Suamiku Mencintai Adikku

Suamiku Mencintai Adikku
Bab 55


__ADS_3

"Aku percaya padamu," ucap Mas Adrian lembut.


Setelah itu, suamiku tersebut keluar. Tidak berselang lama, dia membawa baki berisi bubur kacang hijau.


Dengan sabar, Mas Adrian menyuapiku.


Rasanya begitu enak ... aku lahap memakannya.


Habis satu mangkok, dengan tanpa malu aku meminta tambah.


Ya ampun. Ini lapar apa doyan?


Padahal, dari kemarin aku kesulitan makan. Hanya bubur ayam dan bubur kacang hijau ini saja yang bisa masuk ke perutku.


Ah, bubur ayam pun keluar lagi tadi.


Usai menghabiskan dua mangkuk, rasanya tenagaku telah kembali sekarang.


Maka, aku pun menyusul Mas Adrian di dapur yang sedang mencuci piring.


Punggung bidangnya tercetak jelas dari belakang, tidak bisa menahanku untuk tidak memeluk punggung itu.


Lantas, aku pun berjalan cepat. Lalu melingkarkan kedua tangan di pinggang lelaki itu. Kurasakan tubuhnya menegang sejenak. Mungkin kaget karena menerima perlakuanku yang mengejutkan.


Aku menghidu aroma tubuhnya dalam-dalam, sampai terasa penuh di indera penciumanku.


Aku memejemkan mata menikmati aroma yang sangat aku sukai.


Rasa-rasanya semua sakit serta semua masalah melebur begitu saja.


Mas Adrian membalikkan tubuh. Dia membalas pelukanku. Begitu erat lingkaran tangannya di pinggangku.


Tidak perlu menunggu lama, kami telah menghapus jarak dan saling melebur dalam kenikmatan rasa manis di kedua bibir.


Rasa manis ini, kini menjadi candu buatku. Entah kapan aku mulai tergila-gila oleh rasa ini. Yang jelas, hatiku tak mampu menahannya.


***


Kedua mata Mas Adrian masih terpejam, saat aku terbangun.


Menatap wajahnya yang damai di kala tidur, dia persis seperti bayi.


Ponsel lelaki itu berbunyi, tanda pesan masuk.


Aku menoleh ke nakas, mengambil ponsel tersebut.


Banyak pesan yang masuk ke aplikasi hijau milik Mas Adrian.


"Wah, banyak sekali," gumamku lirih.


Aku tidak memeriksanya satu persatu, hanya menscrol sampai ke bawah.


Mataku tertumbuk pada satu nama yang mengirimkan pesan begitu banyak.


Tanpa pikir panjang aku membukanya.


'Adri, sudah makan belum?'


'Adri, aku merindukanmu.'


'Adri, aku menyesal. Aku tahu kamu masih mencintaiku. Aku akan terus menunggumu sampai kapanpun. Kisah kita belum usai.'


'Sayang, aku cinta kamu.'


Mataku memanas membaca pesan-pesan dari satu nomor itu. Tapi, tidak ada satu pun yang dibalas Mas Adrian.


Apakah kamu memang sejujur itu, Mas?


Mas Adrian menggeliat, lalu membuka matanya. Aku segera menghapus air mata di pipi yang sempat mengalir. Tidak ingin lelaki itu tahu jika aku habis menangisinya.

__ADS_1


"Kamu kenapa?" Mas Adrian mengangkat kepalanya, bergeser pelan lalu meletakkan kepalanya di pangkuanku.


Tanganku sontak mengelus kepalanya, lalu menyisir rambutnya dengan jari jemari.


"Enggak ada," jawabku lirih.


"Apa ada yang menghubungiku?" tanyanya lagi. Mas Adrian menenggelamkan kepalanya di perutku.


"Mas, aku tadi baca chat di wa kamu. Maaf ... ya."


"Enggak apa-apa. Baca aja, enggak ada yang penting. Kalau ada yang penting, kasih tahu aku ya."


"Hmmm."


Hening, aku menikmati perasaan masing-masing. Rasa bersalah ini kian menjadi-jadi.


Apakah sikapku ini berarti melindungi Bang David darinya?


Apa yang akan dilakukan suamiku jika calon adik iparnya sekaligus mantan suaminya pernah ....


"Ah ...." Aku memejamkan mata.


"Kamu kenapa, ada yang sakit?"


Tanpa sadar, aku mengeluarkan suara. Memikirkan Bang David saja membuat kepalaku pusing.


"Aku pusing."


"Mual, enggak?"


"Enggak."


"Baring lagi ya ...."


Aku menggeleng. "Capek baring terus. Aku mau begini aja."


Mas Adrian menarik hidungku gemas.


"Istri siapa sih, gemasin banget."


Suara dering ponsel menjeda aktivitas kami. "Sebentar, Mas. Alina telepon."


