
Tanpa sepengetahuan Mas Adrian aku berniat menghubungi Bang David via telepon, menanyakan kebenaran berita yang suamiku sampaikan.
Sebenarnya, hatiku meragu. Namun, penasaran itu terlalu besar mencuat dalam dada. Rasanya begitu sesak sampai aku kesulitan napas.
Akhirnya, saat Mas Adrian telah berangkat bekerja aku segara meraih ponsel menelepon Bang David.
Pada deringan kedua telepon diangkat.
"Halo, Ann."
"Bang, kamu tahu enggak siapa lelaki yang jalan sama Alina?" tanyaku tanpa basa-basi.
Aku juga tak peduli, Bang David tahu tidak maksud dari pertanyaanku. Bodo ah.
"Laki-laki?' tanya Bang David penasaran.
"Iya, lelaki yang jalan sama Bang David?"
Hening sejenak, sampai Bang David menjawab lagi pertanyaanku.
"Oh itu. Enggak tahu siapa, aku enggak ngajak kenalan. Lagian, sekarang udah malas mengingatnya. Ada apa Ann?"
"Enggak, aku cuma pingin tahu aja. Hmmm, apa kamu ... enggak-enggak, enggak ada apa-apa."
Entah mengapa, aku rasa ini salah. Kenapa malah aku menghubungi Bang David?
Sekelebat bayangan Mas Adrian menari di pelupuk mata. Bagaimana mungkin aku mencari informasi tentang Alina kepada Bang David yang jelas matan suami.
Ya ampun, kenapa jadi runyam begini, sih. Masalahnya?
"Makasih ya, Bang. Maaf mengganggu waktunya," ucapku tiba-tiba."
Seperti tahu dengan apa yang aku lakukan, Bang David mencegahku menutup panggilan kami.
"Tunggu, Anna. Jangan dimatikan." Terdengar helaan napas panjang dari seberang sana. Lalu, Bang David kembali bersuara. "Aku siap menjadi pendengar yang baik buatmu. Kapan pun," ucapnya pelan.
Mendadak jantungku kelojotan ingin melonjak keluar . Wajahku serasa panas terbakar oleh rasa yang aku sendiri tidak tahu sebabnya.
Tak ingin terbawa suasana, aku segera menekan ikon merah dari layar tanpa berucap apa pun lagi.
Melempar ponsel ke ranjang, lalu masuk ke kamar mandi untuk mencuci wajah.
"Aku siap menjadi pendengar yang baik buatmu, Ann." Suara Bang David seakan menggema di kamar mandi ini. Sangat jelas terdengar lengkap dengan ekspresi wajahnya yang tergambar saat berbicara serius.
Ya Tuhan! Apa-apaan ini?
Aku buru-buru mencuci wajah lagi, menghapus jejak bayangan Bang David di pelupuk mata.
Satu hal yang kusadari, bukannya aku mendapatkan jawaban atas apa yang aku inginkan.
Aku malah membuka celah pada kesalahan lain dalam rumah tanggaku.
Dering ponsel terdengar nyaring.
Aku buru-buru keluar kamar mandi.
__ADS_1
Ah!
Mungkin karena jalan yang terlalu cepat, perutku terasa kaku keras.
Aku mengusap perlahan perut buncitku. "Maaf, ya, Nak," ucapku pelan sembari terus mengusap-ngusap.
Aku duduk di tepi ranjang, layar ponsel masih berkedip-kedip.
Segera kuraih, tampak nama suamiku di sana.
"Ya, Mas?"
"Sayang, kenapa suaramu begitu. Ada masalah apa? Sakit?" Pertanyaan Mas Adrian memberondongku.
Pantaskah aku mencurigainya?
Pantaskah aku memikirkan lelaki lain, pada ada lelaki sebaik Adrian di sampingku?
"Enggak apa-apa, Mas. Perutku hanya kaku saja," ucapku sembari meringis.
"Ya udah, kami istirahat. Tutup teleponnya."
Tut.
Telepon ditutup sepihak. Lantas, aku pun membaringkan diri. Tanganku tiada henti mengusap perut, berharap cepat kembali normal.
Tidak berselang lama, suara pintu kamar terbuka. Aku menoleh, kontan terkaget saat Mas Adrian berjalan ke arah ranjang.
"Lho, Mas?" tanyaku heran melihat kedatangannya.
Tangannya memegang dahiku.
"Syukurlah enggak panas. Aku khawatir sekali tadi. Mana yang sakit?"
"Mas, kok pulang. Katanya mau ada rapat?" tanyaku lagi.
Bukannya menjawab. Mas Adrian malah berbaring di di sampingku. Tangannya ikut mengusap-ngusap perutku.
Rasanya jadi nyaman sekali.
Bayi ini emang tahu, ya. Siapa bapaknya siapa bukan. Bahkan saat dia belum melihat orangtuanya.
"Aku batalkan tadi. Nanti saja, diganti hari lain. Kamu mau periksa ke dokter sekarang? Sudah jadwal periksa belum, sih? Mas kok suka lupa."
