Suamiku Mencintai Adikku

Suamiku Mencintai Adikku
Bab. 56


__ADS_3

"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" Mas Adrian langsung memberondong dokter yang datang. Seperti tak ingin melewatkan kesempatan yang ada.


Perawat yang menyaksikan aksinya senyum-senyum. Sedangkan aku, yang tertunduk malu.


Ternyata begini sikap Mas Adrian saat aku sakit. Ah, makin cinta ,deh.


Aku kembali menatap interaksi perawat dan dokter.


Lalu, perawat memberikan sebuah lembaran kepada Mas Adrian.


Lelakiku itu membacanya dengan seksama.


"Selamat, istri Anda hamil. Usianya enam Minggu. Untuk lebih jelasnya, kita lakukan USG ya ... ke poli kandungan," terang sang dokter.


Mas Adrian masih terpaku di tempat, matanya fokus membaca hasil laporan di sana.


"A-apa maksud dokter?"


"Pak Adrian langsung bawa istrinya ke poli kandungan saja, untuk lebih jelasnya."


Dokter mengangguk kepada perawat, lalu tersenyum kepadaku.


"Dijaga bayinya ya, Bu ... Selamat." Aku membalas senyum dokter tersebut.


"Terimakasih, Dok."


"Saya permisi."


Ruangan ini kembali sepi. Perawat dan dokter telah keluar ruangan.


Namun, Mas Adrian seperti terpaku di tempat. Entah apa yang dilakukan lelaki itu.


"Sayang, coba baca laporan ini. Aku tidak salah lihat, kan?" Mas Adrian bertanya sembari mendekat. Dia berdiri di pinggir ranjang, tangannya terulur memberikan lembaran kertas yang dibawa.


Aku terharu melihat tingkahnya, sebegitunya dia menerima berita ini. Seolah kehamilan ini adalah sebuah keajaiban.


Ya, kehamilan adalah sebuah keajaiban. Di dalam perut ini sedang tumbuh janin yang siap berkembang menjadi bayi.


Aku membaca kata 'hamil' berulang-ulang.


Lalu mendongak menatap wajah lelakiku itu. Dia tengah menatapku dengan mata sendunya. Aku mengangguk lemah yang disambutnya dengan pelukan hangat serta ucapan terima kasih.


Apa memang begini reaksi calon ayah? Seharu ini?


***


"Ini kantong rahimnya kelihatan ya ..," jelas sang dokter dengan menggerakkan alat di perutku. "Nah, ini janinnya. Belum kelihatan, dia masih sangat kecil."


Aku mengangguk berulang kali, sesekali menyeka air mata yang mengalir.


"Apa nanti bisa besar itu, Dok?" tanya Mas Adrian antusias.


"Tentu saja. Nanti, kan, keluarnya bayi manusia," jawab sang dokter serius.


Mas Adrian mengangguk berulang kali, tanda mengerti. Lalu ....


"Beneran bisa besar, Dok. Perut istri saya sekecil itu?"


"Tentu bisa, nanti perutnya akan ikut membesar."


Sang dokter kembali duduk di kursi.


Aku bangkit dibantu perawat.


"Mau digendong?" tanya Mas Adrian menunggu.


Ya ampun, Mas. Aku enggak nyangka kami begini.

__ADS_1


"Enggak perlu, aku masih kuat, Mas," jawabku dengan senyum tipis.


Mas Adrian tidak membalas, dia langsung membantuku turun dari ranjang. Menuntunku menuju kursi di seberang dokter.


"Jadi, bagaimana Dok. Apa yang harus saya lakukan untuk menjaga istri dan calon anak kami?"


"Wah, Pak Adrian suami siaga, ya ... sekali lagi selamat Bu Hana." Dokter tersebut tersenyum.


Sebenarnya aku malu dengan tingkah Mas Adrian, dengan pertanyaan-pertanyaan konyol yang dilontarkan. Namun, aku juga bahagia mendapat perhatian yang begitu banyak dia berikan.


Aku merasa, dia sangat mencintai kami.


"Jaga nutrisinya ya ... untuk awal-awal kehamilan memang akan mengalami sering muntah-muntah. Tapi, terus diisi saja. Cari makanan yang mengandung selera. Ibu hamil itu sehat. Jadi, makan apa saja yang diinginkan, selama itu tidak membahayakan."


Kami mendengarkan dengan seksama penjelasan sang dokter. Ini adalah pengalaman pertama tentu saja.


"Ini saya berikan resep untuk diminum. Nanti kalau memang butuh minum susu, tidak apa-apa minum susu hamil. Cari yang cocok diperutnya."


"Baik, Dok. Terimakasih."


"Satu lagi, jangan kerja yang berat-berat dan jangan stress. Sepertinya, Bu Hana memang butuh istirahat yang banyak. Jika butuh hiburan, boleh diajak jalan-jalan kok."


