Suamiku Planet Es

Suamiku Planet Es
BAB 13 ( Dikira Betulan Ehh Salah Dengar )


__ADS_3

Sudah satu minggu Dinda ada di tanah air. Dia berniat akan menjalankan restourant milik Mamanya. Dia ingin mencoba disana dulu, baru setelah itu dia akan ikut dengan Papanya.


Direstourant dia menggantikan Mama Mia menjadi Direktur Utama. Dinda bekerja di pusat restourant yang tak begitu jauh dari rumahnya. Hanya butuh waktu perjalanan setengah jam untuk kesana. Kantor Papanya juga tak terlalu jauh dari sana.


Susan selalu mendampinginya, kini dia menjadi Asisten Pribadinya. Sebenarnya dari dulu dia sudah menjadi Asisten Pribadi bos nya itu.


Setelah satu bulan Dinda disana, dia mulai turun tangan di bagian dapur dan mengembangkan resepnya. Para kariyawan menyukainya karena sikapnya yang rendah hati sama dengan Mamanya.


Hari itu restourant sangat ramai. Dinda tak berniat membantu kitchen karena disana sudah banyak chef di bidang masing*. Dia berganti pakaian menjadi waiters.


"Selamat Siang Pak, silahkan ini buku menunya." Ucap Dinda ramah meletakkan buku menu kemeja. Dan mulai mencatat keterangan di order pad.


"Kamu kerja disini?" Tanya salah satu Pria yang duduk disitu.


Suara yang jarang Dinda dengar namun sudah ia hafal. Yaa suara Tiar. Dinda mendongakkan kepalanya menatap wajah Tiar.


"Kamu..!!" Ucap Dinda latang membuat beberapa pengunjung menoleh padanya.


Banyak yang mencibirnya sebagai pelayan tak puya sopan santun. Tapi Tiar menyudahi itu dengan membela Dinda.


"Jangan salah paham, dia pacar saya jadi wajar dia kaget saya ada disini." Ucap Tiar tegas pada para pengunjung yang menatap tak enak pada Dinda


"Tolong semua diam jangan bising. Menu kalian akan saya bayar semua." Ucap Satria mewakili Boss nya itu. Dia sudah paham dengan mereka yang suka uang.


Saat ini mereka tidak dikenali karena penyamarannya. Tapi tidak dengan Dinda, dia masih tetap tau itu Tiar.


"Pindah ruang VIP!!" Perintah Dinda langsung meninggalkan mereka.. Dia malu karena banyak yang menatapnya.


Para karyawan hanya berani menatap tanpa berani ikut campur. Mereka hanya meminta maaf pada para pengunjung restourant.


"Kamu itu kenapa teriak si?" Tanya Tiar singakt


"Yaa aku teriak karena aku mau teriak!!" Ucap Dinda cepat


"Kamu kenapa bilang kalo kamu pacar aku sihh!!!" Teriak Dinda kesal


"Memangnya kenapa? Apa kamu mau aku bilang bahwa aku mencuri ciuman pertamamu?" Tanya Tiar yang membuat Dinda tambah emosi. Bukan karena marah tapi kerena makin tersipu malu membuat wajahnya merah.


"Sudah* hjangan marah lagi." Ucap Tiar sambil memeluk Dinda, dia diam tapi beberapa saat dia sadar dengan yang dilakukan Tiar


Dinda langsung mendorong tubuh Tiar sampai membetur tembok. Brukk


"Aduh.." Ucap spontan Tiar,

__ADS_1


"Ahh maaf apa sakit?" Tanya Dinda khawatir.


"Tulangku kaya mau patah. Kamu kuat banget." Kata Tiar bohong dan menjatuhkan dirinya kelantai.


"Kamu kenapa gini.. aduh gimana nih? Kamu kok diem aja sih bantu dong!!" Ucap Dinda pada Satria


Tiar memberi kode agar dia pergi dengan tatapan matanya tang tajam. Satria langsung paham akan perintah Tuannya itu.


"Maaf nona saya haurs ke kamar mandi dupu." Ucap Satri acepat dan berlari keluar.


Satria melihat banyak pelayang yang menguping, dia memberitahu jangan memngganggu Bosnya didalam. Satria menuju bagian Manager untuk memaafkan pelayannya itu.


"Permisi Buu.. saya ingin meminta maaf atas kejadian ini, saya akan mengganti rugi dan membayar seluruh tagihan tadi." Jelas Satria


"Tidak usah Pak.. kami yang seharusnya meminta maaf atas tidak kenyamanan bapak." Jawab Ibu Yanti


"Tidak buu saya harus bertanggung jawab. Dan jangan bebankan masalah ini pada pelayan tadi." Jelas Satria lagi


"Dia bukan pelayan Pak , anda tidak usah khawatir." Jelas Ibu Yanti


"Apa maksudnya?" Tanya Satria yang belum paham


"Ah bukan apa* dia baru magang saja." Ucap Ibu Yanti gugup, hampir saja dia mengungkapkan identitas bossnya


"Yasudah terimakasih." Satria meninggalkan itu dan membayar ke kasir.