"Dasar." Aku memukul pelan lengannya. "Padahal tiap bulan nemeni, masa lupa terus," kekehku pelan.
Mas Adrian meringis tidak menanggapi kalimatku. Tangannya merengkuh tubuhku masuk dalam pelukannya.
***
Sebenarnya, tidak ada masalah yang berarti dalam rumah tanggaku. Mungkin, karena aku terlalu banyak menerka-nerka, menjadi sebab kurang tenangnya hatiku menjalani ini.
Padahal, suamiku itu telah mengingatkan berulang kali. Agar aku berusaha tenang, mengingat kehamilan yang semakin hari kian besar.
Tentu saja, emosiku akan berpengaruh pada si jabang bayi dalam perut.
__ADS_1
Sebagai calon ayah, Mas Adrian adalah ayah yang siaga. Selalu ada saat aku membutuhkan, dia pun tak segan-segan meninggalkan pekerjaannya demi menemaniku.
Menjelang hari kelahiran. Mas Adrian sering pulang di saat sempat. Bahkan, di selalu menyempatkan diri.
Aku juga pernah mengatakan padanya ingin menghubungi Alina sekadar menanyakan kabar. Sebab telah berbulan-bulan lamanya kami tak saling berbagi kabar sejak hari itu. Alina mengganti nomor.
Aku meminta kepada Bang David, tetapi nomor yang dia berikan tidak lagi aktif. Lelaki itu mengaku jika hanya nomor itu yang dia punya.
Sedangkan Mas Adrian, tentu saja jawabannya tidak tahu dan tidak punya. Karena memang tidak pernah menghubungi Alina sebelumnya.
Akhirnya, aku hanya bisa pasrah kehilangan jejak adikku satu-satunya itu. Dan berjanji setelah anak ini lahir, aku akan pulang mengunjungi makam ibu.
Kalau saja, ada informasi mengenai Alina di rumah.
Sejak semalam, sebenarnya perutku terasa mulas. Namun, aku tidak membicarakannya kepada Mas Adrian. Sampai di pagi hari, sakitnya semakin terasa. Menyebar sampai ke pinggang.
Mas Adrian yang hendak ke kantor seperti menangkap perubahanku.
"Kamu, ada yang sakit?"
"Perutku sakit," ucapku dengan suara berdesis menahan sakit.
Tidak menunggu lagi, Mas Adrian langsung membopongku ke mobil. Setelah menempatkanku pada duduk ternyaman, lelaki itu kembali ke rumah mengambil tas berisi peralatan yang telah kusiapkan menunggu kelahiran.
Sakitnya semakin kerasa sepanjang perjalanan.
"Mas ... sakit ...."
"Iya-iya, tahan sebentar ya ... bentar lagi sampai."
Untunglah, aku masih bisa bertahan menahan sakit yang berulangkali datang hingga kami sampai ke klinik tempat kuperiksa.
Di sana kami langsung disambut oleh perawat dan dokter. Karena Mas Adrian memang telah lebih dulu menghubungi klinik bersalin ini.
Awalnya, Mas Adrian menyarankanku periksa kandungan ke rumah sakit besar. Namun, aku menolak. Rasanya kok ya ribet banget memeriksakan kandungan ke rumah sakit besar, belum lagi antri panjangnya menunggu panggilan.
Akhirnya, suamiku itu mengalah dan menuruti permintaanku untuk periksa di klinik bersalin saja.
Mas Adrianlah yang mencarikan tempat ini. Dia yang sibuk mencari informasi dari internet dan rekomendasi dari beberapa karyawannya.
Aku hanya menerima beres saja.
Aku langsung dibawa ke ruang persalinan. Ah, syukurlah hanya aku saja yang melahirkan sekarang. Jadi, ketakutan akan anak yang bisa jadi tertukar minim terjadi.
Dasar kebanyakan nonton drama, lantas menjadikanku berpikir yang aneh-aneh.
Mas Adrian setia menemaniku menjalani proses melahirkan ini. Benarkah adanya, nyawa terasa telah di tenggorokan.
Tenagaku habis. Aku tak menolak saat sang perawat menyuntikkan jarum infus di tangan. Padahal, biasanya aku paling anti dengan suntikan-suntikan. Namun, dalam kondisi sepertis sekarang tentulah aku tak lagi berdaya menolak.
Rasa sakit yang meleburkan tulang belulang tak lagi terasa saat seorang bayi mungil nan cantik disodorkan padaku untuk dilihat.
Aku pun tak menyangka jika Mas Adrian bisa secengeng itu. Dia mencium seluruh wajahku, mengucapkan terimakasih berulang kali, dengan air mata meleleh di pipi.
Ah, Mas Adrian. Aku sangat terharu menerima perlakuanmu.
__ADS_1
Rasanya, aku tak ingin apa pun lagi cukup mereka berdua berada di sisiku. Itu saja.