
"Kau tauu harusnya kau menghormati harkat dan martabat wanita!!" Teriak Daniel lantang dan menggema di ruang tamu rumah Tiar itu.
"Tadi aku tak sengaja kak.. aku tau aku salah.. sulit rasanya mengendalikan diriku." Ucap Tiar lemas.
"Kau tau kan kenapa aku bisa terpuruk 5 tahun yang lalu!! Kenapa sekarang kamu mengulangi kesalahanku!! Kenapa?" Bentak Daniel.
"Tidak kak aku tidak melakukannya." Jawab Tiar.
Buaagghh!!! Pukulan mendarat diwajah tampannya.
"Sudah tau salah masih tetap mengelak!!" Bentak Daniel lagi dan hendak memukul wajah Tiar lagi.
"Aku benar* tidak melakukan itu kak sungguh. Aku hanya sampai menciumnya aku baru buka baju doang." Jelas Tiar cepat agar tak mendapat pukulan dari kakaknya lagi.
Daniel melepaskan kerah baju Tiar dengan kasar. Dia sudah kembali duduk di posisinya semula.
Hari semakin senja, mereka bertiga mandi di kamar mereka masing*. Tiar membersihan dirinya dikamarnya sedangkan Daniel dan Satria ada di kamar tamu.
Setelah itu Tiar memesan makanan dan meminta kurir mengantarkannya, tak lama kemudian pesanannya datang.
Makan malam yang hening, sangat sepi hanya terdengar gesekan piring dengan sedok dan garpu mereka yang nyaring.
Setelah makan Daniel langsung menuju kamarnya, tapi dia sudah di tahan oleh Tiar.
"Kak dengarkan aku dulu.. aku tak tau harus bagaimana.. aku butuh kakak.." Ucap Tiar memelas.
Dengan langkah berat Daniel berjalan menuju sofa, membanting badannya kasar di sana, Sedangkan Satria mengambil makanan ringan dan minuman di kulkas.
Ketiganya sudah duduk disana, hening sampai Tiar mengangkat bicara.
"Tadi aku khilaf kak." Ucapnya membuka keheningan.
Tiar menceritakan kejadian tadi di restourant, dia juga bilang bahwa dia mendapat tamparan dari gadis pujaan hatinya.
"Bwahahahahaha aduh perutku sakit." Tawa Daniel pecah, dia sudah tak tahan dengan cerita Tiar.
"Kakak kenapa tertawa?" Tanya Tiar bingung, setau dia kakaknya itu sedang marah tapi kenapa malah tertawa.
"Kamu itu lucu... sebenarnya kakk sudah tidak marah. Kakak hanya capek mau istirahat, tapi kamu mau menceritakannya jadi Kakak tak menolak." Ucap Daniel dengan tawa yang masih tersisa.
"Kenapa tidak bilang dari tadi? Tau gitu aku ngga akan cerita." Gerutu Tiar kesal.
"Tapi berani juga dia sama kamu. Padahal sudah tau kamu itu seorang pengusaha besar tapi nyalinya bisa mengalahkanmu.." Jelas Daniel memuji Dinda.
__ADS_1
"Kenapa kakak memujinya" jawab Tiar semakin sebal.
"Apa kau pernah menangis didepan kami? Apa kau pernah perduli dengan teriakan seorang gadis selama ini? Apa kau pernah membela orang? Sudahlah kamu itu sudah dewasa, kalau merasa bersalah yasudah nikahin saja secepatnya." Ucap Daniel meninggalkan ruang itu.
"Apa yang harus aku lakukan?" Tanya Tiar pada Satria, dia hanya mengangkat bahu dan ikut meninggalkan Tiar yang sedang dilema itu.
"Aargghhh!! Sial!! Kalian tak ada yang membantuku!!" Teriak Tiar kesal
***
Dirumah Rahardian Dinda duduk di taman belakang, Susan menemaninya dengan setia.
"Sudahlahh... jangan difikirkan terus.." ucap Susan menenangkan Dinda
"Aku tak enak hati.. tadi dia malu karena aku, aku juga mendorongnya sampai harus tidak bekerja. Masalah belum selesai aku malah menamparnya." Ucap Dinda sedih
"Jadi kau tak menyesali perbuatan kalian tadi?" Dengus Susan ketus
"Emmemmm" jawab Dinda sambil menggelengkan kepalanya.
