
Aku telah sampai di rumah.
Perasaanku lebih damai di kamar ini. Tentu saja, siapa, sih, yang mau dirawat di rumah sakit. Walaupun di sana mungkin dengan semua fasilitas yang memadai, tapi tidak ada tempat yang lebih nyaman selain rumah sendiri.
"Kak, aku masuk kamar, ya ... Kak Anna istirahat aja," ucap Alina pelan setelah membantu menyelimuti tubuhku.
Adikku itu tadi ikut kami pulang ke rumah, tidak bersama Bang David.
Sebenarnya, aku masih bertanya-tanya alasan Mama menunda pernikahan mereka. Tapi, sudahlah ... toh anaknya itu sudah dewasa.
Biarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri. Lebih baik aku fokus pada kehamilanku saja.
"Terimakasih, Dek," ucapku lirih.
Lalu Alina pun keluar kamar.
Tidak berapa lama kemudian, Mas Adrian memasuki kamar. "Mas hari ini ke kantor, ya?" tanyanya pelan.
Aku mengangguk, lalu tersenyum semanis mungkin padanya.
Suamiku itu melangkah mendekat, lalu duduk di bibir ranjang. Tangannya terulur mengelus kepalaku. "Nanti, kalau ada apa-apa. Langsung telepon ya ...," ucapnya pelan. Lantas kepalanya menunduk mencium keningku. Tangannya beralih mengelus perut rataku. "Jagain Mama ya, Sayang. Papa kerja dulu," ucapnya pelan di atas perutku. Lalu mengecup perut itu lama, seolah si jabang bayi telah lahir kedunia.
Ah, istri mana yang tidak meleleh hatinya mendapatkan perlakuan manis darimu, Mas?
Aku mengelus pucuk kepalanya, lalu menyisir rambutnya pelan dengan jemariku.
Aku ingin menyalurkan rasa sayang yang kupunya. Dan, aku ingin dia tahu. Betapa kami amat menyayanginya.
"Hati-hati ya, Mas," ucapku lirih.
Mas Adrian mengangguk lalu mengecup bibirku singkat. Ah, rupanya tidak hanya sampai di situ. Dia mengulum bibirku lama. Sampai aku melingkarkan kedua tangan di lehernya.
"Jangan banyak pikiran," ucapnya dengan suara berat .
Aku mengangguk dengan dada yang naik turun, napasku tersengal.
Setelah kepergian suamiku itu, aku melanjutkan istirahat. Tidak beranjak sedikit pun dari ranjang.
Hari semakin siang, tidak ada tanda-tanda chat ataupun panggilan masuk di ponsel. Perutku mulai terasa lapar.
Aku meraih ponsel, lalu mencari kontak Mas Adrian. Namun, pikiranku berkelana pada ibu. Lantas, aku mengurungkan niat menghubungi suamiku. Dan memilih menghubungi nomor ibu.
Satu panggilan tidak terjawab.
Dua kali.
Sampai pada panggilan ke tiga, barulah mendapat respons.
"Halo, ibu. Apa kabar? Lagi sibuk, ya?"
"Halo, Ann. Iya, tadi lagi di kamar mandi," terdengar suar kekehan ibu dari seberang sana.
"Ibu, aku mau mengabarkan berita gembira. Anna hamil, Bu," ucapku antusias.
"Senangnya. Selamat, ya! Jaga baik-baik, itu titipan." Ibu berbicara dengan nada riang.
Membayangkan wajah tuanya yang bahagia. Aku tersenyum puas.
__ADS_1
"Iya. Doakan lancar ya, Bu. Kapan ibu ke sini?"
"Nanti kalau pas senggang, ibu ke sana. Yang penting kalian sehat semua ya. Gimana adikmu, udah lama enggak menelepon Ibu?"
Jadi, Alina tidak pernah bertukar informasi dengan ibu, sejak kapan?
"Nanti Anna sampaikan, kalau ibu mencarinya. Dia sedang di kamarnya," jawabku pelan.
"Jaga adikmu ya, Ann," pesan ibu.
"Iya, Bu."
"Semoga pernikahanmu langgeng dan kamu bahagia selalu. Maafkan ibu yang pernah membuatmu kecewa," ucap ibu lirih.
Ah, Ibu kenapa perkataannya seperti pesan terakhir begini?
Aku jadi was-was.
"Iya, Bu." Mataku mulai terasa panas. "Maaf jika belum bisa membahagiakan ibu, ya?" Air mataku turun membasahi kedua pipi.
"Kamu tetap menjadi anak yang terbaik." Suara ibu terdengar bergetar.
"Ibu, menangis?" tanyaku panik.
