Suamiku Mencintai Adikku

Suamiku Mencintai Adikku
bab. 37


__ADS_3

Jika biasanya menanti hari H pernikahan itu sangatlah terasa lama. Berbeda denganku, kenapa rasanya hari terlewat begitu cepat, ya?


Apa karena aku yang tidak terlalu memikirkan acara pernikahan ini?


Seperti yang sudah direncanakan, hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh ... hmmm aku sendiri ragu, siapa yang menantikan dengan tidak sabar untuk segera berjumpa dengan hari ini.


Sebab, selama sepekan ini tidak banyak pembicaraan di antara aku dan pak Adrian selaku calon pengantin.


Kami masih sibuk dengan aktivitas masing-masing. Apalagi Pak Adrian, dia terlalu sibuk. Malah terlampau sibuk menurutku.


Untung saja, semua bisa dipersiapkan dengan baik. Semua hal, telah diselesaikan. Sejauh ini tak ada rintangan yang berarti.


Alina terlihat bahagia, ya ... itulah yang aku rasakan.


Ibu, tampaknya biasa saja. Semalam, aku melihat ibu menangis. Namun, entah untuk alasan apa.


SAH


Ya Tuhan! Aku telah menjadi istri Pak Adrian. Waktu yang hanya tiga menit itu seketika telah mengubah status dan tanggung jawabku.


Saat ini, suamiku lah yang akan menjadi prioritas ku.


Aku didampingi Alina keluar kamar menuju ruang depan. Di sana suamiku telah menunggu kedatanganku.


Aku mengedarkan pandangan, melihat siapa saja yang datang ke acara sakral ini.


Di sudut ruangan berdiri seseorang yang telah menjadi masa laluku. Bang David. Dia datang ... aku tidak menyangka sama sekali jika lelaki itu bisa datang.


Mengingat pesan yang disampaikan semalam. Aku kira dia tidak akan datang atau malah akan mengacaukan acaraku. Pikiran konyol.


'Kita akan tersiksa bersama. Ingat itu.'


Kapan sih, hubungan kami akur? Tidak pernah. Saat aku menjadi istrinya, sampai sekarang kami tidak bisa aku. Hanya sekadar satu pendapat saja, itu seperti hal yang mustahil.


Aku mengacuhkan bang David yang menatapku dengan sorot tajam, matanya merah dengan rahang keras.


Aku memilih menatap seorang lelaki yang baru beberapa menit lalu menjadi suamiku. Pak Adrian.


Dia tersenyum, terlihat sangat tampan dengan balutan jas berwarna putih dan celana berwarna putih juga. Sangat serasi.


Senyumnya yang terkembang, menampakkan ciri khasnya. Apalagi kalau bukan kedua lesung pipinya yang membuatku mabuk kepayang.


Ah, aku sekarang telah pintar ngebucin . Ck.


Aku menunduk, menyembunyikan rona wajah yang menghiasai pipiku, dengan senyum malu-malu. Rasanya, aku seperti remaja yang untuk pertama kalinya merasakan jatuh cinta. Yaa, anggap saja begitu.


Ruangan ini tentu saja tidaklah luas. Mungkin karena debaran jantung yang tidak seperti biasa, dan rasa malu yang menggelitik dada. Lantas, jarak yang hanya beberapa langkah ini seakan berkilo meter jaraknya.


Hmm, mungkin karena kebayaku yang sempit ini, menjadikan langkahku pendek-pendek. Tidak bisa bebas melangkah seperti saat mengenakan celana panjang.


Pak Adrian mengulurkan tangan, dengan senyum yang tetap bertahan di wajah tampannya.


Aku menyambut uluran tangan itu. Tangan kami sama-sama dingin. Darahku berdesir, merasakan dingin menjalar ke sekujur tubuhku.


Sejenak, kami bertatapan lama. Kemudian, Alina membisikkan sesuatu di telingaku yang membuat rasa malu semakin menggila.


"Kak, duduk." Setelah berkata demikian Alina beranjak pergi. Sempat tertangkap di telingaku saat Alina berdesis pelan, "Abang David."


Sontak aku menoleh padanya, tampak jelasan buliran bening membasahi pipinya yang secepat kilat Alina seka. Sedangkan aku, hanya mampu menatapnya dengan tatapan nanar.


"Anna." Pak Adrian berucap lirih.


Kemudian aku menoleh, menatapnya dalam. Lagi, aku temukan senyuman indah penuh ketulusan di sana.


