Suamiku Mencintai Adikku

Suamiku Mencintai Adikku
Bab. 57


__ADS_3

"Apa kamu baik-baik saja?" tanya lelaki dengan nada khawatir.


Dekapannya begitu erat di tubuh, sampai membuatku sesak napas.


Aku berusaha melepaskan pelukannya, tapi tenagaku kalah kuat darinya.


"Lepas," desisku tajam.


"Anna, sebentar saja. Aku ingin memastikan keadaanmu," ucapnya lirih.


"Lepas," sinisku padanya.


Aku sangat kualahan mengahadapinya. Kapan dia akan memperlakukan aku sebagai seseorang yang memiliki perasaan?


Atau, setidaknya hargai pasangan kami masing-masing.


Dia selalu saja bersikap egois, ingin menang sendiri, tidak memikirkan orang lain.


Aku bernapas lega saat lelaki itu mengurai pelukan. Saat ini, wajah kami sangat dekat. Aku bisa merasakan deru napasnya yang tidak beraturan.


Aku memalingkan wajah, merasa jengah karena dipandangi secara intens olehnya.


"Wajahmu pucat," ucapnya lirih.


Aku tersentak kaget saat tangannya terulur mengelus kepalaku.


"Anna, apa kamu tahu? Mendengar jika kamu sakit, jantungku seolah berhenti berdetak. Napasku seolah berhenti berhembus. Bisakah aku menggantikan sakitmu?"


Berhentilah, Bang! Lebay akut si Abang, mah. Sejak kapan dia begini?


Aku terkekeh geli mendengar penuturannya.


"Kamu tersenyum, syukurlah!" Tanpa aba-aba, dia langsung menarik kepalaku ke dada bidangnya.


Ya Tuhan!


"Abang, Kak Anna. Apa yang kalian lakukan?"


Pintu kamar terbuka lebar, menampilkan sosok wanita cantik calon istrinya.


Aku mendorong Bang David kasar. Menjauhkan tubuhnya yang tinggi dari ranjang ini.


Kami tampak salah tingkah.


Bang David menggaruk keningnya yang entah karena gatal atau kikuk. Matanya melirik padaku, lalu menatap Alina. Dia berjalan mendekati calon istrinya yang mulai berkaca-kaca.


"Hai, kamu sudah sampai, Sayang. Udah ke toiletnya?" tanya Bang David. Yang aku tahu, pertanyaan itu hanyalah basa-basi sekadar mengalihkan perhatian Alina.


"Kak, apa yang kalian lakukan barusan? Dia itu calon suami aku, apa kalian berencana balikan lagi dan mencampakkan aku?" tanya Alina. Wajahnya merah padam dengan suara bergetar.


"Apa maksudmu?" Aku balik bertanya dengan bingung.


Aku tidak mungkin kembali dengan Bang David. Lagi pula, tidak ada niat sedikit pun untukku kembali pada lelaki itu.


Apalagi, di dalam perutku ini ada anak kami. Anak aku dan Mas Adrian.

__ADS_1


Ya Tuhan! Salah paham macam apa lagi ini?


"Kakak tahu, kan, maksud aku?!" Alina bertanya dengan histeris. Dua mulai menangis, air matanya mengalir deras di kedua pipinya. "Kalian berpelukan berdua, bermesraan berdua di sini. Ya Tuhan! Aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat," lanjutnya. Alina mengusap wajah frustrasi.


Alina tampak sangat kacau. Dia mengacak rambutnya kasar. Lalu berjalan mendekati ranjang ku.


"Abang masih mencintai Kak Anna?" tanyanya getir.


Aku mendongak, menatap wajah Bang David yang tampak pias. Seperti orang yang baru kepergok ... selingkuh.


Dan naasnya, wanita yang membuatnya begitu adalah aku. Calon kakak iparnya, mantan istrinya.


Tiba-tiba kepalaku terasa pusing. Aku memegang kepala yang mulai terasa berat.


"Aduh," kataku spontan.


"Anna, kamu baik-baik saja." Bang David mengelus kepalaku, tanpa canggung.


"Jadi, Bang David memang masih mencintai Kak Anna. Jadi, hubungan kita selama ini."


Bang David tidak menjawab, dia sibuk membantuku berbaring di ranjang.


"Jawab, Bang!" jerit Alina frustrasi.


"Nanti aku jelaskan, ya ... Sayang. Sekarang aku bantu Anna dulu berbaring," balas Bang David lembut.


"Sialan kamu, Bang! Sialan!!!" Alina memukuli lengan Bang David.


Aku tidak pernah terpikir bakalan menjadi sekacau ini.


"Ada apa ini? Alina, kamu kenapa?" Terdengar suara Mas Adrian panik. Langkahnya bergerak cepat mendekati ranjang.


"Anna pusing katanya. Aku membantunya berbaring." Bang David berkata pelan.


"Abang jelaskan pada kami tentang perselingkuhan kalian," ucap Alina pelan.


Aku masih berusaha melihat keadaan sekitar. Alina terduduk di sofa samping ranjang.


"Sayang, kamu mual lagi?" Mas Adrian duduk di bibir ranjang. Tangannya terulur mengelus kepalaku.