"Ibu menangis bahagia. Karena sebentar lagi akan memiliki cucu. Rasanya senang sekali, dan ingin cepat-cepat melihatnya. Semoga ibu diberi umur panjang untuk bisa menggendongnya," ucap ibu terisak.
"Ibu, kenapa bicara begitu? Tentu saja ibu akan menggendongnya. Tahun depan kita akan melihat bayi ini," ucapku penuh harap.
Aku berusaha menghibur wanita yang telah melahirkanku itu.
"Aamiiinn. Kita tidak ada yang tahu sampai kapan umur ini masih di badan. Namun, ibu selalu berdoa kamu akan selalu bahagia sampai nanti, Ann."
Entah apa lagi yang bisa aku ucapkan. Rasanya kepala dan hatiku telah penuh oleh nasihat ibu. Jika saja bisa, aku ingin memeluk wanita tua itu sekarang juga. Sayangnya, raga kami tersekat oleh ruang yang sangat jauh.
"Ibu kapan mau ke sini. Nanti, Anna bilang sama Mas Adrian?"
"Ibu ingin kalian saja yang pulang, kita kumpul bersama. Ajak Alina juga, ya?"
"Baiklah. Tentu. Nanti akan aku sampaikan padanya. Ibu merindukannya, bukan?"
"Ibu merindukan kalian. Oh iya, nanti ibu transfer sejumlah uang yaa untuk kos Alina. Jangan sampai dia tinggal bersama kalian terus. Anak itu sudah dewasa, sudah sepantasnya dia menjaga diri sendiri. Tolong awasi dia, ya!"
"Ibu, tidak perlu mengirim uangnya, Bu. Nanti Anna carikan," ucapku pelan.
"Tidak perlu, Alina masih tanggungan ibu. Dia belum menikah, nanti kamu kalau mau membantu tidak apa-apa. Ya sudah , ya. Ibu masih ada kerjaan. Nanti kelamaan teleponannya."
"Ah, baiklah. Aku rindu ibu."
Tanpa ada balasan lagi, ibu memutus sambungan telepon kami.
Aku menghela napas berat. Pesan-pesan yang ibu sampaikan tadi seolah menjadi wasiat saja.
Tiba-tiba aku merinding, takut.
Bagaimana jika?
Tidak-tidak. Kutepis bayangan buruk itu jauh-jauh. Lalu segera menghubungi kontak Mas Adrian. Ternyata nomor lelaki itu tidak aktif. Lalu, aku pun mengirimkan pesan padanya.
__ADS_1
'Mas, siang ini pulang enggak?'
Huft. Centang satu. Tentu saja, nomornya saja tidak aktif.
Ah, kenapa aku tidak meminta nomor sekretarisnya, sih?
Aku beranjak dari ranjang. Berjalan gontai menuju kamar mandi.
Perutku terasa perih karena lapar.
Lalu aku menuju dapur, melihat stok bahan masakan di sana. Kosong.
Aku mengetuk kamar Alina.
"Alina!"
"Alina!"
Hingga beberapa kali ketukan dan panggilan, adikku itu tidak ada suara sedikit pun.
Aku menggerakkan handel pintu, mencoba membuka kamarnya. Ternyata terkunci.
Merasa putus asa, aku pun kembali ke kamar.
Lalu menempatkan diri di ranjang.
Waktu menunjukkan jam satu siang. Tidak ada tanda-tanda suara mobil Mas Adrian datang. Begitupula dengan kamar Alina.
Kemudian, aku memilih memesan makanan di aplikasi saja.
Menunggu makanan datang dengan berbaring, sungguh membosankan.
"Kenapa lama sekali, sih?" gerutuku.
Berkali-kali aku melihat jam dinding, sampai tiga puluh menit kemudian barulah makanan yang aku pesan datang.
Setelah menerimanya, kau segera menuju meja makan.
Nyatanya, melihat gambar di aplikasi dengan seleraku saat ini sangat berbanding terbalik. Aku tidak berselera makan menu tersebut.
Lantas, aku kembali ke kamar.
"Mau makan apa, Sayang?" Aku mengelus perutku, dan berbicara pada janin itu.
Tidak ada makanan yang terlintas dalam benakku. Semuanya terasa tidak berselera di mulut.
Aku membuka ponsel dan mendapatkan notifikasi adanya pesan masuk.
Aku sangat bersemangat membuka pesan itu, berharap dari Mas Adrian.
Saat membukanya, betapa terkejutnya aku mendapati gambar yang tidak aku inginkan.
Mas Adrian tengah makan di sebuah restoran dengan seorang wanita cantik berpakaian seksi, Marisa.
Ponselku terjatuh ke lantai.
Lalu aku segera menghubungi nomor kontak yang mengirimkan Poto tersebut.
__ADS_1
"Halo,"
"Apa maksudmu mengirimkan poto-poto itu?"