
Adakalanya hari menjadi begitu menyebalkan, tapi kadang juga menjadi hari yang sangat menyenangkan.
Tidak ada dua rasa itu yang mewarnai hari. Namun ada rasa bosan, karena setiap hari melakukan hal yang sama.
Bagiku semua hari itu unik dan istimewa, semua rasa bisa bercampur menjadi satu dalam satu hari.
Ini hari terakhir membuka stand di mal, sudah satu pekan kami di sini.
Seperti hari-hari sebelumnya, stand kami ramai pengunjung dan pembeli.
Bahagia itu di hati, bahagia itu diciptakan. Maka, biarkan aku terus bahagia menurut versiku sendiri.
"Hai, Ann." Suara itu sangat familiar di telinga.
Aku menoleh, tampak pak Adrian berdiri di depanku. Mengulas senyum.
Aku berdiri, sejenak terkejut melihat lelaki itu di sini.
"Apa kabar?" pak Adrian bertanya dengan nada yang terdengar canggung. Dia maju selangkah hingga kami hanya berjarak beberapa jengkal saja.
"Pak Adrian ...." Aku bergumam.
Hening kembali menyelimuti kami. Dia menatapku lekat, membuatku gugup. Bingung harus berkata apa lagi.
"Kamu tampaknya sangat sehat, ya?" Lelaki itu tersenyum.
"Ah, i-ya ... Pak."
"Ann, bantuin dong!" Seruan Nadia mengalihkan pandangan kami.
"Iya." jawabku. Pandanganku kembali menatap sosok di depan.
"Sepertinya, aku datang di waktu yang kurang tepat."
"Maaf."
__ADS_1
"Lanjutkan pekerjaanmu. Apa perlu bantuan?"
"Tidak, Pak. Masih bisa diatasi." Aku tersenyum, lalu meninggalkan pak Adrian untuk menyelesaikan pekerjaan.
"Aku masih menunggu jawabanmu, Ann." Pak Adrian berucap lirih. Tatapannya tetap fokus ke depan.
Aku sejenak melirik padanya, ada desiran halus yang mengalir dalam darahku. Jantung pun tiba-tiba berdegup lebih kencang.
Setelah menyelesaikan pekerjaan tadi, Pak Adrian bersikeras akan mengantarku pulang. Mau tak mau aku mengikuti kemauannya.
Hal inilah yang aku takutkan, pertanyaannya tentang lamaran yang masih belum aku jawab pasti.
Aku masih takut memulai kehidupan baru bernama pernikahan. Mengingat kegagalan rumah tangga yang pernah aku jalani.
Walaupun kali ini bisa jadi berbeda. Pak Adrian dengan sabar menunggu keputusanku untuk menerima lamarannya.
Hanya saja, aku takut. Ya, hanya perasaan itu yang terus menghantuiku.
Aku bahkan menjadi janda setelah enam bulan hidup bersama tanpa tersentuh. Ah, mantan suamiku pernah menyentuh tubuhku di bibir, ya ... hanya di bibir saja.
Namun, kenyataan bahwa mantan suamiku mampu menahan diri bahkan tidak pernah melihatku tentu saja menunjukkan jika aku bukanlah wanita dewasa yang mampu menarik perhatian.
"Kamu masih butuh waktu, ya? Aku masih bisa menunggu."
Aku kembali menoleh menatap wajah pak Adrian. Lelaki itu sebentar melirik ke arahku. Lalu kembali fokus pada kemudi.
Aku masih menatap pak Adrian lekat. Menunggunya melanjutkan kata.
"Walaupun, mungkin sampai tua." Sontak aku menutup mulut, menahan tawa. Mendengar ucapan pak Adrian yang tidak serius.
Ah, sepertinya aku salah menilai. Pak Adrian menghembuskan napas dalam. Mungkin kali ini dia sangat serius.
"Maaf ...."
"Untuk?"
__ADS_1
"Kalau Bapak telah menungguku selama itu."
"Tidak masalah." Aku kembali tertawa.
Entahlah, sudah beberapa bulan tidak bertemu pak Adrian, sepertinya lelaki itu sekarang berganti profesi sebagai pelawak.
"Bapak, sibuk syuting di mana?"
"Ha? Emangnya kenapa?"
"Jago ngelawak."
"Hahahaha " Sekarang gantian tawa lelaki itu yang menyembur.
Sejenak aku terpana dengan wajah itu. Binar bahagia dan ketulusan selalu terpancar dari wajahnya.
Diakah lelaki baik itu?
"Jangan lama-lama lihatnya."
"Kenapa?"
"Entar naksir, lho."
Sekarang giliran aku yang tertawa lepas. Rasanya, sudah lama aku tidak tertawa lepas begini. Sangat bahagia.
Tanpa sadar, pak Adrian menepikan mobilnya ke pinggir. Suasana di dalam sini hening.
Ternyata Pak Adrian tengah menatapku hangat. Sesaat aku menjadi salah tingkah.
"Tertawalah dan bahagialah. Kamu pantas bahagia. Semua beban yang kamu pikul berikan padaku, percayakan padaku untuk menanggungnya."
Berat aku menelan saliva. Kerongkongan terasa tercekat.
Apa yang harus aku lakukan setelah ini?
__ADS_1