Suamiku Mencintai Adikku

Suamiku Mencintai Adikku
Bab. 60


__ADS_3

"Apa maksudmu mengirim poto-poto itu?" tanyaku dingin. Entah sudah seperti apa wajahku saat ini. Bahkan, aku tak bisa lagi mengartikan rasaku.


Lelaki itu terkekeh pelan.


"Aku hanya memberikan kebenaran, Anna. Kebenaran bahwa suami yang kau puja tidak sebaik dugaanmu. Dia masih berhubungan dengan mantannya."


"Jangan omong kosong, cepat katakan apa maumu?"


"Sama seperti Adrian, aku juga tidak ingin melihat kau tersakiti."


"Sepertinya kau tidak sadar diri, David. Selama ini justru dirimulah yang menyakitiku."


Aku memutus sambungan teleponnya. Muak dengan segala hal yang menyangkut dirinya.


Lalu, aku menghubungi nomor Mas Adrian. Masih tidak aktif.


Aku mengambil sweater di lemari, dengan kondisi yang lemah. Aku keluar kamar.


Tujuanku satu, ingin mengecek apa yang sebenarnya terjadi.


Biasanya mungkin aku bisa mengontrol emosiku. Tapi, kali ini aku enggak bisa. Mungkin karena hormon kehamilan ini juga sangat mempengaruhi.


Aku pergi menggunakan taksi.


Sesampainya di kantor, aku segera naik ke lantai tempat ruangan Mas Adrian berada.


Beberapa karyawan tentu saja memperhatikan aku.


Biarlah, apapun yang mereka pikirkan aku tidak peduli.


Sesampainya di ruangan Mas Adrian, sepi. Sekretarisnya pun tidak ada.


Tanpa pikir panjang, aku segera masuk ke sana. Memeriksa keadaan di dalam sampai ke kamar mandi lalu ke ruang istirahat. Tidak ada siapa pun.


Ponsel Mas Adrian tergeletak di meja kerjanya. Aku memeriksa keadaan ponsel itu, mati.


Aku membuang napas kasar, rasanya sesak. Tubuhku mulai lemas, aku ... lapar.


Lantas, aku duduk di kursi kebesaran suamiku. Aku mengambil foto pernikahan kami yang terpajang di mejanya.


Bibirku terangkat membentuk senyum.


Lalu, meletakkan poto tersebut.


Aku memutar-mutar kursi beberapa kali. Tiba-tiba mataku tertumbuk pada sebuah buku berwarna hitam yang tersusun di lemari. Seperti sebuah agenda.


Aku berdiri, mengambil buku tersebut.


Jantungku dag dig dug membuka buku itu. Ah, ternyata hanya buku agenda kerjanya. Tidak ada apapun.


Sampai di bagian akhir ada poto seorang wanita dengan senyum yang manis. Dan itu adalah ... aku.


Aku tersenyum memandangi poto itu.


Kapan Mas Adrian mengambil poto ini?


Ini adalah potoku saat pertama kali masuk kerja di sini.


Aku kembali meletakkan buku tersebut ke asalnya. Lalu duduk di kursi kerja suamiku.


Aku menyandarkan kepala di sandaran kursi, dengan kedua tangan saling bertautan di perut. Memejamkan mata.


Mengenakan pakaian yang tipis begini, ternyata membuat tubuhku kedinginan.

__ADS_1


Lalu, aku memeluk diriku sendiri. Berharap segera masuk ke alam mimpi.


Aku mengerjapkan mata saat merasakan belaian halus di pipi.


Seulas senyum menyambutku saat membuka mata.


Mas Adrian duduk di meja. Tangannya masih mengelus pipiku. Tatapan matanya begitu hangat. Dan aku selalu meleleh dengan tatapan itu.


"Sudah dari tadi?" tanyaku serak.


"Hmmm?" Mas Adrian malah balik bertanya, bukannya menjawab pertanyaanku.


"Mas sudah dari tadi?"


Mas Adrian mengangguk. Bibirku mengerucut, jawaban apa itu. Cuma mengangguk saja.


"Cari makan, yuk!" ajaknya dengan suara lembut.


"Bukannya Mas Adrian sudah makan?" tanyaku dengan kening berkerut.


"Kamu pasti lapar 'kan? Tadi aku udah belikan makanan untukmu." Mas Adrian meraih tanganku. Menuntunku menuju sofa. "Tanganmu dingin sekali."


Mas Adrian melepaskan jasnya, lalu memakaikannya kepadaku.


"Lagian, ke sini pakai baju begini," ucapnya pelan.


Aku mendengus sebal.


"Aaaa." Mas Adrian akan menyuapiku.


"Aku makan sendiri," tolakku.


"Aaaa." Mulutnya terbuka dengan sendok di depan mulutku.


Aku berdecak kesal, tapi tak urung membuka mulut juga.


"Mas Adrian, belum makan?" tanyaku dengan mulut penuh.


Mas Adrian menggeleng pelan.


