
Tidak ingin berlama-lama. Tidak ingin larut dalam kubangan masa lalu. Pun tidak ingin menyiksa hati terus-menerus.
Setelah lamaran Pak Adrian sore itu, dia langsung mengajak nikah sepekan kemudian.
Jangan kalian tanyakan bagaimana perasaanku?
Bahagia, sedih, bingung, juga takut. Semua rasa itu bercokol menjadi satu dalam hatiku.
Ponsel yang tergelatak di ranjang berdering, aku mengambilnya melihat siapa yang menelepon sepagi ini.
Mataku sontak mendelik, tampak nama bang David di layar.
Untuk beberapa saat, aku membiarkan ponsel itu terus berdering tanpa berniat mengangkatnya. Sampai akhirnya mati sendiri.
Sekali
Dua kali
Tiga kali
Sampai panggilan ke lima.
Saat ini, aku tengah bersiap-siap untuk berangkat bekerja seperti biasanya.
Walaupun pernikahanku dengan pak Adrian kurang sepekan lagi. Tapi, aku tetap menjalankan rutinitas seperti biasa.
Pagi berangkat bekerja dan pulang saat sore tiba.
Untungnya, pak Adrian juga tidak melarang. Sehingga aku bisa bekerja dengan tenang.
Pernikahan kali ini berbeda dengan pernikahan sebelumnya yang terkesan mewah. Kali ini, aku memilih untuk melaksanakan pernikahan dengan sederhana. Cukuplah kerabat dekat saja yang mengetahui moment sakral ini. Yang penting dalam menjalaninya, kami sama-sama bisa menerima dan bahagia bersama.
Cukup sudah, pernikahan mewah, tapi di dalamnya terlalu banyak sandiwara.
Suara nada masuknya pesan mengalihkan pikiranku. Mataku menyipit saat membaca pesan dari bang David.
'Anna. Bisakah kita bertemu? Penting.'
Apa maksudnya? Seingatku tidak ada lagi hal penting yang perlu kami bicarakan. Semua telah selesai.
'Tentang apa?' Balasku cepat.
Tampaknya Bang David memang sedang menunggu balasanku. Pesan yang kukirim langsung tercentang dua berwarna biru.
'Tentang kita bertiga.'
Ck. Kenapa balasnya singkat-singkat, sih. Enggak langsung panjang lebar, agar semuanya jelas.
Bodohnya, aku masih meladeni lelaki itu. Menyebalkan.
'Kita bertiga siapa?'
'Nanti kita bicarakan saat ketemu. Saat makan siang di cafe dekat tempat kerjamu, ya.'
Aku tidak lagi membalas. Memilih segera bersiap sebelum terlambat.
Usai berpakaian rapi, aku segera keluar kamar menuju meja makan. Menyantap sarapan yang telah disiapkan tadi. Kali ini, aku hanya membantu ibu saja.
Di sana telah duduk Alina dengan pakaian rapi. Dia tampak sangat cantik dan sexy.
"Alina, bagian apa kamu kerja?" tanyaku menatap bingung melihat penampilannya.
"Aku diangkat jadi sekretaris, Kak." jawabnya santai. Tangannya sibuk menyendok menu nasi goreng pagi ini.
Aku mengangguk paham. Pantas saja penampilannya begitu. Rok pendek, dengan pasangan blezer.
Jangan tanyakan penampilanku. Aku mengenakan celana dasar panjang, dengan kemeja bergaris tiga perempat. Penampilan yang biasa saja, tentu saja.
Beberapa kali aku belajar mengenakan pakaian yang lebih berani. Aku tertawa sendiri melihat penampilanku, pakaian yang baru aku beli sebagai uji coba hanya tersimpan rapat di lemari. Tak berniat memakainya ke tempat kerja.
Padahal, dengan pakaian sedikit sexy cocok untukku yang bekerja di bidang kosmetik.
Bukankah selain wajah yang bersih, pelanggan juga tertarik dengan penampakan kulit yang mulus. Sayangnya, aku malah tidak percaya diri.
"Bagaimana persiapan pernikahan kamu, Anna?" Suara ibu menghancurkan keheningan dalam rumah kaca ini. Yaa rumah kaca yang hanya tersimpan kebisuan dan kenangan masa lalu. Membungkam suara yang ingin menceritakan kisahnya. Itulah yang terjadi antara aku dan Alina saat ini.
Bagaimanapun aku berusaha keras memecah keheningan itu, tampaknya selalu gagal. Karena Alina merespon dengan sangat malas setiap kalimat yang terlontar dari mulutku.
