Suamiku Mencintai Adikku

Suamiku Mencintai Adikku
Bab. 65


__ADS_3

Di rumah ini hanya tinggal kami bertiga. Bang David kembali ke Jakarta lebih dulu. Tidak ada perbincangan uang berarti antara aku dengan lelaki itu, sebab setiap kali bertemu dengannya aku selalu menghindar. Tidak enak rasanya mengobrol hal gak penting lagi, toh, di antara kami memang sudah tidak ada yang perlu dibicarakan kan?


Rencananya, dua hari lagi aku dan Mas Adrian akan kembali. Sebenarnya banyak hal yang harus suamiku itu kerjakan. Terbukti dari banyaknya telepon yang masuk ke ponselnya. Hanya saja, dia masih mau bertahan di sini menemaniku.


Aku sendiri belum bisa langsung meninggalkan rumah ini, rasanya masih berat sekali.


Akhirnya, secara tidak langsung aku telah mengorbankan pekerjaan Mas Adrian. huft.


Pagi ini, rasa rindu pada sosok ibu kembali hadir tanpa mampu di bendung. Setelah berpamitan pada Mas Adrian, aku pindah ke kamar ibu.


Sesampainya di kamar ibu, aku langsung merebahkan diri di ranjangnya. Wangi khas wanita yang telah melahirkanku itu masih sangat kental tercium.


Rasanya, aku tengah tidur dalam pelukan ibu yang hangat. Tidak menunggu lama, mataku terasa berat. Lantas aku pun tertidur entah untuk berapa lama.


Mataku terbelalak lebar, saat terdengar suara keributan di luar. Lantas, aku pun segera berdiri memeriksa keadaan di sana. Mencari sumber suara keributan itu, ternyata berasal dari kamarku.


Ada apa?


Aku berjalan cepat, demi melihat apa yang terjadi. Tampak di dalam Mas Adrian dan Alina sedang adu mulut.


"Berhentilah, Alina. Aku sama sekali tidak tertarik padamu. Apa yang terjadi denganmu sampai memiliki kelakuan yang sangat tidak baik," ucap Mas Adrin dengan tatapan tajam.


Awalnya, aku ingin segara membuka pintu kamar itu. Memergoki keduanya, melihat dengan terbuka apa yang telah terjadi.


Namun, perkataan Mas Adrian menghentikan niatku. Aku ingin tahu sebelum mereka tahu keberadaanku sekarang.


"Apa jadinya jika Anna tahu kelakuanmu itu. Aku selalu menahan diri untuk tidak berlaku kasar padamu. Tampaknya, kamu semakin tidak memiliki aturan," lanjut Mas Adrian.


Di mana Alina?


Aku membuka lagi sedikit lebar pintu kamar dengan hati deg-degan. Ya Tuhan! Alina!


Adikku itu tengah berdiri di dekat lemari dengan pakaian yang ... ah. Membuat mataku serasa sakit. Apa maunya sebenarnya?


"Mas, aku cuma mau mengucapkan terimakasih karena Mas telah membayarkan rumah itu," ucap Alina dengan nada mendayu manja.


Langkahnya mendekat pada Mas Adrian yang masih duduk di ranjang dengan tubuh menegang.

__ADS_1


"Aku melakukannya karena memikirkan Anna. Agar kau tidak mengganggunya lagi. Sudah cukup kamu menghancurkan hidupnya, Alina. Dan sekarang malah berniat menggodaku."


"Aku yakin, Mas cuma merasa kasihan pada Kakak perempuanku itu --"


"Cukup, Alina. Silakan keluar. Aku enggak bisa bayangkan jika Anna mengetahui kelakuanmu itu. Cukup aku menutupi kebusukanmu saat di rumah kami, kamu masuk ke kamarku berpakaian seperti *******. Lalu sekarang mau mencobanya lagi. Aku sudah muak melihat wanita-wanita berpakaian seperti kalian. Aku hanya butuh Anna."


"Mas, aku hanya ... hanya mencoba membuka matamu. Kak Anna itu bukan wanita baik. Hidupnya penuh topeng," ucap Alina dengan menggoda.


Ya Tuhan! Dadaku seolah ditimpa batu besar. Sakit sekali rasanya.


Apa salahku padamu, Dek?


"Keluar!" tegas suara Mas Adrian mengusir Alina. Bukannya segera keluar dari kamar. Alina malah semakin mendekat.


Ini tidak bisa dibiarkan.


Aku membuka pintu kamar lebar. Lalu melangkah cepat menghampiri Alina.


Mas Adrian terhenyak kaget. "Ann ... ini tidak seperti yang kamu lihat."


