
***
Haidar mengajak Citra ketempat yang sangat jauh, tempat yang jarang dikunjungi oleh orang namun sering ia kunjungi saat kecil.
Kampung halaman nya ketika sang ibu masih ada, tempat berjuta kenangan bersama keluarganya.
"Kenapa kamu bawa aku kesini?" Tanya Citra penasaran, karena tempat itu lumayan dekat dengan rumahnya dipuncak.
"Dulu aku tinggal disini, saat ibu ku sudah tiada aku ikut dengan paman disini. Setelah paman meninggal aku menemui ayah dikota." Jelas Haidar.
"Tempat ini menjadi tempat keluh kesal ku." Timpalnya lagi.
"Apa kau ada masalah?" Citra memberanikan diri untuk bertanya.
"Dari tadi kamu cuma mau nanya itu doang?" Tanya Haidar heran.
"Ya abis mau tanya apa lagi. Masak mau tanya kabar yaa jelas kamu lagi keadaan buruk." Kata Citra mengalihkan pandangannya.
"Apa seburuk itu?"
"Hemm...."
"Emang kamu punya masalah apa? Aku si ngga maksa buat kamu cerita. Tapi kalo mau cerita aku dengerin cepet." Citra menawarkan diri.
Setelah beberapa saat Haidar pun menceritakan masalahnya pada Citra.
"Jadi Nona Dinda itu cinta pertama kamu.." gumamnya.
"Huhh beruntung banget sih dia. Bikin tambal sebel aja." Kata Citra dalam hatinya.
"Kamu kenapa? Kaya ngga semangat lagi?" Haidar menebak ekspresi Citra yang menjadi lesu.
"Aku capek ayo pulang sudah sore." Ajak Citra.
Karena hari sudah sore Haidar memutuskan utuk pulang, dia pun hendak menghantarkan Citra.
Sepanjang perjalanan Citra mengomel tak jelas, dia selalu mengeluh tak henti henti.
"Aku tuu capek tadi pagi ke acaranya Nona Dinda. Ditambah lagi nemenin kamu kesini seharian aku duduk doang dimobil pegel semua. Udah gitu ngga dikasih makan lagi." Ucap Citra mulai sewot.
"Iya iyaa maaf, siapa suruh tadi ketemu." Jawab Haidar santai.
"Jadi kamu nyalahin aku? Enak aja!! Tau gitu mending aku pulang aja ngga capek gini." Gerutunya lagi.
"Iya iya maaf." Ucap Haidar cepat, telinganya sudah terasa panas dengan ocehan Citra.
"Aku yang lagi galau kenapa dia yang badmood si, aku yang nyetir juga dia yang bilang capek." Umpat Haidar lirih melihat keluar jendela mobil.
"Kamu bilang apa?" Tanya Citra tak dengar ucapan Haidar.
"Nggak, tadi kamu bilang laper mau makan apa?" Haidar bohong dan mengalihkan ucapannya.
"Emang aku boleh milih?" Tanya Citra girang.
"Iya udah mau makan apa?" Tanya nya lagi.
"Aku mau makan gurame." Jawab nya cepat.
"Nanti direstoran deket stasiun aja ya." Jawab Haidar.
Sesampainya direstorant, Citra memesan gurame asam manis udang crispy cumi bakar dan camilan, dan minum strobery coctail. Sedangkan Haidar hanya memesan camilan dan minuman saja karena sedang tidak mood untuk makan.
Pesanan sudah tersaji diatas meja, dengan cepat Citra melahap makanan didepannya.
"Kasian juga yaa, makan aja sampe segitunya." Ucapnya dalam hati.
"Kamu laper banget ya. Makan nya pelan pelan aja aku ngga mau minta kok." Kata Haidar memandangi Citra.
__ADS_1
"Yaiyalah perjalanan jauh cuma minum air mineral doang. Lagian siapa juga yang mau ngasih ke kamu." Ejek Citra.
"Heeemmm enak banget." Ucap Citra dengan mulut penuhnya.
Semuanya sudah ludes dimakan, saat hendak menyuap potongan cumi bakar terakhirnya tangannya dicegah Haidar. Dengan segera ia memasukan cumi itu kedalam mulutnya.
"Kamuuu!!!! Itu punya aku!" Bentak Citra.
"Cuma minta satu aja diomelin." ucap Haidar tapi Citra malah lebih kesal darinya.
"Mau kemana?" Tanya Haidar saat Citra beranjak dari kursinya.
"Toilet." Jawab Citra singkat dan masih kesal dengan nya.
"Yaudah."
Citra meninggalkan Haidar, tak berapa lama kemudian segera Haidar pun ikut pergi.
"Tolong ambilkan mobil saya." Kata Haidar pada salah satu security restourant.
"Baik Tuan." Jawabnya.
"Ah iya saya mau ketoilet dulu. Nanti tunggu saja disini." Katanya lagi.
Citra sudah kembali dari toilet, tapi dia mendapati Haidar sudah tak ada di meja.
"Mbak liat cowok duduk disini nggak?" Tanya Citra panik.
"Udah pergi Mbak." Jawab pelayan itu.
"Apaa!!" Citra berlari menuju pintu, mobil Haidar sudah tak terlihat di sana.
"Mbak mau kemana, ini bill nya." Ucap pelayan tadi menyodorkan bill dengan chektray.
"Hah satu juta tiga ratus ribu? Mahal banget." Kata Citra.