"Astaga... kamu ini... aku dari tadi mikir kalo kamu menyesali itu." Gerutu Susan
"Aku tadi menangis juga karena merasa bersalah, yaa walaupun dia salah betul katamu bahwa aku juga yang menginginkannya.." Jelas Dinda dengan santai.
Diluar negri Dinda terbiasa melihat itu, namun dia tak pernah diganggu karena dia bilang sudah menikah.
Saat malam kian larut, Mereka kembali ke kamar masing*. Merebahkan tubuhnya diranjang untuk bangun pagi esok harinya.
***
Mentari sudah melihatkan cahayanya. Sudah 5 hari dari kejadian itu Dinda menghindari Tiar yang berkunjung ke restourant nya.
Dinda hari ini tak berangkat kerja, karena hari minggu jadi semua keluarganya ada dirumah.
Dia sedang joging mengelilingi taman bersama Dania dan Susan. Sedangkan Mama dan Papanya duduk dibangku taman.
Saat Dinda membeli Air minereal, dari jauh dia melihat sosok yang tak asing lagi baginya.
"Otak Beku." Gumam Dinda mrlihat Tiar Satria dan Daniel.
"Mbak ngga ada mineral yang beku, cuma ada yang biasa dan dingin." Ucap penjual tadi
"Ehh iya* yang biasa saja masak mau minum yang beku. Itu namanya bukan minum." Jawab Dinda cepat mengambil air mineral.
__ADS_1
"Terus apa namanya mbak?" Tanya penjual penasara.
"Udahlah kamu fikir saja sendiri buat pr. Nih uangnya." Ucap Dinda cepat langsung berlari tanpa mengambil kembaliannya.
"Mbakk mbakk ini mbak kembaliannya." Teriak penjual tadi kencang agar Dinda mendengarnya.
Dinda mendengarnya tapi dia tak menggubris, mungkin kalau dia kembali akan berpapasan dengan Tiar dan dia masih malu atas kejadian itu.
"Itu penjual teriak* ngga jelas gitu mau apa sih." Ejek Tiar pada penjual minuman itu dan didengar olehnya.
"Tadi mbak itu beli tapi kembaliannya ngga dibawa." Jawab penjual ketus,
Tiar tak perduli dan hanya menatap arah yang ditunjuk sang pejual. Dia membelalakan matanya sata melihat bahwa itu orang yang dia cari. Tiar langsung mengambil uang kembalian itu dan berjalan kearah Dinda.
"Kita pulang sekarang yok dek, Kakak udah capek." Ajak Dinda langsug beranjak pergi, tapi ia sudah ditahan oleh Dania.
"Kakak sebentar lagi.. aku capek juga tapi ngga mau jalan." Rengek Dania
"Yaudah Kakak duluan yaa.." Ucap Dinda cepat dan langsung berlari kecil.
Tiar yang melihat Dinda laripun ikut lari, didepan Susan dia berhenti.
"Aku pinjam dia sebentar. Nanti ku kembalikan." Ucap Tiar cepat dan melanjutkan larinya.
Satra dan Daniel menghampiri Susan dan Dania.
"Heyy Dania apa kabar, sekarang sudah besar yaa.." Sapa Daniel ramah
"Omm siapa? Dania ngga ingat om.." jawab Dania jujur.
"Waktu itu kamu ditinggal kakak kamu beli eskrim disini, om kira kamu ditinggalin orangtua kamu jadi om bawa kamu dehh.. nggataunya Kakak kamu panik nyariin kamu." Jelas Tiar dengan tawanya Dania hanya tersenyum menundukkan kepalanya.
"Om juga titip hadiah buat kamu loh.." Ucap Daniel lagi. Tapi kali ini dia tak mendapat senyum Dania,
Susan menyadari bahwa Dania menangis, dia pun pamit pulang pada kedua pria itu.
"Maaf Pak saya permisi pulang, Dania sudah capek. Nanti tolong bilang ke Ayana kalo saya sudah pulang duluan. Permisi ..." Jelas Susan cepat dan pergi mengajak Dania.
"Siapa dia Kak?" Tanya Satria yang hanya memandangi Susan tanpa berkedip.
"Teman Ayana namanya saya lupa.." Jawab Daniel
Mereka menyudahi olahraga pagi itu karena hari semakin terik.
__ADS_1
Begitu juga dengan keluarga Rahardian, Susan hanya bilang bahwa Dinda sedang ada urusan dan Dania menangis karena ditinggalnya.
Terimakasih telah membaca novel karya saya😊 jangan lupa like yaa kak😉