"Mas, istrimu berselingkuh dengan calon suami aku," ucap Alina frustrasi. Dia menangis tersedu-sedu, lantas menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Apa -- yang -- harus -- aku -- lakukan -- sekarang?" tanyanya dengan suara tersendat.


"Apa maksudmu? Tidak mungkin Anna melakukan itu?" tanya Mas Adrian. Tangannya masih mengelus kepalaku. "David, apa yang lu lakuin ke Anna?" tanya Mas Adrian beralih pada Bang David yang masih berdiri di samping ranjang, bersandar dinding.


"Alina salah paham. Kami tidak berselingkuh. Aku hanya khawatir pada Anna, itu saja." Bang David berkata pelan. Dia mengusap wajah dengan satu tangan, sedangkan satu tangan yang lain memegang pada ranjang.


"Tapi, aku lihat kalian berpelukan sangat mesra. Tidak mungkin kalau tidak selingkuh. Bang David jangan coba-coba menyangkal. Katakan, apa Kak Anna yang mencoba merayumu?" Alina tidak mau kalah. Sepertinya dia akan terus memojokkan aku.


Aku menggeleng pelan, meraih tangan Mas Adrian. Menggenggamnya erat, dan meletakkannya di perutku yang masih rata.


"Aku tidak akan melakukannya," ucapku lirih, terdengar berbisik.


Mas Adrian mengangguk. Pandangannya beralih menatap tajam Bang David.


"Bohong. Enggak mungkin Bang David mencium Kak Anna berkali-kali. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri." Alina masih bersikukuh pada prasangkanya.

__ADS_1


"Alina, aku memang mencium Anna. Tapi itu hanya sebagai wujud perhatian saja, tidak lebih." Bang David berjalan mendekati Alina yang duduk tergugu di sofa.


Aku memejamkan mata mendengar pengakuan Bang David. Sekelebat bayangan saat lelaki itu menciumku di kantor menari-nari di kepala. Drama apa lagi ini? Masalah apa lagi ini?


Mas Adrian berdiri, tangannya tampak mengepal di kedua sisi.


Lalu, tanpa bisa dicegah. Suamiku itu melayangkan tinjunya ke wajah Bang David yang berdiri di dekat sofa mendekati Alina.


Tidak hanya tinjuan yang diberikan. Mas Adrian juga menerjang perut Bang David. Sehingga lelaki itu terbatuk-batuk.


Darah segar mengalir di sudut bibir Bang David. Alina menjerit histeris.


"Apa yang Mas Adrian lakukan pada kekasihku? Urus saja istrimu itu!" teriak Alina pada Mas Adrian. Dia bangkit membantu Bang David yang tersungkur di lantai.


"Katakan pada calon suamimu. Jangan coba-coba mendekati Anna istriku. Sehelai rambut saja, dia memegang Anna, akan aku habisi dia," tegas Mas Adrian.


"Seharusnya, Mas Adrian memperingatkan Kak Anna. Jangan Bang David. Aku yakin, Kak Anna yang merayu calon suamiku," ucap Alina sinis.


Saat ini mereka berdua telah duduk di sofa.


Entah kenapa, Bang David tidak menjawab sedikit pun ucapan Mas Adrian. Tidak juga membalas serangan suamiku.


Apa yang Bang David pikirkan?


"Aku sedang tidak ingin mengingatkan kalian tentang kelakuan kalian berdua. Jadi, jangan memancingku. Aku diam bukan berarti kalian bisa bertingkah seenaknya padaku," ucap Mas Adrian tegas.


"Mas ...." Aku berusaha turun dari ranjang, ingin menenangkan suamiku yang tersulut emosi.


"Lu tidak bisa memaksa perasaan orang lain, Adrian. Begitupula dengan perasaan Anna," ucap Bang David lirih.


"Apa maksud, lu?" ketus Mas Adrian.


Bang David berdiri mendekati Mas Adrian. Dua lelaki itu kini saling berhadapan dengan membusungkan dada.


"Ini." Satu hantaman keras mengenai wajah Mas Adrian.


Mas Adrian tidak mau kalah, lalu membalas pukulan Bang David. Mereka saling baku hantam tanpa bisa dicegah.


Alina menangis histeris menyaksikan mereka.


Sedangkan aku, berjalan tertatih mendekati kedua lelaki yang entah apa sebenarnya dalam pikiran mereka. Apakah kekerasan memang jalan satu-satunya untuk menyelesaikan masalah.


Apakah para lelaki memang membutuhkan kekuatan otot untuk sekadar berbicara.


Belumlah sampai tanganku meraih lengan Mas Adrian, saat aku merasakan kram di perut.


"Ah!" Aku melenguh, menahan sakit yang tak bisa kutahan. Tanganku memegangi perut, lalu terduduk di lantai.


"Anna!"


"Anna!"


Suara Mas Adrian dan Bang David terdengar bersamaan memanggil namaku.


"Awas lu, Anna istri gua." Mas Adrian mendorong Bang David, sampai terduduk di lantai.

__ADS_1


Lalu dengan sekali sentakan, aku telah berada di kedua lengan Mas Adrian. Suamiku membaringkanku di ranjang. Lalu memanggil perawat.


__ADS_2