Suamiku Planet Es

Suamiku Planet Es
BAB 22 ( Melihat Sotong yang Berbeda )


__ADS_3

Tak lama kemudian Tiar keluar dari kamar mandi, tubuhnya yang telanjang dada melihatkan badan atletisnya. Air bercucuran dari rambutnya menambah ketampanannya.


Dinda menganga melihat manusia sempurna didepannya. Tiar mendekatkan wajahnya ke Dinda yang tengah duduk ditepi ranjang.


"Apa aku terlalu mempesona sampai kamu tidak bisa berkedip." Ucap Tiar menggoda Dinda.


"Ahh yang benar saya, aku cuma kaget liat kamu ngga pakai baju." Ucap Dinda bohong.


"Ohhyaa... kau yakin tak menyukaiku?" Tanya Tiar berbisik ditelinga Dinda.


Dinda tak menjawab, Tiar malah ******* bibirnya. Mendorongnya berbaring dan menindih tubuh Dinda. Ciuman mereka semakin dalam, hingga terdengar suara tangis Haikal dari bawah.


Dinda mendorong tubuh Tiar hendak menghampiri adiknya.


"Sebentar lagi." Rengek Tiar.


"Nanti aja." Ucap Dinda cepat.


"Beneran yaa nanti lagi. Yess!!" Jawab tiar senang.


Dinda bangun tetapi Tiar menarik tangannya kembali. Hingga


"Aduh.." Ucap Dinda saat kepalanya terbentur dada bidang Tiar.


Cupp... kecupan mendarat dibibir Dinda.


"Inget yaa nanti lagi." Ucap Tiar gembira.


"Apasihh!!" Dinda tersipu malu, diapun mendorong tubuh Tiar ke ranjang.


Handuk yang ia kenakan terlepas saat dia berdiri. Dinda terkejoedd kelihatnya.


"Aaaa!!!" Teriak Dinda menutupi wajahnya.


"Ada apa?" Tanya Tiar yang bingung melihat sekeliling kamarnya, dia mengira ada hantu yang datang.


"Itu sotong.." Ucap Dinda lantang.


"Sotong?" Tanya Tiar heran.


"Anu muu itu!!!" Ucap Dinda lagi.


"Ohh ini punyaku... Astagaa..." Ucap Tiar menutupi dengan tangannya. Dia baru sadar saat melihat dia hanya memakai ******.


"Kamu itu tidak tau malu! Dasar!!" Omel nya pada Tiar.


"Apa kamu kaget milihatnya? Kamu akan terbiasa melihatnya nanti setelah menjadi istriku." Jelas Tiar.


"Aku sudah terbiasa melihat itu!! Haikal pun punya bukan hanya kamu saja." Ucap Dinda ketus.


"Apaa!!! Yaa tapikan beda." Jelas Tiar lagi.


"Iya beda! Sotong punya mu besar dan dia juga mencari mangsa." Ejek Dinda berlari keluar kamar agar tak terkena amukan Tiar.


"Aapppaaaa!!!" Teriak Tiar.

__ADS_1


"Tapi yasudahlah... dia mengakuinya berarti dia akan suka. Harus mandi lagi aku." Gerutu Tiar dan kembali ke kamar mandi lagi menuntaskan urusannya.


Dinda membersihkan dirinya setelah memandikan kedua adiknya di kamar tamu. Dia mengenakan baju kebesaranya, menyiapkan makam malam untuk mereka.


Tiar beralasan tubuhnya sedang tidak enak. Dia juga memanggil temannya yang seorang dokter untuk mengkibuli Dinda. Dia ingin membuat Dinda terbiasa akan kehadirannya. Dengan terpaksa dia harus merawat Tiar.


Seminggu sudah Tiar tak kunjung sembuh, sudah satu bulan juga Orangtua nya di luar negri.


Dinda menyuruh Susan menjemput Dania untuk sekolah. Sedangkan dia harus merawat Tiar sampai sembuh.


Satria kesusahan karena setiap hari harus kerumah bosnya itu untuk menghantar berkas penting.


"Kapan kau akan masuk kerja lagi bos? Aku sangat lelah." Ucap Satria pada Tiar.


"Sampai Ayana mau denganku." Jawab Tiar singkat.


"Berusahalah lebih keras." Ejek Satria meninggalkan bosnya.


"Apa kau akan bekerja besok?" Tanya Dinda saat melihat Satria sudah pergi.


"Entalhlahh... aku belum begitu pulih. Tapi besok ada rapat jadi aku harus berangkat." Jelas Tiar.


***


Keesokan harinya, Satria sudah menjemput bosnya untuk bekerja kembali.


"Nona apa kau mau kabur?" Tanya Satria melihat Dinda membawa tas ranselnya.


"Aku ikut kalian, nanti turunkan saja aku ditaman kota, biar aku dijemput Susan." Jelas Dinda.


"Hhmmm..." jawab Tiar sebal.


Semalam Dinda membujuknya agar dia dapat kembali kerumahnya. Dengan berat hati Tiar mengiyakan kemauan Dinda.