Setelah dari ruangan dokter kandungan, kami kembali ke kamar rawatku.


Sebenarnya aku ingin langsung pulang saja. Tapi, Mas Adrian bersikeras agar aku pulangnya besok saja. Saat tubuhku sudah benar-benar kuat.


Sesampainya di kamar, suamiku itu menawarkan berbagai macam makanan. Dia sangat antusias ingin membelikan apa pun yang aku inginkan.


Ternyata, saat hamil adalah saat di mana seorang istri mendapatkan perhatian penuh dari suami.


Suara dering telepon menjeda perdebatan kecil kami. Aku yang bersikeras sedang tidak ingin makan apa pun. Sedangkan Mas Adrian tetap bersikeras ingin membelikan sesuatu.


Ah, ada-ada saja.


"Tunggu, Mas. Aku angkat telepon dulu." Aku bergerak, mengambil ponsel di nakas.


"Halo, Dek."


"Kakak, di mana?"


"Di rumah sakit."


"Minta alamatnya, ya ... aku mau langsung ke sana saja."


"Kamu kenapa, Dek?"


"Pokoknya aku mau ke rumah sakit."


Panggilan terputus, aku memberikan alamat rumah sakit beserta ruangan tempatku dirawat inap.


"Kenapa?" tanya Mas Adrian dengan kening berkerut.


Aku mengedikkan bahu. "Alina mau ke sini. Tapi kayak ada sesuatu, deh. Enggak tahu apa?"


"Ya udah, kita tunggu aja. Ingat ... kamu jangan banyak pikiran. Aku enggak mau kamu dan bayi kita kenapa-kenapa. Turuti kata dokter." Mas Adrian berkata pelan penuh penegasan. Tangannya mengelus perutku, lalu mencium perutku yang rata.


"Sehat ya Sayang, kalau Mama kamu bandel. Bilang sama Papa."


Bibirku mengerucut. Mulai deh dia.


"Gemes deh, kalau lihat bibir kamu begini." Mas Adrian mengecup bibirku singkat.


Ah, manis ini. Pasti gara-gara bawaan bayi ini. Membuatku candu ingin berdekatan dengan papa si bayi.


Ponsel Mas Adrian berbunyi.


"Halo, Vid."

__ADS_1


"...."


"Iya ...."


"...."


"Enggak kenapa-kenapa."


"...."


"Oke."


"Siapa, Mas?" Aku bertanya saat Mas Adrian memasukkan ponsel ke saku celananya.


"David, bareng Alina mau ke sini," jelasnya santai.


"Oh."


"Kamu beneran enggak ada yang diinginkan, begitu?"


"Belum ada, Mas. Nanti kalau aku menginginkan sesuatu, pasti suamiku ini yang lebih dulu aku kasih tahu," ucapku meyakinkan.


Mas Adrian tersenyum lembut, lalu mengelus kepalaku pelan.


"Aku cuma enggak mau, kamu menahan-nahan diri meminta sesuatu padaku."


"Tau enggak, Mas?"


"Hmmm?"


"Entah kenapa, aku senang sekali mencium bau keringatmu. Apalagi, hmmm ...."


"Apa?"


"Itu ...." Aku menunjuk bibirnya.


"Ini?" tanyanya lalu mengecup bibirku lembut. "Kenapa?"


"Manis."


Duh, rasanya ... jantungku berdebar hebat. Rasa panas menjalar di kedua pipi.


"Benarkah?" Lantas, Mas Adrian mengulang kegiatan manis itu, lebih lama.


Ah, bisakah waktu berhenti sejenak?


"Ini pasti keinginan si bayi," ucapku malu menyembunyikan wajah yang memerah panas.


"Keinginan Mamanya juga enggak apa-apa, kok. Papa seneng," balas Mas Adrian pelan.


"Mas ...."


"Hmmm?"


"Aku ingin makan bubur ayam lagi. Nanti di rumah, buatin bubur kacang hijau, ya ...," ucapku manja bergelayut di lengan Mas Adrian.


"Siap. Tapi, kamu apa enggak apa-apa aku tinggal sendirian?"


"Enggak apa-apa. Beli yang deket sini aja. Pinginnya cuma bubur ayam aja, kok. Enggak spesifik sama rasanya."


"Baik Tuan Putri." Mas Adrian mengecup keningku. Lalu beranjak keluar kamar.


Menunggu Mas Adrian sendirian ternyata membosankan juga.


"Beli di mana, sih?" gerutuku tak sabar.


Tiba-tiba, pintu terbuka lebar memunculkan sosok tinggi. Belum hilang rasa kagetku saat dia memelukku erat lalu mengecup keningku.

__ADS_1


"Aku khawatir denganmu."


__ADS_2