Kami pun duduk, menyelesaikan ritual yang sempat tertunda.


"Ayoo, istrinya mencium tangan suaminya."


Aku menoleh ke samping, tampak Pak Adrian mengulum senyum. Lalu merubah posisi menghadap ke arahku.

__ADS_1


Lelaki itu mengulurkan tangan, tidak perlu menunggu lama, aku langsung mencium punggung tangannya dengan takzim. Dialah suamiku saat ini.


"Suaminya cium kening."


Mendengar itu, bulu kudukku seketika berdiri. Aku merinding.


Tanpa ragu, pak Adrian memegang kepalaku. Lalu mencium keningku lama. "Aku mencintaimu," bisiknya.


Setelah itu, kami pun diminta untuk berfoto berdua. Aku hanya pasrah mengikuti semua instruksi yang diberikan sang fotografer.


Walaupun terasa kaku, aku menikmati moment ini. Sesekali, aku melirik pada pak Adrian. Ingin memastikan bagaimana raut wajahnya melakukan ini itu denganku. Siapa sangka, lelaki itu malah sedang menatapku.


Uups, aku tertangkap basah tengah mencuri pandang. Lantas aku pun langsung menunduk, menyembunyikan senyum malu-maluin.


Setelah semua ritual dirasa cukup. Kami berdua diperbolehkan masuk ke dalam kamar untuk istirahat sejenak.


Aku mengikuti langkah pak Adrian, tanganku tidak pernah lepas dari genggaman tangannya.


Kami masuk ke dalam kamarku yang dihias menjadi kamar pengantin. Sederhana, tapi aku sangat suka.


Tidak ada karpet merah di kamar ini, tidak juga bertaburan mawar merah di ranjang. Namun, aku menggantungkan banyak harapan pada pernikahan ini. Harapan untuk banyak kebahagiaan.


Biarlah, sekeras apapun Bang David berusaha menyiksaku. Asal suamiku selalu mendampingi langkahku, itu sudah cukup.


Pak Adrian, menuntunku agar duduk di pinggir ranjang. Lalu, dia duduk di sampingku. Kami berhadapan, tapi tidak ada sepatah kata yang sanggup keluar.


Entahlah, lidahku terasa kelu untuk mengatakan bahwa aku sangat bahagia.


Lelakiku itu, menatapku lama dengan tatapan yang ... menghanyutkan.


Aku menunduk, menyembunyikan gelenyar-gelenyar aneh yang semakin menggila.


Namun, belum sempat aku menghela napas panjang. Tangan pak Adrian telah memegang daguku, memaksa wajah panas ini agar membalas tatapannya.


"Bolehkah?" pak Adrian berbisik dengan suara berat.


"A-apa?" Belum sempat aku mencerna apa yang dia inginkan.


Untuk sesaat, kami saling berbagi udara. Sampai tidak sadar jika pintu kamar telah terbuka lebar.


"A-ow. Sorry." Tanpa menoleh pun aku sudah tahu siapa yang masuk.


Tidak ada jawaban dari pak Adrian. Dia memberi jarak pada wajah kami, tapi napas hangatnya yang berat masih dapat kurasakan menerpa wajahku. Sedangkan aku masih dengan menutup mata, tidak berani melihat bagaimana wajah pak Adrian saat ini.


Lalu, terdengar langkah kaki menjauh bersamaan dengan pintu kamar yang tertutup.


Pak Adrian masih menangkup wajahku. Lalu lelaki itu melanjutkan hal yang sempat tertunda tadi.


Seketika aku melayang, menikmati keindahan bunga yang bermekaran dalam dada. Posisi kami bahkan telah berubah berbaring, dengan kaki yang masih menggantung.


Saat pak Adrian memberikan kesempatan untukku bernapas. Aku segera menjauhkan wajah. Bisa-bisanya kami melakukan ini, di saat semua tamu undangan masih berada di ruang depan.


"Ma-sih banyak ta-mu di depan." Aku berucap pelan dengan napas yang masih memburu. Suaraku terputus-putus.


Pak Adrian mengulum senyum. "Maaf, karena kamu sangat menggemaskan."


Sayangnya, pak Adrian bukannya segera bangkit. Dia malah mengulang kembali hal indah yang baru saja kami lakukan.


Untuk sesaat, aku membiarkan diriku mengikuti setiap gerak yang dia inginkan.


Saat merasakan pasokan udara yang semakin menipis di rongga dada, Pak Adrian melepaskan tautan kami.


