
"Mas Adrian ...," bisikku nyaris tidak terdengar. Rasanya dunia ini hanya milikku sendiri, tiada yang bisa mendengar suaraku.
"Iya, ini Mas Adrian. Suamimu," ucap lelaki di samping ranjang dengan uraian air mata.
Benarkah itu Mas Adrian?
Aku mengangkat tangan yang masih lemah, sampai tanganku disambut oleh Mas Adrian. Membawanya menyentuh pipi.
Iya, ini Mas Adrian. Aku tidak bermimpi.
Mas Adrian membungkukkan badan, mendekatkan wajahnya lalu mencium keningku lama.
Kurasakan aliran hangat menyentuh wajahku.
"Terimakasih, Sayang. Kamu mau bertahan untuk kami," ucapnya dengan isakan tangis.
Tak berapa lama, dokter datang beserta perawatnya. Mas Adrian mundur ke belakang membiarkan petugas memeriksa kondisiku.
Usai Mas Adrian mengucapkan terimakasih, dokter pun pergi meninggalkan kami.
"Mas, Putri mana? Aku rindu."
"Jangan banyak bicara dulu, ya. Jangan memikirkan apa pun. Anak kita kuat seperti mamanya, cantik juga seperti mamanya. Dia aku titipkan di rumah, semuanya baik-baik saja," terang Mas Adrian.
Aku mengangguk lemah. Lalu kembali terlelap.
***
"Mama ... Mama ke sini?" Aku tak percaya, tetapi juga bahagia mendapati Mama menjengukku di rumah sakit.
Seperti biasanya, wanita itu masih tampak cantik.
"Iya, Mama ke sini. Sengaja jenguk kamu, kata David sudah sadar. Jadi langsung minta diantar ke sini tadi. Gimana kabarmu?" Mama mendekat, duduk di kursi samping ranjang. Menggenggam tanganku erat, menyalurkan kasih sayang.
Walaupun aku tidak lagi berstatus menantunya, Mama masih saja baik. Dialah orangtuaku sekarang.
"Aku baik, Ma. Apalagi Mama datang, tambah sehat aja," ucapku serius.
"Bisa saja kamu."
"Aku kangen Mama, kangen banget. Rasanya udah lama sekali enggak ketemu."
"Maafkan kesalahpahaman Mama yang dulu ya. Mama malu sama kamu. Ternyata anak Mama menyia-nyiakan istri sebaik kamu," ucap Mama pelan. Matanya lurus menatapku.
"Enggak apa-apa, Ma. Semuanya sudah berlalu." Aku tersenyum, meyakinkan wanita ini bahwa aku baik-baik saja. Malah sekarang sangat bahagia.
Ada Mas Adrian yang selalu menjagaku. Lantas mataku melirik ke sofa, Mas Adrian tertidur di sana.
Ah, suamiku pasti sangat capek. Mengurus perusahaan yang baru dirintis, mengurus Putri kecil kami, lalu mengurusku di rumah sakit. Melihatnya seperti itu, membuatku bersemangat untuk cepat sembuh.
"Iya, Mama sempat khawatir juga. Pas kejadian kamu, pas pula kecelakaan dialami Adrian." Mataku terbelalak mendengar penuturan Mama.
"Mas Adrian kecelakaan, Ma?" tanyaku tak percaya.
"I-iya. Jadi kamu enggak tahu?" Mama balik bertanya.
__ADS_1
Aku menggeleng, lalu tumpahlah air mataku. Membayangkan Mas Adrian kecelakaan, lalu mengurusku saat ini.
"Makasih, Ma. Udah kasih tahu Anna berita penting ini," ucapku seraya tersenyum. Dengan cepat tanganku mengusap buliran bening yang terus mengalir membasahi pipi.
Aku gelisah, tidak lagi mendengarkan cerita Mama. Entah apa yang diceritakannya, telingaku serasa berdenging tak mendengarkan apa pun.
Pikiranku hanya tertuju pada lelaki yang tertidur itu. Bagaimana keadaannya sekarang?
Adakah yang terluka?
Ataukah dia terluka parah?
Ya Tuhan!
"Ann ... Anna." Suara Mama menyentakku dari lamunan.
Aku mengerjapkan mata, melihat Mama yang telah berdiri mencangklong tas.
"Mama pulang dulu ya ...," pamitnya.
"Makasih ya, Ma. Hati-hati di jalan. Besok ke sini lagi yaa." Aku mencium takzim punggung tangan Mama. Lalu Mama mengecup keningku.
"Iya, cepat sehat yaa. Jangan banyak pikiran," ujarnya.
"Iya."
Setelah kepergian Mama, aku berusaha turun dari ranjang. Ingin kudekati lelaki yang masih terlelap itu.
Hari libur begini, dia menghabiskan waktu seharian menemaniku. Sesekali pulang untuk memeriksa keadaan Putri pada pengasuh.
Keringat dingin mengucur deras membasahi tubuh, aku menyanggah tubuh dengan berpegangan pada sandaran sofa agar bisa duduk di sisi Mas Adrian.