"Saya ngga punya kartu debit uang tunai juga cuma tiga ratus ribu mbak.." jawab Citra memelas.
"Mbak kalo ngga bisa bayar jangan makan disini dong, mbak juga tadi ninggalin pacarnya marah marah kan jadi ngga dibayarin." Tegur pelayan.
"Yaa saya nggatau kalo dia malah pergi." Jawab Citra lagi.
Pelayan itu tetap memarahi Citra, sedangkan Citra hanya tertunduk meminta maaf.
Banyak yang menyaksikan kejadian itu, suara bentakan dari pelayan seperti speaker rusak memancing banyak mata didalam restourant.
Haidar yang melihat itu dari jauh pun geram. Segera ia melangkah kesana.
"Kamu berani banget si marahin dia." Bentak Haidar.
Citra yang melihat Haidar datang disampingnya pun langsung memeluknya. Bak menemukan pangeran yang menyelamatkan hidupnya.
"Saya cuma ketoilet, kalo saya pergi juga mobil saya masih disini." Bentak nya lagi.
"Tapi kata Mbak ini mobil anda sudah tidak ada." Jawab pelayan
Sesaat kemudian security yang disuruhnya mengambilkan mobil pun datang memberi kunci mobilnya.
"Ini Tuan kuncinya." Kata security.
"Liat kan!! Cepat lakukan transaksi." Kata Haidar menyerahkan kartu atm nya. Dengan segera ia menuju kasir.
Pelayan itu kembali lagi dan berulangkali meminta maaf kepada Citra.
"Sudah tidak usah minta maaf lagi." Kata Haidar menarik Citra keluar dari sana.
Saat tiba di depan pun dia memberikan beberapa lembar uang ratusan ribu untuk security tadi.
__ADS_1
Didalam mobil dia terus memarahi Citra karena tak memberitahunya kalau dia kena marah.
"Bagaimana aku mau memberitahu mu, aku tidak tau kau ada dimana." Jawab Citra.
"Yaa kan kamu bisa telfon aku."
"Nomer aja ngga dikasih." Jawab nya lagi.
"Didepan ada perumahan, turun kan aku didepan sana saja." Ucap Citra saat mobilnya hampir sampai.
Haidar menepikan mobilnya tepat di dekat pos satpam.
"Rumah kamu dimana?" Tanya Haidar.
"Bukan disini." Jawab Citra.
"Yaa tau ini kan pos satpam." Kata Haidar.
"Masih masuk kedalam, rumah nomor 5. Sampai sini saja."
"Aku anter sampe depan rumah." Bantah Haidar.
"Jangan!! Itu bukan rumah saya, itu rumah majikan kakak saya. Rumahnya Ibu mertua Nona." Jawab Citra cepat.
"Yasudah." Ucap Haidar.
Citra turun dari mobil. Haidar hanya mengamatinya dari dalam. Saat Citra sampai pada rumah ke tiga tiba tiba...
"Ahhhh!!!" Teriak Citra saat seseorang memegang lengannya.
"Kenceng banget sih." Ucap Haidar menutup telinganya.
"Kamu!!! Ngagetin aku tau nggak!" Bentak Citra memuluk dada Haidar berkali kali.
Air matanya tiba tiba jatuh membasahi pipinya.
"Heii kok kamu nangis, kan aku yang dipukulin." Tanya Haidar heran.
"Yaa aku takut. Coba kalo tadi orang jahat.. kamu juga kenapa harus ngagetin sih.." ucap Citra dengan suara bergetar.
"Oke oke.. maaf yaa maafin aku aku ngga sengaja buat kamu kaget udah yaa jangan nagis lagi.. nggak papa kok." Haidar mendekap tubuh Citra dalam pelukannya.
Terasa nyaman saat Haidar memeluk erat tubuhnya. Haidar pun melonggarkan pelukannya saat Citra sudah tenang.
"Aku cuma mau minta nomer ponsel kamu.." ucapnya.
"Mana handphone kamu?" Tanya Haidar, Citra pun mengeluarkan ponselnya dan memberikannya pada Haidar. Dia mencatat nomer telfon nya di situ. Saat hendak mencoba ditelfon hp Citra berbunyi. Tertera nama Kakaknya disana, dengan segera ia mengangkat nya.
"Halo Mbak..."
"Kamu kemana aja sih? Tau nggak jam berapa ini?" Kata Muti geram.
"Enggak."
"Ini udah jam 8 kamu masih kelayaban ngga jelas. Cepat pulang!" Ucap nya lagi langsung mematikan sambungan telepon.
"Kenapa?" Tanya Haidar penasaran.
"Aku pulang dulu ya dahh..." ucap Citra berlari meninggalkan Haidar.
"Tadi waktu di hotel aku yang meluk tapi karena lagi ngga mood jadi ngga kerasa. Waktu di restoran meluknya cuma bentaran, hemmm barusan aku meluk duluan aku ngga diamarahin.. wkwk pasti tuu cewek suka aku." gumam Haidar cengar cengir saat dimemandang Citra pergi.
"Ehh tapi kok kaya lebih gemukan yaa? Apa dia ikut Kakak nya jadi makan terus? Iya juga kan itu rumah nya si cecunguk." ucapnya lagi.
Setelah Citra masuk kedalam gerbang, Haidar baru meninggalkan kompleks perumahan elit itu menuju apartemen nya.
Thankss ..... jangan lupa like nya yaa😉
__ADS_1