Suamiku Planet Es

Suamiku Planet Es
BAB 12 ( Bercerita Banyak Hal )


__ADS_3

"Ngga papa mbak, cuma sebel aja tadi lagi bayangi adek* saya tiba-tiba keinget sesuatu yang ngga enak." Jawab Dinda dengan nada kesal melihat bayang* wajah Tiar.


"Mungkin itu sesuatu yang Ayana kangenin juga, jangan kaya gitu... saya aja kalo lagi kangen mikirin anak saya. Walaupun kadang dia nyebelin tapi yang buat saya semakin kangen ya itu." Jelas Mbak Muti dengan penuh ketulusan


"Apa iya mbak? Apa bedanya emang?" Tanya Dinda kepada Mbak Muti


"Coba kamu ceritain dulu kamu inget apa. Biar nanti Mbak Muti jelasin." Ucap Mbak Muti yang ingin tau inti masalah Dinda.


Akhirnya Dinda menceritakan kejadian waktu ditoko boneka dengan Tiar. Dia juga menceritakan bahwa dia tak mengelak dengan sikap Tiar.


"Jadi kamu beneran bales ciuman dia?" Tanya Mbak Muti sambil menyenggol tangan Dinda berkali* dan tersenyum lebar, tapi dia tak tau nama pria yang membuat Dinda gusar.


"Iya Mbak.. Mbak Muti jangan ngolok* Ayana dong.. kan malu" Ucap Dinda dengan menakup wajahnya yang merona.


"Iya.. iyaa... mbak ngga ngejek lagi." Jawab Mbak Muti dengan sedikit tawa.


"Yasudah Mbak jelaskan yaa dengarkan baik*." Perintah Mbak Muti yang langsung diangguki Dinda.


"Jadi gini, sikap kamu nolak saat pertama bertemu itu karena kamu belum tau apa itu suka. Kamu hanya menilai bahwa dia itu egois. Tapi dari situ sebenarnya kamu sudah mulai menyukainya." Jelas Mbak Muti


"Ihh nggak lah Mbak, ada* saya." Gerutu Dinda


"Dengarkan dulu." Ucap Mbak Muti menoel kepala Dinda lembut


"Buktinya kamu masih mengingatnya setelah 3 tahun kemudian."


"Yaa kan karena dia menyebalkan." Ucap Dinda cepat


"Tapi dia juga inget kamu kan,berarti dia juga ada rasa sama kamu.." goda Mbak Muti membuat wajah Dinda seperti tomat


"Habis itu dia juga baik mau nolong kamu, yaa walaupun kecolongan.." ejeknya lagi dan mendapat balasan pukulan kecil dari Dinda.


"Aduhh.. iya* Mbak nggak ngejek lagi. Mau dilanjutin nggak?" Lagi* hanya anggukan Dinda disertai matanya yang membulat


"Meski kamu kecolongan tapi kamu mau menerima bantuannya. Dan kamu juga ngarep dapet ciuman dari dia lagi.. jadi ciuman yang kedua bukan nggak sengaja ataupun paksaan." Jelas Mbak Muti

__ADS_1


"Maksudnya Mbak?" Tanya Dinda yang belum paham


"Yaa karena kamu mengingikannya dan dia hanya mengabulkan. Kamu juga ngga nolak jadi yasudah." Ucap Mbak Muti cepat


"Ahh apaan sih Mbak Muti ngga asik." Ucap Dinda ketus karena dari tadi Mbak Muti hanya mengejeknya.


"Tapi makasih yaa Mbak Muti Cantik udah mau dengerin aku ngobroll." Ucap Dinda dengan memeluk tubuhnya.


Setelah menceritakan masalahnya pada Mbak Muti perasaannya menjadi lebih lega. Mereka memutuskan untuk beristirahar disana.


Sesampainya di bandara, mereka berpisah. Jarak dari bandara ke rumah Dinda lumayan jauh dan butuh waktu satu jam perjalanan.


Sedangkan Mbak Muti memilih pulang ke rumah orangtuanya yang sudah tiada. Disana masih ada adiknya.


***


Dinda sudah sampai di depan rumah keluarga Rahardian. Dia memasuki gerbang, dilihatnya wanita yang sedang menggendong bayi yang sudah cukup besar sedan berjalan* di taman depan.


"Mamahhh..." Teriak Dinda membuat Mamanya menoleh ke arahnya


"Dinda.. kamu pulang sayang." Jawab Mamanya sambil memeluk Putrinya yang ia rindukan.


"Kamu pulang kenapa ngga ngasih kabar dulu sihh... kan Mama sama Papa bisa jemput kamu ke Bandara..." Omelan Mamanya pada Dinda tapi tak dihiraukannya.


