Suamiku Mencintai Adikku

Suamiku Mencintai Adikku
Bab. 39


__ADS_3

Aku dan Mas Adrian, yaa begitulah sekarang aku memanggilnya. "Mas," aku akan berusaha membiasakan diri, kan?


Kami menemui undangan yang masih tersisa. Tidak banyak. Karena malam telah semakin larut, banyak undangan yang telah pulang.


Walaupun hanya pesta kecil dan sederhana, tapi aku ... bahagia.


Mas Adrian tidak melepaskan genggaman kami. Menyapa beberapa kenalannya, tetap dengan tangan yang saling bertautan.


Ledekan-ledekan yang dilayangkan, hanya ditanggapi dengan senyuman saja. Hmm, lelaki ini bisa kalem juga. Sangat berbeda saat berhadapan denganku yang sering menggoda dan bercanda. Bersama temannya, dia lebih pendiam.


Ucapan-ucapan selamat aku aminkan di dalam hati. Aku juga tentu sangat berharap, pernikahan ini akan menuai kesetiaan dan kebahagiaan sampai akhir.


"Mas, mau aku ambilkan minum?" bisikku pada Mas Adrian.


Lelaki itu menoleh, menatapku lekat. Satu tangannya menangkup pipi kananku, lalu mengangguk dengan tersenyum.


Aku membalas senyumnya, lalu bangkit dari kursi. Tersenyum dengan mengangguk kepada rekan Mas Adrian sebagai tanda pamit pada mereka.


Kemudian aku berjalan menghampiri beberapa thermos minuman hangat yang berjajar di meja. Aku ingin mengambil teh, sayangnya teh di sana habis.


Maka aku memilih membuatnya sendiri ke dapur. Belum sampai langkah kaki ini menuju dapur, pandanganku tertuju pada pemandangan yang tidak mengenakkan.


Ingin segera berlalu, tapi entah mengapa kakiku seperti terpaku.


Di dekat kulkas, Alina tengah berciuman dengan Bang David. Aku tahu, lelaki itu sempat melirik ke arahku. Dengan tidak ada rasa malu, dia seolah ingin menikmati seluruh napas Alina seorang diri.


Tiba-tiba, aku bergidik jijik. Mengingat bagaimana Bang David dulu pernah melakukan hal tak senonoh padaku. Rasa mual bergejolak dari perutku.


Tubuhku seketika melemas, lalu aku pun berbalik membelakangi dua manusia yang tidak tahu malu itu. Dengan langkah cepat setengah diseret, aku menuju Mas Adrian.


Napasku tersengal, wajahku mungkin saja telaj pucat. Bukan, bukan karena aku cemburu melihat mereka. Aku hanya jijik.


"Sayang, kamu kenapa?" Mas Adrian berdiri, menangkup ke dua pipiku. Dia bertanya dengan cemas.


Aku menggeleng.


"Kalau gitu kami pamit dulu ya, Adrian ... Anna. Udah malam." Pamit rekan Mas Adrian.


"Iya, salam untuk keluarga yaa ... nanti kita rundingkan lagi kedepannya gimana. Makasih, lho ... Pak Joko udah datang." Mas Adrian mengulurkan tangan untuk bersalaman. Sedangkan aku memegang apapun yang aku dapatkan, menarik kemeja Mas Adrian kencang.


"Iya, sama-sama." Setelah berbasa-basi Pak Joko pulang.


"Kenapa, Sayang? Ayoo, kita ke kamar." Mas Adrian meraih tanganku, lalu merangkul bahuku satu tangan yang lain erat menggenggam tanganku.


"Istirahat ya ...." Mas Adrian membimbingku menaiki ranjang. Lalu menyelimuti tubuhku, saat lelaki itu berbalik akan pergi, aku menarik tangannya erat.


"Di sini aja," ucapku lirih.


Mas Adrian menoleh, lalu ikut berbaring di ranjang. Masuk dalam selimut, kemudian memelukku erat. Napasnya yang teratur menghantarkan kehangatan dalam hatiku.


Aku menyandarkan kepala di dadanya, mendengarkan degup jantungnya yang terdengar lebih kencang iramanya.


Mas Adrian memejamkan mata, seolah tidak ada yang terjadi diantara kami. Lelaki itu juga tidak bertanya lagi tentangku.


Aku mendongak, menikmati keindahan pahatan sang pencipta pada wajahnya. Lantas, senyumku tersungging tak mampu aku sembunyikan.


"Udah, jangan lihat terus. Entar naksirnya kebangetan , lho ...." Mas Adrian berujar lirih dengan mata masih terpejam. Lantas, tangan kanannya mendekap pinggangku erat.

__ADS_1


"Biarin, sama suami sendiri juga," jawabku asal, tidak mau kalah.


Mas Adrian membuka mata, menatapku dalam. Aku membalas tatapannya. Sejenak, kami hanya berpandangan saja. Tidak ada suara.


Kemudian, lelaki itu mendekatkan wajahnya. Kurasakan tangan kanannya berpindah ke belekang kepalaku, mendorongnya pelan agar semakin mendekat padanya. Sedangkan tangan kirinya yang aku jadikan bantal, turut bergerak menggeser tubuhku agar semakin merapat padanya.


Tidak butuh waktu lama, kehangatan napasnya telah menyapu wajahku. Jarak kami semakin dekat, hanya sebatas selembar kain saja.


Napasnya semakin berat, seiring degup jantungku yang mulai tidak keruan. Udara di sekitarku pun telah berubah menjadi panas.