Nyatanya, sejak kami saling berbagi rasa di malam itu. Malah semakin memperkeruh suasana. Entah kapan kedamaian hati ini akan kembali hadir?
Rasanya lelah sekali harus perang dingin dengan adik sendiri.
Aku dan Alina serentak menoleh ke arah ibu. Tampak ibu tengah menatap kami secara bergantian.
Sejenak, aku dan Alina saling tatap. Melihat ke kedalaman bola mata itu, tak bisa ditampik jika ada luka di sana.
Aku berdehem pelan, menetralkan rasa canggung ini. Lalu memilih untuk memutuskan kontak mata dengan Alina, melihat pada ibu yang sedang menunggu aku bicara.
"Acaranya kan sederhana, Bu. Jadi ... mmm, gak perlu banyak persiapan, kok. Tinggal fitting baju pengantin aja yang belum." Aku menjelaskan pada ibu dengan suara yang sangat pelan dan hati-hati.
Aku menimbang-nimbang, jika ada yang salah dari ucapanku.
Ibu mengangguk, tanda mengerti. Sedangkan Alina berdiri, siap melangkah pergi meninggalkan nasi goreng yang hanya termakan beberapa suapan saja.
__ADS_1
"Mau ke mana? Sarapanmu belum habis." cegah ibu, yang hanya dibalas tatapan sinis ke arahku.
Apa lagi salahku padanya?
"Berangkat, Bu. Udah kenyang." Kemudian Alina berlalu pergi meninggalkan kami dalam keadaan yang masih terbengong melihat sikapnya.
"Tunggu, Alina!" seruku ingin mengejarnya.
"Bu, aku berangkat ya ...." Tak lupa aku menyalami ibu, mencium kedua pipi wanita yang telah melahirkan kami tersebut.
"Hati-hati." Ibu tersenyum, menepuk kepalaku pelan. Aku mengangguk lalu berlari ke luar mengejar Alina yang telah berada di pinggir jalan.
"Alina!" Aku berseru lagi agar Alina mendengar. Dia menoleh sekilas lalu membuang pandangannya ke sembarang arah.
"Apa yang salah denganmu?" tanyaku tergesa-gesa.
Ah, ternyata Alina tengah menangis. Air matanya telah membasahi kedua pipi.
Aku mendekat, menarik kepalanya untuk menenggelamkan ya dalam dadaku. Mengelus kepalanya pelan.
"Cup ... cup ... jangan nangis lagi. Riasanmu pudar nanti." Dia mengangkat kepalanya, mengusap wajah dengan punggung tangan. Kemudian terlekh dengan suara serak.
Aku turut terkekeh, lalu mengelus kepalanya. Walau bagaimanapun, Alina tetaplah seorang adik bagiku.
Seorang adik kecil yang manja dan selalu kumanjakan setiap waktu.
"Kak, tolong bilang ke Bang David agar segera menikah denganku. Aku lelah menunggu. Ibu sih, pake acara salah paham segala. Makanya saat itu, aku enggak jadi nikah, kan. Lihatlah, malah Kakak yang nikah dan akhirnya enggak bahagia sama sekali, kan?" cicit Alina panjang lebar. Dengan wajah cemberut khasnya merajuk manja.
"Nanti Kakak pikirkan. Sekarang belum bisa, karena sedang sibuk memikirkan persiapan pernikahan." Aku menjawab pelan. Pandangan ku tetap fokus ke arahnya.
Alina menunduk, kedua tangan menarik-narik tas yang dia bawa dengan kaki yang di hentakkan ke jalan
"Kakak enggak bisa melakukan banyak hal saat ini. Apalagi, Bang David itu statusnya mantan suami. Mau bagaimanapun awal pernikahan kami, status mantan itu tidak bisa dihilangkan. Nanti Kakak coba diskusikan dengan pak Adrian, ya. Mungkin saja ada solusi." Kelasku panjang lebar, mencoba menenangkan hatinya sekaligus mencari solusi atas masalah ini.
Terlepas antara bang David dan pak Adrian ada sesuatu, seperti yang mereka tunjukkan kala di teras rumah itu. Aku tetap ingin menyelesaikan masalah ini secepatnya. Se-cepat-nya. Karena perasaan Alina lah taruhannya.
Ah iya, membicarakan pak Adrian , aku jadi teringat pada pesan bang David yang dikirimnya tadi pagi.
Aku berjanji setelah sampai di kantor, aku akan menghubungi pak Adrian. Tidak enak rasanya membicarakan masalah permintaan bang David sekarang saat aku sedang bersama Alina.
