Suamiku Mencintai Adikku

Suamiku Mencintai Adikku
Bab. 43


__ADS_3

Masalah mungkin saja tidak akan berakhir, sebab dunia ini memang gudangnya Maslaah itu, bukan?


Namun, semua masalah tidak akan berarti apa-apa, jika aku bisa menyikapinya dengan bijak. Terutama, dengan siapa aku bersama saat ini. Maka semua masalah yang ada akan mudah teratasi.


Seperti, kehidupan rumah tanggaku yang baru saja diterpa salah paham. Hal yang pertama kali dibangun, tentu saja komunikasi. Bagaimana aku bisa mengungkapkan apa yang aku rasakan pada suamiku, dan melatih kepekaan pada apa uang suami rasakan.


Masalah Marisa bagiku sudah terlewati. Walaupun sebenarnya aku ingin sekali saja berjumpa dengan wanita yang telah mencampakkan Mas Adrian.


Ah, tidak. Bukan mencampakkan. Lebih tepatnya, sangat tidak beruntung karena telah menyia-nyiakan lelaki sebaik Mas Adrian.


Aku rasa postur tubuhnya mirip denganku. Karena membuat tetanggaku itu sampai salah mengira. Yaa, kalaupun dia lebih dari aku, mungkin enggak jauh beda dong.


Siang ini, aku berencana mengantarkan makan siang ke kantor Mas Adrian. Kantor tempat kami saling mengenal, kantor yang mengantarkan aku dengannya sampai jenjang pernikahan. Hehe.


Sebenarnya, sih ... bukan itu intinya. Kantor itu tempat mantan suamiku dan suamiku bekerja bersama. Menyadari hal itu, aku harus siap jika bertemu dengan Bang David.


Dering ponsel menghentikan gerakan tanganku yang tengah asyik menyusun makanan di rantang.


"Iya, Mas?"


"Jadi ke kantor?"


"Jadi, ini lagi nyiapin makanannya. Bentar lagi selesai."


"Aku jemput, jangan pergi sendiri."


"Lho, kok di jemput?"


"Aku enggak mau kamu naik ojek, Sayang."


"Kalau Mas Adrian jemput, mending langsung makan di rumah dong."


"Hahahaha. Bukan aku, sopir kantor yang jemput."


"Oohh. Oke."


Padahal, aku udah seneng dia bakalan pulang. Ternyata ....


"Bentar lagi, ya ... tungguin."


"Jangan makan duluan, lho," ancamku.


"Iya ... aku nungguin kamu, kok. Walaupun sampai sore juga, aku makan siangnya nunggu kamu."


"Mulai ... deh, gombal." Aku menahan senyum. Sudah berkali-kali di gombalin juga, masih saja hatiku berbunga-bunga mendengarnya. Ah, aku memang sereceh itu.


"Aku serius."


"Iya ... iya .... Aku percaya. Udah ya, entar malah telat makan siangnya. Aku lanjutin siap-siap lagi."


"Sampai ketemu di kantor. Dandan yang cantik."


"Mas Adrian ...!"


"Enggak usah, entar banyak yang naksir kamu lagi. Kamu cuma milikku."


Ya ampun! Orang ini, ngeselin banget, sih. Wajahku panas mendengarnya.

__ADS_1


"Daah." Aku memilih untuk tidak menanggapinya. Bisa sampai besok juga, lelaki itu bakalan tahan untuk terus melancarkan rayuan gombalnya.


Untung sayang. Eh.


Aku segera menyelesaikan pekerjaanku. Lantas berganti pakaian, dan memakai make-up tipis.


Aku telah berdiri di depan gerbang menunggu jemputan. Tidak berapa lama, mobil jemputanku akhirnya datang juga.


Dari sini tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai ke kantor. Enggak sampai satu jam perjalanan, aku telah berada di depan gedung tinggi ini.


Gedung yang aku kira milik Bang David seorang, ternyata ini juga milik Mas Adrian juga.


Banyak hal yang belum aku ketahui, tentu aku akan bersabar mengungkap semua kebenaran yang ada.


Sampai di meja resepsionis, aku langsung menyapa dan bertanya keberadaan Mas Adrian. Siapa yang menyangka, jika wanita itu masih mengenaliku.


"Eh, kamu Hana, kan? Yang dulu pernah bekerja di sini. Ada perlu apa cari Pak Adrian?" tanyanya dengan senyum ramah dan wajah penuh penasaran.


"Oh itu ... hmmm." Aku bingung harus menjawab apa. Karena, aku sendiri belum tahu apakah Mas Adrian telah mengumumkan tentang statusku. Karyawan kantor sudah tahu atau belum tentang status pernikahan kami?


Atau ... Mas Adrian juga menyembunyikan status pernikahan kami?


Seketika, serasa ada yang mencubit dadaku. Hatiku sakit.


