Suamiku Mencintai Adikku

Suamiku Mencintai Adikku
Bab. 51


__ADS_3

Pernikahan Alina semakin dekat. Hanya menunggu hitungan hari saja, mimpi gadis yang sangat aku sayangi untuk hidup bersama lelaki yang sangat dicintainya akan terwujud.


Hari-hari yang kami lalui pun juga semakin sibuk.


Untungnya, tidak banyak drama yang berarti. Semua berjalan sesuai rencana.


Seperti biasnya, Bang David menyusun rencana dengan sangat teratur dan begitu detail.


Aku dan Mas Adrian tentu saja, sigap membantu sesuai kemampuan kami.


Mas Adrian juga tidak masalah, jika aku harus mengurus pernikahan mereka.


Pernah suatu hari, suamiku itu bertanya dengan tatapan yang ... entahlah.


"Beneran gak masalah, kalau kamu ngurusi pernikahan Alina?"


Aku berpikir sejenak. Mataku melihat ke atas, mencoba merasai apa yang dia tanyakan.


Lantas, satu tanganku terulur merana dada kiri. Merasakan detak jantung yang berdebar ... normal.


Kemudian, aku pun tersenyum semanis mungkin. Kini, mataku tertuju sepenuhnya kepada lelaki yang masih menelisik wajahku. Aku yakin, dia tengah meraba-raba bagaimana perasaanku.


"Enggak apa-apa, Mas."


Tidak menunggu lama, setelah mengatakan itu ... aku menghambur memeluknya erat. Lalu menghujani wajahnya dengan banyak ciuman.


Ya ... aku telah memantapkan hati tiada lagi siapapun di sini. Hanya dia, Mas Adrian yang kini saru-satunya raja yang menguasai istana hatiku.


Siang ini, aku tengah bersiap menuju kantor Mas Adrian. Mengantarkannya makan siang. Kegiatan yang membuatku bahagia.


Seperti biasa, aku akan dijemput sopir pribadinya dari kantor.


Aku telah bersiap menunggu jemputan di teras rumah.


Alina sedari pagi telah pergi. Entah ke mana. Katanya sih, mau pergi sama calon suami. Biarlah dia bersenang-senang, sebelum lepas masa lajangnya.


Tampaknya, Bang David memang memperlakukan calon istrinya dengan sangat baik. Tentu saja, aku ikut bahagia untuk itu.


Tampak mobil jemputan datang, segera aku masuk dan duduk di kursi penumpang di belakang.


Sesampainya di kantor, aku segera menuju lift. Naik ke lantai atas tempat ruangan Mas Adrian berada.


Belum sempat pintu besi itu tertutup sempurna, seseorang menyelipkan tangannya di antara kedua pintu.


Tampak seseorang yang berpostur tinggi, memakai pakaian rapi bercelana dasar hitam dengan mengenakan jas masuk ke dalam lift.


Saat ada orang lain yang akan masuk, dengan angkuhnya lelaki itu mengusir mereka.


Siapa lagi lelaki angkuh itu kalau bukan Bang David. ck.

__ADS_1


Aku bergeser ke sudut, demi menghindari dia yang berdiri menjulang di sampingku.


Nyatanya, berdiri berdekatan berduaan saja dengannya membuat nyaliku ciut.


Jantungku memompa dengan lebih kencang, suaranya berdentam nyaring di telinga. Entah sampai atau tidak ke telinga lelaki itu. Semoga saja tidak.


Aku bingung dengan perasaan ini, antara rasa takut dengan rasa canggung.


Namun, takut untuk apa?


Lalu, canggung untuk perasaan apa?


Entahlah. Kenapa juga, lift ini lama sekali naik ke atasnya.


Hening. Itulah yang terjadi untuk beberapa saat.


Tidak ada percakapan di antara kami. Tentu saja, aku juga tak berniat mengawali pembicaraan dengannya.


Walaupun, aku ingin tahu ke mana Alina? Kenapa dia malah sendirian di sini?


Ah, sudahlah. Lupakan saja, nanti biar aku hubungi saja Alina. Tanpa harus repot bertanya pada lelaki itu.


"Anna." Bang David berucap lirih memanggil namaku.


Aku menahan napas, saat tiba-tiba lelaki itu telah mengungkungku di antara kedua lengannya.


Aku memutar bola mata, malas. Tanpa jawaban yang aku berikan padanya.