Kami terpisah di sini. Alina memilih naik ojek mobil untuk sampai ke kantornya. Sedangkan aku memilih naik motor, untuk ke kantorku. Naik motor tentu lebih murah kan. Jangan lupakan itu.
Sesampainya di kantor, aku segera menghubungi pak Adrian.
"Halo, Ann." Baru satu kali panggilan, pak Adrian langsung menjawab panggilanku.
"Iya, Pak. Mmm."
"Ada, apa?"
"Sedang berada di Malang, ada apa?"
"Mmm, itu ... tadi Bang David kirim pesan padaku, meminta bertemu. Bagaimana menurut pak Adrian?"
Hening sejenak. Hanya terdengar helaan napas panjang dari seberang sana. Aku yakin, ada sesuatu yang coba pak Adrian tahan dan sedang disembunyikan oleh lelaki itu.
"Pak ...." Aku memanggilnya lagi. Tidak sabar menunggunya bersuara memberi tanggapan.
"Ya?" jawab lelaki itu lirih.
"Gimana?"
"Apanya?"
Lho, gimana sih? Lagi dimintai pendapat juga. Dasar lelaki, baru sebentar aja udah lupa.
"Pendapat Pak Adrian tentang pertemuan itu."
"Ooh. Ya temuin saja, kok repot." jawabnya terdengar santai.
Wah, gawat nih orang. Tiba-tiba bertingkah aneh. "Benaran, Bapak enggak apa-apa?"
"Ya ... kenapa-kenapa dong. Masak, calon istri aku mau bertemu mantan suami enggak kenapa-kenapa. Gimana, sih? Bagaimana perasaan kamu kau aku ketemu sama mantan istri?"
"Lho, kok saya, sih? Makanya sekarang aku tanya, gimana pendapat calon suami aku. Pas tahu, kalau mantan suami ingin bertemu calon istrinya."
"Ooh ... Hmm ...."
Ya ampun. Pak Adrian lagi kena syndrom apa, sih? Kok pagi ini nyebelin banget, deh.
Aku menggaruk kepala yang tidak gatal, kalau sejenak memandang layar ponsel lama. Membaca kembali nama yang berada di layar, jika saja aku sedang salah menghubungi orang.
Bukan pak Adrian, melainkan kembarannya mungkin. Atau jelmaan yang mirip pak Adrian, gitu?
Soalnya, pak Adrian enggak punya kembaran. Otomatis yang lagi aneh begini adalah jelmaan entah dari negeri mana.
Lalu aku meletakkan kembali ponsel di telinga kiri.
"Ann ...." panggilnya lirih, seperti berbisik di telingaku.
"Yaa ...."
"Calon suamimu ini, sangat merindukanmu. Hmmm, nanti setelah ketemu David kita pergi ya."
__ADS_1
"Oke."
"Daah."
Tut.
Sambungan di putus olehnya. Sebelum aku jawab salam perpisahannya tersebut.
Aku menggeleng, lantas tersenyum membayangkan pak Adrian sedang memasang wajah cemberut. Pasti sangat menggemaskan.
"Woy, Ann. Cengengesan. Ada apaan, sih?" Suara Nadia membuyarkan bayangan pak Adrian di mataku.
"Kepo." Aku bersungut, dengan menjukurkan lidha ke arahnya.
"Sialan!" Lantas kamipun tertawa bersama. Tidak menunggu waktu lama, kami telah sibuk dengan aktivitas masing-masing, menyelesaikan pekerjaan.
***
Saat ini, aku tengah duduk di kursi berhadapan dengan Bang David.
Entah bagaimana caraku memandangnya saat ini. Namun, tampaknya lelaki itu sedang menyimpan banyak masalah dalam kepalanya itu. Wajahnya terlihat sangat kusut, apalagi dengan pemandangan cambang di wajahnya yang entah sedari kapan tidak dipotong. Menambah kesan tua di wajahnya itu.
Aku tersenyum geli melihat penampilannya saat ini. Biasanya, lelaki di hadapanku ini selalu berpenampilan rapi dengan pakaian rapi. Jangan tanyakan bagaimana rupanya, aku telah mengatakannya bukan. Jika lelaki itu sangat tampan. Tentu saja.
Namun, tidak dengan hari ini. Wajahnya, ah sudahlah lupakan saja bagaimana penampilan bang David saat ini. Boss besar David dengan wajah awut-awutan.
"Mau makan apa?"
Yaa, di depannya telah disiapkan menu makanan di sini.
"Saya minum saja. Lagi enggak selera makan."
