Suamiku Planet Es

Suamiku Planet Es
BAB 9 ( Pengalaman Ciuman Pertama )


__ADS_3

***


Dirumah keluarga Rahardian , Dinda duduk di taman sedang melamun memikirkan Tiar yang tadi ia tabrak.


"Hey kamu kenapa?" Tanya Susan yang tiba* muncul dari belakangnya sambil merampas makanan Dinda


"Apasih bikin kaget saja." Omel Dinda


"Yeee tadi aku udah manggil kamu berkali* tapi kamu ngga jawab, ya aku samperin aja." Jelas Susan


"Kamu kenapa si bengong gitu. Ntar kesambet barutau rasa loh.. aku ntar yang payah ngobatin kamu." Jelas Susan


"Siapa juga yang bengong. Emang kalo aku kesambet kamu bisa ngobatin? Gimana caranya kok kamu ngga pernah cerit." Tanya Dinda


"Caranya yaa tinggal ambil air putih baca komatkamit terus buat kumur." Jelas Susan cepat


"Kamu kira abis sikat gigi buat kumur." Celetuk Dinda


"Yaa teruskan semburin ke muka kamu... bwahahahahahah " Lanjut Susan asal


"Aku kira betulan." Kata Dinda ketus


"Mana Dania." Tanya Dinda


"Lagi sama mbok yem tadi. Katanya mau diajak tidur." Jelas Susan


"Iya yaa udah malem." Sahut Dinda


"Kamu lagi mikirin apa si? Kok sampe bengong gitu." Tanya Susan penasaran


"Tadi siang aku belum minta maaf sama si beku." Ucap Dinda dengan rasa bersalah diwajahnya,


"Si beku? Siapa dia?" Tanya Susan penasaran karena seingatnya Dinda tak pernah menceritakannya sebelumnya


"Laki* yang aku tabrak waktu pertama masuk sekolah." Ucap Dinda cepat


"Jadi tadi laki* brengsek waktu itu. Coba kamu bilang dari tadi, pasti dia udah aku jadiin rempeyek dia!" Dengus Susan kesal.


Karena kejadian itu Dinda dikelas pingsan beberapa kali. Tapi dia cuma bilang karena sedang menstruasi jadi pingsan. Hanya Susan yang tau sebab sebenarnya.


Dinda menceritakan kejadian sore tadi kepada Susan. Setelah itu mereka beristirahat di kamar masing* karena hari ini cukup melelahkan, apa lagi mereka harus bergantian menggendong Dania.


***


Hari ini Dinda dan Susan menyiapkan banyak keperluan, bukan keperluan Dinda untuk pergi ke Luar Negri. Namun untuk pesta kecil Ulang Tahun Dania yang ke 3 tahun. Seharusnya hari ini Dinda berangkat ke Amerika, tapi niatnya ia kurungkan dan lusa baru kesana.


Sedari pagi mereka sibuk menata ruang keluarga dengan cantik. Semua bertema Biru Muda. Setelah selesai mendekor ruang, Dinda membersihkan diri dan akan pergi ke toko mainan untuk membeli kado adiknya. Dia memilih diantar supir karena dia sudah terlalu lelah. Saat di toko mainan dia bertemu Daniel disana.


"Kak Daniel." Sapa Dinda ramah

__ADS_1


"Ehh Ayana. Kamu mau cari apa?" Tanya Daniel


"Aku mau beli hadiah buat Dania." Jelas Dinda sambil memilih boneka dan beberapa mainan berwarna biru. Daniel hanya membuntutinya


" Kak Daniel cari apa?" Tanya Dinda


"Saya mau cari bantal yang untuk leher, kayaknya ini saya salah bantal jadi susah nengok." Jelas Daniel malu*


"Salah bantal... lagian bantal pak lurah dipakek aja. Makanya besok* bilang sama tu bantal jangan kemana* biar ngga salah bantal lagi." Canda Dinda


"Iya nanti bantalnya aku namain aja biar ngga salah, kasian disalahin terus. Banyak banget belinya. Kamu punya adik berapa memang?" Kata Daniel penasaran karena keranjang Dinda sudah penuh


"Hari ini Dania ulangtahun. Aku membelikan hadiah untuknya." Jelas Dinda singkat


"Ohhyaa.. apa kakak boleh menitipkan sesuatu." Ucap Daniel ragu


"Bolehlah kenapa tidak. Kan jadi banyak hadia buat Dania." Jawab Dinda enteng membuat Daniel bersemangat memilih boneka. Dia memilih boneka paling besar.


Setelah membayar semua belanjaan, Daniel memberikan hadiahnya untuk Dania. Dia juga memberi beberapa hadiah lain.


"Titip salam ku untuk Dania." Ucap Daniel singkat sambil berlalu pergi


"Iya makasih kak." Teriak Dinda


Saat Dinda akan kembali ke mobil dia kesusahan dengan semua barang yang ia bawa. Dinda tersandung, dia hanya memejamkan mata sambil berteriak. Namun sebelum dia jatuh kelantai ada seorang pria yang menarik tubuhnya agar tidak jatuh, pria itu tak lain adalah Tiar . Tarikannya begitu kuat membuat tubuh Dinda berada dalam pelukannya, bukan hanya itu bibir mereka kini saling bertemu.


