Suamiku Mencintai Adikku

Suamiku Mencintai Adikku
Bab. 46


__ADS_3

Kami sarapan dalam diam. Sesekali, Alina tampak melirik ke arahku. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Kalau saja di google ini ada kunci membaca pikiran, sudah tentulah isi dalam kepala Alina yang pertama kali akan aku buka.


Mau tahu, Alina mengenakan pakaian apa hari ini?


Iyap, dia tidak jadi mengenakan pakaian yang aku pilihkan.


Tentu saja, Alina memakai gaun yang pas di badannya, dengan panjang di atas lutut, menampakkan kulit mulus di kakinya yang jenjang.


Sedangkan aku, mengenakan gaun di bawah lutut. Kata Mas Adrian, dia tidak suka kalau aku memakai pakaian yang terlalu minim. Gaun yang aku menekan ini, tentu saja pilihannya.


Sebagai istri, tentu saja aku harus mengikuti kata suami, kan?


"Mau tambah lagi, Mas?"


"Enggak. Makasih, Sayang."


Tidak banyak percakapan di antara kami saat makan. Kami sibuk menikmati sarapan masing-masing.


Terdengar suara ponsel yang memecahkan keheningan di meja makan ini.


"Halo, iya Bang." Sepertinya Bang David yang menghubungi Alina. Matanya tampak berbinar, sesekali melihat ke arah kami yang memperhatikannya.


"Iya, udah selesai kok."


" ...."


"Jadi, dong."


"...."


"Iya, barengan Kak Anna boleh."


"...."


"Dah, Abang. Sampai ketemu di kantor."


Setelah obrolan mereka mati. Mas Adrian segera berdiri, menggandeng tanganku agar mengikutinya.


Lantas kami pun berjalan beriringan keluar rumah, menuju mobil yang masih terparkir di garasi.


Alina menyusul di belakang.


Mas Adrian mengambil mobilnya, sesampainya di depan pagar. Kami pun menyusulnya.


Aku tentu saja duduk di kursi penumpang bagian depan, disusul Alina yang duduk di kursi belakang.


Mas Adrian memasangkan sabuk pengaman untukku. Tidak hanya memasang, lelaki itu juga mencuri ciuman di bibir.


Aiissh, sempat-sempatnya sih. Buat malu saja, dan ... memunculkan bunga-bunga di hatiku.


Mas Adrian tampak mengulum senyum, lalu berkata pelan.


"Sudah siap semuanya. Let's go!" Mobil melaju meninggalkan rumah, menuju jalanan yang padat merayap.

__ADS_1


Sesampainya di kantor, lelaki itu menggandeng tanganku.


"Aku tunggu di sini aja, Kak. Nanti Bang David jemput ke bawah," ucap Alina saat aku mengajaknya naik ke atas.


Aku menoleh Mas Adrian meminta tanggapan. Suamiku itu mengangguk dengan seulas senyum di bibir.


"Oke. Kami naik ke atas duluan, ya." Setelah berpamitan, kami pun menuju lift.


Mas Adrian tidak sedetik pun melepaskan tautan tangan kami. Aku tak bisa berkutik dibuatnya. Padahal, aku sendiri agak merasa malu saat beberapa karyawan memerhatikan kami.


Tampaknya, semakin ada uang memerhatikan kami. Semakin Mas Adrian mengeratkan genggamannya. Sesekali, tangannya yang menganggur mengelus pipiku lembut.


Aahh, entah bagaimana rupaku saat ini. Malu, senang bercampur menjadi satu. Memunculkan rona merah di kedua pipi.


Aku menunduk, menyembunyikan rasa malu yang membahagiakan.


Sesampainya di ruangan kebesarannya, Mas Adrian semakin mempercepat langkah.


Menyapa sekretarisnya, lalu masuk ke ruangan.


Setelah menutup pintu tinggi itu, barulah Mas Adrian melepaskan tautan tangan kami. Dia meletakkan kedua tangannya di bahuku, lalu meremasnya pelan.


"Tunggu di sofa itu ya, atau kalau mau ke kursi sana juga boleh." Mas Adrian menunjuk sofa, lalu jarinya beralih menunjuk kursi kebesarannya.


"Makasih." Aku berujar seraya tersenyum semanis mungkin.


"Duh cantiknya, istri siapa, sih?" Mas Adrian mencubit kedua pipiku, gemas.


"Suamimu kerja dulu ya sayang." Setelah mengecup bibirku sekilas, Mas Adrian menuju meja kerjanya. Sedangkan aku duduk di sofa, bermain ponsel.


