
Mas, apa alasanmu menikahiku?
Mas, pernahkah kamu menyesal dengan pernikahan kita?
Mas, antara aku dan mantanmu yang dulu, siapa yang paling besar mendapatkan porsi cinta darimu?
Mas ....
Mas ....
Mas ..., bolehkah aku menitipkan hati sekali lagi?
Mas, bolehkah aku mencintaimu?
Ah, rasanya semua tanya itu menari-nari di kepala. Memperhatikan dia dari sini membuatku puas menatap wajah itu. Dia tampak rupawan.
Benar kata orang, lelaki akan terlihat dua kali lebih tampan saat sedang bekerja.
Dia contohnya. Duduk di kursi kebesaran menghadap tumpukan kertas, kedua tangannya sibuk membuka lembaran-lembaran di sana, dengan mata fokus membaca.
"Mas ...." Aku memanggilnya lirih.
Lelaki itu mendongak, meninggalkan sejenak pekerjaannya. "Hmmm?"
"Hmmm, kalau aku duduk di sini. Kayak mandor aja, sedangkan Mas Adrian kayak pekerjaku." Kemudian aku terkikik geli. Hanya sebentar, selanjutnya aku berdehem pelan lalu melanjutkan perkataanku.
Mas Adrian ternyata masih memperhatikanku, dia sepertinya tengah berpikir. Tampak dari lipatan-lipatan kerutan di keningnya.
"Gimana kalau aku duduk di kursi itu?" Aku menunjuk kursi yang berada persis di depan meja kerjanya.
"Oh, enggak masalah. Sini." Mas Adrian tersenyum, tangannya terulur memberi isyarat agar aku mendekatinya.
Senyumku merekah, aku tidak bisa menyembunyikan rasa senangku.
Aku segera beranjak dari sofa, berjalan mendekat padanya.
"Masih banyak enggak kerjaannya?" Kepalaku mendongak, untuk memberi akses pada mataku agar bisa mengintip.
"Kamu bosan?" Mas Adrian melipat kedua tangannya di meja. Kepalanya menengadah melihatku yang masih berdiri, dia menatap mataku.
"Enggak, kok. Aku ganggu Mas kerja ya?" Aku balik bertanya.
Senyum tipis tersungging dari bibirnya. Manis, kayak gula. Duh, rasanya aku ingin mencicipinya.
Ya ampun! Pikiranku ke mana-mana.
"Sini!" Mas Adrian meraih lenganku, lalu membimbingku untuk duduk di kursi depannya. Aku menurut tanpa protes. "Duduk sini. Tunggu sebentar lagi."
Aku mengangguk.
"Tunggu!" Mas Adrian berdiri, meraih kepalaku agar mendekat kepadanya.
Ah, kan beneran manis rasanya.
Aku masih terbengong di tempat, mendapatkan kecupan singkat dari bibirnya.
Senyum Mas Adrian melebar, setelah itu dia kembali berkutat dengan pekerjaannya.
"Manis," ucapnya singkat.
"Ha?"
__ADS_1
Aiisshh, dia menggodaku. Dasar bodoh. Aku memukul kepalaku sendiri, mengusir pikiran aneh yang menari di sana.
Bisa-bisanya kepala ini berpikir yang aneh-aneh, di tengah pekerjaan Mas Adrian yang sedang menumpuk.
Aku duduk di kursi dengan tangan bertumpu di meja, memperhatikannya kembali.
Lama kelamaan, rasa jenuh itu kembali hadir. Aku mulai gelisah, memutar kursi ke kanan dan ke kiri. Lalu berputar-putar, menggoyangkan kaki di lantai menimbulkan bunyi berisik.
Mas Adrian sepertinya tidak terpengaruh oleh ulah berisikku, dia tetap fokus pada berkas-berkasnya.
fiks. Aku bosan.
"Mas ...." Aku menggigit bibir, ragu mengucapkannya.
"Hmmm." Mas Adrian hanya bergumam, kali ini tatapannya tetap fokus pada berkasnya.
Aku tidak peduli bagaimana tanggapannya. Aku yakin, pasti dia mendengarkan.
"Kalau aku duduk di sini, lama kelamaan kayak aku sedang bekerja padamu."
"Terus?"
Yes. Berhasil.
"Seolah-olah, aku adalah sekretarismu yang sedang menunggu pemeriksaan laporan dari atasan."
Aku diam lagi, memberi jeda untuk melihat reaksinya.
"Oke. Terus?"
"Gimana kalau aku duduk di samping mu. Aku janji enggak akan ngapa-ngapain, cuma duduk aja. Nungguin Mas selesai kerja."
"Duduk aja." Mas Adrian mengangguk. Lantas kedua matanya menatapku.
"Enggak ngapa-ngapain?" Alis Mas Adrian terangkat, seperti meminta kepastian.
"Iya, enggak ngapa-ngapain. Cuma duduk aja."
