Suamiku Mencintai Adikku

Suamiku Mencintai Adikku
Bab. 66


__ADS_3

Adakah yang lebih sakit dari ini? Dikhianati oleh saudara sendiri. Dia saudara kandungku yang selalu mencoba menghancurkan rumah tanggaku.


Katakanlah aku begitu lemah di hadapannya. Namun, bagiku Alina adalah satu-satunya keluarga yang aku punya. Dengannya, dapat kurasakan kenangan keutuhan keluarga kami.


Jika dia juga pergi, maka tiada lagi yang bisa kupanggil saat merindukan keluargaku.


Betapa menyedihkannya menjadi sebatang kara.


Aku ingat, dulu ... Alina selalu sakit-sakitan saat kecil. Keluar masuk rumah sakit sudah menjadi langganannya. Fisiknya yang lemah membuatnya tak bisa beraktivitas berat.


Terpaksa, akulah yang selalu menggantikan pekerjaannya.


Namun, di balik semua itu. Siapa sangka, jika justru akulah yang menjadi biang masalah dalam hidupnya.


Dia yang tak bisa ini itu, selalu mengandalkan aku dalam banyak hal. Membuatnya menjadi manja dan suka merajuk saat tidak mendapatkan apa saja.


Seringkali pula, Alina meminta barang-barang yang aku miliki. Tetapi, itu dulu ... sekarang dia sudah dewasa.


Apakah aku juga harus berbagi suami juga dengannya.


Lupakan Alina. Ada satu hal yang harus aku lakukan saat ini.


Aku melangkah ke almari pakaian, mengeluarkan beberapa potong pakaian dari sana. Lalu memasukkannya ke dalam tas kecil, ya ... cukup.


Mengabaikan pandangan heran Mas Adrian. Aku segera berganti pakaian. Niat awal yang harusnya dua hari lagi aku pergi dari sini, tidak jadi aku lakukan.


Aku mau pergi sekarang, dengan atau tanpa izin suamiku.


"Anna, mau ke mana?" tanya Mas Adrian seraya melangkah mendekat.


Aku cepat menepis tangannya yang berusaha menggapai tubuhku. Merasa diabaikan, lantas Mas Adrian mencekal lenganku. Dengan sekali sentakan, tubuh kami saling berhadapan.


"Kamu mau ke mana?" tanyanya dengan tatapan tajam.


Kalau saja ada sebilah pedang pada kedua matanya itu, sudah tentulah aku akan mati terbunuh saat ini juga.


"Anna, mau ke mana?" tanyanya lagi dengan nada dingin.


Tubuhku membeku seketika. "Aku mau pergi," desisku tajam.


Susah payah aku menggerakkan bibirku guna mengeluarkan suara.


Aku benci dengan diriku sendiri yang tidak bisa mengontrol emosi. Kedua mataku memanas dan siap mengalirkan buliran bening pada kedua pipi. Sekuat tenaga aku membendung air yang siap tumpah.


Tolong, jangan sekarang. Aku sedang tidak ingin terlihat lemah di hadapan lelaki itu.


"Bukankah dua hari lagi kita pulang," ucap Mas Adrian dengan pandangan menelisik.


"Terserah Mas saja jika mau masih di sini. Aku mau pergi," ucapku dengan mata air yang mengalir. Secepat kilat kuusap kedua pipi dengan kasar.


"Oke. Kita pergi sekarang."

__ADS_1


Tanpa menunggunya bersiap, aku segera keluar kamar. Dan tanpa berpamitan pada Alina, aku keluar rumah.


Ah, tidak-tidak. Aku tidak mau Alina merasa diriku lemah.


Akhirnya aku memutuskan kembali masuk, lalu menuju kamar Alina. Berpamitan padanya.


Mas Adrian tampaknya langsung keluar rumah. Tidak mengikuti langkahku lagi. Terserah saja.


"Alina, Kakak pergi. Jaga rumah baik-baik," ucapku berusaha santai.


Padahal, dalam dada ini jantung berdentam-dentam menahan gejolak yang menggelegak siap meledak di ubun-ubun.


Bisa-bisanya, Alina mengancam suamiku agar mendapatkan kontrakan rumah yang mewah. Padahal aku sempat berpikir dia menabung. Sedangkan aku telah memberinya uang uang cukup untuk indekos. Ah ya, satu lagi, ibuku bahkan telah mengirimi uang padanya.


"Kenapa secepat ini, Kak? Alis sendirian di rumah ini? Apa Mas Adrian juga pulang?"


Apa? Dia menanyakan suami. Yang benar saja. Apa dia kurang puas juga, atau dia juga belum sadar aku telah memberinya kelembutan.


"Tentu saja dia ikut. Apa kamu berharap dia akan tetap di sini menemanimu?" tanyaku dengan nada sebiasa mungkin.


"Oh, maksudku ...."