Sepertinya dia geram karena aku justru terkesan mengabaikannya.


"Anna, apa kamu pernah menyesal dengan pernikahan kita yang telah lalu?" tanya Bang David lirih. Matanya masih lekat menatapku dalam.


Kedua tanganku masih terkepal erat memegang bekal makan siang untuk Mas Adrian. Aku tak ingin menu makan siang yang susah payah aku buat, jatuh berserak di lantai hanya karena meladeni lelaki enggak jelas ini.


"Kenapa bertanya begitu?" balasku balik bertanya dengan nada datar.


Sebisa mungkin aku mengatur ekspresi wajahku agar tetap tampak tegar, walau dalam hati terasa ciut berhadapan dengannya.


"Aku menyesal karena telah bercerai denganmu, Ann. Rasanya duniaku telah mati."


Mataku mendelik, seakan kedua bola mataku ini akan keluar. Aku sangat terkejut mendengar pengakuan darinya


Sebenarnya, apa yang dia inginkan. Kenapa sellau berbicara hal yang tidak-tidak padaku. Terlebih saat kami tengah berdua seperti ini?


Dulu, dia pernah berkata jika kami harus sama-sama tersiksa dengan perceraian ini.


Sedangkan dia sendiri akan menikah dengan Alina.


Kenapa malah dia berpikir hal semacam itu sekarang?

__ADS_1


Apakah dia memang lelaki yang plin plan?


"Apa maumu?" tanyaku sinis.


"Aku mau kamu, Ann," jawabnya berbisik.


Serta-merta wajahnya mendekat ke wajahku, lelaki itu menghapus jarak di antara kami. Menempelkan bibirnya ke bibirku. Awalnya hanya seperti daging yang saling bertemu, hingga Bang David bergerak perlahan.


Aku menggeleng ke kiri dan ke kanan.


Dia telah melewati batas.


Aku mendorong dadanya sekuat tenaga, sampai dia memberi jarak pada wajah kami.


Lalu tanpa pikir panjang, aku menampar wajahnya dengan semua kekuatan yang aku punya.


Suara tamparan itu terdengar nyaring di telinga. Terlebih kami masih berada dalam kotak besi ini.


Bang David mundur selangkah, terdengar giginya saling bergemelatuk menimbulkan bunyi. Dia tampak menahan marah, dengan satu tangan mengusap pipi yang memerah bekas tamparan dariku.


"Kamu sangat tidak sopan. Selalu merendahkan aku. Baik saat sebagai istri, maupun saat ini. Saat aku berstatus sebagai calon kakak iparmu," desisku tajam.


"Aku cinta kamu."


"Persetan dengan cinta kamu. Aku sama sekali enggak butuh. Rasa itu telah mati, bersamaan dengan perselingkuhanmu dengan adikku. Aku sudah berusaha menerima keadaan dan takdir di antara kita. Namun, diamnya diriku, sepertinya semakin membuatmu tak tahu diri."


Aku maju ke depan, mendekati pintu lift yang masih tertutup rapat.


Kenapa jalannya lama sekali. Rasanya telah berabad-abad aku berdiri di sini. Situasi ini sangat menyebalkan.


"Anna, aku sangat menyesal dengan semua yang telah terjadi di masa lalu. Aku mau menunggumu, Ann." Bang David berbicara dengan suara yang bergetar.


Apakah dia serius dengan kata-katanya?


Aku berbalik, menghadap padanya yang tengah menunduk.


Lalu, aku menghela napas dalam dan panjang. Tanpa bisa dipungkiri, rasa sesak ini menggerogoti hatiku. Menghimpit jiwa yang tiba-tiba terasa kerdil.


Sebuah tanya hadir dalam benakku. Bagaiman pernikahan ini selanjutnya?


Ya Tuhan! Aku benar-benar bingung dengan lelaki ini.


"Bang, cobalah untuk menerima takdirmu. Mungkin, dulu ... kamu tidak bisa menerima pernikahan kita. Tapi, cobalah untuk sekali saja kamu menerima pernikahanmu. Jangan melakukan kesalahan yang sama lagi. Aku yakin Abang adalah orang yang baik."


Bersamaan dengan berakhirnya kalimatku, suara denting lift terdengar sebagai tanda pintu besi itu terbuka.


Aku keluar tanpa menoleh ke belakang. Biarlah dia berpikir kembali, aku hanya berharap agar semuanya baik- baik saja.


Ya ... baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2