"Halo, Dek."


"Kak, aku enggak pulang ya ... nginap di rumah mama."


"Iya. Hati-hati di sana."


"Oke, Kak."


Panggilan diputus.


"Alina nginap di rumah Bang David," ujarku pelan menceritakan percakapan dengan Alina tadi.


"Lho, kamu masih manggil dia Abang. Kan calon adik ipar?"


"Iya, masih canggung mau panggil nama aja. Lagian emang tuaann dia kan dari aku."


"Bukan karena yang lain, masih manggil Abang?"


"Ish, ya enggak lah ...." Aku memukul punggung Mas Adrian.


"Iya ... iya. Yang nyaman di istriku aja manggilnya apa. Yang penting, istriku ini nyaman bersandarnya sama aku aja. enggak sama yang lain."


"Apa maksud kamu, Mas?" tanyaku dingin.


"Mas cuma bercanda, Sayang. Kamu akhir-akhir ini sensitif banget deh."


"Aku enggak suka kamu bercandaan aku begitu."

__ADS_1


"Iya, maaf."


Tangan Mas Adrian terulur mengelus pipiku. Lalu membenamkan wajahnya di perut.


Aku meraba dada kiri, apakah masih ada rasa tersisa untuk calon adik iparku?


***


Malam ini selera makanku hilang lagi. Bubur kacang hijau telah habis. Sebenarnya aku masih sangat lapar, tapi tidak ada satu pun makanan yang mampu menggugah selera.


Perutku terasa terlilit, sakit sekali. Pinggang juga rasanya mau lepas.


Duh, sudah berhari-hari aku begini. Aku pikir karena tamu bulanan akan datang menghampiri. Namun, sampai sekarang dia tak juga datang.


Kenapa sampai berhari-hari rasa sakitnya, seakan menyiksaku seperti ini.


Aku terjaga entah di jam berapa. Lelaki di sampingku tengah tertidur pulas. Tangannya memeluk pinggangku.


"Mas ... Mas ...." Aku menggoyang tubuhnya.


Badanku menggigil kedinginan, sepertinya aku sudah tidak tahan lagi dengan rasa sakit ini.


Muncul rasa sesal karena tadi tidak jadi memeriksakan diri. Gara-gara si Marisa, aku jadi merajuk kepada suamiku.


Padahal, Mas Adrian tidak menanggapi wanita itu. Bahkan, pesan-pesan darinya pun tak ada yang dibalas lelakiku.


"Mas ...." Aku menepuk pipinya pelan. Tenagaku habis, tubuhku sangat lemas.


"Kamu kenapa, Anna. Badanku panas sekali." Mas Adrian terkesiap, lalu duduk di ranjang. Dia tampak kebingungan. Membuka selimut yang menyelimuti tubuhku, lalu dengan sekali gerakan aku telah berada di udara.


Mas Adrian membopongku keluar. Tak lupa meraih ponsel di nakas.


Setelah meletakkan tubuhku yang mulai mengawang seakan di antara dunia kesadaran dan tidak sadar, Mas Adrian kembali berlari menuju rumah. Menutup pintu.


Kemudian melajukan mobil membelah jalanan, sesekali lelaki itu terdengar mengumpat karena perjalananya terganggu.


"Sayang, Anna ... bangun Ann, bentar lagi sampai." Suara Mas Adrian membuatku terjaga kembali. Aku meraih tangannya, mengelus pelan lalu tersenyum tipis.


"Ya Tuhan! Bertahan, Sayang." Setelah mendengar itu aku tidak ingat apa-apa lagi.


***


"Sayang ... Sayang ...."


Aku seperti berada di antara kabut putih, mencari sumber suara yang begitu lembut memanggil.


"Sayang ... Sayang ...."


Suara itu semakin mengecil.


"Anna, aku mencintaimu."


Semakin mengecil. Tubuhku pun semakin mengecil. Lalu aku tersentak kaget.


Aku mengerjapkan mata perlahan, mengumpulkan kesadaran yang terserak.


Tanganku tergenggam erat oleh tangan hangat yang aku tahu, itu milik Mas Adrian.


"Anda sudah bangun, Nyonya." Aku menoleh, tampak seorang perawat tersenyum.


Aku tersenyum tipis, mengangguk pelan.


"Syukurlah. Suami Anda sangat mencemaskan kondisi Nyonya."


"Iya, kayaknya enggak tidur-tidur itu suaminya. Baik sekali ...."


Mas Adrian hanya tersenyum tipis menimpali ucapan sang perawat.


"Bagaimana kondisi istri saya?" tanya Mas Adrian tak sabar.

__ADS_1


"Kita tunggu visit dokter ya, Pak. Sebentar lagi. Bapak tenang, istrinya baik-baik saja."


__ADS_2