Suamiku Mencintai Adikku

Suamiku Mencintai Adikku
Bab. 40


__ADS_3

Awalnya, aku merasa keberatan jika harus pindah ke Jakarta. Tinggal di sana lagi dan meninggalkan ibu hanya berdua saja dengan Alina.


Aku tahu, ibu nyaris sering sendirian di rumah. Karena, Alina sering pulang larut malam.


Namun, lagi-lagi aku harus mengalah dan ikut suamiku. Tentu saja, seorang istri harus ikut kemanapun suaminya pergi.


"Nanti kalau kalian libur, bisa pulang untuk mengunjungi ibu. Atau, nanti ibu yang akan ke Jakarta." Aku yakin, ibu mengatakan itu supaya hatiku tenang.


Nyatanya, selama aku tinggal di Jakarta tidak pernah sekalipun ibu datang kecuali saat aku dirawat kala itu.


Aku menghela napas dalam, air mata ini mengalir deras. Padahal ini bukan pertama kalinya aku meninggalkan wanita yang telah melahirkanku tersebut. Namun, tetap saja aku menangis seperti anak kecil.


Kurasakan rengkuhan erat di pundak. Aku menoleh, di sampingku Mas Adrian tengah tersenyum. Seakan meyakinkan aku bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Hanya saja, entahlah ... aku tetap saja merasa takut. Aku memalingkan wajah menatap jendela. Satu tangan suamiku menangkup pipiku dan memintaku agar menoleh padanya.


Ibu jari lelaki itu mengusap lembut pipiku. Lalu satu tangannya yang lain turut merangkum wajahku. Tangannya terasa begitu pas di wajahku.


Dia mendongakkan wajahku agar menatapnya. Lalu, Mas Adrian menggeleng pelan. Kemudian kedua ibu jarinya menghapus jejak basah di kedua pipiku.


"Jangan menangis lagi ...," bisiknya pelan. Tatapan kedua matanya berubah sendu.


Aku tahu, kenapa jantung ini berada dalam lapisan tubuh terdalam. Jika dia berada di luar, sudah pastilah semua orang akan tahu kalau degupnya semakin menggila.


Kalau berada di luar, sudah pastilah setiap orang akan menutup kedua telinganya. Karena suara jantungku yang sangat kencang.


Rasanya, dadaku bergerak-gerak karena debarannya. Rasanya, aku sampai kesulitan bernapas menahan getarannya.


Suaranya seolah gendang perang yang sedang ditabuh. Suaranya seolah mampu mengalahkan suara deru pesawat.


"Hmmm?" bisik suara Mas Adrian lagi.


Aku mengangguk pelan seiring kedua tangkupan tangan yang masih bertahan. Aku meletakkan kedua tanganku pada tangan Mas Adrian. Mengusapnya pelan, mencoba mengalirkan rasa yang aku punya untuknya.


Kami masih bertatapan lama, mengungkapkan apa saja yang tak bisa terucap lewat lisan. Biarlah tatapan ini sebagai ungkapan.


Hingga suara pengumuman pesawat siap mendarat. Kami salah tingkah, melepaskan tangan yang saling berpegangan. Lalu, aku segera duduk seperti semula. Kemudian, kami turun dengan tangan yang saling bertautan.


***

__ADS_1


Rumah minimalis menjadi hunian baruku saat ini. Aku kira, Mas Adrian tinggal di sebuah apartemen. Ternyata pikiranku salah.


Rumahnya sangat amat sederhana. Jangan dibandingkan dengan rumah yang dulu pernah aku tempati. Karena itu sangat berbanding terbalik.


Sebuah ruang tamu dengan sofa berwarna coklat tua. Bersebelahan dengan ruang keluarga yang terdekat lemari hias, lalu ruang makan yang langsung terhubung dengan dapur dalam satu ruangan.


Ah iya, di ruangan bagian bawah ini ada dua kamar. Naik ke lantai atas, ada dua kamar. Dan ... kamar kami terletak di lantai ini.


Aku berkeliling kamar, ada satu ranjang ukuran besar. Lalu, meja rias. Kamar mandi tentu saja ada di dalam. Jangan lupakan balkon, dari sini aku dapat melihat deretan rumah-rumah. Tidak ada yang istimewa sih, semua tampak indah bagiku.


"Hai!" Suara Mas Adrian terdengar mendekat. Aku menoleh, tampak lelaki itu membawa nampan di kedua tangannya. Aku tersenyum. "Udah puas kelilingnya, Nyonya?" tanyanya dengan senyum terkembang.