"Haiii sayangg kamu sudah besar yaa." Sapa Dinda gemas mencubit pipi adiknya.


Haikal umurnya sudah 13 bulan tapi dia sudah aktifnya luar biasa sudah bisa berjalan dan bicara walau belum jelas betul.


"Itu Kakak kamu dek, namanya Kak Dinda." Jelas Mamanya dengan Haikal yang sedari tadi menatap Dinda aneh.


"Yokk sini ikut kakak sayang.." Ajak Dinda menggendong Haikal, dia senang saat digendong Dinda. Meskipun dulu dia sudah pernah melihat kakaknya, tapi ini pertama kalinya Haikal digendong Dinda.


"Dania mana Mah?" Tanya Dinda pada Mamanya yang membuntutinya dari belakang.


"Masih tidur siang dikamar kamu.." Jelas Mama Mia ke Dinda

__ADS_1


Dinda mangut* sambil menggoda Adik nya, dia tau karena ini masih pukul 2 siang yang biasanya anak kecil suka tidur siang.


Haikal diberikan lagi pada Mamanya. Dia memutuskan untuk istirahat di kamar Susan karena kamarnya kosong. Wajar saja Susan sekarang sudah sibuk dengan restourant Mamanya. Dia tidak menjadi pelayan disana , malah dia menduduki posisi Manager disana. Walau lulusan SMA tapi dia cukup pandai. Tantenya juga tak mau dia terlalu capek kalau jadi pelayan. Hanya saja kalau restourant sedang ramai dia ikut menjadi pelayan.


Perjalanan Dinda yang memakan waktu 17 jam lebih 45 menit itu menguras tenaganya. Ditambahlagi dia harus menyeret 3 kopernya yang berat menuju tempat tunggu taxi. Dia sudah tertidur lelap.


***


Saat makan malam Mama Mia baru memutuskan untuk membangunkan Putrinya. Dia paham betul bahwa Putrinya pasti sangat lelah.


Seusai membersihkan dirinya dikamarnya, Dinda turun menuruni anak tangga. Dilihatnya meja makan yang sudah banyak menunggunya. Tempat duduknya setia menunggu kehadiran pemiliknya.


Dinda duduk di sebalah Papanya didepan Mamanya, sebelahnya Dania Dania depannya adalah Susan. Diantara tempat duduk Mama dan Papanya terdapat kursi bayi khusus untuk Haikal.


Seusai makan malam keluarga Rahardian berkumpul seperti biasa diruang keluarga. Semenjak kepergian Dinda mereka jarang berkumpul karena kesibuka masing* dan Mamanya juga kala itu harus banyak beristirahat karena sedang hamil.


Papanya hanya menanyakan tentang Studynya, sedangkan Susan lebih penasaran dengan kisah asmara sahabatnya. Dinda bercerita banyak malam itu. Tapi dia tidak menceritakan kisah asmara yang diinginkan Susan, justru sebaliknya bahwa cowok disana itu terlalu bebas jadi Dinda bilang kalau dia sudah menikah dan mempunyai anak bahkan suaminya seorang Tentara, sehingga mereka tak ada yang berani mendekati Dinda. Dinda juga membicarakan tentang Tante Nia dan Mbak Muti pada keluarganya.


Hari kian larut mereka memutuskan untuk beristirahat, hari yang sangat begitu melelahkan untuk Dinda.


Dania yang merindukan kakaknya itupun tidur disamping Dinda. Memejamkan mata memimpikan hal indah yang luar biasa dan bangun segar di pagi hari, itulah harapan mereka.


***


Sinar mentari telah menembus jendela kamar Dinda, membuatnya mengulat dengan nyaman. Dinda beranjak dari kasur untuk membersihkan diri, setelah itu tak lupa ia memandika adiknya yang cantik.


Hari ini Dinda hanya mengenakan daster biasa yang longgar namun masih dapat menunjukkan bentuk lekuk tubuhnya.


Kulitnya yang bersih dengan warna daster yang hijau tosca membuatnya semakin cantik dengan gelungan rambut yang asal*an namun nampak rapih.


Keluarga Rahardian menikmati sarapan mereka dengan nikmat, setelah itu Papanya berangkat ke kantor dan Susan ke restourant.


Hanya ada Mama Mia Dinda Dania dan Haikal juga para pelayan dirumah itu. Mereka menghabiskan waktu bersantai bersama.


Bersambungg......

__ADS_1


**


Terimakasih buat kakak kakak yang mau meluangkan waktu buat mampir dan membaca novel ku ini😊 jangan lupa like dan vote yaa kak😊 Biar saya tambah semangat buat Updatenya. Tambahkan kefavorit juga kak😉... Mwehehehe Tanks semuaa❤❤❤...


__ADS_2