Aku semakin gugup.


Aku yakin, wajah ini telah pucat.


"Hana." Aku menoleh mendengar seseorang yang memanggilku dari arah belakang.


Sial. Bang David tersenyum miring menatapku. Tatapan matanya seperti singa yang akan menerkam mangsanya.


Aku berdiri merapat pada meja resepsionis, tangannku memegang erat rantang yang aku bawa.


Sejenak mataku terpejam, memanggil Mas Adrian dalam hati. Jika saja, lelaki itu mendengar seruanku.


"Kamu ngapain ke sini?" Langkah Bang David mendekat, hingga jarak kami hanya beberapa jengkal saja.


"Me-nemui suamiku." Aku menjawab pelan.


"Kau takut padaku?" Bang David tersenyum miring.


"Enggak."


"Aku sudah melamar adik kesayangnmu, Ann. Dia sangat bahagia."


Aku hanya diam, tidak menanggapi ucapannya. Aku masih menunggu kalimat apa yang selanjutnya akan keluar dari mulutnya.


"Apa kau tidak bahagia mendengar kabar ini? Apa kau masih cemburu?" tanyanya terdengar seperti menggoda.


"Tentu saja aku bahagia. Semoga saja, Bang David serius dengan Alina."


"Hahahaha." Dia tertawa terbahak, sampai menjadi perhatian karyawan yang lewat.


"Tentu saja aku serius. Aku akan --"


"Anna. Kamu sudah sampai, Sayang?" Mataku menoleh ke depan, tampak Mas Adrian berjalan mendekat ke arah kami.

__ADS_1


Tampak Bang David mendengus sebal. Syukurlah, suamiku datang. Aku bernapas lega.


"Lu kenapa Boss, di sini?" tanya Mas Adrian curiga. "Kalian enggak sedang reuni, kan?"


"Suka-suka gua mau ke mana." Bang David menjawab ketus.


"Lu, lupa. Lu sedang berdiri di depan bini gua?" Mas Adrian berbicara sembari merangkul bahuku, posesif. Seperti menunjukkan hak kepemilikan kepada siapa saja yang melihat kami.


"Enggak." Bang David masih menjawab dengan ketus. Tampak matanya berubah merah seperti diliputi amarah.


"Bagus, dong. Kalau lu ingat Anna istri gua." Lantas Mas Adrian menghadap meja resepsionis. "Kalau Bu Anna datang, langsung minta ke ruangan saya. Mengerti." Mas Adrian berbicara tegas pada karyawannya.


"Baik, Pak." Karyawan itu menjawab gugup. Tatapannya beralih padaku seakan meminta penjelasan.


"Dia istri saya." Mas Adrian seolah mengerti maksud tatapan karyawannya itu.


Wanita itu melotot, tak percaya apa yang dikatakan Mas Adrian. Bisa juga karena terkejut mengetahui kenyataan jika aku istrinya Mas Adrian. Kemudian, dia pun mengangguk hormat.


Sedangkan Bang David masih berdiri mematung di tempatnya, entah apa yang dipikirkannya. Ekspresi wajahnya berubah datar. Aku tidak bisa menebak jalan pikirannya.


"Oke, Bro. Gua duluan, mau makan bareng istri tersayang." Mas Adrian menepuk bahu Bang David dua kali. Lalu mengajakku menuju ruang kerjanya.


"Ck." Bang David terdengar berdecak tidak suka.


Aku memilih mengabaikan respon lelaki itu.


Kami berjalan beriringan, dengan tangan yang saling menggenggam. Satu tanganku membawa rantang. Satu tangan Mas Adrian masuk ke dalam saku celananya.


Mas Adrian terlihat sangat tampan dengan pakaian kerjanya.


Kami memasuki lift khusus direktur kantor ini. Rasanya bahagia, canggung sekaligus malu.


Sedangkan Mas Adrian tampak cuek saja, sesekali dia tersenyum saat aku kedapatan mencuri pandang padanya lewat bayangan pintu besi itu.


Setelah sampai di ruangannya, sekertarisnya menyapa kami dengan ramah. Mas Adrian membalas sapaannya dengan ramah pula.


Kami masuk, lalu duduk di sofa.


"Aku, sudah sangat lapar. Membayangkan masakanmu yang nikmat membuatku tak ingin melakukan apapun."


Aku tersenyum menanggapi ucapannya, tanganku sibuk membuka rantang dan menyiapkannya di meja.


"Masakanmu memang juara."


"Terima kasih."


"Sama-sama."


"Mas ...."


"Hmmm?"


"Mas, selalu gombal begitu ya?"


"Apa kamu mau mau, aku gombalin wanita lain?"


"Jangan!!" jeritku dengan wajah ditekuk.

__ADS_1


Lantas Mas Adrian mencubit hidungku gemas.


__ADS_2