Dinda membelalakkan matanya. Memukuli dada pria yang telah menolongnya.


"Siall! Itu ciuman pertamaku dasar breng**k kau!!" Gerutu Dinda kesal.


"Itu juga pertama kali untukku. Lagi pula aku kan menyelamatkan mu." Balas Tiar dengan senyum manisnya


"Huhh bikin sebal saja. Cepat bantu aku membawa ini semua." Perintah Dinda


"Siap boss laksanakan." Jawab Tiar layaknya asisten mendapat perintah bo besarnya.


Dinda lupa dia tak membawa mobil. Supir yang mengantarkannya pun sudah disuruhnya pergi. Tiar berniat mengantarnya pulang


Setelah memasukkan semua barang ke kursi penumpang belakang dia membukakan pintu untuk Dinda


"Ayo masuk aku antar." Dinda hanya menganggukinya


Tiar sudah duduk di kursi kemudi, dia mendekatkan badannya kearah Dinda. Sontak Dinda langsung menutup matanya. Tapi hanya sentilan di dahi yang ia dapat.


"Aduh." Teriak Dida tepat ditelinga Tiar


"Suaramu itu pakai toak apa? Melebihi suara kodok bernyanyi." Ucap Tiar kesal, tapi dia puas dapat mengerjai Dinda


"Kamu pasti mikir yang enggak* yaa? Aku tu cuma mau pasangin ini." goda Tair pada Dinda

__ADS_1


"Nggalah aku selalu mikir yang bukan*"ucap Dinda cepat dan langusng menutup mulutnya. "Kamu itu kenapa ngomong sembarangan si." Gerutunya pada dirinya sendiri.


"Tuhh kan udah deh ngaku aja." Goda Tiar lagi kali ini dai malah mendapat jitakan dikepalanya


"Sembarangan dasar otak beku." Celetuk Dinda


"Otak beku? Apa maksudnya. Apa itu olahan makanan?" Tanya Tiar bingung dengan yang disebut Dinda


"**** kok dipelihara! Dasar otak beku." Ucap Dinda lagi


Tiar hanya diam mendengarkan ocehan Dinda, dia sudah melajukan mobilnya menembus kemacetan kota sore itu. Karna para karyawan juga pulang.


***


Tadi saat Tiar ingin kembali kerumah disuruh kakaknya, dia berhenti di zebracross, dari luar dia melihat Dinda membawa banyak barang akhirnya dia masuk.


Tiba* Dinda melupakan sesuatu bahwa alamatnya adalah privasi yang sangat penting. Dia memutuskan untuk turun di pinggir jalan


"Turunkan aku di depan sana." Ucap Dinda Tegas


"Kenapa? Apa kau marah karena tadi aku mencium mu?" Tanya Tiar cemas


"Maafkan aku karna sembrono. Jujur tadi juga ciuman pertamaku." Ucap Tiar dengan mata berbinar seperti ingin menangis


"Bhwahahahahahaha" tawa Dinda tak henti"


"Kamu kok malah ketawa.. bukannya kamu marah?" Tanya Tiar bingung


"Aduh perutku sakit.. bukan itu maksud ku sudahlah berhenti dulu." Kata Dinda yang langsung dilaksanakan Tiar


"Maksud ku aku tak bisa membiarkan mu mengantar ku sampai rumah." Jelas Dinda


"Kenapa? Apa aku kurang meyakinkan?" Tanya Tiar polos menatap penampilannya sendiri


"Aduh otakmu itu beku sekali. Mikir aja susah gimana kamu bisa jadi CEO sih." Gerutu Dinda


"Kalo kamu nganterin aku sampe rumah kamu bakal ditanya 1000 pertanyaan dari orangtuaku belum lagi nenek ku yang super bawel itu." Ucap Dinda bohong


"Terus? Aku harus bagaimana? Apa kamu mau turun disini?" Tanya Tiar lagi


"Pesankan saja aku taxi online." Pinta Dinda yang langsung disetujui Tiar karena dia juga tak mau diceramahi.


Saat Tiar memesankan taxi online untuknya. Dinda mengoceh dengan ocehan yang sudah tak bisa ia tahan.


"Gini banget ketemu cowok, biasanya ketemu yang pinter matanya miring liat cewek cakep padahal tampangnya aja ngepas peres.


Ehh ini udah mulus cakep tajir oke tinggi malah otaknya beku, suka meliara **** lagi." Gerutu Dinda yang samar* didengar Tiar waktu menjelekkan dia.


"Kamu ngocehin aku ya." Tebak Tiar

__ADS_1


"Idih ogah!! Gr banget jadi orang dasar otakkbb...emh" ucap Dinda terpotong , Tiar sudah tak tahan mendengar ocehan yang keluar dari mulut Dinda dan langsung mengecup bibir mungilnya


__ADS_2