Didalam ruang VIP Dinda tengah merawat Tiar yang sepertinya luka parah. Dia panik tak ketulungan.


"Aduhh aku telvonin mobil jenazah yah.." Ucap Dinda memohon agar Tiar mau


"Aku belum meninggal." Ucap Tiar cepat


"Ehh maksud ku mobil ambulans kita kerumah sakit jiwa." Ucap Dinda lagi, saking paniknya dia salah ngomong terus


"Aku ngga gila." Ucap Tiar lagi cepat


"Iya iya rumah sakit .. yaa mau yaa." Kata Dinda lagi memohon sambil meneteskan air mata.


Dinta takut terjadi sesuatu dengan tulang Tiar, dia sampai tak bisa diam mondar mandir tak karuan.


"Kamu duduk aja kenapa susahnya sih. Aku nggapapa kok cuma rada sakit aja." Jelas Tiar, dia merasa bersalah pada gadis didepannya. Hatinya getir melihat cairan bening dari mata Dinda.


Dia berjalan menuju sofa Tiar duduk dan duduk disamping Tiar

__ADS_1


"Kamu beneran nggapapa?" Tanya Dinda tetap khawatir, cairan bening dipojok matanya nampak jelas.. rasa bersalahnya pada Tiar sangat dalam


"Aku nggapapa." Ucap Tiar cepat sambil memeluk erat tubuh Dinda.


"Gimana kalo tulang kamu patah?" Tanya Dinda lagi, dia takut kalo tulang Tira patah dia akan dipenjara. Sedangkan dunia kerjanya baru dimulai.


Berbeda dengan Dinda, justru Tiar menganggap bahwa Dinda mencemaskannya.


Dinda ingin mendorong tubuh Tiar lagi, namun niatnya ia urungkan. Dia takut membuat Tiar cidera lagi. Dan hal itu diartikan oleh Tiar bahwa Dinda nyaman berada dipelukannya.


"Sebagai tanda maaf aku. Kamu aku traktir makan disini sepuas kamu." Ucap Dinda tiba* dengan melepas pelukan Tiar.


"Aku permisi ke luar dulu." Ucap Dinda cepat langsung meninggalkan Tiar.


"Kenapa dia buru* banget? Apa dia malu aku peluk kaya tadi? Imut banget si kamu.. pengen deh punya satu kaya kamu." Gumam Tiar yang didengar jelas oleh Satria.


"Ciee Tuan.. nanti saya carikan gadis yang kaya tadi.. terus yang tadi buat saya saja." Ucap Satria cepat membuat Tiar kaget


"Kamu itu kebiasaan datang tak diundang!! Ngga permisi dulu lagi!" Ucap Tiar kesal karena Satria membuyarkan pandangannya


"Ehh apa kau bilang tadi?" Tanya Tiar karena tadi tak mendengar jelas Satria bilang apa


"Nanti Tuan saya carikan gadis yang kaya tadi, terus yang tadi buat saya." Jelas Satria dengan tertawa. Dia tentu akan menerima Dinda dengan senang hati. Tapi dia hanya bercanda dengan apa yang dikatakannya.


"Apa kau bilang!! Ku bunuh kau kalau berani merebutnya dariku!!!" Teriak Tiar kesal pada Satria, menurutnya candaan Satria tidaklah lucu.


"Tidak Tuan jangan bunuh, saya tidak mau mati karena berebut perempuan dengan anda." Jawab Satria cepat. Tiar hanya menyenderkan tubuhnya ke sofa memejamkan matanya.


Dinda sudah berada di ambang pintu ruangan itu. Dia mendengar samar suara Satria.


"Apaa!!! Dia mati? Yaa Tuhan aku harus bagaimana ini." Ucap Dinda panik berlari


"Dia kemana?" Tanya Tiar saat sudah tak mendengar suara Dinda.


"Nona itu keluar Tuan entah dia mau apa." Jelas Satria singkat


"Yasudah aku pura* tidur saja." Ucap Tiar langsung memejamkan matanya


Dinda kembali ke dalam ruangan itu. Kini dia sudah didampingi manager senior kepercayaan Mamanya itu.


"Ituu dia mati karena aku... Bagaimana ini Bu Yanti.." Ucap Dinda panik


"Kamu tenang dulu jangan takut.. Ibu juga bingung ini kenapa bisa mati disini kamu apakan?" Tanya Bu Yanti

__ADS_1


"Tadi tadi aku cuma dorong trs dia kena tembok.. saat aku tinggal ke kitchen dia masih sadar.. ini tiba* saja dia mati." Jelas Dinda secepat mungkin.


Terimakasih buat kakak kakak yang mau meluangkan waktu untuk mampir dan membaca novel saya😊 jangan lupa like dan vote yaa kak😊 Biar saya tambah semangat buat Updatenya. Dukungan dari kalian adalah semangat untuk saya Terimakasih


__ADS_2