Mobil sudah melaju menembus kemacetan, setelah satu setengah jam perjalanan mereka sampailah ditaman kota. Tiar menunggu Susan menjemput Dinda barulah dia akan pergi meinggalkannya.


"Aku pasti merindukanmu... jaga dirimu baik*." Ucap Tiar memeluk erat tubuh dinda.


"Pd banget kalo bilang seenak jidad.!" Jawab Dinda kesal.


"Byyeee sayang.. kamu pasti bakal rindu dengan sotong ku." Ucap Tiar pergi berlalu meninggalkan Dinda.


"Apa?? Jadi kamu sama dia udah itu??" Kata Susan tiba* membuat Dinda kaget.


"Enggak lah enak aja. Sah juga belum" Jawab Dinda singkat menuju mobil.


"Jadi kamu mau nikah sama dia? Apa Om Tante sudah tau?" Tanya nya lagi.


"Apasihh.. rencana juga belum. Sudah ayo cepat pulang aku capek." Gerutu Dinda tak mau membahasnya lagi.


Benar ucapan Tiar, baru dua hari kepulangannya ia sudah merindukan sosok Tiar yang selalu mengganggunya.


"Aku merindukannya, biasanya dia selalu mengganggu ku saat mereka tidur." Ucap Dinda pada Susan menatap kedua adiknya.


"Itu tandanya kamu sudah jatuh hati padanya." Jelas Susan.

__ADS_1


"Tidak. Aku hanya rindu sikapnya yang menyebalkan. Kalau mereka bangun mengganggu ku pasti rasa itu akan hilang." Jelas Dinda.


"Terserah kamu saja. Yang jelas itu namanya cinta. Tanpa sadar rasa itu sudah ada dan kau belum bisa membedakannya." Jelas Susan lagi.


Hari semakin sore, Haikal dan Dania pun sudah bangun dari tidurnya. Seperti biasa Dinda memandikan mereka barulah membersihkan dirinya.


Saat makan malam selesai, Dinda angkat bicara.


"Sudah terlalu lama aku tak bekerja... satu bulan. Astagaaa bagaimana kabar ruang kerjaku.." gumam Dinda keras.


"Kamu besok berangkat kerja saja. Biar mereka diurus pelayan." Saran Susan.


"Iya juga, apa kata mereka nanti kalau tau seorang anak Raditiya Rahardian adalah Putri Malas." Jawab Dinda cepat.


"Besok kamu akan dijemput oleh Paman Ferdi seperti biasa. Dia juga tadi kesini mencarimu saat kau mandi." Kata Susan mengingat.


"Ada perlu apa sampai Paman datang?" Tanya Dinda penasaran.


"Katanya besok akan diadakan rapat." Jelas Susan.


"Aku tak tau rapat apa.. tapi sepertinya sangat penting." Timpalnya lagi.


"Baiklah besok aku akan berangkat seperti biasa." Kata Dinda sembari menguyah kripik pisangnya lagi.


"Kata Paman dia akan menjemputmu jam 7 pagi." Ucap Susan lagi, dia memang tidak lihai dalam mengingat sesuatu.


"Huuhhh ngomong kok bersambung sambung. Iya iya besok jam 7 aku sudah siap." Balas Dinda mulai sebal.


"Whahahahah maaf lahh Nyonya Pramestu...." goda Susan yang malah dibalas pukulan ringan Dinda.


Keesokan harinya Dinda tak seperti bisa mengenakan baju dinas kebesarannya. Dia sudah rapih dengan setelan yang sangat menawan.


Kulitnya yang putih bersih dipadukan dengan rok span berwarna coklat susu dan belahan sedikit keatas dibelakang, ditambah kemeja berwarna putih susu lengan panjangnya yang menonjolkan lekuk tubuhnya semakin sempurna.


Dinda hanya mengenakan hils yang tidak terlalu tinggi senada dengan warna bajunya. Rambutnya diurai begitu saja tanpa ikatan.


Paman Ferdi sudah menjemputnya didepan, tanpa sarapan dia langsung menuju ke kantornya.


"Nona sarapan lah dahulu." Pinta Paman Ferdi.


"Tak usah Paman.. aku cukup makan sandwich saja." Ucap Dinda yang sudah dibekali Susan.


"Yasudah mari berangkat." Paman Ferdi membukakan pintu mobil untuk Nona besarnya.


Mobil sudah jauh dari mansion, menembus kemacetan kota yang sangat ramai.


Dipersimpangan taman Kota, samar Tiar melihat wajah wanita pujaannya didalam mobil.


"Ahh mirip bukan berarti iya." Gumamnya sendiri didengar Satria.


"Mungkin kamu lagi kangen Tuan." Ucap Satria spontan.


"Kamu kenapa sih selalu mendengar ucapan ku!!" Dengus Tiar kesal.


Terimakasih buat kakak kakak yang mau meluangkan waktu untuk mampir dan membaca novel saya😊 jangan lupa like dan vote yaa kak😊 Biar saya tambah semangat buat Updatenya. Dukungan dari kalian adalah semangat untuk saya Terimakasih

__ADS_1


__ADS_2