
"Yasudah... Appaa!!" Dinda terperanjat dari duduknya.
"Yaampun kamu heboh banget sih. Baru juga ditinggal sebentar, gimana kalo Mama sama Papa honeymoon lagi coba." Ucap Papa Radit dengan menutup telinganya.
"Mana bisa Haikal ditinggal... siapa yang mau merawatnya coba?" Tanya Dinda kesal
"Yaa kamu belajar dong sayang.. katanya dulu minta adek, sekarang udah dibuatin ngeluh juga." Balas Mama Mia.
"Tapi dia masih kecil Mah... kalo nangis gimana coba?" Tanya Dinda bingung.
"Yaa apa susahnya. Tinggal kamu sodorin aja susu." Jawab Papa Radit cepat.
Dinda mengartikan bahwa dia harus melakukan hal yang sama dengan Mamanya. Paham Dinda susu yang dibilang Papanya adalah asi.
"Baiklah Dinda dan Susan akan menjaga mereka." Jawab Dinda pasrah.
"Kita bisa honeymoon lagi." Bisik Mamanya pada Papanya senang. Mereka berdua cengengas cengenges ngga karuan.
Malam kian larut, semua anggota keluarga sudah kembali pada kamar mereka. Mengistirahatkan tubuh mereka yang lelah seharian bekerja.
***
Pagi yang cerah dengan senyum yang indah. Hari ini meski masih hari Kamis tak ada yang berangkat kerja kecuali Papanya.
Dinda sibuk mendengar intruksi yang Mamanya berikan saat merawat kedua adiknya.
Sedangkan Susan mengasuh kedua anak itu dibantu palayan yang lain. Setelah Mamanya menjelaskan semua, Dinda membantu Susan menjaga adik adiknya. Sedangkan Mamanya sibuk mengemasi pakaian yang akan dibawa mereka.
Tak terasa hari semakin siang, Papa Radit pulang lebih awal pada jam makan siang. Papanya memutuskan untuk makan siang dirumah dan akan beristirahat saja hari ini.
Seusai makan siang, mereka bermain di taman belakang ditepi kolam renang, Biasanya Dinda disana sedang curhat dengan Susan. Tapi kali ini mereka sedang berkumpul semua, menciptakan suasana yang sangat damai dan harmonis.
" Sayang nanti kamu harus benar* menjaga mereka dengan baik, terutama kamu harus mengawasi Haikal." Kata Mama Mia mengingatkan.
"Iya Mahh.. aku tau bahwa Hai sangat bandel." Jawab Dinda dengan gemas mencubiti pipi gembul Haikal.
"Nanti Susan juga bantu ya.." Ucap Papa Radit pada Susan.
"Tenang Omm mau apa juga Susan setia menemani Dinda. Apalagi kalau dia lagi galau." Ejek Susan tertuju pada Dinda.
__ADS_1
"Apasih mana ada sejarah aku galau." Ucap Dinda sebal.
"Sudah sudah... Ini juga itung itung kalian belajar jadi seorang ibu." Kata Papa Radit lagi.
"Iya... Sayang nanti kamu bantu Mama mandikan Haikal yaa..." Perintah Mama Mia pada Dinda.
"Masak aku mandiin Haikal sih Ma... nggak ah." Jawab Dinda menolak.
"Harus mau dong, nanti kalo kamu ngga bisa mandiin Haikal pas Mama pergi gimana? Masak iya mandinya nunggu Mama pulang." Ucap Mamanya lagi.
"Tapi kan Haikal laki laki Mah..." Tolak Dinda lagi
"Loh emangnya kenapa?" Tanya Susan.
"Kaan malu Susan. Kamu itu mikir kok kelamaan. Antrian nomor berapa si otak mu itu?" Gerutu Dinda kesal.
"Dinda sayang... kamu harus belajar memandikan Haikal..." Jelas Mamanya lagi.
"Iya.. kamu kenapa malu dengan adik sendiri. Itung* kamu nyiapin mental buat ngeliat punya suamimu kelak. Punya suami mu lebih besar lohh jadi ini bisa dianggap latihan." Goda Papa Raxit pada Putrinya
"Apa maksud Papa? Apaa....." Ucap Dinda menggantung ragu untuk mengutarakan pikirannya.
"Aaaa Sotongnyaa!!!!" Teriak Dinda histeris tak karuan.
"Pahh... kamu ini ngga punya malu apa? Bicara gituan dengan Putrinya sendiri. Bikin malu saja!!" Omel Mamanya pada Papa Radit.
"Justru karena Dinda Putri kita Sayang... Dan kenapa harus malu? kelak juga dia akan mengetahuinya... jadi aku menyarankannya untuk latihan melihat dulu, apa salahnya?" Tanya Papa Radit yang tak merasa bersalah.
