Suamiku Mencintai Adikku

Suamiku Mencintai Adikku
Bab. 64


__ADS_3

Aku berbaring di kamar, menutup seluruh tubuh dengan selimut. Rasanya sangat malas untuk menemui siapa pun.


Pikiranku benar-benar kacau sekarang. Bisa-bisanya Mas Adrian menahanku karena memberi peringatan pada adikku sendiri.


"Ganti nomor." Ah, mudah sekali dia memberi alasan padaku yang kebingungan mencari keberadaannya.


Tidakkah terlintas penyesalan dalam hatinya karena tidak sempat melihat ibu?


Banyak hal yang ingin aku tanyakan pada Alina , tapi belum pus rasanya kalau belum memberi pelajaran padanya. Dia harus diberi peringatan agar sejenak sadar diri.


Suara pintu terdengar terbuka. Aku berdecak kesal, menyadari kamar yang tidak terkunci.


Karena buru-buru masuk tadi, jadi lupa mengunci pintu kamar.


Perlahan, terdengar suara langkah mendekat, lalu duduk di pinggir ranjang.


Aku memejamkan mata, pura-pura tidur. Walaupun aku yakin, dia tidak akan tahu jika aku tidur atau tidak karena kepalaku pun terbenam dalam selimut.


Kurasakan pijatan-pijatan lembut di bagian kaki lalu naik ke punggung, kemudian turun lagi ke kaki. Berulang kali.


"Kamu pasti capek 'kan?" tanyanya pelan dengan tangan yang terus bergerak di tubuhku. "Tidak seharusnya kamu memukul Alina, saat dia baru sampai tadi."


Apa maksudnya lelaki itu mengatakan hal demikian? Apa dia sedang berusaha membela Alina?


Tanpa bisa dicegah, ada yang memanas di dada ini mengalirkan lahar panas yang menggelegak di kepala.


Aku memejam rapat. Menahan emosi yang telah sampai pada puncaknya. Aku sadari, akhir-akhir ini tidak bisa mengontrol emosi dengan baik.


"Kita bisa membicarakannya dengan baik-baik. Lagipula, kondisimu sedang tidak stabil."


Ah, alasan. Aku hanya dijadikan alasan untukmu membela Alina. Iya 'kan?


Mataku memanas mendengar ucapan lelaki itu. Tidak bisa dipungkiri ada yang nyeri di sudut hatiku. Ada apa denganku? Kenapa jadi menyedihkan begini? Apakah semua orang akan peduli pada Alina tanpa peduli perasaanku?


Aku mengelus perut. Entah mengapa, saat ini menjadi wanita yang tidak akan bernilai di mata orang lain. Bahkan bagi suamiku sendiri. Semua Alina hanya Alina yang menjadi pusat perhatian mereka.


"Bukankah sudah menjadi kabar baik, jika Alina pulang dengan selamat?"


Cukup. Aku tidak tahan lagi. Kuhapus air mata yang meleleh, lalu menyibak selimut kasar.


Mas Adrian berdiri dengan wajah terkejut. Mungkin tidak menyangka dengan respons yang aku berikan.


"Anna, aku ...."


Aku mengangkat tangan, sebagai isyarat lelaki itu berhenti.


"Cukup. Aku sudah muak dengan kalian. Entah apa salahku? Jika Mas Adrian tidak setuju dengan apa yang aku lakukan." Aku menghentikan perkataanku, lalu turun dari ranjang. Mendekat padanya, kami berdiri berhadapan. Aku mendekatkan wajah, lalu mengangkat tangan Mas Adrian. "Tampar aku, Mas. Lakukan seperti apa yang telah aku lakukan pada Alina," ucapku tegas.


Sejenak, hening. Kami sama-sama diam.


"Lakukan. Jika itu bisa membuatmu puas," lanjutku dengan bibir bergetar.


"Anna ... apa yang kamu lakukan?" Mas Adrian menarik tangannya dari genggamanku. Kemudian menatapku nanar.