Aku terkekeh lalu mengangguk berkali-kali. Lantas, kami pun tertawa bersama.


Mas Adrian meletakkan nampan di meja. Lalu duduk di bangku yang menghadap ke luar.


"Aww!" Aku tersentak kaget saat Mas Adrian menarik tanganku dan menyentakkan tubuhku ke atas pangkuannya.


Wajah lelaki itu merah, dengan senyum terkulum di bibirnya. Dan, aku yakin ... wajahku tak kalah merahnya dari Mas Adrian.


Aku menunduk malu. Lelaki ini benar-benar mampu membuatku tak bisa berkutik sedikitpun.


Mas Adrian mengangkat daguku dengan jari telunjuknya. Menatapku dengan hangat, gelenyar-gelenyar aneh itu datang lagi memunculkan bunga-bunga indah di hatiku.


Lantas, Mas Adrian mendekatkan wajah. Hangat napasnya menyapu wajahku. Sontak, aku pun memejamkan mata. Memikirkan kemungkinan yang akan dilakukannya.


Namun, sampai beberapa detik tidak terjadi apapun pada wajahku. Apalagi ... pada bibirku.


Aku membuka mata, mengerjap berkali-kali. Ternyata, lelaki itu tengah mengulum senyum. Ah, malunya aku.


Aku memalingkan wajah ke samping. Rasanya ingin segera berlari dari sini. Sayangnya, Mas Adrian malah mendekap pinggangku erat.


"Minim dulu, teh nya ... Nyonya." Mas Adrian berbisik di telinga, lalu meniup telingaku. Aku merinding, seakan begitu terasa aliran darah ini mengalir ke seluruh tubuhku.


Mas Adrian memang sangat pandai mengerjaiku. Awas saja, ya.


Tanpa menjawab, aku melihat padanya dengan wajah datar. Tanganku berusaha untuk melepaskan rengkuhannya di pinggang.


"Ngambek, ya ...?" tanyanya dengan senyum menggoda.

__ADS_1


"Iihh, Mas Adrian nyebelin banget. Suka banget godain aku." balasku dengan nada merajuk dan bibir mengerucut.


"Siapa yang ngerjain, sih? orang ngajakin minum teh juga," kilahnya masih dengan senyum menggoda.


"Iya, lepas dulu. Aku mau turun, duduk sendiri aja." Aku berusaha melepaskan tangannya.


"Di sini aja, biar romantis. Kita kan pasangan pengantin baru."


Aku mencebik mendengarkan alasannya yang masuk akal. Emangnya, kalau nanti udah jadi pengantin lama enggak bakalan romantis lagi? Dasar, ada-ada aja.


"Ogah." ketusku tak mau kalah.


"Kok ngambek, sih. Karena ini ...." Mas Adrian mengecup bibirku sekilas. "ya ...," lanjutnya lagi.


Aku memukul lengannya. Kesal sekali rasanya digodain terus. Dia tidak tahu saja, jika jantungku udah loncatan enggak keruan. Dasar lelaki enggak peka. Lelaki mesum.


Akhirnya, aku hanya menghela napas panjang. Tanpa membalasnya lagi. Lalu mengambil cangkir teh di nampan, dan meminumnya.


Mas Adrian tidak mengambil cangkirnya, malah meminum teh dari cangkirku langsung. Jadi ini alasannya dia tadi.


"Mas ... boleh nanya sesuatu enggak?"


"Apa itu?"


"Kenapa Mas Adrian tidak pindah saja dari kantor yang sekarang?"


Aku menghadapnya, merangkum kedua pipinya.


"Maksudnya, aku harus menjual sebagian saham yang aku miliki di sana?" tanyanya dengan dahi berkerut bingung. Lalu membuang pandangannya ke jalanan.


"Maksudnya menjual saham?" aku bertanya dengan isi kepala yang bertambah kusut.


"Sahamku ada di perusahaan itu."


"Ha? Maksudnya?" Mulutku terbuka mendapati satu kenyataan yang ternyata Mas Adrian, suamiku adalah salah satu pemegang saham di perusahaan besar itu.


"Iya, perusahaan itu sebenarnya perusahan yang didirikan oleh dua orang sahabat dekat. Papanya David dan juga papa aku."


"Serius? Jadi kalian ?"

__ADS_1


"Kami berteman. Hanya itu."


Aku tercengang mendapati satu kenyataan ini.


__ADS_2