"Sudahlah sudah... aku mau ke kamar dulu Tante Omm sudah sore aku mau mandi." Kata Susan tiba* merasa canggung dengan apa yang mereka bahas.
"Aku juga mau mandi dulu." Susul Dinda membawa Dania yang tengah asyik bermain.
"Ehhh eheheh... mau kemana. Kamu harus memandikan Haikal!! Tidak boleh menolak!!" Perintah Mamanya tegas.
"Kamu liat baik baik yaa gimana bentuknya.." goda Papa Radit lagi pada Dinda, tapi dia malah mendapat pukulan keras di lengannya.
Dengan terpaksa Dinda membantu Mamanya memandikan Haikal. Dia menutup matanya saat menyabuni badan depan Haikal. Dia belum berani menatap sotong itu, walaupun Haikal masih kecil tapi dia tetap laki-laki.
Sehabis memandikan Haikal dan Dania, dia membersihkan dirinya sendiri. Hari yang sangat berat untuknya.
__ADS_1
Bukan berat lelah bekerja, namun berat menerima tugas dari orang tuanya. Ini barulah permulaan dari 2 bulan kedepan.
Dinda merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Tak lama kemudian ia terlelap tidur. Tak berapa lama Mama Mia mengetuk pintu kamarnya berkali kali tanpa ada sahutanpun masuk kedalam.
Dilihat Putrinya sedang tertidur lelap. Dia hanya membetulkan posisi tidurnya. Menutupi tubuh Dinda yang dengan selimut tebal. Dia tak tega membangunkan Dinda. Mamanya keluar tanpa mematikan lampu kamarnya, karena Dinda takut dengan kegelapan.
Tak seperti biasa, keluarga Rahardian kembali kekamar mereka masing* saat selesai makan malam. Ikut mengistirahatkan tubuh mereka yang lelah dan harus bangun pagi.
***
Mereka semua telah memakan sarapan dengan lahap. Pelayan laki* membantu Tuannya membawakan koper mereka ke dalam mobil.
Semua Keluarga Rahardian berada dimobil yang sama. Mobil mereka menuju Bandara, disepanjang perjalanan mereka mengingatkan apa yang harus dilakukan oleh masing* orang.
Setelah satu jam menempuh perjalanan sampailah mereka di Bandara.
"Ingat pesan pesan kami. Mama dan Papa pasti akan sangat rindu kalian semua." Ucap Papa Radit.
"Kamu baik * yaa sama Kakak kamu," Ucap Mama Mia pada Haikal dan Dania.
Setelah memeluk satu per satu anaknya, Mama Mia baru rela meninggalkan mereka. Dia tak dikejar waktu karena mereka menggunakan jet pribadi.
Mama dan Papanya langsung mengambil jalur khusus yang telah disiapkan. Karena Papa Radit juga merupakan salah satu orang berkuasa di Bandara itu, dia tak perlu mengecekkan paspor nya lagi. Semua sudah beres dikerjakan asisten Ferdian. Dia juga ikut ke luar negri bersama Tuannya.
Mereka lepas landas pukul 09.30 , setelah memastikan orangtua nya telah pergi Dinda dan yang lainpun ikut pergi dari Bandara.
***
Didalam ruangan Direktur Utama Pramestu, Tiar sedang tersenyum terus memikirkan Dinda.
Dia sedang berencana untuk melamar Dinda, mungkin selama ini Dinda menganggap Tiar main* karena tidak melakukannya dengan romantis.
Tentu saja karena Tiar tak pernah dekat dengan wanita, apalagi jatuh cinta, dia tak tau harus mengutarakannya bagaimana. Dia akan dibantu oleh Satria yang tentu lebih banayk pengalaman.
Seminggu telah berlalu, Tiar sudah menyiapkan semua dengan baik. Dia sudah memboking restourant malam hari itu. Malam minggu romantis yang didambakan para gadis. Namun dia tak melihat sosok yang ia cari dari pagi. Dia pun menanyakan dimana orang yang dia cari.
"Dimana Ayana?" Tanya Tiar pada semua pelayan yang ada disana. Semuanya diam membisu bukan karena tak tau, tapi karena ketampanan dan kharisma yang sangat kuat pada diri Tiar.
"Dia sudah tidak bekerja disini." Ucap Bu Yanti selaku orang yang dihormati setelah Dinda dan Susan.
__ADS_1
Terimakasih buat kakak kakak yang mau meluangkan waktu untuk mampir dan membaca novel saya😊 jangan lupa like dan vote yaa kak😊 Biar saya tambah semangat buat Updatenya. Dukungan dari kalian adalah semangat untuk saya Terimakasih.