Jadi, poto yang dikirim Bang David tadi. Itu poto kapan? Lelaki itu, membuatku kesal saja.


Mas Adrian menyuapiku lagi. "Makan yang banyak,l," ucapnya pelan.


Aku mengangguk. "Anak Papa cepet besar yaaa."


"Mana ada begitu? Ada waktunya sendiri kali." Aku terkekeh.


Mas Adrian tersenyum.


Syukurlah, aku makan dengan nyaman tanpa ada acara muntah.


Sekotak nasi beserta lauknya telah habis.


"Mas, anterin aku pulang," rengekku padanya.


"Iya," ujarnya sembari meraih tanganku. Menariknya ke pangkuannya dan menggenggam erat. "Anna, kalau di hari kedepan kita tidak sekaya sekarang. Hmmm, maksudku kita hidup lebih sederhana lagi. Kamu mau?"


"Ada apa, Mas?" tanyaku bingung.


"Apa yang akan kamu lakukan jika, kita hidup lebih sederhana dari sekarang. Dan aku tidak bekerja di perusahaan ini lagi?" Mas Adrian bertanya dengan tatapan serius.


Aku melepaskan genggaman tangannya. Tampak raut kecewa di wajah lelaki itu. Lantas aku pun tersenyum, lalu menangkup kedua pipinya.

__ADS_1


"Ke mana pun suamiku pergi, aku akan ikut. Tidak peduli bagaimana kehidupan yang kelak kami hadapi. Asal bisa selalu bersamamu aku bahagia. Aku, suami dan bayi kita," ucapku tulus.


Mas Adrian mengelus tanganku. "Terimakasih," lirihnya.


"Mas Adrian tadi ke mana? Kenapa ponselnya tidak bisa aku hubungi."


"Tadi aku bertemu klien di luar. Tapi Marisa datang mengacaukan semuanya."


"Kenapa begitu?"


"Entahlah. Aku sangat pusing menghadapi wanita itu. Dia selalu tahu di mana tempatku bertemu klien."


Apa ada hubungannya dengan Bang David? Apa dia sengaja melakukan ini pada kami?


"Ada apa?"


"Tidak. Hmmm, hanya saja tadi Bang David mengirim poto saat Mas Adrian bertemu Marisa," ucapku lirih. Kemudian aku pun menunduk.


"Apa itu yang membuatmu kemari?"


Aku mengangguk.


Mas Adrian mengembuskan napas kasar.


"Ini juga alasanku ingin melepaskan sahamku di sini. Lalu merintis usahaku sendiri. Sudah ada beberapa cabang yang jalan, tinggal fokuskan saja."


"Bukankah ini usaha orang tua kalian, kenapa Mas Adrian memilih melepasnya? Apa nanti tidak akan menyesal?"


"Entahlah. Aku rasa tidak. Usaha ini dibangun untuk saling menguatkan. Jika pada akhirnya kami saling menghancurkan, lebih baik aku mundur. Hidupku, bukan tentang diriku saja. Ada kalian berdua di dalamnya, dan mungkin akan lebih dari itu."


Aku tertegun mendengar penjelasannya.


"Dulu, mungkin David tidak merasakan cinta padamu. Tapi, sekarang. Saat kamu tidak lagi dalam genggamannya, dia baru menyadari. Betapa Anna adalah wanita sempurna," ucapnya serius.


Aku tersanjung mendengarnya.


"Aku tahu dengan apa yang telah dia lakukan padamu. Di lift, dia bahkan pernah menciummu 'kan?"


Aku tercengang. "Ba-bagaimana bisa Mas Adrian tahu tentang itu?"


"David pernah membahasnya, sebelum kamu masuk rumah sakit. Sepertinya dia berusaha merenggangkan hubungan kita."


Aku menunduk, merasa malu sekali dengan lelaki ini.


"Lalu, dia juga yang sengaja bekerjasama dengan Marisa. Memberitahukan apapun aktivitasku padanya. Aku sudah bingung bagaimana mneghadapi David. Sejujurnya, aku telah menganggapnya sebagai saudaraku sendiri."


"Kami selalu bersama, mungkin itu juga yang membuat kami sering terjebak dengan satu wanita. Sayangnya, waniat-wanita itu lebih memilih aku daripada dia," lanjut Mas Adrian.


"Termasuk aku," timpalku.


Mas Adrian terkekeh geli. "Benarkah termasuk kamu?"


Aku mengangguk.


"Aku tahu, kamu sering meragukan perasaanku padamu 'kan?" tanyanya menuntut.


"Ha?"


Mas Adrian terbahak. "Wajahmu lucu," ucapnya kemudian.


Suara ketukan di pintu menghentikan obrolan kami. Sekretaris Mas Adrian masuk. Lalu menyerahkan sebuah map yang harus ditandatangani.


"Kosongkan jawdalku, ya," ucap Mas Adrian yang dibalas anggukan sekretarisnya.

__ADS_1


"Kita pulang Nyonya Adrian?"


Aku tersenyum, lalu mengangguk setuju.


__ADS_2