Lelaki itu mendongak, lantas menyipitkan matanya. "Kenapa enggak makan? Diet? Heh. Bahkan saat menikah denganku saja, kamu tidak sampai enggak makan, kan. Kenapa sekarang seolah kamu menyiksa diri menuju pernikahanmu?"
Eh? Apa urusannya coba? Aku dongkol setengah mati mendengar cibirannya. Namun, mengingat tidak ingin berlama-lama berurusan dengannya, maka aku pun menahan diri agar tidak terlalu meluapkan emosi.
"Lebih baik, langsung saja pada pokok permasalahannya. Ada hal penting apa yang membuat Bang David mau bertemu dengan saya?"
Ya, aku kadang berkata formal terkadang juga santai padanya. Antara kata saya dan aku, meneyebutnya sesuai situasi yang aku hadapi.
"Aku mau makan dulu, lapar. Dari semalam enggak makan." jawabnya dengan suara lemah.
Kasihan sekali dia.
"Saya minum saja, Bang." Jawabku pada akhirnya dengan suara lembut.
"Beneran enggak mau makan? Aku yang bayar, kok."
"Iya, minum aja. Saya juga beneran lagi enggak mau makan saat ini."
"Oke." Tangannya memanggil pelayan, lalu menyebutkan pesanannya.
Tidak berselang lama, pesanan kami datang. Lelaki itu makan dengan lahap, sesekali melirik padaku. Lalu menyuapkan suapan ke mulutnya.
"Mau nyicip enggak? Rasanya enak, lho. Enggak terlalu kalah dengan masakanmu." Bang David mengulurkan sendoknya padaku. Dengan mulut terbuka.
Aku menggeleng. Mata itu menyiratkan kedukaan. Ada apa dengannya? Tolong jangan menggoyahkan pertahananku. Nyatanya, hatiku masih tak tega melihatnya seperti ini.
Aku hanya diam membisu, menunggunya menghabiskan makan dengan lahap. Yaa, dia tampak kekurangan makan. Seperti katanya, sedari malam tidak makan.
"Cepat ya habis makanan di piringku. Atau aku perlu memesannya lagi?" ujarnya sembari meletakkan sendok di piring yang telah kosong.
"Apa Abang masih lapar?" tanyaku sekadar ingin tahu.
Dia menggelang. Lantas berujar pelan. "Aku hanya ingin lebih lama bersamamu."
"Ah." Aku mendesis. Andai kalimat itu dia ucapkan dulu, saat aku masih menjadi istrinya.
Seorang istri yang selalu memuja suaminya, tentu aku akan sangat bahagia sekali.
Namun, saat ini ada dua orang yang kebahagiannya harus kujaga. Alina dan Pak Adrian.
"Jadi, Bang David mau bicara apa?"
"Hmmm, sepertinya kamu ingin buru-buru sekali, ya." Dia terkekeh yang menurutku malah terdengar dipaksakan.
"Saya harus bekerja kembali. Sebentar lagi, jam istirahat habis."
"Anna ...."
"Ya?"
"Apa kamu bahagia saat ini?" Aku mendelik Tidka percaya atas pertanyaannya. "Maksudku, apa sekarang kamu bahagia. Sebentar lagi kamu akan menikah dengan Adrian. Apa perasaanmu saat ini sama seperti saat menunggu hari-harimu menikah denganku? Apakah sama?"
"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja saya bahagia."
"Ya, aku mengerti." Bang David menganggukkan kepalanya berulang kali.
"Oh iya, kapan Bang David akan menikahi Alina. Saya enggak mau ya, kalau Abang menggantungkan perasaannya seperti ini." ucapku dengan nada menuntut. Aku harap lelaki di depanku ini mengerti seberapa pentingnya kebahagian' Alina untukku.
"Ah itu. Apakah kebahagiaan gadis itu sangat berarti untukmu?" tanyanya.
"Tentu." Aku menjawab mantab.
__ADS_1
"Ah, karena alasan itu juga kan yang membuatmu tidak mau memaafkanku. Karena Alina tidak mau melepaskan ku. Baiklah, jika memang begitu. Aku akan secepatnya menikahi adik kesayanganmu. Dan biarkan kita tersiksa bersama. Sebab, aku sangat yakin. Anna masih sangat mencintai David. Tapi sayangnya seorang David tidak lebih berharga dari seorang Alina."
Aku terdiam. Mulutku terkatup rapat. Banyak kata yang ingin aku lontarkan padanya. Sayangnya, lidahku kelu, hanya sekadar membuka mulut saja aku tidak mampu.