Aku jadi ingat saat pertama kali bertemu dengan Mas Adrian. Kala itu, untuk interview. Dia tampak ramah dan ... baik.


Tidak menyangka, jika lelaki itu malah telah menjadi suamiku sekarang.


Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunanku. Aku menoleh ke sumber suara.


Tampak seorang wanita masuk membawa berkas di dada, berjalan anggun dengan senyum yang dipertahankan di wajahnya. Sebelum menuju meja sang atasan, wanita itu menyempatkan diri menoleh ke arahku. Dia mengangguk sebentar, lalu beralih ke arah meja Mas Adrian.


"Permisi, Pak. Ini berkas-berkas yang harus Bapak periksa." Wanita itu menyodorkan map-map yang dibawanya.


Duh, saat berbicara saja hatiku ketar-ketir mendengarnya. Apa mungkin, Mas Adrian tidak pernah tertarik dengan wanita itu? Padahal, mereka telah bekerja dan saling mengenal satu sama lain lebih lama dibandingkan aku.


Bahkan, wanita itu juga kan yang mengatur semua jadwal Mas Adrian selama di kantor. Aku yakin,dia juga tahu apa kebiasaan suamiku itu. Sampai ke makanan favorit dan mungkin juga tahu tentang masa lalunya.


Menyadari itu, aku langsung membekap mulut dengan kedua tangan. Apa yang aku pikirkan?


Apa masalahnya, sekretaris nya tahu tentang atasannya. Yang penting, Mas Adrian sekarang adalah suamiku. Aku memiliki waktu yang lebih banyak untuk mengetahui segala sesuatu tentang lelakiku itu.


"Makasih. Kamu boleh pergi." Mas Adrian berucap datar, tidak ada yang aneh dengan nada bicaranya.


Wanita itu keluar, seperti tadi, dia mengangguk kepadaku dengan seulas senyum yang masih tertahan di bibir.


"Oh ia, May. Ambilkan istri saya minuman, ya. Beserta camilannya."

__ADS_1


Wanita itu menoleh mendengar perkataan Mas Adrian. Lalu mengangguk tanpa menjawab. Kemudian keluar ruangan ini.


Aku berdiri, mendekat pada Mas Adrian yang kembali serius dengan berkasnya.


"Kamu udah bosan?" tanyanya. Kepalanya mendongak, meninggalkan sejenak tumpukan berkas di hadapannya.


Aku menggeleng, langkahku terus berjalan mendekat padanya. Sampai di belakang Mas Adrian, aku merengkuh pundaknya. Membelai rambutnya, mencium aroma khas dari tubuhnya.


"Mas kerja aja. Aku enggak bakalan bosan, kok," bisikku pelan tepat di telinganya.


Mas Adrian mengelus tanganku yang merengkuhnya. Dia tidak bersuara, pandangannya kembali fokus pada berkas-berkas tersebut.


"Kamu enggak pegel begini terus?" tanyanya pelan.


"Hmmm." Aku menggeleng pelan, lantas mengeratkan rengkuhanku.


"Aku yang pegal, Sayang." Mas Adrian mengurai pelukanku. Lantas memutar kursinya menghadap padaku.


"Maaf." Sedetik kemudian aku tersentak kaget. "Aww." Lelaki itu meraih tubuhku untuk duduk di pangkuannya.


Mas Adrian meletakkan kepalanya di ceruk leherku. Hembusan napasnya membuatku merinding.


"Mas."


"Hmm?"


"Tadi, saat Alina masuk ke kamar kita. Mas Adrian tahu enggak?"


"Kapan?"


"Oohh."


Mas Adrian mengangkat kepalanya. "Ada apa?"


"Itu, tadi pas Alina masuk ke kamar kita. Mas Adrian tahu enggak?"


"Oohh, tadi pagi."


Aku mengangguk. "Iya."


"Iya, tahu," jawabnya santai.


"Ta-tahu. Maksudnya tahu?" Keningku berkerut mencerna kata-kata Mas Adrian.


"Iya, aku tahu saat Alina ada di kamar kita. Makanya tadi aku kaget, terus masuk ke kamar mandi lagi. Malu, dong. Masak keluar pas aku cuma pakai handuk doang," lanjutnya kemudian.


Aku merasa lega. Entah karena apa, tapi aku merasa lega.


"Terus?"


Mas Adrian diam sejenak, sepertinya berpikir sesuatu.


"Enggak ada. Terus apa lagi?"

__ADS_1


"Enggak ada juga."


__ADS_2