami tetap diam sampai di rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2