"Dia memang layak dibela, dicintai. Aku tahu itu. Dan aku tahu di mana posisiku sekarang." Aku membalas tatapan Mas Adrian dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


"Bukan begitu. Kamu salah paham mengartikan ucapanku," ucapnya pelan. Tatapan Mas Adrian berubah sendu. Lelaki itu melangkah maju, tangannya berusaha merengkuhku.


Aku mengelak, kutepis kasar kedua tangannya yang menyentuh pundakku.


"Sudah, cukup ... Mas." Aku berbalik keluar dari kamar. Tidak mengindahkan seruannya padaku.


Di ruang tamu, tampak Alina tengah asik bercengkrama dengan Bang David. Ah, baguslah. Mungkin mereka memang akan segera menikah. Aku menunggu moment itu.


Bang David menyadari keberadaanku, dia menoleh. Sejenak kami berpandangan.


Aku memutuskan pandangan lebih dulu. Lalu melangkah melewati mereka.


"Kamu mau ke mana, Ann? Biar aku antar." Bang David berdiri. Aku tak acuh pada ucapannya.


"Hentikan kelakuanmu, David. Anna istriku." Suara Mas Adrian terdengar ketus dan dingin.


Aku tidak memedulikan apa yang terjadi di dalam. Mereka semua benar-benar membuatku muak.


"Anna! Tunggu!" Seruan Mas Adrian tidak menghentikan langkahku. Aku terus berjalan meninggalkan rumah. Sejujurnya aku tidak tahu harus ke mana.


"Anna, kamu mau ke mana? Jangan begini, Ann." Mas Adrian berhasil mencekal lenganku.


Langkahku terhenti sejenak, tapi aku tetap berusaha berjalan. Mulutku terkatup rapat, dengan badan bergerak-gerak berusaha melepaskan cekalan tangan Mas Adrian di lengan.


Aku mendongak, menatap Mas Adrian dengan derai air mata. Masih tidak percaya rasanya, suamiku itu membela Alina yang jelas salah di mataku.


Seharusnya dia membiarkan perlakuanku kepada Alina. Setidaknya sampai aku tenang. Bukan malah berusaha keras menahanku. Yang paling menyakitkan adalah lelaki itu membela Alina dan seakan menyudutkanku.


"Oke ... oke. " Mas Adrian mengangkat kedua tangannya ke atas tanda menyerah.


"Kamu mau ke mana?" Mas Adrian mengiringi langkahku.


"Bukan urusanmu," desisku tajam.


"Aku suamimu, kalau kamu lupa," ucap lelaki itu dingin.


"Terserah," ketusku.


Aku membiarkan Mas Adrian mengikuti langkahku. Sudah pasti dia akan menolak 'kan jika aku cegah. Maka biarkan saja.


Kami berjalan tanpa percakapan, persis seperti dua orang yang tidak saling mengenal. Padahal seharusnya kami berjalan bergandengan tangan, saling menguatkan. Ah, miris.


Langkahku berbelok masuk ke pemakaman umum. Ya, aku ingin ke makam ibu.


Rindu ini hanya terobati di sini. Tak lagi bisa kudengar suara itu menanyakan kabar, memberi nasihat.


Ah, andai aku sering menghubunginya kala itu. Atau bahkan setiap hari mendengar suaranya. Mungkin rasa sesalku tidak akan sedalam ini.


Di masa hidup, alis sering abai menanyakan kabar sang ibu. Padahal, mungkin dia tengah menunggu telepon dariku.


Air mataku mengalir deras tanpa bisa kubendung lagi. Sesaat aku tergugu meluapkan rasa rindu dan penyesalan. Kurasakan usapan lembut di punggung.


"Maafkan Anna, Bu. Belum bisa menjadi anak yang baik untuk ibu. Maafkan Anna," ucapku terisak.