"Oke."
Setelah mendapatkan persetujuan darinya, aku segera menggeser kursiku mendekat pada Mas Adrian yang kembali berkutat pada pekerjaannya. Dia tampak tak peduli dengan apa yang aku lakukan. Untunglah kalau begitu.
Aku duduk di sampingnya, menopang kepala dengan satu tangan di atas meja.
Terdengar helaan napas panjang Mas Adrian. Seketika, aku tersentak kaget saat mendapati lelakiku itu telah mengambil alih seluruh napasku.
Tanpa aba-aba, seperti terhanyut pada perlakuan lembutnya. Aku langsung melingkarkan kedua tanganku di lehernya.
Rasa manis dengan aroma mint memenuhi rongga mulutku. Sesaat, aku lupa di mana tempatku berpijak saat ini. Rasanya, aku melayang tinggi ke angkasa.
Mas Adrian melepaskan pagutannya, saat merasakan napas yang semakin berkurang.
Dada kami sama-sama kembang kempis, dengan detak jantung yang berpacu kencang. Aku dapat merasakan debaran di dada lelaki itu.
"Aku yang enggak tahan untuk enggak ngapa-ngapain kamu, Ann," bisiknya di telingaku.
Kemudian Mas Adrian mengulang kembali kemanisan tadi.
Suara ketukan di pintu menunda kesenangan kami. Ya ampun! Bagaimana aku harus bertemu dengan orang lain, dengan bibir bengkak begini.
Mas Adrian mengusap lembut bibirku dengan ibu jarinya.
__ADS_1
"Duduklah! Dan jangan berisik," bisiknya dengan napas tersengal.
"Masuk!" Kemudian, Mas Adrian menyuruh masuk orang yang mengetuk pintu tadi.
Ternyata sekretaris nya yang datang. Aku buru-buru menunduk, saat wanita itu mengamatiku.
"Ada apa?" tanya Mas Adrian dengan suara datar.
"Begini, Pak. Saya mau minta berkas yang diperiksa tadi. Sudah ditunggu pak David," jawab wanita itu. Dia masih berdiri di dekat pintu.
"Tunggu sebentar." Kemudian, Mas Adrian fokus pada berkasnya.
Ah, ternyata dia sedang benar-benar sibuk. Tidak seharusnya aku mengganggunya bekerja. Rasa bersalah muncul di hatiku.
"Maaf," desisku pelan.
"Enggak masalah, Sayang." Mas Adrian mengelus kepalaku, menerbitkan senyum manis di bibirnya. Lalu kembali fokus pada pekerjaannya.
"Ini berkasnya. Sudah saya periksa. Kalau ada masalah lagi, segera konfirmasi ya ...." Mas Adrian menyerahkan berkas itu.
Setelah wanita itu keluar, Mas Adrian memegang kedua bahuku. Mencondongkan kepalanya agar bisa memandang wajahku mungkin.
"Hei! Kenapa?" tanyanya lembut.
Aku menggeleng.
"Katakan, ada apa? Aku tidak bisa membaca pikiranmu. Suamimu ini bukan seorang dukun."
"Mas Adrian, ih. Nyebelin banget deh. Aku memang enggak nikah sama dukun kok."
"Nah, gitu dong. Manyun. Jelek tauk."
"Mas, apa yang membuat Mas Adrian menikahiku?"
Kami bertatapan lama. Aku menunggunya dengan harap-harap cemas.
"Karena ini." Mas Adrian mencium keningku lama.
"Apaan?"
"Pikir sendiri."
Kami sontak menoleh ke pintu yang terbuka lebar. Memunculkan sosok Alina dengan kecantikannya.
"Kak, udah lapar belum?" tanpa basa-basi, adikku itu masuk ke ruangan Mas Adrian, lalu mendekat ke arah kami yang masih duduk terpaku memperhatikannya.
Aku menoleh Mas Adrian, meminta persetujuan akan pertanyaan Alina barusan.
"Belum, sih. Kamu udah lapar?"
Alina duduk di sofa dengan satu kaki bertumpu pada kakinya yang lain, menampakkan pahanya yang putih.
"Aku bosan, nungguin Bang David enggak selesai-selesai dengan pekerjaannya. Dia seolah mengabaikan aku," jelas Alina dengan suara manja.
"Mas udah selesai belum?" Aku berbisik pada Mas Adrian. Lelaki itu ternyata masih memperhatikanku.
"Udah, sih. Kamu lapar?" Tangannya membelai rambutku.
"Aku malah khawatir sama Mas Adrian. Udah lapar belum?" tanyaku balik.
"Yaudah, ayo kalau mau makan. Sudah siang juga, kan."
__ADS_1
Kami berdiri bersama, meninggalkan meja kerjanya mendekati Alina.
"Kita tunggu David dulu, ya. Nanti makan siang bareng," ujar Mas Adrian santai.