Kupandangi wajahnya yang terlelap, seperti bayi. Tanganku terulur, ingin mengelus pipinya, membelai rambutnya, tetapi kutahan khawatir mengganggu tidurnya.
Mas Adrian menggeliat pelan, lalu matanya terbuka.
"Lho, Sayang. Kamu kok di sini. Ayo kembali ke ranjang!" Mas Adrian tersentak kaget, lalu segera berdiri.
Tanpa bisa membantah, Mas Adrian membopongku kembali keranjang. Sontak tanganku melingkari lehernya.
"Mas," panggilku pelan.
"Ya?" Mas Adrian sibuk membaringkanku. Lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh. "Kamu istirahat, jangan banyak gerak dulu. Sakit enggak dadanya?"
"Dikit, bisa ditahan kok. Aku bosan baring terus. Ajak aku jalan-jalan ke taman ya," rengekku manja.
"Beneran enggak apa-apa kalau kita jalan-jalan?" tanya Mas Adrian meyakinkan.
Aku mengangguk antusias.
Tak lama kemudian, Mas Adrian menggendongku lalu mendudukkan tubuhku di kursi roda.
Dia membawaku menuju taman rumah sakit.
"Aaahhhh, segarnya. Makasih, Suamiku," ucapku dengan senyum semringah.
__ADS_1
"Sama-sama."
"Hmmm, Mas. Saat aku menghubungimu berkali-kali, kenapa tidak langsung diangkat?" tanyaku ragu.
Aku ingin langsung menanyakan keadaannya pasca kecelakaan, tetapi pasti tidak akan nyaman. Maka, aku pun memancing kejujurannya padaku.
"Iya, Mas ada rapat. Ponsel di silent. Ah, kalau saja waktu itu aku tidak mementingkan pekerjaan dan mendiamkan nada dering, pasti hal buruk tidak akan terjadi padamu."
"Semua sudah takdir, Mas. Jika tidak begitu, mungkin aku tidak pernah tahu bahwa sebenarnya akulah penyebab Alina seperti itu. Aku terlalu memanjakannya. Tapi, semuanya sudah berlalu." Aku tersenyum. "Lalu, jam berapa Mas sampai rumah dan membawaku ke rumah sakit?"
"Anna. Dengarkan aku. Ada yang ingin aku katakan, tapi kamu harus janji, tidak akan memikirkannya terlalu dalam." Mas Adrian berkata serius.
Aku menelan ludah dengan susah payah, mengatur cara kerja pompa jantung yang mulai tak beraturan.
Kemudian mengangguk pelan.
"Sebenarnya yang membawamu ke rumah sakit ini bukan aku, tapi David."
"Kenapa?"
"Karena saat aku menuju pulang, khawatir tidak terkejar sampai ke rumah tepat waktu. Firasatku sangat buruk saat itu. Jadi aku menghubungi David meminta bantuan padanya agar segera ke rumah melihat keadaanmu."
"Di jalan, siapa sangka aku mengalami kecelakaan beruntun. Akhirnya, aku juga dirawat di rumah sakit ini."
Mas Adria menjeda kalimatnya sejenak. Mengganggap tanganku erat. "Hingga aku sadar, yang kucari pertama kali adalah kamu, Sayang. Namun, David memberikan kabar yang tidak baik. Aku bersedia mendonorkan jantungku padamu."
Air mataku mengalir deras, tidak bisa membayangkan jika lelaki di hadapanku ini pergi tiba-tiba bahkan tanpa sepengetahuan diriku lebih dulu. Aku pasti gila karenanya.
"Syukurlah, David menemukan pendonor yang lain. Salah satu korban kecelakaan itu. Nanti kalau kamu sembuh, kita menemui keluarganya yaa."
Aku mengangguk berulang kali. "Lalu, bagaimana keadaanmu sekarang, Mas? Aku ... aku sangat khawatir sekali. Aku takut."
"Semua sudah berkahir, Sayang. Aku sehat, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ini yang aku takutkan saat menceritakan yang sebenarnya. Kamu akan syok."
"Maafkan aku, Mas," ucapku disela isakan tangis.
"Hei. Semua sudah berlalu. Sekarang kita hanya perlu memikirkan kesehatanmu, agar segera pulang ke rumah Putri kita telah menunggu. Lalu jangan lupa untuk berterimakasih kepada David atas usaha yang dia lakukan untuk kita. Dia minta bayaran katanya."
"Ha? Apa itu?"
"Minta carikan calon istri."
Kami tertawa bersama dengan tubuh saling memeluk.
***
Dua Minggu kemudian, tubuhku sudah kembali sehat. Walaupun tetap harus kontrol ke rumah sakit dan melakukan rawat jalan.
Aku pulang ke rumah. Ah, melihat Putriku yang tumbuh sehat begini tiada lagi yang aku inginkan.
Nyatanya, setiap ujian yang terlewati ada hikmah yang tersembunyi di baliknya.
Ujian ini, semakin mengeratkan cinta kami.
Mas Adrian, aku mencintaimu. Sangat.
__ADS_1