"Oke. Kita temui undangan dulu, ya." Pak Adrian berucap lirih. Lantas, secepat kilat lelaki itu mendaratkan sebuah kecupan di keningku. Aku mengangguk.


Lelaki itu bangkit, lalu menghadap cermin. Merapikan sedikit kekacauan yang dia timbulkan sendiri. Aku tersenyum geli melihatnya.


"Kamu kenapa?" tanya pak Adrian heran.


"Enggak." Aku menggeleng pelan.

__ADS_1


"Jangan memancing, nanti aku enggak jadi keluar."


Aku berdiri menghampirinya. Aku tersentak kaget, saat lelaki itu meraih pinggangku lantas memeluknya erat. Satu tangannya yang lain menarik hidungku gemas.


"Iiihh, gemes."


""Aww, sakit, Pak." Aku meringis. Mengelus hidung yang mungkin telah berubah merah.


"Jangan panggil aku Pak lagi. Panggil aku Bang, Mas atau ... hmmm Yang, yaa ... Sayang." ucapnya dengan senyum menggoda.


Aku mencebik, lalu mengerucutkan bibir. "Modus."


"Kok modus, sih? Mana ada suaminya di panggil Pak, begitu?"


"Ya udah, nanti aku pikirkan mau memanggil apa. Sekarang cepatlah keluar."


"Baiklah." Pak Adrian melepaskan rengkuhannya. Aku merapikan jasnya. Sempurna. Dia sangat tampan. Aku pun tersenyum senang.


"Tunggu di sini, jangan ke mana pun." katanya pelan, tapi terdengar tegas.


"Kalau ke kamar mandi?"


"Boleh, dong. Mandilah dan istirahat. Aku enggak mau kamu capek."


Aku mengangguk. Pak Adrian mencium hidungku sebelum dia melangkah ke luar.


Aku tersenyum, bahagia. Sangat.


Sembari menunggu suamiku kembali. Aku memilih membersihkan diri dan berganti pakaian. Rasanya lelah sekali, padahal acaranya cuma sebentar. Karena kami tidak mengadakan resepsi yang wah.


Setelah mandi, aku bisa menemui keluarga dan kenalan yang hadir, pikirku.


Lalu, aku pun menuju lemari. Mengambil pakaian, kemudian melangkah menuju kamar mandi. Tidak lupa menyambar handuk.


Membasahi diri dengan air dingin sangat menyegarkan. Setelah berganti pakaian di dalam kamar mandi, aku pun keluar. Betapa terkejutnya saat mendapati bang David sedang duduk di tepi ranjang dengan tatapan yang lekat padaku.


Aku menelan ludah dengan sangat berat. Rasanya tercekat di tenggorokan. Lelaki itu seperti peneror yang selalu mendapatkan saat aku sendirian. Ck.


"A-apa yang Bang David lakukan di sini?" Aku bertanya dengan rasa takut. Tanganku berpegangan pada handel pintu kamar mandi.


Lelaki itu tetap duduk di bibir ranjang. Sejenak tidak ada suara yang dia keluarkan. Hanya sebuah senyuman misterius yang sangat menyeramkan buatku.


Kemudian, lelaki itu terkekeh lalu tertawa terbahak-bahak. Sampai berguncang seluruh badannya, wajahnya bahkan sampai memerah.


Aku masih bergeming di tempat, tidak berani bergerak sedikitpun. Menunggu apa yang akan lelaki itu lakukan selanjutnya.


"Kau tampak bahagia, Ann." Bang David berkata pelan dengan tatapan yang berubah sinis.


Aku tidak membalas ucapannya. "Apa kau benar-benar bahagia, Anna?"


Aku masih diam. "Jawab ... Ann," lanjutnya dengan suara geram penuh tuntutan.


Aku mengangguk mantap. "Tentu."


Bang David berdiri. Berjalan dua langkah ke depan. Matanya tidak beralih sedikitpun dari menatapku.


"Benarkah? Apa kau membaca pesanku semalam?"


"Yaa."


"Sebentar lagi kau akan merasakannya. Selamat untuk pernikahan keduamu. Aku juga akan bahagia bersama adik kesayanganmu."


Setelah mengatakan itu, bang David keluar. Tanpa menoleh lagi. Pintu kamar dibiarkannya tetap terbuka.


***


Jangan lupa like dan komentnya ya gaeess.


Baca juga cerita baruku "Istri Taruhan"

__ADS_1


☺️☺️


__ADS_2