
Ternyata, waktu berjalan begitu cepat. Lihatlah, perutku sudah semakin besar.
Aku sedang berdiri di cermin, mengangkat baju yang kukenakan agar dapat melihat bentuk perut buncitku secara sempurna.
Entahlah, rasanya tiada kata bosan untukku melihat perubahan bentuk badan ini.
"Duh, istri siapa, sih ini? Cantik banget." Aku segera menurunkan bajuku saat mendengar seruan dari belakang.
Belum sempat aku menoleh pada pada sumber suara. Suamiku telah lebih dulu memeluk tubuhku dari belakang. Lalu menaikkan kembali baju yang telah aku turunkan.
Tanganku berusaha untuk menahan pergerakannya, tetapi sia-sia. Sebab, tampaknya sang papa ingin melihat bayinya. Apa boleh buat? Aku pun pasrah dalam kebahagiaan.
Tentu saja hatiku membuncah, saat mendapati Mas Adrian mengelus perutku lembut dengan kedua tangannya.
"Cantik," bisiknya.
Kemudian, lelakiku itu melepaskan tangannya di perutku. Melangkah sampai di hadapanku, dia pun berjongkok. Mencium perut buncitku.
Rasanya geli dan nyaman.
"Hei, Sayang. Sehat dan kuat di sana, ya. Kami merindukanmu."
Serta-merta senyumku terbit di kedua bibir. Tanganku terulur untuk mengelus kepala Mas Adrian.
"Jangan menggodaku, aku harus segera bekerja."
Aku tertawa renyah mendengar nada ketusnya, ekspresi wajahnya juga sangat menggemaskan.
Hari ini menjadi awal yang baru bagi pekerjaan lelakiku itu. Sesuai apa yang telah diutarakannya waktu itu. Dia kini membuka sendiri usahanya. Walaupun masih terbilang kecil, tetapi aku akan selalu mendukungnya.
Jangan tanyakan bagaimana respons si boss David saat mendengar kabar tentang rencana Mas Adrian.
Bang David marah besar. Namun, tentu saja kemarahan itu tidak berpengaruh pada keputusan Mas Adrian.
Setelah menuai kesepakatan bersama. Akhirnya, Mas Adrian setuju dengan syarat yang diajukan Bang David. Bahwa dia tidak boleh menjual sahamnya. Bagaimanapun perusahan itu adalah usaha bersama kedua orangtua mereka.
Jadi, saham Mas Adrian tetap utuh. Dan, sewaktu-waktu bisa kembali ke perusahaan itu jika dia ingin. Selain itu, Bang Davidlah yang akan mengurus perusahaan itu sendirian. Sedangkan Mas Adrian hanya mendapatkan hasil keuntungan pembagian saham saja.
"Mas, kalau sesekali aku ikut ke kantor boleh?" tanyaku hati-hati. Mengingat setiap mau pergi-pergi seringnya dilarang. Suamiku itu semakin protektif saja.
"Boleh , tapi enggak boleh capek."
"Siap. Aku juga butuh gerak, Mas."
"Iya ngerti. Melayani suami juga gerak, kok."
"Itu sih, maunya kamu."
"Tentu. Suka saat kamu memakaikan dasi."
"Eh."
"Dasar, kecil-kecil pikiran ngeres." Mas Adrian mengetuk keningku.
Aku mengusap-usap kening dengan bibir mengerucut. "Sudah mau punya anak begini juga," protesku.
"Iya-iya, udah mau jadi emak-emak. Hahahaha."
Mas Adrian sekarang suka menggodaku. Enggak-enggak, bukan sekarang emang dari dulu. Tetapi sekarang lebih parah menggodanya.
"Jadi hari ini ketemu David?"
__ADS_1
"Jadi kayaknya. Belum ada pembatalan dari orangnya."
"Ya udah, jangan lupa ketemu deket kantorku aja."
"Siap."
***
"Jadi, mau apa ingin bertemu denganku?" tanyaku tanpa basa-basi setelah mendapati Bang David berdiri menjulang di depan mejaku.
"Sabar, Ann. Aku baru sampai. Mau duduk dulu, pesan minum dulu, terus makan dulu ...."
"Kalau gitu aku mau pulang." Aku segera berdiri, meraih tas lalu mencangklongnya.
Bang David mencekal lenganku. "Ya ampun, bumil! Sensitif banget."
Aku melepaskan cekalan tangannya dengan kasar. Lalu menatap tajam.
"Bicarakan langsung apa keperluanmu. Kita tidak ada yang perlu dibahas secara pribadi," ketusku.
"Iya ... iya ... duduklah dulu." Suara Bang David melemah, tidak semenyebalkan tadi.
Aku pun segera duduk kembali. Membuang pandangan ke samping.
"Aku minum dulu, ya. Haus."
Aku tidak memedulikan perkataannya. Tidak mengiyakan tak pula mencegah.