Pikiranku mendadak kosong, sampai saat aku rasakan sentuhan lembut nan kenyal di bibirku. Semakin kurasakan, rasanya manis ... dan memabukkan.


Aku lupa bagaiman caranya bernapas, sebab napsku telah diambil olehnya. Jiwaku seakan melayang tinggi. Sampai kurasakan, tangan Mas Adrian mulai bergerak dengan lincah di tubuhku.


Saat bunga-bunga mulai bermekaran indah dalam dadaku, tiba-tiba seperti ada yang memetiknya secara paksa.


Sekelebat bayangan masa lalu, saat aku meronta minta dilepaskan membuat tubuhku menggigil.


Terlebih saat kurasakan tangan besar itu membuka baju yang kukenakan.


"Ja-jangan ... ja-jangan ...." aku gemetar. Sekuat tenaga menepis tangan itu.


Bayangan wajah Bang David memenuhi kepala, sampai rasanya sakit sekali.


"Tolong ... jangan ...." Aku menangis. Dada ini terasa sangat sesak sekali. Aku kesulitan bernapas.


"Anna ... Anna ...."


Aku membuka mata, tampak wajah Bang David dan Mas Adrian berkelebatan di mata.


"Apa yang terjadi, maafkan aku." Ini ... ini bukan Bang David, ini Mas Adrian, suamiku.


Benar Mas Adrian.


"Mas ... Adrian ... suami ku ...." Bibirku masih bergetar.


Lelaki itu mengangguk berkali-kali. "Iya, ini Adrian suami mu."


Lantas aku pun berhambur memeluknya, mendekapnya erat. Menangis sejadi-jadinya sampai aku merasakan kelegaan di dada, sampai aku merasa tenang. Mas Adrian menyambut pelukanku, merengkuh tubuhku erat. Seolah tidak akan dilepaskan. Seolah memberi kenyamanan padaku, dan tidak akan ada seseorang yang bisa menggangguku.


"Maafkan aku, Sayang ... katakan padaku apa yang terjadi?" ucapnya lembut di atas kepalaku. Dia berkali-kali mencium pucuk kepalaku memberikan ketenangan.


"Maaf ... maaf ... aku tidak bermaksud menolakmu tadi. Hanya saja ... aku ...." Aku kembali menangis.


"Iya ... iya ... aku tahu," balasnya lirih. Tangannya mengelus punggungku. Sentuhan kulitnya memberikan kenyamanan dalam hatiku.


Aku tahu, kau aman bersamanya.


Setelah tangisku berhenti. Mas Adrian menghapus jejak basah di pipiku dengan kedua tangannya. Mencium keningku lama.


Lalu mencium kedua mataku. Aku memejamkan mata, menikmati setiap sentuhan lembut yang dia berikan.


Kemudian ciumannya pindah ke kedua pipiku, lalu ke hidung. Lantas turun ke bibir. Di sana, dia mencium lama dan dalam.


Melepaskan sentuhannya, dan berbisik. "Kamu akan bersamaku."


Aku mengangguk. Lalu Mas Adrian memelukku erat.

__ADS_1


"Mas ...," ucapku lirih.


"Hmmm."


"Maafkan aku."


"Iya ... dimaafkan. Kalau udah siap cerita, maka ceritakan padaku. Kamu adalah tanggung jawabku. Jangan menyimpan masalahmu sendiri. Mengerti?"


"Iya ...."


"Janji?"


"Janji."


"Sekarang mau tidur atau ...."


"Atau ... apa, Mas?"


"Melanjutkan yang tadi." Mas Adrian terkekeh geli.


Aku mencubit perutnya, gemas.


"Awww! Sakit, Ann. Belum dapat, nih. Udah dicubit duluan."


"Biarin, weee." Aku menjulurkan lidah. Lantas kami tertawa bersama. "Makasih, Mas."


"Sama-sama, Sayang ...."


Hening. Tidak ada lagi pembicaraan di antara kami. Apa dia sudah tidur?


"Mas ...."


"Apa, Sayang?"


"Dulu ... hmmm ... aku nyaris melakukan itu sama Bang David. Entah apa alasannya, dia bersikap kasar padaku."


"Terus ...?" Mas Adrian membuka mata. Menjauhkan wajahnya dari kepalaku. Lalu menatapku dengan sorot yang tidak terbaca.


"Untungnya enggak jadi." Aku nyengir kuda.


Mas Adrian malah tertawa terbahak. Emang ada yang lucu?


"Terus, kamu nyesel enggak?"


"Ya enggaklah, enak aja. Walaupun dulu aku cinta sama dia, tapi tetap aja ... aku enggak mau dia mengambil haknya dengan cara kasar seperti itu ...." Aku masih ingin melanjutkan kalimatku, saat lelaki itu mengecup bibirku.


"Jangan dilanjutkan, aku cemburu."


"Kenapa?" tanyaku heran dengan mulut terbuka.


"Entah ...."


"Mas ... bagaimana hubunganmu dengan Bang David?" tanyaku penasaran.


"Enggak gimana-gimana. Udah jangan dipikirkan. Sekarang urusan David jadi urusanku."


Aku mengangguk, lalu membenamkan wajah dalam dada bidangnya, mengirup aroma tubuh suamiku sepuasnya.

__ADS_1


Mungkin, bukan malam ini. Mungkin, malam berikutnya untukku mendapatkan jawaban atas segala tanya yang tersimpan rapi dalam kepala.


__ADS_2