"Ya sudah, Kakak pergi dulu. Hati-hati di rumah." Aku melangkah keluar. Lalu berbalik menghadapnya dengan tersenyum tipis. "Alina, mulai saat ini kamu harus mandiri. Karena tidak selamanya Kakak ada untukmu. Jadi ...." Aku menghela napas pendek, lalu melanjutkan, "kamu harus mengurus dirimu sendiri. Termasuk tempat tinggal. Semua fasilitas dari Mas Adrian aku hentikan."


"Kak, bagaimana bisa?" protes Alina.


Aku tidak menjawab, lebih memilih pergi meninggalkannya.


Tidak-tidak, lebih tepatnya dia menemui Mas Adrian.


"Mas, benarkah semua fasilitas yang kamu berikan dicabut?" tanya Alina sedikit merengek.


Mas Adrian yang berdiri di teras rumah sesaat melongo, lalu menatap kami bergantian.


Aku menatapnya tajam, tolong Mas kali ini saja. Aku tidak akan meminta yang lain lagi. Tolong!


"Semua keputusan ada pada Kakakmu. Mas ikuti apa yang terbaik menurutnya," jawab mas Adrian akhirnya.


Aku bernapas lega. Semoga ini awal yang baik.


"Kakak pergi dulu Alina. Jaga dirimu baik-baik." Aku berlalu pergi tanpa menunggu Mas Adrian.


Lelaki itu mengikuti langkahku.


Kadang aku berpikir, benarkah langkahku selama ini?


***


Akhirnya kami sampai di rumah. Tidak banyak obrolan antara aku dan Mas Adrian. Sepanjang jalan kami banyak diam, sibuk dengan pikiran masing-masing di kepala.


Jika saja langkahku ini salah, maka semoga masih ada waktu untuk memperbaikinya.

__ADS_1


Aku hanya ingin mempertahankan rumah tanggaku, setidaknya kali ini saja.


Cukup sudah masa lalu itu menjadi pelajaran berharga tanpa mau kuulang kembali.


Setelah membersihkan diri, aku segera merebahkan diri di ranjang. Selain tubuh yang lelah, pikiranku juga sangat amat lelah.


Mas Adrian merebahkan diri di sampingku. Tangannya terulur mengelus perutku.


"Apa kabar, Sayang? Kamu baik-baik aja, kan? Besok kita periksa ya ... bilang sama Mama, Papa sayang sekali sama kalian," ucapnya pelan.


Aku memejamkan mata. Setitik ragu menodai hatiku. Mengingat apa yang Mas Adrian lakukan pada Alina tanpa memberitahuku lebih dulu, membuat dadaku seperti terbakar.


"Maafkan aku," ucap Mas Adrian lagi.


Kurasakan tubuhnya bergeser mendekat, lalu memelukku dari belakang.


Lantas, tangan kukuhnya membalikkan tubuhku agar kami berhadapan.


Mas Adrian mengelus pipiku lembut. Tatapannya begitu sayu ....


Aku masih diam, lalu memutus pandangan kami.


"Apa kamu masih marah padaku?" lirihnya.


"Apa itu penting bagimu?" tanyaku sinis.


"Tentu saja itu penting."


"Nyatanya, kamu memberikan fasilitas itu kepada Alina tanpa sepengetahuanku, Mas," desisku tajam.


"Dia yang ...."


"Jangan jadikan Alina sebagai alasanmu. Sedangkan kamus sendiri yang memilih untuk melakukannya."


"Dia berusaha menggodaku, Ann. Apa kamu tidak marah?"


"Apa pun bisa terjadi pada kehidupan kita selanjutnya. Jika diri kita sendiri yang tidak mampu bertahan, jangan salahkan orang lain yang telah berhasil masuk pada kehidupan kita, Mas. Buka kah kita sama-sama pernah gagal dengan pernikahan? Apa Mas mau mengulangi kegagalan itu?"


"Sssttt." Mas Adrian menutup bibirku dengan jari telunjuknya. "Jangan katakan itu. Ingat anak kita."


"Mas harus ingat satu hal. Aku bisa membesarkan dan mengasuh anakku sendirian. Jangan pernah berpikir, aku bertahan dengan pernikahan kita hanya karena anak ini."


"Iya ... iya ... maafkan aku, Sayang." Mas Adrian berusaha merengkuh tubuhku. Namun, aku segera menepis tangannya.


"Aku sedang tidak ingin dipeluk," ketusku.


Ah, andai saja dia tahu. Betapa aku ingin tenggelam dalam pelukannya. Menggoda aroma tubuh lelaki itu sebanyak mungkin. Hormon sialan.


"Tapi aku mau peluk, Ann. Aku enggak tahan menerima kemarahan kamu, Sayang."


Dasar hormon menyebalkan. Ayolah, Sayang jangan begini. Mamamu sedang marah.

__ADS_1


__ADS_2