"Hah, lega rasanya. Haus banget."
Aku menyeruput minuman dingin di hadapanku. Ya, hari ini memang terasa sangat panas dan gerah.
"Berapa usia kandunganmu?" tanya lelaki di seberangku itu.
"Lima bulan. Ada apa?" tanyaku sinis.
"Enggak. Semoga sehat ya adik bayi," ujarnya santai. Sebuah senyuman terbit di wajahnya.
Sejenak aku tercenung, mengingat entah kapan aku melihat senyum itu terukir di bibirnya. Rasanya ... ah, entahlah. Boda amat.
"Jadi, katakan apa tujuanmu bertemu denganku?" tanyaku.
"Wah, sekarang Anna galak ya ... bawaan hamil kali , ya ...."
"Bang, kalau saja suamiku tidak mengizinkanku bertemu denganmu sekarang. Aku malas meladenimu."
"Iya-iya, aku tahu. Kalau aku rindu padamu, masih bolehkah?"
"Apa maksudmu?"
"Aku rindu kamu," ucap Bang David dengan suara lirih. Tatapan matanya menghunus tepat ke dasar hatiku.
Deg.
Entah bagaimana caranya, detak jantungku berpacu begitu kencang. Entah pula karena rasa apa, mungkinkah hanya karena gombalan receh seorang David jantungku kelojotan begini. Tidak, Anna.
Aku memilih menutup rapat kedua bibirku, agar mulutku ini tidak mengekuarkan suara yang mampu memunculkan gugup ke permukaan.
"Maafkan aku untuk masa lalu yang telah kita lewati, Ann. Aku tulus."
Pandangan Bang David masih melekat padaku. Aku, salah tingkah.
__ADS_1
Kemudian, kuhela napas pendek-pendek untuk mengusir kecanggungan ini.
"Aku juga minta maaf untuk sikapku kepada adikmu. Untuk ancaman yang pernah aku lontarkan."
"Ada ... apa denganmu?" tanyaku ragu. Sejujurnya, aku belum siap menerima permintaan maafnya uang seperti ini.
Aku lebih senang menghadapi Bang David dengan polah konyolnya, menyebalkannya. Agar aku masih memiliki alasan untuk bisa membencinya.
Jika seperti ini, alasan apalagi yang harus kugunakan untuk membenci lelaki itu.
"Oh iya, aku tidak bisa menikah dengan Alina," ucap Bang David yakin.
Mendengar kalimat itu, membuatku tersentak kaget. Bisa-bisanya lelaki itu mempermainkan adikku.
"Apa maksudmu?" tanyaku berang.
"Cinta itu entah ke mana perginya, Ann. Aku enggak mau memaksa perasaanku untuk menerimanya menikah denganku, sedangkan aku sendiri menolak mentah-mentah ...."
"Setelah apa yang telah kalian lakukan?" tanyaku menyela.
"Kami hanya pacaran saja, Ann. Aku bahkan tidak pernah menyentuhnya melebihi ... ciuman. Percaya padaku."
"Heh. Omong kosong. Bagaimana bisa, kalian bahkan sering berduaan."
"Kami hanya makan, nonton. Aku masih tahu batasan, Ann."
"Semudah itukah kamu memutuskan perasaanmu?"
"Ini sudah terlalu lama. Semakin aku mendekatinya, semakin jelas wajahmu sedihmu terbayang di mataku." Kalimat terakhir Bang David diucapkannya secara lirih.
"Aku telah menikah dan bahagia Boss David. Kalau anda ingin tahu."
"Ya, aku tahu. Adrian memang pantas untukmu. Dia lelaki yang baik ... sangat baik. Maafkan aku karena telah hampir merusak hubungan kalian."
"Apa yang membuatmu tersadar?"
"Kamu. Kamu, Anna."
"Omong kosong."
"Terserah mau percaya atau tidak. Aku hanya menyampaikan apa yang aku rasa dan apa yang aku pikirkan."
Rasanya aneh dan tidak terbayangkan sebelumnya. Namun, apa yang aku dengar barusan memang begitulah yang kudengar.
Aku sibuk menimbang-nimbang bagaimana bisa ini terjadi? Apa yang terjadi dengan Bang David? Lalu Alina?
"Satu lagi, hati-hati dengan adikmu itu. Walaupun dia adikmu sendiri. Kamu harus hati-hati."
Kalimat terakhirnya membuatku tercekat.
Ada apalagi ini?
"Ke-kenapa?"
"Kami pasti tahu, kalau Alina iri dengan hidupmu."
"Bang David biang gosip. Sudah alih profesi."
"Percaya atau tidak, itu terserah padamu."
"Oke. Makasih."
__ADS_1
Dering ponselku menghentikan percakapan kami. Mas Adrian sudah menghubungiku dan mengabarkan jika sudah berada di parkiran.
Aku pamit lebih dulu, meninggalkan Bang David yang masih memandangku lekat.