"Ibu tenang saja, Alina baik-baik saja. Banyak yang menyayangi anak itu. Bahkan suamiku sendiri pun membelanya. Jadi ibu jangan khawatir." Aku menghapus air mata di pipi.

__ADS_1


Tubuhku bergerak menolak usapan di punggung yang diberikan Mas Adrian. "Lepas, Mas," sinisku.


"Maaf, jika sikapku telah menyakitimu. Aku tidak bermaksud begitu, Ann," bisik lelaki itu tepat di telingaku.


Lantas, Mas Adrian meletakkan kepalanya di pundakku. Sejenak kemudian, lelaki itu mengelus kepalaku.


Aku bergeming menerima perlakuan lembutnya. Tanpa bisa dicegah, kelembutan Mas Adrian menghangatkan hatiku.


Ah, katakanlah aku sangat plin plan dan mudah di rayu. Nyatanya, dekat begini saja membuatku tenang.


Kemudian, Mas Adrian mengangkat kepala. Tangannya terukir mengelus nisan ibu. "Ibu, terimakasih karena telah melahirkan wanita sehebat Anna. Adrian sangat senang dan bangga memiliki istri sepertinya," ucapnya lirih.


"Aku akan menjaganya semampu yang aku bisa. Ibu jangan khawatirkan Anna, ya. Walaupun tadi dia sedikit bandel, tidak apa-apa. Emosinya memang sedang tidak stabil, bawaan hormon kata dokter. Aku janji akan membahagiakannya, Bu."


"Mas ...."


"Ibu dengar 'kan, dia akhir-akhir ini suka merajuk. Tapi aku suka. Itu tandanya, dia percaya padaku 'kan. Doakan anak kami sehat ya, Bu. Anna juga bisa melalui kehamilannya dengan sehat, sampai lahiran. Makasih, Bu ... Semoga ibu tenang di sana."


"Aamiin," lirihku.


Mas Adrian menangkup kedua pipiku. Lalu mendaratkan kecupan di kening, lama. Air mataku menetes lagi, aku terharu mendengar apa yang diucapkannya pada ibu. Semoga itu tulus dari hatimu, Mas.


"Jangan bandel lagi, ya. Dan jangan membuatku khawatir. Ibu hamil enggak boleh baperan, entar kebawa sama debaynya, lho."


"Ish, tahu dari mana istilah baperan?"


"Dari status kamu 'kan. Bawa perasaan." Mas Adrian mengecup keningku sekali lagi.


Dengan begini saja, aku luluh lagi. Duh, Anna.


Kami berjalan pulang dengan bergandengan tangan. Mata kami saling melirik, lalu saling membuang muka dengan mengulum senyum. Kejadian ini sampai berkali-kali.


Ah, begini rasanya berbaikan setelah bertengkar. Kayak ada manis-manisnya.


"Aw!"


"Kamu kenapa?" tanya Mas Adrian dengan wajah cemas.


"Perutku kram, Mas."


Mas Adrian dengan sigap mengangkat tubuhku dengan kedua lengannya. Aku spontan melingkarkan kedua tangan di leher lelaki itu. Meletakkan kepala di ceruk lehernya. Mencium aroma tubuhnya yang menentramkan seperti aromaterapi bagi moodku.


Mengabaikan pandangan heran dari pasang mata yang berpapasan di jalan, Mas Adrian membopongku sampai rumah.


"Kakak kenapa, Mas?" tanya Alina.


Aku masih memejamkan mata enggan membukanya.


"Biasa, bumil manja," kekeh Mas Adrian.


"Mas, ih ...." Aku memukul dada Mas Adrian.


Mas Adrian malah tertawa senang. Lelaki itu berputar-putar mengabaikan jeritanku meminta turun, sebelum menurunkan aku di ranjang.


"Hadiah untuk wanita terhebatku." Mas Adrian mengedipkan mata, lalu mengecup kening. Kemudian turun ke kedua mata, lalu kedua pipi, sampai ke hidung.

__ADS_1


__ADS_2