Aku mengangkat satu tangan, menyuruhnya berhenti bicara.


"Kak, aku cari Kakak enggak ada di kamar," ucap Alina santai. Dia melangkah mendekat padaku.


Aku tidak menyangka, adik kesayanganku ini tega menusukku dari belakang.


Satu tamparan keras mendarat mulus di pipinya. Belum puas dengan satu wajah, kutampar lagi di pipi sebelahnya.


"Kak, apa yang Kakak lakukan?" desis Alina dengan mata merah berkaca-kaca.


"Apa masih kurang Alina? Sepertinya Kakak terlalu bersikap lembut padamu. Kamu berubah, atau ini memang watak aslimu," ucapku dengan mata menyorot tajam.


Ujung mataku melirik Mas Adrian yang duduk dengan tubuh menegang. Tampaknya dia tidak menyangka jika aku malah menampar Alina.


Lantas, Mas Adrian beringsut dari ranjang melangkah mendekat padaku.


Tubuhku menegang saat lelaki itu memeluk tubuhku erat.

__ADS_1


"Maafkan aku. Seharusnya bisa lebih tegas menghadapi adikmu. Ingat kondisimu, kasihan anak kita kala Mamanya marah," lirihnya sembari merengkuh tubuhku erat.


Mas Adrian melonggarkan pelukan, lalu menoleh pada Alina. "Keluarlah, Dek," ucapnya pelan dengan suara ditekan.


"Aku benci Kakak. Semua orang menyayangi Kak Anna. Ibu bahkan selalu membanding-banding aku dengan Kakak!" Alina menangis histeris. "Kakak juga telah menghancurkan kebahagiannku. Pura-pura tidak kenal dengan lelaki yang aku cintai dulu, seharusnya Bang David melamarku. Tapi Kakak merayu ibu agar menyuruhnya melamarku," lanjutnya tergugu.


Jadi, ini masih tentang yang dulu. Betapa banyak kesalahan yang aku lakukan untuknya. Sehingga membuatnya seperti ini.


"Dek, kita sudah membicarakannya. Kejadian itu murni kesalahpahaman. Lagi pula, kalian tetap berhubungan walau kami terikat pernikahan, kan?" elakku.


Mas Adrian merengkuh bahuku erat. Tidak membiarkanku mendekat pada Alina untuk menenangkannya.


"Aku enggak mau terjadi apa-apa sama kalian," bisiknya.


"Kakak jahat! Apa Kaka Anna sedang mencoba melampiaskan semua kesalahan padaku?"


"Tidak ... sama sekali tidak." Aku menggeleng. "Aku sangat menyayangimu, ingin melihatmu bahagia. Tapi tidak dengan cara begini, itu salah. Berhubungan dengan lelaki yang menjadi suamiku itu salah, Dek."


"Omong kosong. Jelas-jelaa Kakak yang merusak kebahagiaanku," protesnya.


"Apa kamu bahagia dengan hidup seperti ini? Apa kamu bahagia melihatku menderita?"


Alina dia, matanya yang tajam penuh kebencian kini berubah sendu. Tampak terlalu banyak luka di sana. Dan aku menjadi penyebab luka itu semakin lebar untuknya.


"Jika salah satu di antara kita ada yang terluka, tidak akan ada yang bahagia di antara kita, Dek. Kita saudara, tidak akan ada kebahagian di atas penderitaan orang lain," Aku berkata pelan. Berusaha berbicara dengannya dari hati ke hati. "Kita terlahir dari rahim yang sama. Sudah seharusnya saling menjaga. Kakak telah melepaskan Bang David untukmu. Kalian saling mencintai, raih kembali cinta kalian."


Alina tertunduk, air matanya mengalir deras. "Mamanya Bang David tidak menyukaiku," ucapnya di sela Isak.


"Dia belum mengenalmu. Kamu wanita yang baik, dan akan tetap menjadi adik terbaik Kakak."


"Tapi perasaan Bang David telah berubah, Kak."


"Dia hanya merasa menyesal karena pernah menyakiti orang lain. Dia masih mencintaimu, percayalah."


"Benarkah?"


Aku mengangguk mantap. Lalu mendongak meminta persetujuan Mas Adrian untuk mendekat pada Alina.

__ADS_1


Mas Adrian mengangguk, lalu melepaskan rengkuhannya di bahuku.


Aku mendekat Alina, memeluknya erat. "Kamu tetap yang terbaik. Kita harus meraih bahagia tanpa menyakiti orang lain," ucapku dengan tangan mengelus punggungnya.


__ADS_2